Friday, March 6, 2015

(Wawancara Penulis) Herlina P Dewi: Proses Panjang Bernama Menyunting Buku

Halo fictionholic :) Di wawancara penulis kali ini, KF berkesempatan bertemu dan ngobrol dengan Herlina P Dewi, editor in chief Stiletto Book salah satu penerbit mayor Indonesia yang berkantor di Jogjakarta. Selain menjadi editor, Herlina juga menulis novel dan beberapa buku antalogi. 

KF: "Selamat Siang, Mbak Herlina! Terima kasih sudahh bersedia diwawancara kampung fiksi.  Sekarang sedang sibuk apa Mbak?"

HPD: "Siaaaang! Lagi nggak sibuk kok, selo banget."

KF: "Mbak kan kerja di penerbit.  Cerita ke kita dong Mbak gimana proses lahirnya sebuah buku? Berapa lama proses editingnya? Apa saja yang dilakukan sebelum naik cetak?"

HPD: "Prosesnya panjaaang: terima naskah -> seleksi -> layak terbit -> masukin jadwal terbit -> menyiapkan surat kontrak dengan penulis -> editing (bisa bolak-balik sampai 10 kali) -> proof (pemeriksaan tanda baca, EYD, dll) -> bikin cover -> layout isi -> proof lagi (periksa hasil layout dan desain covernya) -> urus ISBN -> siap naik cetak lalu diedarkan ke toko buku.Proses editing setiap penerbit beda-beda waktunya. Kalau di Stiletto Book, untuk editing tahap pertama waktunya dua minggu, setelah itu naskah akan dikembalikan ke penulis untuk revisi-revisi. Setelah proses revisi di penulis selesai, naskah akan diperiksa lagi oleh editor. Kalau sudah oke, baru diserahkan ke proof reader yang bertugas memeriksa susunan kalimat, memperbaiki EYD, mengecek kembali isi naskah secara keseluruhan (logika cerita, alur, dll). Jadi total kurang lebih satu bulan, bisa lebih cepat atau malah lebih lama."


KF: "Wah panjang banget yah proses menerbitkan sebuah buku. Salah satu hal yang mengikat penulis dan penerbit itu adalah kontrak, bisa jelaskan proses kontrak penerbit dan penulis?"

HPD: "Kontrak penerbitan buku antara penerbit dan penulis macam-macam: (1) Sistem royalti di mana penulis akan menerima sekian persen dari harga jual buku. Lama kontrak harus dicantumkan, misal 2 tahun, 3 tahun, dan seterusnya. (2) Sistem beli putus di mana penulis akan dibayar cash untuk satu naskah tersebut. Dengan begini, penulis sudah tidak berhak atas royalti lagi. Atau (3) Kombinasi keduanya: sistem beli putus tapi pakai kuota jumlah eksemplar, misalnya: naskah dibeli Rp.xxx untuk dicetak sebanyak 3.000 (misalnya), jadi kalau cetak ulang, penulis akan mendapat fee lagi. Kalau di Stiletto Book, semuanya pakai sistem royalti."

KF: "Wah, lumayan ribet juga, yah. Kalau sudah tahu gimana proses penerbitan buku dan sistem kontrak, terus ada di antara fictionholic ada yang minat kirim naskah ke Stiletto book gimana syaratnya?"

HPD: "Syaratnya bisa dilihat di website Stiletto Book. Kami pakai sistem sampel naskah di mana penulis mengirimkan dulu 30 halaman pertama naskahnya melalui email dan akan diberitahukan hasilnya kurang lebih satu bulan. Kalau nonfiksi lebih simpel lagi, tinggal mengajukan outline naskahnya, dan 5 lembar contoh tulisan. Mudah dan cepat, kan?

KF: "Wah, jadi walaupun naskah kita belum seratus persen jadi bisa dikirim, yah? Naskah seperti apa yang dicari Stilletto Book?

HPD: "Stiletto Book menerbitkan hampir semua genre fiksi: kumpulan cerpen, novel romance, chicklit, novel remaja, horor, ataupun novel based on true story. Naskah yang bagus dan punya pangsa pasar, pasti terbit!"

KF: "Di Stilleto sendiri setiap bulan ada berapakah naskah yang masuk, Mbak?"

HPD: "Lumayanlah, ratusan, dan baru punya kuota menerbitkan buku HANYA 2 judul saja per bulan. Karena Stiletto Book kan sekarang tidak hanya menerbitkan buku, tapi bikin merchandise-merchandise untuk para pecinta buku, jadi ya energinya harus dibagi-bagi ke sana. Makanya kesannya seleksinya ketat. Padahal karena memang kami membatasi jumlah terbitan buku."

KF: "Sebagai editor in chief di Stiletto Mbak juga menangani naskah, yah? Ceritakan dong Mbak gimana serunya menjadi editorr? Pengalaman berkesan? Pengalaman paling sedih?"

HPD: "Semua pengalaman berkesan sih. Karena di Stiletto Book kebanyakan penulisnya perempuan, jadi kerempongannya lebih terasa. Hahaha. Misal, ada yang dikasih PR untuk revisi, ketika deadline, yang disetor malah berbagai pose foto untuk halaman profil penulis, atau berlembar-lembar ucapan untuk halaman terima kasih, hahaha. Suka aja sih berhadapan dengan macam-macam sifat penulis. Ada yang manut dengan semua usulan editor untuk mengedit naskahnya, tapi ada juga yang keukeuh kalau disuruh revisi malah kasih alasan macam-macam, yang kayak gini sering bikin deg-degan. Maksudnya, jadi lebih seru aja ngeditnya. Bernegosiasi dengan penulis untuk menghilangkan sebagian adegan atau menambah adegan lain .. itu menyenangkan. Ini yang bikin proses editing jadi tarik-ulur lamaaa. Kalau yang sedih-sedih sih kayaknya belum pernah."

KF: "Dalam menjadi penulis satu hal yang pasti akan dialami oleh semua penulis yaitu penolakan.  Menurut Mbak sebagai editor apa saja alasan editor sebuah penerbit menolak naskah?"

HPD: "Naskah ditolak itu biasanya karena: ide cerita dan cara penyampaian biasa (sudah banyak cerita sejenis), kurang masuk akal, konflik kurang kuat, alur lambat atau malah terlalu cepat, naskah kurang diminati pasar, dan banyak lagi. Yang jelas, setiap penerbit pasti tidak mau gambling memilih naskah untuk diterbitkan, itu yang membuat editor harus jeli memilih naskah."

KF: "Mbak Herlina juga menulis novel kan yah? Judulnya seribu kerinduan. Ceritain dong Mbak sinopsis cerita novelnya?"

HPD: Idenya simpel, seorang perempuan karier yang sudah menjalin hubungan lama dengan pacarnya, tiba-tiba ditinggalkan begitu saja. Untuk memanjakan masa patah hatinya, si perempuan ini seenaknya saja menjalani hidup. Kehilangan semangat kerja yang berujung pada pemecatannya dari kantor tempatnya merintis karier selama 5 tahun. Sampai kemudian dia berada di situasi yang membuatnya memilih menjadi PSK untuk merasakan lagi adrenalin hidupnya. Ya gitu deh. Biasa, kan? Tapi yang luar biasa adalah detail kisahnya."

KF: "Kasih tahu ke fictionholic dong mbak kenapa kami harus membeli novel, Mbak?"

HPD: "Beli aja kalau punya uang lebih dan pengin menikmati sensasi membaca dark romance ala aku, hahaha."

KF: "Antara jadi editor dan menulis, menurut Mbak lebih susah yang mana?"

HPD: "Jadi editor itu nggak enaknya: kalau novel yang diedit bagus, yang dipuji pasti penulisnya. Tapi kalau naskah dinilai kurang bagus (entah karena ceritanya dianggap biasa, masih banyak typo, logika cerita kurang kuat, dll) editor pasti akan dicari duluan. Hahaha. Tapi jadi penulis juga berat apalagi kalau buku-buku yang sudah ditulis dengan darah dan air mata ternyata kurang laku di pasaran. Hiks. Dua-duanya butuh mental yang kuat."

KF: "Terakhir dan tak kalah penting, bagi dong mbak tips menulis ala editor untuk fictionholic."

HPD: "Menulis itu seperti jam pasir, apa yang kita serap, itu yang akan kita keluarkan. Input akan sebanding dengan output. Jadi kalau pengin tulisannya bagus, bacalah sebanyak-banyaknya, karena dengan membaca, kita tidak hanya mendapat berbagai ide cerita, tapi juga bisa sekalian belajar teknik menulis."

KF: "Terima kasih untuk waktunya, Mbak. Suskses selalu."


Biodata

Nama: Herlina P Dewi
Tanggal lahir: 6 Oktober
Pekerjaan: Pimpinan redaksi
Hobi: Baca buku dan main sama anak
Tiga buku hasil editan yang paling berkesan: Hitam Putih Dunia Angel (penulis novel ini sampai nginep di rumahku seminggu), A Cup of Tea for Writer (pengalaman ngedit 20 tulisan para penulis keren, termasuk Ika Natassa, Reda Gaudiamo, Ollie, dll, itu luar biasa), dan Letters to Aubrey (selama ngedit, satu kotak tisu habis, haha)

Buku-buku yang telah diterbitkan: Seribu Kerinduan ( 2013), Serial A Cup of Tea (ikut nulis di 3 buku, terbit 2011-2012), Wedding Checklist (2011), Mengelola Keuangan Pribadi untuk Perempuan (2010)

Pengarang Favorit: banyak

Buku Favorit: Me Before You  Jojo Moyes, Shopaholic Series  Sophie Kinsella, Tetralogi Pulau Buru  Pramoedya, dan semua buku-buku Stiletto Book, hahaha

Quote favorit tentang menulis: If you dont have time to read, you dont have the time (or the tools) to write. (Stephen King)