Haiii, sahabat KF!
Masih ingat kan keriaan kita saat ajang Social Media Festival 2012 kemarin? Beberapa hari sebelum acara tersebut diselenggarakan Kampung Fiksi sempat mengadakan sebuah event online berhadiah. Kami mengadakan semacam kuis selama 3 hari berturut-turut via Twitter dan mendapat banyak sambutan dari follower @kampungfiksi di Twitter. Tiga orang pemenang telah mendapat hadiah berupa masing-masing sebuah modem dari Smartfren. Sekali lagi, kami mengucapkan terima kasih untuk semua sahabat KF yang sudah ikutan meramaikan acara tersebut, ya! Event berhadiah itu juga tidak akan terselenggara tanpa kerja sama dari Smartfren sebagai pendukung acara.

Selamat pagi teman-teman :) Pagi ini, kepingin share siapa-siapa saja di balik layar Kampung Fiksi alias para crew di blog, page facebook dan twitter @Kampung Fiksi. 

Crew Kampung Fiksi

Ada TUJUH (7) crews Kampung Fiksi:

Mak Gaul Winda Krisnadefa dan Mak Endah Raharjo (pengasuh rubrik Yok! Tanya Mak Bunglon!) yang keduanya memang mengaku senang dipangggil emak-emak sebab sudah emak-emak (alias ibu2, begitu).

Miss Ria Tumimomor alias DJTwit Kampung Fiksi yang selalu handel akun twitter Kampung Fiksi.

Miss G aka Gratcia Siahaya yang pegang fanpage Facebook KF dan event J50K (hai halooo!!) plus pemuatan cerpen KF bersama, Miss Meliana Indie, yang pegang bagian puisi di Kampung Fiksi.

Miss Indah Wd, yang pegang bagian cerita anaknya Kampung Fiksi, dan Deasy Maria, bendahara dan pakar internet sehat KF. Indah dan Deasy adalah para reporter Kampung Fiksi yang tugas utamanya menwawancarai penulis-penulis untuk dimuat di blog ini.

Kami juga dapat dijangkau melalui akun twitter: @kampungfiksi @RiaTumimomor @_meong_ @windakrisnadefa @idea2199 @tottilicious79

Kegiatan-kegiatan Kampung Fiksi

Untuk blog: 

1. Apabila ingin mengirimkan Cerpen, silakan kirim ke kampungfiksi@gmail.com dengan subyek: Cerpen. Sebelum mengirimkan cerpen, dapat membaca dahulu artikel: Mari Menulis Cerpen! sebagai rujukan.

Syarat teknis pengiriman cerpen.

a. Cerpen ditulis di MSWord yang diattach sebagai dokumen, jangan ditulis pada badan email.

b. Spasi 2, font Arial, besar huruf 12.

c. Panjang cerpen 1000-2500 kata.

d. Mempergunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

e. Tidak mengandung kalimat dan ide yang merendahkan perempuan.

f. Merupakan karya asli pengarang, bukan saduran, terjemahan atau jiplakan karya orang lain.

g. Kirimkan ke kampungfiksi@gmail.com.

2. Apabila ingin bertanya seputaran menulis fiksi dan terbit buku, silakan layangkan email ke kampungfiksi@gmail.com dengan subyek: Yok! Tanya Mak Bunglon.

3. Apabila ingin kirim puisi, silakan kirim ke kampungfiksi@gmail.com dengan subyek: Puisi

4. apabila ada penulis/pengarang fiksi kesayanganmu yang kalian ingin diwawancarai oleh Kampung Fiksi, silakan layangkan email ke kampungfiksi@gmail.com dengan subyek: Wawancara, juga tuliskan pertanyaan-pertanyaan apa saja yang kalian ingin tanyakan kepada penulis/pengarang kesayangan kalian tersebut.

5. Khusus bagi para penulis indie yang ingin kumpulan cerpen/novel-nya direview oleh Kampung Fiksi bisa mengirimkan bukunya ke Sekretariat Kampung Fiksi d/a Jl. Alam Segar 1/20. Pondok Indah. Jakarta 12310. 

Untuk Twitter:

1. Setiap hari Kamis, DJTwitKF akan sharing tips menulis #KamisTipsNulis, kontribusi dari crew KF atau penulis lainnya.

2. Setiap hari Jumat, DJTwitKF akan share link blog siapa saja yang ingin blognya dibaca oleh lebih banyak pembaca dalam #FridayBlog

Untuk Fanpage KF: menayangkan hal-hal seputar informasi menulis fiksi, link blog Kampung Fiksi, kutipan-kutipan penulis terkenal, dan motivasi untuk menulis dan kuis-kuis ringan berhadiah ringan-ringan juga.

Event Khusus: Kami juga melaksanakan event tertentu yang akan diumumkan kemudian. Jadi, stay tunned ya!

Kami berharap, apa yang kami bagikan dapat berguna bagi teman-teman atau mereka yang memerlukannya.
“Sekarang giliran saya bicara!” seru lelaki muda berkemeja kotak-kotak hitam-putih itu. Lengan kanannya ia acungkan, menuntut perhatian. Enam perempuan - emak-emak Kampung Fiksi -  yang mengitarinya seketika berhenti meronyeh. Dengan santun si lelaki lalu menumpahkan perasaannya, yang mungkin sudah lama dibekamnya.

Begitu cara Naim Ali dari Kediri mengawali ucapan terimakasihnya pada Kampung Fiksi, yang  dijabarkan panjang, lebar, dan menyentuh hati.

Naim Ali dikerubuti emak-emak Kampung Fiksi

Siapa Naim Ali dan mengapa ia perlu datang jauh-jauh dari Kediri ke Jakarta untuk bertemu dengan emak-emak Kampung Fiksi? Kisahnya berawal dari kegiatan yang diselenggarakan Kampung Fiksi pada bulan February 2012.
Bagian 13

Interior restoran di lantai dua ini sederhana. Warna dindingnya broken white dengan aksen pelisir keemasan membingkai tiap lubang jendela dan pintu. Semua lampunya tertanam ke dalam plafon. Sinar kuningnya memberi kesan hangat dan bersahabat. Kursi-kursinya rotan, dengan dudukan bantal bersalut kain polos merah. Semua mejanya satu ukuran, berbentuk bujur sangkar, cukup untuk empat orang. Kaki-kaki meja dan kursinya lanjai. Warna dan disain semacam itu memberi kesan ringan. Ruangan yang tak begitu luas jadi terasa lebih lega.

Belum pukul 7, namun tetamu hotel sudah banyak yang sarapan. Pasti mereka penyuka Senin, tak sabar kembali bekerja, atau hendak pergi ke luar kota seperti diriku. Sambil menenteng ransel berwarna abu arang, setelah menunjukkan kupon pada petugas di pintu masuk, kucari rekan-rekanku. Kulihat mereka, Naing Naing dan Rudi, memilih meja paling dekat dengan meja buffet. Tim belum terlihat.

“Kamu seperti habis menang lotre,” gurau Rudi. Ia jeli. Pagi ini aku bangun dengan perasaan riang, merasa menemukan diriku kembali, bisa mengatur emosi yang belakangan ini tak terkendali. Aku juga hendak bertemu lelaki yang dikabarkan sangat istimewa.

“Pagi, Mia! Kamu terlihat gembira.” Naing Naing mengangkat mukanya dari piring penuh croissant. Ada pula segulung telur dadar yang pasti dibuat dari tiga butir telur, bukan cuma dua. Juga semangkuk cereal. “Dilarang protes! Aku kelaparan,” ia membela diri sebelum kuserang. Ajaib, sepasang matanya untuk beberapa saat terlihat normal.

Sahabat-sahabat Kampung Fiksi,
Ada kabar baru dan bagus dari para bunglon di Kampung Fiksi, nih!
Kami sering sekali mendapat pertanyaan seputar menulis fiksi melalui e-mail, Twitter mau pun Facebook. Biasanya sebisa mungkin kami akan jawab secara personal langsung ke sang penanya. Tapi lama-kelamaan kami jadi berpikir, kenapa pertanyaan dan jawabannya nggak kita share aja ke semua sahabat Kampung Fiksi sekalian? Dengan begitu akan lebih banyak yang bisa belajar melalui pertanyaan dan jawaban itu. Siapa tahu ada orang lain yang juga punya masalah yang sama tapi malu mau nanya. Hihihihi...


Mulai bulan November 2012 nanti, akan ada rubrik baru di blog ini. Nama rubriknya, Yok! Tanya Mak Bunglon! Kenapa Mak Bunglon, sih? Ohohoho, soalnya pengasuh rubrik ini adalah dua emak-emak bunglon di Kampung Fiksi: Winda Krisnadefa dan Endah Raharjo. Rubrik ini akan tayang setiap hari Selasa di sini.

Jadi kalau kamu punya pertanyaan seputar menulis cerpen atau novel atau cara menerbitkan buku atau apa pun (selama masih berhubungan dengan menulis fiksi) kami akan berusaha menjawabnya. Tentu saja karena banyak pertanyaan yang setiap harinya masuk melalui e-mail, Twitter dan Facebook, kami harus memilih satu pertanyaan untuk tiap minggunya. Pertanyaan yang dipilih dipertimbangkan memiliki nilai manfaat yang besar untuk semua sahabat Kampung Fiksi. Untuk sementara ini kami hanya akan menyortir pertanyaan yang masuk melalui e-mail Kampung Fiksi, ya!

Tunggu apa lagi? Kirim pertanyaan kamu melalui e-mail kampungfiksi@gmail.com sekarang, ya! Cantumkan di subyek e-mail: Yok! Tanya Mak Bunglon! Kami tunggu! Kita belajar bersama. :)
Kampung Fiksi dan Story Lab
Persis banget dengan main polo air: seru dan basah. Begitulah kesan keseluruhan acara ngobrol bareng dengan Kampung Fiksi dan Story Lab dalam acara Social Media Festival, Sabtu, 13 Otober, 2012, di Gelanggang Renang Senayan, Jakarta.

Perkara seru itu sudah dijamin, sebab acara ini dipandu oleh MC keren Andi Gunawan, yang kelangsingan body-nya bikin iri para emak Kampung Fiksi. Tapi kok pakai basah??? Itu gimana ceritanya??? Itu dia! Bayangkan… acara keren ini diselenggarakan di Gelanggang Renang Senayan, di saat matahari lagi royal-royalnya melimpahi langit Jakarta dengan sinarnya. Apalagi sepanjang hari Sabtu itu kelembaban udara kota Jakarta luar biasa tinggi, menurut Nona Google Weather mencapai 81%. Alhasil, keringat mengucur deras, serupa hujan di bulan Januari (entah ini judul puisi siapa), dari pori-pori puluhan orang yang mondar-mandir menyiapkan dan mengikuti acara asyik ini.

Dihadiri oleh sekitar 50 peserta – termasuk panitia Kampung Fiksi dan Story Lab - acara yang berlangsung 1 jam ini berjalan lancar, penuh canda dan pastinya…. diselingi aksi foto-foto. Peserta mendapat goodie bag berisi: materi tertulis dari Kampung Fiksi, sekeping DVD dari Story Lab, snack, air mineral, dan sebuah pin imut khas Kampung Fiksi.

Ngobrol bareng Kampung Fiksi dan Story Lab yang mengetengahkan tema ‘Dari Cerpen Jadi Short Movie’ ini dimulai sedikit terlambat karena alasan teknis (kayak perusahaan penerbangan kita, ya… apa-apa yang disalahkan Si Teknis). Terlepas dari itu, Andi Gunawan berhasil memandu dengan baik: santai, kocak, dan seru.

Kampung Fiksi menampilkan tokohnya yang paling tersohor seantero kampung: Winda Krisnadefa. Story Lab diwakili oleh juragannya: Nuraziz Widayanto.

Memperkuat Otot Menulis 

Winda dan Andi Gunawan
Winda memperbagikan pengalamannya menulis fiksi, khususnya cerita pendek atau cerpen. Menurut Winda, menulis apapun, termasuk fiksi, tujuannya untuk menyampaikan ide. Dalam fiksi, ide disampaikan lewat jalinan cerita, lewat pikiran atau opini dan dialog para tokoh di dalam cerita.

Ide dan ilham bisa diperoleh dari mana saja, dari lingkungan sekitar dan kehidupan sehari-hari. Kemampuan orang menangkap ilham dari lingkungan sekitar itu berbeda-beda, namun bisa diasah. Caranya? Di antaranya: banyak membaca, eksplorasi dan observasi lingkungan, melakukan penelitian atau riset, dan bila perlu bergabung dengan komunitas menulis. Biasanya di dalam komunitas menulis para anggotanya saling membantu memberi masukan untuk memperbaiki kualitas tulisan. Winda mengatakan agar bersikap obyektif dan terbuka dalam melakukan hal-hal di atas, tidak menghakimi, tidak cepat menilai, karena semua itu ditujukan untuk membuka dan memperluas wawasan.

Winda memberi penekanan pada pentingnya membaca untuk memperkaya wawasan. Si Emak yang ngaku-ngaku gaul ini, saking seringnya menulis sambil ngurus dapur, mengibaratkan hubungan membaca dengan menulis ini serupa cangkir dengan teko. Kalau teko (otak kita) kosong akibat jarang membaca, gimana bisa menuangkan isinya ke dalam cangkir. Jiah!

Masih menurut Winda, seperti kegiatan lainnya, kemahiran menulis perlu dilatih agar kualitas tulisan meningkat. Ia menyarankan agar penulis harus rajin-rajin melatih ‘otot menulis’, maksudnya disiplin dan focus dalam berlatih. Nah… ternyata memang persis kayak main polo air. Kalau nggak rajin berlatih, bisa tenggelam saat melempar bola gara-gara otot-otot kurang kuat. Namun bila giat melatih otot-ototnya, kemungkinan besar lemparan bolanya mampu menembus gawang, alias karangannya berhasil diterbitkan jadi buku, dimuat di majalah atau koran, memenangkan lomba menulis cerpen, atau setidaknya memuaskan pembacanya.

Show Don’t Tell 

Winda - Nuraziz - Andi Gunawan
Salah satu rumus yang dianggap paling jitu untuk menghidupkan cerita adalah “show don’t tell” atau “lukiskan jangan jelaskan”. Rumus ini lazim dipakai oleh penulis. Apa maksudnya? Kira-kira begini: untuk mengajak pembaca lebih meresapi tulisan, sebaiknya penulis jangan memakai terlalu banyak kata sifat untuk mewujudkan gagasannya, namun melukiskannya.

Misalnya penulis ingin menuliskan tangisan Tono. Ada dua pilihan:
Satu, menjelaskan dengan kata sifat: “Malam itu Tono menangis keras sekali.”
Dua, melukiskan: “Tangisan Tono malam itu membangunkan seisi kampung.”

Kalimat pertama itu masuk kategori ‘tell’ dan yang kedua disebut ‘show’.

Menurut Nuraziz Widayanto salah satu hal paling vital dalam membuat film adalah menghindari kata sifat. Adegan film harus bisa dinikmati secara visual, gagasan yang ingin disampaikan dapat dimengerti penonton tanpa bantuan kata-kata.

Untuk menunjukkan pentingnya unsur ‘show’ - atau visual - dalam film, Story Lab mengadaptasi cerpen menjadi film pendek. Cerpen karya Ramdhani Nur berjudul Warna Warni Marni divisualisasi menjadi film berjudul Demi Malam. Dari tayangan film itu terlihat perbedaan antara cerpen (tulisan) dengan film (visual) sebagai media penyampai gagasan. Dalam cerpen pembaca mendapat kemewahan untuk ‘membayangkan sendiri’ jalannya cerita, termasuk wajah tokoh-tokohnya. Dalam film penonton dimanjakan menikmati langsung jalan cerita – termasuk wujud para tokohnya - lewat rangkaian adegan yang bisa ditangkap langsung oleh mata dan telinga. Cerita yang disampaikan lewat cerpen dan film masing-masing punya kekuatan, yang tidak bisa dibandingkan, dan memiliki cara berbeda untuk menyentuh rasa penikmatnya.

Story Lab juga menayangkan karya lainnya berjudul Omnibus Rahasia.

Karena ketatnya waktu, dua film yang membuat peserta tak berkedip itu tidak sempat dibahas tuntas. Peserta juga tidak berkesempatan bertanya pada Winda dan Nuraziz. Namun Kampung Fiksi dan Story Lab masing-masing membuka pintu untuk obrolan lebih lanjut, lewat blog, lewat twitter, maupun page Facebook. Blog Kampung Fiksi pasti udah pada tahu, kaaan? Kalian lagi pada mantengin blog paling keren sedunia fiksi ini. Kalau blog Story Lab, bisa dikunjungi lewat tautan ini: http://www.storylab.co.cc/

Penyerahan Hadiah Kuis Smartfren 

TJ Ria Tumimomor dan Shanty Handayani
Untuk memeriahkan acara festival ini, Kampung Fiksi kerja bareng dengan Smartfren menyelenggarakan serangkaian kegiatan online lewat twitter. Tentunya khusus ditujukan pada para sahabat Kampung Fiksi yang jari-jarinya lihai ‘mengoceh’ lewat twitter. Kegiatan online yang asyik ini dipandu oleh Tweet Jockey - TJ - Ria Tumimomor.

Acaranya meliputi interview on twitter antara Kampung Fiksi dengan Story Lab yang dilangsungkan pada Minggu, 7 Oktober 2012. Dilanjutkan dengan interview oleh SmartFren World pada Kampung Fiksi, Senin, 8 Oktober 2012.

Acara live twitter ini makin seru karena ada kuisnya, berturut-turut selama 3 hari dari Selasa, 9 Oktober sampai Kamis, 11 Oktober 2012. Kuis dilangsungkan live dari pukul 12 siang sampai 5 sore. Setiap hari, TJ Ria dibantu oleh tim Kampung Fiksi memilih 1 pemenangnya.

Pembagian hadiah untuk 3 pemenang diserahkan pada saat acara ngobrol bareng ini. Berikut ini nama-nama pemenang kuis:
• Nisa Aulia dari Jakarta, atau @nisafu
• Shanty Handayani dari Jakarta, atau @shantyadhitya
• Yennesy Damayanti dari Padang, Sumatera, atau @cisy_sakura

Hadiah untuk pemenang dari Jakarta langsung diserahkan dalam acara kolaborasi ini. Untuk pemenang asal Padang hadiahnya dikirimkan lewat pos. Mau tahu hadiahnya? Masing-masing menerima satu set USB modem Smartfren CE682. Asyik, kan? Makanya… lain kali ikutan kalau kami bikin acara kayak ginian!

Foto, Video, dan Materi

Untuk sahabat Kampung Fiksi yang tidak bisa hadir tapi pingin tahu sebasah dan seseru apa acaranya, bisa ngintip tautan ini untuk menikmati foto-fotonya di akun google  dan akun Facebook kami.

Salah satu sahabat KF paling-konyol-dan-lucu-tapi-tidak-unyu dengan brand name Hazmi Srondol, berbaik hati merekam kegiatan basah ini dalam video 6 menit. Sudah diunggah di YouTube. Pengin lihat? Ini tautannya: http://www.youtube.com/watch?v=c4PIcR5qSd0&feature=plcp . Hati-hati yaaa... selain basah, bisa lengket… saking banyaknya keringat!

Sahabat Kampung Fiksi yang ingin mendapat materi tertulis dari Kampung Fiksi dalam acara tersebut bisa menuju tautan ini: Mari Menulis Cerpen! 

Kampung Fiksi menyampaikan berkarung terima kasih untuk para sahabat yang sudah ikut bikin seru acara ini. Penghargaan kami yang tinggi untuk para mitra: Smarfren, Story Lab, dan Panitia Festival Social Media 2012. Acara ini bikin ketagihan, kapan ya bisa ngadain acara lebih seru lagi, dan berbasah-basah kembali? 

***

Horeee! Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh kami dan juga sahabat KF akhirnya tiba juga. Tidak akan ngomong banyak di postingan ini selain mengatakan hurraahh! Acara berjalan dengan baik bersama Story Lab Bandung di classroom Gelanggang Renang Senayan tgl 13 Oktober 2012 pada saat Social Media Festival.

Bagi yang missed our good moment dan pengen tahu siapa-siapa yang hadir silahkan ngintip video kegiatan kami karya Hazmi Srondol dengan reporter dadakan dari Taman Bacaan Mahanani : Naim Ali beserta MC super keceh : Andi Gunawan (pokoknya rugi yang gak datang).

Juga foto yang bertebaran di akun Facebook kami dan album foto di google plus  milik Ria Tumimomor bisa diintip sekalian :)

Reportase lengkap akan segera menyusul ya sahabat KF :) Selamat menikmati foto-fotonya ^_^

Bagian 12

Kudengar ketukan di pintu kamar saat aku hendak melakukan posisi ardha chandrasana. Pasti Tim. Sore tadi, selepas kami sama-sama keluar kantor karena gusar, ia menelpon, mengajakku bicara. Saat itu aku tengah menyusuri jalanan, membuang semua energi negatif yang tertimbun sejak seminggu lalu, sejak petugas yang marah di perbatasan menembakkan Mosin Nagant dua kali.

Kami sepakat bertemu pukul 6, namun ada urusan mendesak yang harus ia selesaikan.

“Maaf, kupikir 30 menit cukup, ternyata hampir 1 jam,” kilahnya begitu pintu kubuka. Ia mengamati wajah dan leherku yang berleleran keringat. “Kamu baru yoga? Kita bisa….”

“Tidak apa-apa, sekarang saja,” potongku. Aku tak mau menunda kesempatan mendengar apapun yang akan disampaikannya. “Kamu keberatan kalau aku tidak mandi dulu?”

 “It’s fine. Kamu kelihatan lebih segar,” gelaknya. “Mau di kantor atau…?”

“Di kolam renang,” ujarku. Sabtu malam kolam renang buka sampai pukul 10. Café-nya masih melayani tamu hingga pukul 2 dini hari. “Sebentar….” Pintu kubiarkan terbuka. Kuraih dompet, ponsel, dan jaket. Kolam renang ada di atap, kalau malam anginnya makin kencang. “Apa ada sesuatu yang perlu kubawa?” tanyaku sebelum menutup pintu. Kami berhadapan, aku harus mendongak untuk melihat wajahnya.


Setumpuk perasaan milik hati
menumpuk di atas meja, ranjang, dan lemari
sebagian tertutup di bawah tudung saji
sebagian lagi terlipat bersama kemeja usang di laci
sebagian yang lain tergoreng nyaris hangus di atas wajan.

Setumpuk perasaan milik hati
bermain-main dengan angin di luar jendela
mereka ingin berlari pergi tetapi bayangannya terikat erat
di kusen-kusen kayu tak bergerak, kokoh, keukeuh,
tak peduli rasa ingin.

Setumpuk perasaan milik hati
duduk manis di atas kursi rotan berayun
membiarkan segala hiruk-pikuk lalu-lalang
memandang apa siapa kenapa di mana dengan siapa
tak tergores sedikitpun oleh peristiwa
membiarkan kejadian demi kejadian berlangsung
mencatatnya diam-diam, menyimpannya dalam satu lagi tumpukan cucian.

Setumpuk perasaan milik hati
tersimpan dalam tumpukan-tumpukan kertas bergaris
bermandikan debu-debu mengendap dengan waktu
tersembunyi dari pandangan
nyaris terlupakan sama sekali
menunggu dalam diam-diam tanpa keraguan
suatu saat nanti, ya, suatu saat nanti.

Setumpuk perasaan milik hati
remeh-temeh, jinak, dangkal
tak berujung tak berpangkal
hanya sekedar ada, pernah ada, pernah dirasakan
tak lagi diingat mengapa ia ada
tak punya tempat dalam arteri utama kehidupan.

Setumpuk perasaan milik hati
mengendap
lalu seperti segala sesuatu di dunia fana
bersatu dengan debu
abadi dalam debu
tanpa penyesalan.

2012

***

Sudah dimuat di Miss G dan sepotong di Notes FB
Bagian 11


Di pertengahan Februari cuaca pagi di kota Bangkok terasa nyaman dan sejuk, seperti perasaanku sehabis memburas dengan Bapak dan Ibu. Supaya hemat, kami memakai Skype, tetapi sistem keamanan hotel ini memblokir penggunaan kamera, jadi kami tidak bisa saling melihat.

Berada dalam situasi semak hati seperti ini membuatku rindu pada orang-orang yang menyintaiku. Membuatku ingin bersama mereka. Teman-teman kerjaku bukannya tidak menyayangiku. Mereka baik dan penuh perhatian. Tim sudah kukenal lama, sejak aku masih belajar di Amerika. Rudi sudah kukenal lebih dari 10 tahun, saat ia mulai bersahabat dengan Mbak Nia. Ia juga kerap bertandang ke rumah. Tong Rang sudah jadi rekan kerjaku selama 5 tahun. Ia pernah ke Jogja, sepekan tinggal di rumah orang tuaku. Kalau sedang tidak mengerjakan proyek, kami saling berkirim kabar.

Namun tindakan Tong Rang menyadarkanku bahwa aku tak mungkin bisa sepenuhnya mengenal orang-orang di sekelilingku. Kejadian ini juga semacam bukti, manusia punya banyak sisi. Satu sama lain hanya bisa saling mengenal sisi yang ingin ditampilkan, sementara sisi lainnya meringkuk dalam gelap, sampai suatu saat muncul – atau dimunculkan. Menakutkan. Jangan-jangan setiap orang punya sisi yang tak pernah terlihat orang lain hingga akhir hayat. Tak terkecuali diriku.



Hai sahabat KF. Minggu ini kami menyapa kalian untuk berbagi cerita sedikit mengenai keikutsertaan kami di Social Media Festival yang akan berlangsung dari tanggal 12 hingga 14 Oktober 2012 di Gelanggang Renang Senayan.

Gimana awalnya kok kami kepikiran untuk ikut acara ini? Sejak workshop menulis yang kami adakan tahun lalu, ingin sekali ketemu lagi secara offline dengan para sahabat KF. Dan sepertinya even ini  adalah tempat yang pas untuk mewujudkan hal tersebut.  Pas ketika salingsilang.com bersama Daily Social hadir kembali dengan Social Media Festival 2012. Dalam kesempatan kedua ini, hadir pula Kaskus Official Partner untuk berkolaborasi membuat event di Indonesia bagi para penggiat media sosial Indonesia. Acara ini didukung juga oleh ACER, US Embassy dan Smart Fren.