Friday, October 5, 2012

Tembak Di Tempat 11

Bagian 11


Di pertengahan Februari cuaca pagi di kota Bangkok terasa nyaman dan sejuk, seperti perasaanku sehabis memburas dengan Bapak dan Ibu. Supaya hemat, kami memakai Skype, tetapi sistem keamanan hotel ini memblokir penggunaan kamera, jadi kami tidak bisa saling melihat.

Berada dalam situasi semak hati seperti ini membuatku rindu pada orang-orang yang menyintaiku. Membuatku ingin bersama mereka. Teman-teman kerjaku bukannya tidak menyayangiku. Mereka baik dan penuh perhatian. Tim sudah kukenal lama, sejak aku masih belajar di Amerika. Rudi sudah kukenal lebih dari 10 tahun, saat ia mulai bersahabat dengan Mbak Nia. Ia juga kerap bertandang ke rumah. Tong Rang sudah jadi rekan kerjaku selama 5 tahun. Ia pernah ke Jogja, sepekan tinggal di rumah orang tuaku. Kalau sedang tidak mengerjakan proyek, kami saling berkirim kabar.

Namun tindakan Tong Rang menyadarkanku bahwa aku tak mungkin bisa sepenuhnya mengenal orang-orang di sekelilingku. Kejadian ini juga semacam bukti, manusia punya banyak sisi. Satu sama lain hanya bisa saling mengenal sisi yang ingin ditampilkan, sementara sisi lainnya meringkuk dalam gelap, sampai suatu saat muncul – atau dimunculkan. Menakutkan. Jangan-jangan setiap orang punya sisi yang tak pernah terlihat orang lain hingga akhir hayat. Tak terkecuali diriku.

Kupejamkan mataku. Mencoba mengingat kejadian-kejadian masa lalu yang ingin kupotong dari sejarah hidupku, kusembunyikan dari orang-orang. Hal-hal buruk yang menghantuiku, yang masih sering memberati langkahku sampai hari ini. Sekelam apapun derita yang pernah menyergapku, tak ada yang sehitam tragedi masa lalu Tong Rang. Sulit membayangkan bagaimana ia bisa bertahan selama 22 tahun. Mungkin ia sering terbangun tengah malam, mendengar kembali suara tembakan yang merenggut nyawa orang tua dan adiknya; atau raungan kematian mereka. Merasakan hangat darah keluarganya yang muncrat membasahi wajahnya, mencium anyirnya. Aku bergidik.

Dering telpon kamar mengejutkanku. Hanya Tim, Naing Naing dan Rudi yang tahu aku berada di dalam kamar hotel. Mereka biasanya menghubungi ponselku. Telpon tidak kujawab. Sebelumnya aku tak pernah ragu-ragu mengangkat telpon kamar. Namun situasi kami kali ini berbeda. Aku harus lebih berhati-hati. Waspada. Kalau ada hal penting, si penelepon pasti akan meninggalkan pesan. Deringan berhenti setelah tujuh kali. Kudengar suara lelaki meninggalkan pesan: suara Tim. Ia meminta kami segera berkumpul di kantor.

Selain menyewa tiga kamar di hotel ini, Tim juga menyewa sebuah ruang kantor di lantai 9, cukup luas untuk bekerja satu tim. Di dalamnya ada satu set sofa dan lima set meja-kursi kerja.

Aku bertemu Rudi sedang menunggu lift. Kamar kami sama-sama di lantai 16.

“Apa kabar Jogja?” Ia tahu sepagian aku ngobrol dengan orang tuaku.

“Semua baik. Ibu kirim salam. Ibu kayaknya merasa ada sesuatu yang nggak biasa. Aku cerita soal tanganku. Kubilang aku jatuh pas lagi ndaki bukit. Ibu khawatir banget, minta aku ngirim foto lukaku.” Kami sama-sama tertawa. “Semalam ada yang penting? Naing Naing cerita apa?”

“Yaaah… cuma ngobrol ini-itu. Nggak mbahas Tong Rang. Nggak bijaksana bicara soal itu di tempat umum. Kami minum sedikit. Main kartu. Dia nggak mau diberi kamar, milih tidur di dalam kantor, di sofa,” cerita Rudi sambil mengetuk pintu.

Orang yang tengah kami bicarakan itu membuka pintu. Satu matanya menyerong ke kanan dan satunya ke kiri. Rambut panjangnya bertebaran melewati pundak.

“Hai… Apa kabar?” sambutku, “rambutmu keren… bisa buat iklan shampoo!”

Naing Naing tergelak, menyibak rambutnya ke belakang, menepuk lembut pundakku, menanyakan tanganku.

Tim duduk di sofa sedang asyik membaca. Kakinya disilangkan. Rambutnya masih basah, disisir ke belakang mempertontonkan dahi yang lebar. Ia memakai kaca mata berbingkai bundar dari kulit penyu, salah satu koleksinya yang kusuka. Matanya terangkat begitu kami masuk. Kami berempat duduk di sofa, bicara hal-hal pribadi sebentar.

“Ada yang harus segera kita lakukan. Maaf. Tidak ada akhir pekan. Naing Naing sudah punya informasi. Go ahead….” Tim meminta Naing Naing bicara.

“Tong Rang sudah 15 tahun memburu anggota militer ini.” Naing Naing mengeluarkan selembar foto ukuran 10R dari map, meletakkannya di atas meja. “Pembunuh keluarganya. Waktu kejadian itu, tahun 1988, pangkatnya Du Bo, Letnan Dua. Karirnya tak sebagus rekan-rekannya. Terakhir pangkatnya kolonel. Bertugas di Komando Operasi Militer 12, di Kawkariek, Kayin State. Dia sedang inspeksi pasukan perbatasan ketika diserbu. Dua rencana Tong Rang sebelumnya gagal. Ada belasan orang yang ingin membunuhnya. Mereka dibantu orang dalam.” Sebagai jurnalis Naing Naing bisa memperoleh informasi dari berbagai sumber.

“Siapa saja mereka?” tanya Rudi.

We don’t want to know that. We just need to locate Tong Rang,” sergah Tim, “the last thing we want is getting involved. It’s not our war.”

Just curious, Boss,” Rudi cengengesan.

“Yan Aung baru dilibatkan beberapa bulan lalu. Ia rela mati dengan imbalan jaminan atas masa depan istri dan dua putrinya. Tong Rang sudah mengatur agar mereka bisa menjadi warga negara Thailand. Sejak dua bulan lalu mereka sudah dipindah ke Chiang Mai. Tubuh Yan Aung hancur. Mungkin disengaja untuk menutupi identitasnya, demi keselamatn keluarganya. Tong Rang selamat. Kabarnya kakinya tertembak. Kontak saya yakin Tong Rang bergerak ke selatan, menuju Malaysia. Kalau kamu tertarik untuk ikut meliput….” Naing Naing memandang Rudi, menyeringai.

Rudi menarik nafas panjang. “Ini kesempatan langka….” gumamnya.

“Kita tidak akan membahas ini. Kalau kamu mau, silakan saja. Kamu urus sendiri semuanya. Bagiku informasi ini sudah cukup. Selanjutnya urusan akan ditangani Ruth.” Tim memandang Rudi. “It’s way beyond my pay grade.”

“Oh… aku hanya berpikir saja…” Rudi tertawa, ragu-ragu tapi kepingin.

“Aku tidak perlu mengkopi dokumen ini,” kata Tim pada Naing Naing, “semakin sedikit yang aku tahu, semakin baik. Hey….” Tim memutar kepalanya, menatapku. “Sejak tadi kamu diam saja. Wajahmu pucat… Rudi, tolong ambilkan minuman, mini bar sudah kuisi penuh.”

“Aku belum percaya ini sungguh-sungguh terjadi.” Suaraku mengawang, serupa asap yang hilang ditelan udara.

“Ini sungguh-sungguh terjadi. Kamu tidak perlu takut,” Naing Naing berusaha memusatkan mata julingnya. Sepertinya ia tahu aku kebingungan tiap kali kami bertatapan. “Kamu di tengah-tengah kota Bangkok. Dikelilingi teman-teman. Ini tidak seperti film-film itu. Tidak ada orang yang mengintaimu dari balik tangga darurat atau menyergapmu di dalam lift atau mendobrak kamar untuk menculikmu atau menembakimu di jalan dari mobil berkaca gelap….”

“Naing Naing….” tegur Tim, “jangan berlebihan.”

Rudi mendekatiku, membuka botol air mineral, mengangsurkannya padaku. “Mungkin itu yang ada di dalam pikiran Mia. Bener?” tanyanya.

Sambil minum aku mengangguk. “Aku memang takut. Semalam aku sulit tidur, sempat terpikir untuk pulang ke Jogja. Aku tidak bisa bersikap tenang seperti kalian. Ini bukan lantaran aku perempuan. Jangan dikaitkan.”

“Aku sebenarnya juga takut.” Rudi cepat menyahut. Mungkin ia ingin membuatku merasa nyaman. “Aku nggak mau bersikap sok berani. Aku ingin hati-hati.”

“Kita memang harus hati-hati,” kata Naing Naing, “kalau mereka ingin menyakiti kita, sudah mereka lakukan dari kemarin. Kalau mereka mengincar kita, saat ini kita sudah mati.”

“Aku sudah bilang ada orang yang ditugaskan khusus menjaga kita. Ingat?” Tim mencondongkan tubuhnya ke arahku.

“Ya. Kamu bilang begitu.”

“Kalau situasinya membahayakan keselamatanmu, aku pasti sudah memintamu pulang. Tapi kalau kamu ingin pulang, aku tidak melarang. Aku beranggapan kamu ingin belajar dari situasi ini.” Tim tersenyum. “Kita juga tidak akan mengurusi Tong Rang. Informasi ini akan kuserahkan Ruth. Sehabis rapat aku akan menemuinya. Sekarang kita harus kembali bekerja. Bagaimana?”

I’ll stay,” ujarku mantap. “Wherever you go… whatever you do… I will be right here staying with you….” kutirukan nyanyian Richard Marx. Semua tertawa lega.

“Para penjaga kita dikirim oleh seseorang ke sini. Menyamar sebagai tamu hotel.”

“Para penjaga?”

“Ya. Ada tiga orang.”

“Siapa yang mengirim mereka?”

“Pada waktunya kamu akan bertemu orang itu,” sepasang mata coklat Tim membeliak di balik kacamata bundarnya. “Untuk saat ini, makin sedikit yang kamu tahu, makin baik.”

“Apa kita akan kena sanksi?” celetuk Rudi.

Tim menghela nafas. “Aku berpikir begitu. Tapi itu sepenuhnya tanggung jawabku. Sebelum Ruth memutuskan apapun untuk proyek kita, sebaiknya kita berusaha menyelesaikannya. Okay! Kalau begitu sekarang saatnya menyusun rencana…” Tim melihat arlojinya.

** 

Alunan lembut Four Season dari Vivaldi membelai telinga kami. Sudah hampir tujuh jam aku hanya duduk dan mengetik. Aku mulai merasa lelah, ingin keluar menghirup udara segar. Kuputuskan untuk mencetak dulu draft laporanku. Tim lebih suka mengoreksi dengan mencoret-coret lembaran kertas daripada hanya membaca di layar monitor.

Printer diletakkan di atas meja Naing Naing. Meja yang tak dipakai – yang seharusnya untuk Tong Rang – dipenuhi makanan dan botol minuman, juga kotak dan gelas styrofoam bekas makan siang.

“Kita mestinya menyewa ruangan yang dilengkapi pantry,” keluh Tim, “tapi ruangan semacam itu sudah habis di-booking.”

“Biar saya yang urus itu!” Rudi beranjak dari kursi. Memasukkan sisa-sisa itu ke dalam kantung plastik bergambar tiga penari, logo restoran tempat kami memesan makanan. “Aku mau merokok. Ini sekalian kubuang,” ia menenteng buntelan itu keluar.

“Nama file-nya?” tanya Naing Naing, menerima flashdisk yang kuangsurkan.

“Draft inception report. Tujuh belas halaman.”

“Ditinggal saja kalau mau keluar. Nanti kutaruh di mejamu,” ujarnya menghidupkan printer.

“Ini apa?” kuraih empat lembar kertas di bawah meja, mungkin terjatuh saat keluar dari mulut printer. Rupanya formulir. Kususun urut halaman. Pada halaman pertama bagian atas tercetak U.S. Department of State Application for Immigrant Visa and Alien Registration. “Siapa ini? Stella Thin Aye…” kueja nama yang tertulis di situ. Di sisi kiri atas tertera foto perempuan berambut lurus sebahu: wajah perempuan Burma.

“Hey….” teriak Tim. Kursinya terbalik karena ia bangkit terlalu cepat.

Aku terkejut. Mata Naing Naing berkelebat.

“Ada apa?” Kembali kuteliti isi formulir itu.

“Hey…” Tim sudah berada di sampingku, merebut kertas itu. Memandang Naing Naing dengan tatapan marah.

What’s that?” aku bingung, curiga ada sesuatu yang mereka sembunyikan.

“Bukan urusanmu, Mia.”

 “Apa kamu bilang?” Suaraku meninggi.

“Mia…. Tim…. Please….” Naing Naing berdiri. “Ini salahku. Aku tidak tahu kalau Mia tidak tahu.”

“Apa yang aku tidak tahu? Tim?” Aku melotot. Minta penjelasan.

Tiba-tiba ruangan senyap. Suara musik yang lembut seakan terhisap dinding. Kulit wajah Tim memerah. Dua tangannya mengusap rambut yang kepanjangan nyaris melewati ujung bawah telinga. Matanya menumbuk mataku yang masih terbeliak. Ia seperti terkena tulah, mulutnya terbuka namun tak mampu bicara.

“Aku perlu udara segar….” Akhirnya ia mengangkat dua lengannya. Telapak tangannya menepis udara. Lalu ia meninggalkan ruangan.

Kejadian beberapa detik ini seperti mimpi. Aku terbangun oleh suara bantingan pintu di belakang punggung Tim. Naing Naing melongo, dua tangannya mencengkeram tepi meja. Ia mengucapkan sesuatu, namun aku tak paham.

Kusambar tas cangklong dan ponsel. Dengan gusar kuayunkan kakiku keluar ruangan, menyusuri koridor berkarpet merah anggur. Sepatuku yang bersol karet kualitas tinggi, yang biasanya tak menimbulkan suara, sepertinya bunyi bising sekali.

Di lobby aku berpapasan dengan Rudi. “Mia?” serunya, “Mia?”

Sapaannya tak kuhiraukan. Sejak insiden di perbatasan itu, segala sesuatunya seakan salah letak. Bahkan aku menjelma orang berbeda, mudah jengkel dan sulit tertawa, serupa komputer yang terkena virus. Baru kusadari, kejadian itu belum genap seminggu.

Hingar-bingar musik reggae dan dentuman knalpot tuk-tuk berbaur tawa orang-orang yang sedang santai di sidewalk café menabuhi langkahku. Aku berjalan tanpa tujuan. Tubuhku menyelinap di antara orang-orang yang melenggang santai menikmati sore. Lenganku menyenggol dagangan seorang pengasong suvenir. Ia mengumpat kasar.

***