gambar diunduh dari sini
-satu-

“Menjadi gila adalah pencapaian terbesar dalam hidupku”, katanya sambil memasuki sebuah kubikel putih dengan lantai, dinding dan langit-langit putih. “Senang rasanya terbebas dari ikatan kewarasan yang selama ini memasungku.”

Lelaki itu lalu menari dalam putaran tiga kali, meneriakkan sesuatu yang telah lama tak terdengar dari negeri ini, “Merdeka! Merdeka! Merdeka!”

Picture is taken from here
Topic starter : Friday, August 13, 2010 (2:38 pm)

We used to come here
Anytime we wanted to see each other
Right here, in the middle of the bridge

He held me tight in his arms
And whispered softly in my ears
That he loved me
And he would never let me go

His words warmed me inside
And always made my heart sing a joyful song
I never said a word
To say to him what I truly felt
I just laid my head closer
To hear the beat of his heart
And hugged him like there was no tomorrow


Runi oleh Azam Raharjo
 Episode 13: Soulmate


“Siapa, Roh?” Eyang mengulurkan leher.

“Tukang pos. Ada kiriman untuk Nyonya,” Iroh mengangsurkan sebuah bungkusan coklat seukuran buku.

Eyang membaca alamat pengirimnya. “Dari Kuala Lumpur,” gumam Eyang mengamati bungkusan itu.

“Di sana banyak TKW, ya?” Iroh menatap majikannya.

“Ya. Di sana banyak TKI. Yang wanita disebut TKW.”

“Yang laki-laki TKL?” sahut Iroh sok tahu.

Eyang terbahak. Ia pun heran mengapa tak ada istilah TKL atau TKP untuk lelaki Indonesia yang bekerja di luar negeri.

'Hohoho.. ini berita bagus!' Kasenda tersenyum senang dalam hatinya, 'Aku bisa memanfaatkan mereka untuk mencari tau siapa yang telah mencuri boot-ku!' Kasenda membuka mulut hendak berkata namun perhatian mereka teralihkan oleh terbukanya pintu kayu yang berada tak jauh dari mereka.

"Yuhuu, kami pulang, dan lihat apa yang berhasil kami ba.." Kalimat itu menggantung di udara karena keempat kurcaci yang baru masuk ke dalam ruangan mematung ketika melihat Kasenda, "Bagaimana dia bisa sampai ke sini?"
Pagi ini sudah tiga kali Ibu menelponku. Suamiku yang sedang asyik mengotak-atik mobilnya jadi ingin tahu. Tidak biasanya laki-laki yang sudah kunikahi hampir lima belas tahun itu bertanya-tanya urusan pembicaraanku dengan Ibu.

“Ada apa sih, Lin? Gencar banget Ibu nelpon pagi ini?”

“Nggak tahu juga. Ibu nanya-nanya terus soal Betty,” jawabku sambil memotong daun-daun kering dari pagar hidup yang kubangga-banggakan. Semua orang yang datang ke rumah kami pasti memuji perdu yang daunnya menyerupai daun teh itu. Tanaman yang biasa ditanam berdempetan sebagai pagar yang di kota sudah jarang ditemui lagi.

“Betty? Ada apa emangnya dengan dia?” tanya suamiku lagi

“Nggak ada apa-apa. Cuma Ibu curiga. Katanya, jangan-jangan Betty ada apa-apanya sama kamu.” Kuangkat mukaku dari perdu kesayanganku, menoleh memandangi suamiku. Menunggu reaksinya.

“Lala, ini bekal makan siangnya, jangan sampai ketinggalan!”

Dengan sedikit cemberut Lala beringsut mengambil kotak makannya. Sedikit diliriknya wajah mamanya, tapi tidak ada yang berubah sama sekali. Selalu sama setiap paginya. Datar tanpa ekspresi tapi penuh konsentrasi pada pekerjaan rumahnya.

Hfff.. Padahal Lala berharap pagi ini ada senyum tersungging sebagai penghias wajah mamanya, meskipun sedikit sekali. Hanya pagi ini saja.

“Ma, hari ini Lala puasa makan siang!” suara Lala yang sedikit bergetar memecah kebisuannya.



"Opa, tolong bicara dong sama Tomi. Sejak dimarahi gara-gara ketemu rokok di saku seragamnya kemarin dia dieeem aja di dalam kamar," ungkap Mama sedikit memohon kepada Opa.

Opa melirik sekilas ke arah anak perempuannya itu. Dia tengah sibuk dengan kotak cerutu kesayangannya. Sore itu niatnya ingin menikmati semilir angin di teras rumah sambil menghirup kopi dan menghembuskan asap cerutu ke udara. Dua minggu yang lalu Opa mendapat kiriman sekotak cerutu dari sahabatnya. Buatan Kuba asli. Sebagai penikmat cerutu, Opa sangat bahagia menerima kiriman yang sangat dermawan itu.
Tiga  pedang panjang bersinar putih, mengkilat tajam. Telah siap bersanding membasmi para pengkhianat negeri. Bertiga, kami ditugaskan membuntuti seorang mata-mata dan bila Ia sudah melewati batas, kami diberi hak untuk membunuhnya. Membunuh dengan pedang panjang pemberian Sang Raja. Ya, seorang pengintai licik, lihai, pembunuh, tak loyal dan penjual rahasia Negara. Dasar terkutuk!





Sumi mengemasi barang-barangnya dengan hati riang. Apalagi ya, ia memperhatikan seisi kamarnya dan menggaruk-garuk kepalanya. Sepertinya sudah semuanya, ia menarik napas dalam-dalam. Ia toh tidak membawa banyak baju ketika datang ke Jakarta dan bekerja di rumah majikannya.

Ah, tidak terasa sudah tiga tahun ia tidak pulang. Sumi duduk dan pikirannya melayang ke rumahnya di Ringinpitu. Ia ingat kedua adiknya yang masih kecil ketika ia tinggalkan. Orangtuanya yang keberatan ketika ia yang saat itu berusia 16 tahun pergi bersama temannya ke Jakarta. Sudah begitu banyak berita kejahatan yang terjadi di sana. Tapi Sumi tetap memaksa karena ingin membantu orangtuanya. Lagipula, alasan utama ia berani berangkat karena ia akan bekerja dengan temannya di rumah majikan yang sama. Ibu dan Bapak Siswono yang memerlukan penjaga anak dan juga seorang pembantu. Mereka adalah pasangan yang berusia di awal 40 tahun dan selalu bersikap ramah. Sikap ramah itu yang membuat Sumi betah hingga berani bekerja sendiri ketika temannya memutuskan pulang kampung sendirian. Dan sekarang, tiba saatnya ia pun harus kembali ke rumah orangtuanya.

Dea oleh Azam Raharjo
Episode 12: Nama Saya Kar

Runi segera mematikan kompor saat ia dengar deringan telpon. Rumah bagai tak berpenghuni Minggu pagi itu. Iroh sedang menengok adik-adiknya di desanya. Dari kamar Dea yang biasanya gaduh tak terdengar suara karena anak itu sedang mengantar Eyang belanja. Cepat-cepat Runi meraih serbet, membersihkan tangan, lalu berlari ke ruang tengah.

“Selamat pagi. Nama saya Kar.” Suara lelaki dewasa menyapa di seberang sana.

“Selamat pagi,” balas Runi. Kar. Nama itu melekat di kepalanya sejak peristiwa malam itu; ketika sepulang sekolah Dea bersembunyi di makam ayahnya hingga malam untuk menenteramkan hatinya.

“Saya teman les gitar Dea, Bu.” Di telinga Runi suara pemuda itu jauh lebih dewasa dibanding usianya yang menurut Dea baru 18 tahun.
Colour Sketch Of A Redhead Oleh Azam Raharjo
1/ Mimpi?

Kamu punya mimpi? Kita semua pastinya punya mimpi, ada yang memimpikan hal-hal yang besar, ada yang memimpikan hal-hal yang sederhana. Ada yang kerja keras untuk mewujudkan impiannya, ada yang hanya sekedar bermimpi dan merasa puas dengan bermimpi. Ada juga yang menyusun hidupnya sesuai dengan mimpi-mimpinya. Balok demi balok di susunnya mimpi itu, bata demi bata membentuk sebuah bangunan kehidupan, miliknya.

Tapi, sebenarnya kita semua sudah tahu kan, kalau beberapa hal dalam hidup ini bisa saja tidak berjalan sesuai dengan skenario yang sudah begitu rapi dan cermat disusun? Dalam kondisi tertentu, selalu saja ada faktor x yang tiba-tiba muncul, tak terdeteksi sebelumnya di radar, sama sekali tak terprediksi. Begitulah yang sedang terjadi saat ini kepada Rindu.
gambar diambil dari sini
Surat itu sekarang tergeletak di atas meja kerjaku, di samping tumpukan berkas-berkas yang menunggu tanda tanganku. Tadi pagi, ia diserahkan langsung ke tanganku oleh pengacara yang juga adalah sahabat masa kecilku. Aku mengangkat surat bersampul coklat itu, membaca sebaris nama yang tertulis di atasnya dengan nanar. Hati-hati dan perlahan, kusobek pinggiran surat yang bersegel itu, mengeluarkan selembar kertas dengan tulisan tangan yang sudah sangat kuhafal. Tubuhku seperti kehilangan gravitasi, limbung dalam gamang yang panjang ketika kubaca kata demi kata yang kini seolah sedang mengejarku dengan janji dan panji-panji.

Gambar diambil dari sini
Topic starter : Rabu, 17 Agustus 2011 (7:37 pm)

Rada basi ya kalo baru ngebahas "Ratatouille" sekarang ini, haha, karena nih film khan booming bangets sekian tahun yang lalu!

As for me, Ratatouille itu adalah salah satu film animasi terbaik, tidak hanya dari segi gambarnya yang cute tapi juga dari jalinan ceritanya yang mantaps! Setara bagusnya ama "Finding Nemo" ama "Up".

Kenapa gua mutusin buat ngebahas film yang satu ini? Karenaa.. gua baru nonton ulang film ini beberapa malam yang lalu dan selesai nonton, gua masih bisa bergumam kalo nih film masih sama bagusnya seperti ketika pertama kali gua menontonnya, haha.. jarang2 khan tuh :p

Anywayy.. ada beberapa quotes dari nih film yang menurut gua mantaps and gua mo share ke kalian, baik dari yang berhasil gua catat selama nonton filmnya maupun dari hasil browsing di internet.


Gambar diambil dari sini
'Oh, Lucy, apa yang kamu pikirkan, anakku?' Uncle J mengusap kepala Lucy dengan penuh sayang dan membereskan anak rambut yang berjatuhan di keningnya.

Lucy tidak menyahut, dia hanya terbaring diam dengan mata terpejam dan kesadaran yang masih belum kembali ke alam nyata.

'Maafkan, Uncle, Lucy, maafkan Uncle yang tidak mengetahui apa yang berkecamuk dalam hatimu. Andai Tantemu masih ada di sini, tentu semuanya ini tidak akan terjadi.' Pikiran itu membuat Uncle J menghentikan usapannya. Dengan helaan napas panjang, Uncle J mendudukkan diri di kursi sebelah ranjang Lucy. Tatapannya menerawang ke masa-masa Louisa dan Bradley masih hidup.


Aku baru saja menapakkan kakiku, kembali ke kota itu. Sudah berapa lama aku tidak pernah mengunjunginya. Dan kini, di antara kesibukanku, aku memaksakan diri untuk sekedar mencari kabar dan bercakap-cakap walau hanya dalam hitungan menit.

Aku tak tahu apakah dia masih mengenaliku. Mungkin sudah banyak perubahan pada penampilanku. Jauh berbeda dengan saat aku pertama mengunjunginya.

***

Di pasar Beringharjo yang ramai, delapan belas tahun yang lalu, walau waktu masih menunjukkan pukul 3 dini hari, aku bersama seorang teman berkeliling mengitari pasar. Niat kami mencari informasi yang dibutuhkan untuk tugas lapangan. Saat itu kami sedang mengikuti pelatihan jurnalistik.
Ilustrasi oleh Azam Raharjo
Episode 11: Mobil Bercat Hitam

Sinar keemasan telah menerobos masuk garasi melalui lubang angin di dinding sebelah barat, pertanda senja telah menampakkan diri. Sekilas berkas-berkas sinar itu serupa kelambu tipis yang berkilau, menaungi sebuah mobil hitam yang sudah beberapa hari tidak dikendarai.

“Mobil yang usianya lebih tua dari Dea, cucuku yang tertua,” batin Eyang, memandangi mobil terakhir yang dibeli suaminya tahun 1985. Salah satu peninggalan kakek Dea itu baginya bernilai jauh lebih tinggi dari harganya. Suaminya dulu merawat mobil itu dengan sangat hati-hati, hingga meninggalnya. Kini, meskipun usianya sudah mencapai seperempat abad, orang yang melihatnya masih memuji penampilannya meskipun satu-dua bagian yang tidak vital sudah rusak.

Picture is taken from here
Thursday 9/9'10 (7:19 pm)


Dear Love,

How are you doing there?

Are you good? Hope you're in good shape like I am here.

I miss you, Love.. it has been a while since the last time we met.

I hate the fact that we live so very far away from each other.



Mari berangkat dari sini : "Saya suka menulis cerita."
Bagi saya pribadi, menulis cerita itu sama seperti berbicara. Hanya bedanya, kalau saya bicara, makin panjang makin membosankan. Beda kalau saya menulis cerita. Makin panjang, justru saya makin suka. Itu juga sebabnya saya lebih suka menulis cerita bersambung dibandingkan cerita pendek.

Beberapa teman merasa kemampuan saya menulis cerita bersambung/panjang itu sebagai sebuah kelebihan. Padahal bagi saya pribadi itu justru sebagai sebuah tirai kamuflase kalau saya merasa kurang cakap dalam menulis cerita pendek. Bukan juga artinya saya mengangkat-angkat kemampuan saya dalam menulis sebuah cerita menjadi panjang. Hanya saja bagi saya justru ruang tak terbatas dalam cerita bersambung memberikan saya lebih banyak kemudahan dibandingkan jika saya menulis sebuah fiksi mini atau flash fiction. Wuaaah, saya sudah coba beberapa kali menulis cerita super pendek, dan itu sangat sulit bagi saya.
Juli tahun 1979

“Mamaaa…,” seorang gadis kecil menghampiri mamanya yang tengah membaca buku di ruang tamu. Tanpa menoleh sedikitpun sang mama hanya menggumam baru bertanya apa yang diperlukan anaknya.



Melihat mereka berduaan selalu membuatku muak. Seperti tidak ada hal penting lain yang bisa mereka lakukan selain bermesraan. Ya, pasangan paling romantis itu, menurut orang lain sih, kerap datang di taman ini, seperti membuntutiku.

Saat senja menjelang, ketika pekerja-pekerja kantoran berlomba pulang menuju rumah masing-masing, pasangan ini justru baru saja datang di tempat ini. Memulai pertemuan mereka. Kadang si wanita datang lebih awal untuk kemudian menunggu kekasihnya. Lain waktu mereka datang bersamaan.

Rasanya sih aku tak peduli dengan kehadiran mereka. Tapi sepertinya mataku selalu mencuri pandang pada setiap gerakan apapun yang mereka lakukan. Bukannya aku tak ingin menghindar, sebab dari tiap sudut manapun di tempat ini, bayangan mereka selalu hadir di ujung mataku.
Gambar diambil dari sini
Layla terlonjak bangun dari tidurnya, dadanya berdegup kencang. Untuk menenangkan diri, Layla meraih botol air mineral yang selalu disediakannya di pinggir ranjang namun ternyata malam sebelumnya ia lupa mengisinya sebelum tidur, karenanya ketika hendak menenggak air dari dalam botol itu, tidak ada setetespun yang keluar. Botol itu dalam keadaan kosong.

Bagus, bagus sekali, demikian keluh Layla seraya menendang selimutnya kemudian menjejakkan kakinya ke lantai. Telapak kakinya menyentuh permukaan lantai yang dingin setelah semalaman dimanjakan hawa dingin yang keluar dari mesin pendingin ruangan yang selalu diatur dengan suhu terendah oleh Layla.
Lala memang pernah dekat dengannya. Lala juga memuja-muja rambut sebahu wanita itu. Rambut bergelombang acak-acakan. Yang sering digerai begitu saja. Sering juga diangkat tinggi. Ya, wanita itu tidak pernah peduli soal rambutnya. Wanita itu juga kerap mengenakan celana jeans pendek-sepaha plus baju kemeja. Dan tidak pernah mengenakan T-shirt. Kaca mata hitam selalu nangkring di wajahnya. Bibirnya tidak pernah lepas dari lip gloss strawberry. Dan sedikit bedak tipis. Sudah, begitu saja wanita itu berdandan. Satu lagi yang Lala suka dari wanita itu, kaki panjang dan putih mulus. Yup, wanita itu sudah tampak sempurna di mata Lala.
Hujan Dedaunan Bagian 1

6/ Cinta itu tidak pernah padam, terasa di ujung lidah, leher dan di dalam sukma.

Aku mulai terobsesi dengan memasak. Mungkin karena mulai kurasakan adanya kebenaran dalam beberapa hal yang dikeluhkannya. Aku memang memikirkannya, mencari-cari alasan yang masuk akal bagiku tentang perselingkuhannya. Aku mencari 'mengapa' di antara bumbu-bumbu dan sayur-sayuran, di antara harum aroma daging panggang, di antara wangi khas santan gulai ikan dan sedap aroma kue yang baru dikeluarkan dari dalam panggangan.
1/ Hari ini angin bertiup lebih kencang...

Hari ini angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Akan badai sebentar lagi. Aku terpesona oleh intensitas gejolaknya yang mengerikan sekaligus memikat, menakutkan dan memesona, kutuk sekaligus berkat. Sebuah paradoks, bergejolak dalam pikiranku.

Ah, nampaknya aku mulai lagi tenggelam dalam perjalanan mental dan filsafatku, yang begitu sering muncul dalam pikiranku hari-hari belakangan ini. Mereka mengajakku berdialog ttg banyak hal. Hal-hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Atau tidak ada waktu untuk kupikirkan. Atau tidak berani kupikirkan.
Kulihat pagi-pagi Emak sudah mengangkat kainnya tinggi-tinggi.

“Marni, aku mau pergi ke kali, ngguyang Wage, Pon dan Legi.”

Oh, senyum Emak begitu ceria, seakan menggiring tiga sapinya yang tak kasat mata.

“Marni, Nduk, kamu susul Tarno sana. Cari rumput dari kemarin kok ndak pulang-pulang. Sapi-sapi itu harus diguyang.” Bantah Emak saat kuminta ia tak melakukannya.

Emak juga tak bisa menerima kenyataan kalau Tarno, kangmasku, hangus terbakar awan panas ketika hendak menyelamatkan ternak kami. Jasadnya belum ditemukan hingga kini.
"Perkenalkanlah, aku adalah sang penguasa langit. Sosok yang selalu ditunggu tuk membaca sebuah pesan. Ya, sebuah pesan yang diukir dari hati seorang makhluk."

Sang dewa dewi menyentil telinga Sang Penguasa Langit.
"Aow, siapa yang sedang merintih kerinduan di daratan bumi?" Tanya Sang Penguasa langit sambil terkejut. Ia langsung membuka layar lebarnya. Dan ia tertegun pada aura menyala-nyala seorang manusia.
"Seharusnya saya bisa menulis novel seperti itu!" Mungkin sering terlintas pikiran seperti ini saat selesai membaca sebuah novel. Memang benar, setiap orang bisa saja menulis novel kalau sungguh-sungguh menginginkannya. Pernah dengar sebuah kegiatan bernama Nanowrimo, singkatan dari National Novel Writing Month. Mereka yang tergabung dalam Nanowrimo ini, ditantang untuk menulis novel sebanyak 50.000 (lima puluh ribu) kata dalam 30 hari, dan kegiatan ini telah menjadi festival menulis tahunan internasional yang digelar di internet sejak tahun 1999, sudah 11 tahun lamanya, diikuti oleh puluhan ribu penulis, baik penulis-penulis amatir maupun penulis profesional.
1312165770529010308Kalau Pak Ahmad di Kompasiana punya penyakit lupa yang parah, maka saya juga punya penyakit yang tak kalah parahnya dengan penyakitnya Pak Ahmad, yaitu ngantukan alias gampang tidur. Boleh ya saya iseng-iseng cerita tentang penyakit saya ini, siapa tahu ada yang punya penyakit sama (dalam rangka cari teman).

Berawal dari saat SMA kelas 3, sering terserang kantuk hebat yang tiba-tiba di dalam kelas. Awal-awal sih saya pikir karena kurang tidur, tapi ternyata mau tidurnya sejak sore atau dini hari, tetap saja kalau sudah di dalam kelas ngantuk pasti datang. Pokoknya, begitu guru mulai mendiktekan pelajaran, saya akan memulai kalimat pertama dengan mulus dan belum sampai titik akan menjadi urek-urekan ayam. Dan sejak saat itulah saya tidak pernah punya catatan segala mata pelajaran, mengandalkan feeling dan keberuntungan saja hihihi.


Deasy Maria

Winda.... emak gaul yang maskulin... dibalik penampilan dan suaranya yang anggun (ahyiak :d ) tersimpan ide dan energi yang terlihat di tulisannya (entah status entah cerpen atau tulisan lainnya)

Baru pernah ketemu emak-emak yang begini ini ... Salut atas produkivitas menulisnya.. jangan-jangan di kepalanya hanya ada : tulis tulis tulis tulis ...ngiriiiiiiiii ..
Banyak orang bercita-cita dan berkata-kata ingin menulis cerpen, cerber bahkan novel, apakah kamu salah satunya? Kalau iya, maka rangkaian artikel ini tepat untuk dibaca, karena memang dikhususkan bagi penulis pemula atau mereka yang memerlukan dorongan dan motivasi untuk menulis dan menjadi penulis.

Seorang editor terkenal bernama E.B. White, dalam pidatonya saat menerima sebuah penghargaan karya sastra menyatakan ia mengagumi siapa saja yang berani menulis, apapun juga hasil tulisannya.
Sumber Ilustrasi
Seolah sedang beradegan dalam sebuah iklan produk wewangian, gemulai tangan kanan Tina mengoleskan parfum ke belakang telinganya sementara tangan kirinya memegang botol cantik berbentuk bunga. Tergambar di benaknya sebuah wajah molek milik sang bintang idola. Perasaan Tina melayang-layang ke awang-awang, bila malam mungkin ia sudah hinggap di permukaan bintang. Lalu Tina membuka salah satu pintu lemari yang menempel memanjang di salah satu dinding kamar tidur. Lemari sepatu. Sepasang matanya berpindah-pindah dari sepatu warna merah, putih, hitam, keemasan dan biru malam. Selesai menimbang-nimbang, lengan kanannya terulur meraih sepasang yang berwarna keperakan, di ujung kanan. Pelan-pelan ia mundur ke belakang dan duduk di ujung tempat tidur yang empuk. Kaki kirinya ia silangkan di atas kaki kanan.

Hening. 

Sekejap setelah suara yang memekakan telinga, yang menggemuruh dari seberkas sinar putih membutakan. Aku seperti terlempar pada suatu masa yang tak mengenal ruang dan waktu. Hanya hampa yang menyelimutiku. Semua bagai terlahir baru dalam bentuk kedewasaanku.

Aku meraba sekelilingku,  pupil mataku membesar. Belum dapat kukuasai keadaan ini. Hanya dingin dan sepi yang hadir. Rasa ingin menangis, tapi tak mampu air mata ini mengalir.  Kuseret kakiku, melangkah berharap bertemu ujung masa. Namun sepertinya aku berada dalam ruang tanpa sekat. Meski telah kujelajahi sebisaku, belum sekalipun aku membentur dinding-dinding yang entah ada atau tidak.

Aku hanya mampu mendengar dengan hati mencelos ketika dokter menyampaikan vonisnya setelah mengucapkan kata, "Maaf," jika anakku tidak bisa bertahan malam ini maka kecil kemungkinannya untuk sembuh.

Tidak, tidak…! Jerit hatiku. Setengah mati aku berusaha menahan suara ini agar tidak keluar melengking dari tenggorokanku dan membuat keributan. Pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan, pasti ada! Harus ada! Aku tidak bisa membiarkan anak yang telah kutunggu selama 10 tahun, lepas dariku.

Apa yang akan terjadi jika dia meninggal? Aku telah mengalami masa-masa nyaris kehilangan suami ketika kami belum dianugerahi buah hati. Laki-laki itu hampir lupa pada sumpah setia sehidup semati yang diucapkannya dalam pernikahan kudus kami karena hasutan keluarganya yang bertubi-tubi.



*Untuk versi lengkap silahkan ke sini *
Ilustrasi oleh Azam Raharjo
Episode 10: Priyo Pamit (3)

Melalui jendela kamarnya, dari balik vitrage putih berhias sulaman burung merak kecil-kecil, Eyang mengamati polah tingkah Iroh dan cucunya. Persis di depan pagar terparkir mobil pick-up penuh galon air. Seorang lelaki muda siap mengangkat empat galon yang baru saja ia turunkan.

Eyang sempat mendengar kelakar Dea dan Iroh tentang lelaki muda itu. Menurut sepasang matanya yang masih sehat meskipun sudah bertugas lebih dari 60 tahun mengamati dunia, sosok lelaki muda itu sama sekali tak terlihat menarik. Rambut lurusnya yang berponi membuatnya feminin. Sepasang kaki kurusnya terbalut jeans ketat yang dibiarkan berlipat-lipat di bagian bawah karena kepanjangan. Ujung atasnya sangat jauh dari pinggang, hanya menempel beberapa senti saja di atas tulang kemaluannya. Bisa-bisa melorot kalau ikat pinggangnya tak cukup kencang.


Della termenung di depan jendela kamarnya sore itu. Memandang ke arah taman cantik hasil karya sang mama. Pohon kamboja sebagai centerpiece terlihat agak janggal bagi Della. Sampai sekarang Della masih beranggapan bahwa pohon kamboja hanya pantas berada di area pemakaman daripada di halaman rumah. Walaupun Della pun tak pernah menampik bahwa dia sangat menyukai bunga kamboja. Pohon itu sudah ada sejak Della pindah ke rumah itu saat dia berusia 10 tahun. Waktu itu Della tidak tahu kalau pohon kamboja identik dengan pemakaman. Yang ia tahu hanya ia sangat suka menyelipkan kuntum bunga kamboja putih ke balik daun telinganya dan berpura-pura sebagai seorang putri raja.