Malam ini aku akan pergi. Semua sudah siap. Sebuah ransel usang yang tak sengaja kutemukan di pojok dapur kotor rumahku. Uangku yang tak seberapa. Sebuah gaun hitam backless dan high heels hitam kesayanganku.
Untuk apa gaun hitam dan sepatu tinggi itu? Aku ingin mati cantik. Setidaknya orang yang menemukanku kelak tak bergidik ngeri melihat kondisi jenazahku. Walaupun aku sudah mati, ingin juga rasanya masih ada yang mengagumi kecantikanku. Hey, setidaknya ada sedikit bagian dari diriku yang menunjukkan kalau aku normal! Aku ingin selalu tampak cantik!
Lagipula, jika sebelum sampai tujuanku nanti ternyata perbekalanku habis, gaun itu bisa kupakai untuk modalku melacur di hotel berkelas. Pelacur sekelasku tidak bisa disamakan dengan pelacur pinggir jalan. Semua karena aku begitu sombong. Tak akan ada banyak orang yang melihatku jika aku berkeliaran mencari mangsa di hotel-hotel seperti kalau aku berdiri melambai-lambaikan tanganku di pinggir jalan ke arah mobil-mobil yang lewat. Aku malas menghadapi calon pembeli yang tidak potensial. Hah! Pelacur pun berhak sombong.

Ya, waktu lalu kau bunuh cintaku
Sehingga akar dan batang jiwaku turut mati
Apabila Sang Pencipta mencabut nyawaku hari ini,
Apakah kabar kematianku akan singgah di pendengaranmu?

Bagaimana bila aku mati nanti kau tidak hadir, sedangkan aku tidak mau diturunkan ke liang lahat sebelum kau mengecup keningku tuk terakhir kalinya…

Ya, kewarasanku kosong
Karena Kau telah mencurinya saat lalu
Dan aku akan mati dalam kegilaanku, jika dirimu tidak muncul-muncul juga

Pagi menyelinap diam-diam menapaki lipatan gordin sewarna daun jati.

Lewat sela-sela bulu mata, kulihat ia merambat turun, menyusuri permukaan kaca, mengkilat ditimpa sinar matahari.

Tubuhku sembunyi di hangat selimut putih seharum kuncup lavender.
Mataku merapat kembali, pura-pura tak melihatnya.

Aku tak mau ia menyingkap selimutku, membangunkanku dengan tangannya yang dingin.

***

Kembali
oleh G

Malam itu dia kembali, perempuan berwajah purnama hampir usai
diikatkannya layanglayang yang selama ini membawanya terbang
diikatnya. pada kotak surat pembawa pesan. diikatnya.
35 harihari berlalu sejak kepergian lalu kepulangannya.
dia masih rindu pada cakap burung layanglayang ketika
itu.

Malam itu dia kembali, kepada angin dia kembali, perempuan berwajahkan
bintang malam separuh peri. dibawanya kembali layanglayang
yang membawanya terbang. suratsurat bertumpuk di dalam kotak pos
tak pernah dibukanya, tak pernah dibacanya.

Malam itu dia pulang. dia pergi untuk pulang kepada langit
kepada lengkunglengkung jauh di batas horizon yang semakin vertikal
lalu menjadi sesuatu seperti janji tanpa batasbatas dan ikatan
dia pulang. dia pulang.

Seperti janjinya,
untuk tiga puluh hari ke depan dia pulang. menunggu detikdetik.
sebelum mengetuk pintu.
tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu



Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Damono (1994)

*****

Ada apa di bulan Juni di Kampung Fiksi? Adalah diksi. Kata-kata yang seperti hujan di bulan Juni, jatuh merinai di antara fiksi yang menari-nari di imajinasi. Pecahlah sunyi. Pecahlah puisi. Menjadi bait-bait yang berlompatan antara majas dan konfiguratif. Puisi-puisi bulan Juni di Kampung Fiksi.

Kampung Fiksi, seperti bebunga musim semi yang mencintai hujan, menanti kiriman puisi dari kawan-kawan.

Satu >> Tema bebas. Sebebas imajinasi. Selepas kemana kata-kata membawamu.

Dua >> Puisi bukan Matematika yang menghitung jumlah kata. Panjang dan singkat adalah pilihan.

Tiga >> Satu, dua dan tiga. Mari tarikan kata-katamu menjadi antara lain puisi, prosa liris, sajak, pantun atau bahkan haiku.

Empat >> Setiap hari adalah puisi. Puisi-puisi di bulan Juni bisa jadi adalah tiga puluh puisi yang berkisah di Kampung Fiksi.

Lima >> Puisi-puisi di bulan Juni di Kampung Fiksi akan mewujud BUKU antologi puisi yang akan diterbitkan oleh Kampung Fiksi Publisher. Ah, kapan lagi puisi menjadi senarai diksi di Kampung Fiksi kalau bukan di bulan Juni ini?

Maka kawan,

Tuliskan sajakmu! Simfonikan prosamu! Tarikan puisimu! Serukan haikumu!

Kami menanti kiriman puisimu di kampungfiksi@gmail.com


Salam puisi,
Kampung Fiksi
(Meli aka Bunglon Tosca)


Aku perempuan jalang…
Istri pengkhianat…
Ibu bangsat…
Manusia bejat…
Itu aku…
Hanya membunuh saja aku tidak…
Belum…
Mungkin nanti…
Di akhir perjalananku…
Aku akan membunuh…
Membunuh diriku sendiri…
Tunggu saja…

Keputusanku hari ini bulat tepat tak berlipat.  Aku harus pergi. Meninggalkan semua yang telah berhasil membuat jiwaku sakit. Aku tidak mencari kesembuhan. Aku mencari penyelesaian dari penderitaan ini.  
Aku cuma perempuan biasa, seperti semua perempuan lain di dunia ini. Tak ada yang istimewa. Kalau ada yang memuji diriku molek, berjuta perempuan lain bahkan jauh lebih menawan dariku. Kalau ada yang mengatakan aku seksi, oh please…aku juga bukan satu-satunya. Kalau ada yang mengatakan aku pandai, ribuan perempuan jenius terserak tak berharga di muka bumi ini. Itu kalau menilaiku karena aku perempuan.
Tapi aku bukan ‘hanya’ seorang perempuan. Aku juga seorang istri. Dan juga seorang ibu. Dan tidak melupakan kalau aku juga seorang anak perempuan dari seorang perempuan yang pernah berbagi tali pusar denganku selama sembilan bulan.
Yanna tergolek diam di atas amben di emperan rumah Tono. Wajahnya yang separuh tertutup topi sedikit berkilat karena keringat. Matanya yang tersembunyi dalam bayangan topi memandang jauh ke atas, menembus kerimbunan dedaunan kelapa, ke langit luas.

Sekelebatan terbayang tubuh Tono memanjat salah satu pohon kelapa itu. Kaki-kakinya yang panjang, lencir dan kuat membelit batang kelapa untuk menopang tubuhnya, kedua tangannya yang kokoh menggapai batang di atas kepalanya. Seluruh otot di punggungnya meregang. Sementara matahari menjilati tubuhnya dengan rakus hingga kulit coklat lelaki itu basah oleh berkeringat.

Laut adalah kumpulan titik-titik air yang menghubungkan penjuru jarak dan kisah di bumi.

Kau percaya?

Aku percaya. Paling tidak, aku percaya pada apa yang dipercayai oleh kakekku.

~ - ~ - ~ - ~

Kakek Laut, demikian beliau akrab disapa oleh keluarga dan teman-temannya. Tentunya itu bukan nama asli. Nama Laut yang ditabalkan di belakang nama kakek berkaitan erat dengan sejarah hidupnya. Tentang bagaimana itu terjadi, baiklah, akan kuceritakan sebuah kisah luar biasa tentang perjalanan hidup kakek, seorang lelaki yang mungkin biasa saja bagi orang lain, meski bagiku, ia adalah sosok yang lebih dari sekedar luar biasa.

Ilustrasi oleh Azam Raharjo

Episode 7: Dea Menghilang

Ponsel Seruni berdering saat ia sedang mengemasi berbagai dokumen yang terserak di atas meja kerja. Priyo. Tumben dia berani menghubungi nomor ponselku, pikirnya. Pasti ada hal penting. Jangan-jangan tadi pagi Eyang memintanya bekerja seminggu lagi. Tapi minggu depan ia sudah harus ke Jakarta untuk kursus bahasa selama tiga bulan sebelum berangkat ke Jerman, Runi bertanya-tanya.

“Ya? Ada apa?” Runi menjawab telpon.

“Maaf, Bu Runi. Saya terpaksa menelpon. Ini tentang Dea. Apa dia bersama Ibu? Saya di tempat Pak Jack, tapi Dea sudah tidak ada. Kata Pak jack sudah pulang… siapa tahu Bu Runi….”


Aku biru. Begitu saja. Tak perlu logika memang untuk sekedar menjadi sendu. Orang-orang menamakan rasa yang sesak dan mendadak membuat diri melankolis itu dengan sebutan rindu. Tapi aku tak merasa sedang bermain-main dengan ekstase-mu di dalam kepalaku. Jadi demikian saja, rasa yang tak jelas ini kuanggap saja sebagai biru. Aku biru. Begitu saja.

Saat-saat begini, paling menyenangkan kalau kau ada di sini. Tak usah menjadi warna, cukup hanya dengan adamu semata. Kau, biru untukku. Semacam pembenaran karena bukan warna merah yang kupakai untuk mengaplikasikan keberadaanmu. Tapi ada kalanya kau membuat biru menjadi ungu. Itu ketika waktu melemparkanmu ke pusarannya yang membuat keningmu berkerut-kerut. Saat itu, rasanya kau jauh, meski sebenarnya kau hanya sejangkauan lengan dariku.

Sepertinya, aku mulai meracau galau. Dan seperti biasanya, kau mulai bermunculan dari mana-mana di dalam isi otakku. Menghalau semua mimpi yang sebelumnya mengawang di awan-awan biru dan menggantikannya dengan adamu. Seharusnya terbaca olehmu semua kata-kata yang menjelajahi penjuru tubuhku – sebab bukankah kau selalu ada di sana? Tidak juga keluar meski sudah kuhapus paksa semua biru yang menujumu.

Kau tidak suka biru. Katamu, biru itu mempunyai spektrum warna yang rumit. Ia bisa saja merupa biru serupa langit pagi pertama yang pucat, atau biru yang gelap ketika sore menua dan senja terbata mengeja. Itu masih belum termasuk biru laut, biru pastel, biru keungu-unguan, biru kemerah-merahan juga biru kehijauan. Biru, katamu lagi, adalah warna primer additif. Tapi buatku, biru itu adiktif. Seandainya bisa, ingin kuwarnai seisi dunia ini dengan gradasi biru. Membuatnya tak sekedar warna posesif langit dan laut. Aku ingin semuanya menjadi biru; jalanan-jalanan, bangku kayu tua di taman tempat janji-janji terpatri dan teringkari, juga daun-daun yang rontok oleh musim. Bagaimana bila sepotong hati juga sebaiknya berwarna biru saja? Sebab biru juga membuat sendu. Ah, mungkin aku hanya sedang sekedar memaknai rindu yang berdebu. Terlalu jemu untuk lagi-lagi sendirian tergugu di persendatan malam.

Pernah kau bertanya, kenapa aku begitu menyukai biru. Kubilang karena langit dan laut. Biru adalah langit. Biru adalah laut yang dikarenakan cahaya merah yang kira-kira tujuh ratus lima puluh milimiter diserap oleh molekul air. Tidak kukatakan biru adalah warna matamu yang ketemukan di mataku, meski bagi orang lain mereka berwarna sehitam malam.

Demikianlah. Mendadak saja biru menjadi semacam perihal yang penting buatku. Sebab biru adalah kau, yang membuatku utuh dalam kepingan-kepingan yang berhamburan. Aku merasa seperti cuaca yang terus memutarimu, melingkar-lingkar, serupa pusaran. Sedang kau masih saja menulis tentang masa lalu. Dan tidak ada aku di sana. Kau tahu itu, tetapi berpura-pura aku tidak peduli. Kubilang, itu biru, sebab matamu akan begitu saja menjadi sendu sebegitu namanya tersebut. Dan lagi-lagi, aku dilingkupi biru. Biru yang sebiru-birunya laut dan langit, setiap kali kau menjadi biru.

Aku biru. Begitu saja.