Halo, Fictionholics!

Ada yang sudah baca novel Jodoh Akan Bertemu terbitan Loveable? Novel yang ditulis duet oleh Dwitasari dan Lana Azim ini beberapa waktu yang lalu sempat Kampung Fiksi review melalui Twitter. Tim review KF sendiri terkesan banget sama novelnya. Selain ceritanya memang bagus, editing buku tersebut rapi sekali. Plot yang tersusun, logika yang nyambung di tiap adegan sampai ke balance gaya bahasa, mengingat novel ini ditulis oleh dua orang, laki-laki dan perempuan. 

So, Kampung Fiksi penasaran, siapakah "bidan" di balik novel ciamik ini? Ternyata beliau adalah Andri Fabianto. Turns out, beliau juga menjabat sebagai Pimred di Loveable. Kampung Fiksi nggak mau buang-buang waktu. Mas Andri langsung kita todong wawancara supaya mau berbagi ilmunya seputar menjadi editor naskah fiksi. Bisa jadi panduan nih buat kamu yang lagi mulai pilih-pilih penerbit. 



1.    Sudah berapa lama Mas Andri berprofesi sebagai editor? Apakah sejak awal sudah khusus menangani naskah fiksi? Boleh dong menceritakan latar belakang kenapa akhirnya bisa menjadi seorang editor?

Andri Fabianto

Awalnya, saya mulai bekerja sebagai editor lepas di salah satu surat kabar nasional, sekitar 1 tahun (2002—2003). Lalu, pada 15 Februari 2007, saya baru bergabung di Penerbit WahyuMedia (PT AgroMedia Group) hingga 31 Oktober 2013. Sekarang, saya bekerja di Penerbit Loveable (PT Ufuk Publishing House Group).

Kalau di surat kabar nasional, saya khusus menangani editing artikel politik, hukum, dan selebritis. Di WahyuMedia sendiri, awalnya menangani buku anak dan agama dari 2007 hingga 2011. Fiksi sendiri, baru saya geluti pada tahun 2012.

Kenapa bisa jadi editor? Kalau ini sebenarnya, sih, nggak ada niatan untuk jadi editor. Justru, yang maksa saya menggeluti dunia editor itu kakak saya dan papa. Karena, keduanya kebetulan bekerja di media. Awalnya, sih, merasa kepaksa. Eh, pas dijalanin malah keterusan. Enak banget. Beneran.

2.    Menurut Mas Andri, apa kualifikasi editor khususnya untuk naskah fiksi? Apa yang harus dikuasai?

Mengenai kualifikasi editor khususnya naskah fiksi, banyak yang salah kaprah tentang detail kualifikasi keahlian yang harus dimiliki. Kebanyakan orang berpikir, kalau editor fiksi cukup memiliki kemampuan mengedit yang mumpuni; seperti mencek EYD, diksi, tanda baca, plot, opening cerita, konflik, karakter tokoh, ending, dan sebagainya. Padahal, seorang editor fiksi tidak hanya harus memiliki hal-hal tersebut. Seorang editor fiksi harus memiliki kemampuan membaca naskah dari sisi kualitas maupun selera pasar/target pembacanya. Artinya, seorang editor fiksi dituntut memiliki keahlian membaca pasar, tren, dan karakter/habit pembacanya.

Kemudian, seorang editor fiksi, juga harus mampu mencari talenta-talenta baru (jemput bola) dan mengonsep naskah mau seperti apa. Initinya, editor itu harus aktif, inisiatif, dan kreatif.

Hal yang tidak kalah pentingnya, kualifikasi lain yang harus dimiliki seorang editor fiksi adalah kemampuan negosiasi dan promosi. Buku yang baik adalah buku yang secara kualitas mumpuni, tapi juga disukai oleh pasar (laku).

3.    Sebagai seorang editor, naskah yang bagaimana yang menarik perhatian Mas Andri? Dan naskah yang bagaimana yang “nggak banget”?

Mengenai naskah mana yang menarik perhatian, ini tergantung selera subyektif si editor. Karena, balik lagi, naskah ituk tidak ada yang baik atau buruk, tapi masalah selera. Seperti halnya kalau dengerin lagu. Ada yang suka jazz, ada yang suka pop, ada yang suka rock, dan ada yang suka melayu atau dangdut.

Kalau saya sendiri, naskah yang menarik perhatian saya adalah naskah yang ceritanya unik, nggak kebanyakan muncul pada novel-novel di pasaran. Lalu, angle cerita yang diambil dan konflik yang dibangun pun harus berbeda. Plus, karakter tokoh yang harus saling bertolak belakang satu sama lain di cerita yang ditulis. Selain itu, opening cerita dan ending juga menjadi perhatian saya. Kalau opening ceritanya kurang “menggigit”, pasti malas baca bab selanjutnya. Begitupun kalo ending-nya mudah terbaca.

Saya juga suka naskah yang masih ada kekurangan, sebab di situlah penerbit akan mencoba memasukkan ide-ide menarik atau hal-hal menarik, guna menggaet pembaca agar tertarik dengan novelnya nanti.

Mengenai naskah yang “nggak banget”, ya. Mmmh, ya naskah yang opening-nya datar, plotnya lompat-lompat, konfliknya “garing”, karakter tokohnya kebanyakan dan pasaran, gaya penulisan yang masih berantakan, pesan yang disampaikan ke pembaca nggak jelas, terlalu banyak di dialog monolog atau justru kebanyakan percakapannya.

4.    Sampai saat ini sudah berapa banyak naskah yang “dibidani” oleh Mas Andri?

Mengenai berapa banyak, nggak kehitung kayaknya, hahahaha. Tapi, kalau fiksi sendiri sih sekitar seratusan lebih kayaknya.

5.    Ini pertanyaan mungkin lebih tepat diajukan untuk Mas Andri yang Pimred, apakah sinopsis berpengaruh besar pada diterimanya sebuah naskah?

Sinopsis berpengaruh besar? Salah satunya. Sebab, naskah yang masuk ke redaksi itu banyak banget. Jadi, dengan adanya sinopsis yang jelas dan detail, akan memudahkan redaksi dan first reader untuk mempelajari sebuah naskah tanpa harus membaca keseluruhan. Dan, redaksi akan mudah mengklasifikaskan naskah tersebut masuk ke kategori apa.

6.    Apa yang harus ada dalam sebuah sinopsis? Dan bagaimana tanggapan Mas Andri jika ternyata sinopsis “nendang”, tapi pas dibaca keseluruhan ternyata banyak kekurangan di sana-sini? Pernah terjadi seperti itu?

Sinopsis yang saya maksud mungkin seperti resensi kali, ya. Jadi, selain inti cerita dari awal sampai akhir, harus ada penjelasan karakter tokoh, konflik apa saja, settingan tempat cerita, keunikan cerita, dan kejutan apa saja yang akan muncul dicerita. Itu aja, sih.

Ketika membaca sinopsis “nendang” tapi pas dibaca keseluruhan ternyata banyak kekurangan di sana sini, buat saya, kalau tidak terlalu parah, wajar-wajar saja. Setiap naskah punya kekurangan. Tapi, kalau sinopsis dan naskah utuhnya jauh atau jomplang (“nggak nendang”), ya jadi kayak merasa tertipu. Sebenarnya, kalau memenuhi standar synopsis yang saya sebutkan di atas, hal yang “nggak nendang” tadi juga terminimalisir.

7.    Pertanyaan khusus untuk novel Jodoh Akan Bertemu. Novel ini ditulis oleh dua penulis, laki-laki dan perempuan. Tapi tidak terasa “jomplang” saat dibaca, seolah-olah seperti ditulis oleh satu orang. Bahkan tidak terasa bedanya antara yang ditulis oleh Dwitasari dan Lana Azim. Sebesar apa kontribusi Mas Andri saat memahat naskah ini? Apakah Mas Andri turun tangan dalam menyeragamkan bahasa mereka berdua? Bisa 
ceritakan pengalaman saat meng-edit naskah ini?



Kenapa nggak “jomplang” antara yang ditulis oleh Dwitasari dan Lana Azim? Begini. Jadi, awalnya konsep kita rembuk bersama. Kemudian, Mas Lana dan Dwita mendapat porsinya masing-masing. Setelah itu, saya memilih Dwita untuk final naskahnya dengan gaya bahasa Dwita. Tapi, dengan izin Mas Lana. Baru, naskah saya edit disesuaikan dengan sasaran pembacanya dan dilakukan penyeragaman, biar nggak “jomplang”.

Mengenai kontribusi, lumayan aja. Sebab, mereka nggak susah diarahinnya. Lalu, untuk menyeragamkan bahasa, iya, saya turun tangan. Soalnya, Dwita kan lebih remaja tulisannya. Nah, kalau Mas Lana lebih dewasa.
Pengalaman mengedit naskah ini  kalau harus digambarkan dengan lima kata; senang, sedih, kesal, ketawa, seru. Pas sedihnya, waktu si Nia diceraikan pas malam takbiran.

8.    Sebagai seorang editor, bagaimana reaksi Mas Andri jika ada penulis yang “ngeyel”? Diminta revisi, tapi nggak mau karena merasa tulisannya sudah bagus? Pernah mengalami nggak yang kayak begitu?

Langsung dijawab, deh. PERNAH. Hahahaha. Itu saya tulis dengan huruf kapital. Ya, kesel banget. Penginnya tuh naskah nggak diterbitin. Tapi, ya mesti sabar. Biasanya, saya kasih pengarahan dan masukan terus-menerus (agak maksa) biar si penulis tersebut ngerti dan mau revisi naskahnya.

9.    Sedikit tips dong, Mas, seputar apa saja yang harus disiapkan seorang penulis sebelum mengirimkan naskahnya ke penerbit?

Mengenai apa saja yang harus disiapkan antara lain;
•    Naskah utuh
•    Sinopsis lengkap (yang saya jelaskan di pertanyaan nomor 6)
•    Curriculum vitae
•    Penjelasan tentang target pembaca dan konsep promosi apa yang bisa dijalankan untuk naskah tersebut jika lolos untuk diterbitkan
•    Pelajari penerbit yang ingin “dilamar”. Nggak mungkin, dong, kalau langung “nikah” tanpa ada kenalan dulu. Ada juga ditolak sama “pacar (penerbit)”

10.    Btw, Mas Andri sendiri setuju atau tidak dengan fenomena penulis baru berfollower ratusan ribu? Apakah ini menjadi pertimbangan penerbit saat menerima sebuah naskah? Atau malah, calon penulisnya dikontrak lebih dulu, naskah bisa ditulis belakangan?

Mengenai fenomena penulis baru ber-follower ratusan ribu. Jawabannya, iya. Bisa menjadi pertimbangan. Tapi, jangan salah, ini nggak jadi jaminan. Banyak penulis yang nggak punya followers, novelnya justru laku. Tergantung promosi yang dilakukan si penerbit dan penulis sendiri.

Kalau dikontrak dan nulisnya belakangan, iya. Bisa seperti itu. Sebab, si penulis akan melalui proses karantina pelatihan penulisan, jika si penulis dengan followers banyak ini kurang mumpuni dalam hal penulisan.

11.    Apa pendapat Mas Andri dengan ramainya dunia menulis fiksi di Indonesia? Berapa banyak naskah fiksi yang diterima penerbit tempat Mas Andri bekerja setiap bulan? Dan berapa naskah biasanya yang lolos dari sekian banyak?

Makin ramainya dunia menulis fiksi di Indonesia, saya makin seneng. Artinya, pilihan akan lebih banyak.
Berapa banyak naskah fiksi yang diterima tiap bulan. Kalau masih di WahyuMedia, sebulannya rata-rata; 40-an naskah yang dikirim via pos dan 75—100an naskah yang dikirim via email. Kalau di Loveable, karena masih baru 6 bulanan jalan, yah masih setengahnya dari yang di WahyuMedia.

12.    Saran-sarannya untuk Fictionholics di Kampung Fiksi, Mas. Kita ini kan sekumpulan writers wanna be, selain berlatih terus, apa yang harus kita lakukan supaya naskah bisa tembus penerbit besar?

Kalau saran, sebenarnya, jawaban-jawaban saya tadi kalau dijalani pasti bisa tembus penerbit besar (sesuai dengan selera penerbit).
Intinya, sebelum naskah diajukan, pelajari kebutuhan paling besar dan potensi pasar pembaca yang akan dibidik sama Fictionholics di Kampung Fiksi apa? Itu yang harus dijawab. Dan itu, harus terjun langsung. Yah, investigasi gitu.

Kemudian, pelajari data atau tren yang berkembang di toko buku, media konvensional (cetak, elektronik, dan lainnya), serta media sosial.

Mulai membentuk komunitas dan cari bentuk promosi untuk naskahnya jika diterbitkan nanti. Si penerbit pasti suka dengan hal ini. Membentuk Kampung Fiksi, salah satunya.


Nah! Fictionholics tunggu apa lagi? Ada yang mau kirim naskahnya? Pelajari tips-tips dari Mas Nadri. Atau ada yang berminat jadi editor naskah fiksi? Belajar dari apa yang sudah dibaginya di sini. Semoga sukses!


Oleh: Nastiti Denny

Halo Sahabat KF,

Bagaimana perayaan Hari Kartini di tempat kalian? Parade pakaian adat? Lomba memasak? Atau lomba menulis? Apapun yang kalian lakukan dalam rangka Hari Kartini tahun ini, admin yakin kalian melakukannya dengan kesadaran bahwa sosok R.A. Kartini adalah sosok yang menginspirasi rakyat Indonesia tidak hanya wanita tapi seluruh lapisan masyarakat di tanah air.

Kali ini admin ingin mengajak kalian untuk mengingat sosok R.A.Kartini melalui wawancara singkat dengan salah satu pemenang lomba novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2010 yang bernama Ramayda Akmal (biasa dipanggil Ayda). Ayda aktif sebagai tenaga pengajar di beberapa universitas di Yogyakarta, dan saat ini sedang melakukan penelitian di Jerman untuk mengejar pendidikan S3-nya di Hamburg University, Jerman. Wanita kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, 5 Mei 1987 ini menjadi salah satu pemenang unggulan lomba novel DKJ untuk novelnya yang berjudul Jatisaba. Untuk kalian yang belum pernah membaca Jatisaba, admin akan membagi sedikit bocoran tentang kisah yang diangkat dalam novel ini. Jatisaba mengangkat kisah perdagangan wanita dan anak-anak yang terjadi di sebuah desa di daerah Jawa Tengah, tempat di mana Ayda menghabiskan masa kecilnya. 

Melalui wawancara ini admin berharap kalian dapat menggali ilmu tentang bagaimana mengangkat fenomena sosial di sekitar kita ke dalam sebuah cerita. Selain itu kalian juga akan admin ajak untuk mengetahui seperti apa pandangan seorang Ramayda Akmal tentang sosok R.A.Kartini. 

Kita mulai yuk!

Apa yang membuat menulis novel menjadi begitu menarik bagi Ayda?

Saya tertarik dan menulis novel karena saya besar dalam lingkungan yang memiliki tradisi bercerita yang kuat. Disadari atau tidak, itu berpengaruh pada sensitivitas dan pilihan genre tulisan saya. Selain itu, bagi saya hanya novel yang bisa mengakomodasi secara bersamaan hal-hal yang kadang sulit dipersatukan. Fakta dan imajinasi, nilai-nilai dan ideologi, data-data dan rahasia, impian dan kenangan. Begitu banyak cara, begitu luas kemungkinan yang bisa dihadirkan oleh novel, sehingga orang-orang yang masih terus belajar menulis seperti saya akan jatuh cinta padanya.

Apakah dalam menulis Ayda punya idealisme sendiri berkaitan dengan tema? Misal: lebih tertarik dengan tema yang berkaitan dengan wanita, dan lain sebagainya?

Saya banyak mengangkat tema-tema sosial, cerita orang-orang miskin, orang-orang pinggiran dan yang dipinggirkan. Saya memiliki keberpihakan yang jelas kepada mereka. Akan tetapi keberpihakan itu bukan karena keterbatasan atau kekurangan mereka. Saya tidak peduli dengan bagian itu. Bagi saya itu hanya stigma. Mereka adalah orang-orang terpilih dengan kekuatan mereka sendiri, kebijaksanaan yang melebihi orang lain, kesederhanaan dan kemampuan bertahan yang tidak selalu bisa kita duga. Mereka adalah orang-orang yang akan saya cemburui seumur hidup saya karena saya tidak memiliki keberanian untuk menjalankan nasib yang demikian.

Berapa jam dalam sehari Ayda meluangkan waktu untuk menulis, atau dengan kata lain bagaimana membagi waktu antara kegiatan mengajar dan menulis fiksi? Adakah waktu khusus?

Saya tidak ada jadwal menulis yang khusus. Hanya saja, setiap ada ide yang muncul saya cepat menuliskan dalam satu dua kata atau kalimat. Saya bisa segera mengembangkannya menjadi tulisan atau membiarkannya untuk sekian lama. Itu bukan suatu masalah. 

Mengajar adalah kegemaran saya yang lain. Menulis dan mengajar justru kadang saling mendukung. Ide-ide tulisan sering muncul ketika mengajar. Yang terpenting bagi saya, menulis itu butuh irama, bukan hanya jadwal dan kedisiplinan. Ada kalanya menulis dengan cepat, ada kalanya kita perlu menunda dan berpikir kembali.

Apakah Ayda tergabung dalam komunitas penulis? Kalau ya, seberapa aktif? Keuntungan apa yang dirasakan dengan menjadi bagian dari komunitas tersebut? 

Saya tidak tergabung dalam komunitas penulis secara formal. Hanya saja saya punya lingkaran sahabat, guru dan kolega yang selalu menjadi teman diskusi saya. Mereka adalah pembaca-pembaca pertama karya saya, kritikus-kritikus yang terkejam dan yang paling setia sekaligus. Meskipun sedikit berbeda, bersama mereka saya rasakan keuntungan-keuntungan yang berguna bagi proses kepenulisan seperti yang ditanyakan KF.

Siapa saja penulis favorit Ayda? Dari dalam dan luar negeri?

Penulis favorit dalam negeri saya adalah Ahmad Tohari dan Eka Kurniawan. Sementara dari luar negeri ada banyak. Beberapa di antaranya, John Steinbeck, GG. Marquez, Haruki Murakami, Dostoyevski, dan Amy Tan.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan novel Jatisaba?

Saya menulis Jatisaba selama 8 bulan.

Jatisaba menceritakan fenomena sosial yang terjadi di daerah asal Ayda sendiri. Membaca bagian pengantar novel ini, sepertinya kondisi di daerah tersebut sudah sekian lama terpendam dan menjadi pergulatan batin dalam benak Ayda. Apa yang akhirnya membuat Ayda berani menuliskannya menjadi sebuah novel?

Motif menulis Jatisaba sebenarnya sangat pribadi. Jatisaba adalah desa yang saya tinggali selama 18 tahun sebelum kemudian pindah. Saya sulit pulang meski sangat ingin. Kerinduan yang semakin besar, membuat saya takut kehilangan. Mulailah sejak saat itu, segala momen, peristiwa, tempat-tempat di Jatisaba, menjadi menarik untuk dirunut kembali dan ditulis. Tentu saja, banyak masalah sosial di Jatisaba yang dengan jarak serta waktu berselang memunculkan perspektif baru dalam diri saya, bukan hanya sebagai bagian darinya tapi juga pengamat. Alasan emosional dan perspektif baru itu yang menjadi motif utama penulisan Jatisaba.

Membaca Jatisaba, bagi saya, seperti melihat miniatur Indonesia dengan segala carut marutnya. Ada perdagangan wanita ke luar negeri, ada rusuh pemilihan kepala desa, juga pola pikir warga (khususnya wanita) di pedesaan yang entah bagaimana antara meminta belas kasihan dan membuat kesal. Apa sebenarnya yang paling ingin Ayda sampaikan lewat novel tersebut? Mengapa hal itu menurut Ayda penting?

Yang terpenting dalam Jatisaba bagi saya cuma satu, bagaimana persoalan-persoalan di dalamnya membawa pembaca untuk mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya dimaksud dengan nilai yang selama ini dianjurkan untuk kita yakini dan pahami.

Adakah hambatan yang berarti selama menulis Jatisaba, mengingat kisah yang diangkat berasal dari fakta yang tidak menyenangkan? 

Hambatan menulis Jatisaba yang banyak didasarkan pada fakta, sebenarnya sama dengan hambatan yang dialami penulis pada umumnya, yakni prejudice. Saya harus menyiapkan diri menerima prasangka yang muncul berkelindan antara karya yang saya hasilkan dengan fakta-fakta yang saya angkat, pendapat-pendapat di dalamnya dengan gagasan pribadi saya sendiri. Akan dengan mudah pembaca mengira bahwa apa yang saya ceritakan adalah diri saya. Saya hanya perlu menyiapkan cerita lebih banyak untuk menjelaskannya. Cerita itu kadang lebih menarik dari novelnya sendiri.

Adakah alasan khusus mengapa alur yang dipakai bolak-balik?

Alur bolak balik semata-mata saya gunakan demi pertimbangan intrinsik karya sastra. Bagaimanapun, yang intrinsik menentukan keseluruhan bangunan karya sastra. Cerita yang baik menjadi lebih baik lagi jika disampaikan dengan cara yang tepat. Pemilihan alur bolak balik menjadi bagian dari upaya saya mencari cara yang tepat tersebut. Alur bolak balik memungkinkan pembaca menemukan suspense dengan lebih mudah, dan membuat mereka bertahan lebih lama. Tentu saja, beberapa orang tidak sependapat dengan saya dan menganggap itu justru menggangu. Akan tetapi, lagi-lagi ini masalah selera dan pilihan.

Salah satu hal yang paling menarik bagi saya di Jatisaba adalah tokoh utama yaitu seorang wanita yang dengan segala keberaniannya memutuskan untuk menjadi kaki tangan mafia perdagangan wanita dan anak-anak. Konflik batinnya begitu hidup. Nuansa romance-nya juga kuat. Bagaimana Ayda membentuk karakter sang tokoh? 

Tokoh Mae adalah tokoh ideal saya. Mae adalah orang yang bisa bertahan dalam kondisi paling buruk. Menariknya lagi, Mae sulit dan tidak bisa didefinisikan dalam karakter apapun. Dia mengatasi nilai-nilai yang ada. Dalam beberapa hal tokoh Mae sangat radikal. Tentu saja, saya menciptakan tokoh ini setelah melewati berbagai refleksi, dan saya menciptakannya dengan penuh gairah.

Sebagai penulis wanita yang giat mengangkat konflik sosial di masyarakat, seperti apa sih sosok seorang R.A. Kartini di mata Ayda kaitannya dengan dunia literasi?

Bagi saya, R.A Kartini adalah pelopor pada zamannya. Hormat saya begitu besar kepadanya. Akan tetapi saya tidak terlalu suka glorifikasi berlebihan yang dilakukan masyarakat Indonesia. Pertama, masih begitu banyak tokoh perempuan lain yang juga perlu diteladani. Kedua, apa yang diperjuangkan RA. Kartini sudah sangat berbeda konteksnya dengan yang dihadapi perempuan Indonesia kontemporer. Alih-alih meneruskan perjuangan, kita seringkali terjebak pada melankolia masa lalu. Ketiga, menegaskan pemberdayaan perempuan sama dengan mengakui jika perempuan lemah dan berbeda. Selalu ada bias di dalamnya, sehingga saya pribadi tidak begitu terkesima dengan upaya-upaya yang demikian. Teman-teman bisa perhatikan tokoh Mae atau Sitas di dalam Jatisaba, bagaimana hubungan mereka dengan laki-laki, bagaimana mereka tampak sangat bergantung tetapi sebenarnya tidak.

Wanita di dalam Jatisaba seolah terbagi menjadi 2 kelompok secara ekstrim. Yang lemah; mampu diperjualbelikan dan tidak berpendidikan, dan yang kuat; mampu mengendalikan situasi dan memiliki ambisi besar yang dikendalikan oleh materi dalam hal ini diwakili Mae, sang tokoh utama. Apakah Ayda memandang situasi semacam ini sebagai dampak pembangunan yang gagal ataukah emansipasi wanita yang diterjemahkan secara keliru?

Saya tidak berniat membagi-bagi kelompok sosial tokoh-tokoh perempuan di dalam Jatisaba. Mereka hanya berbeda kehidupan. Yang justru ingin saya tekankan adalah bagaimana dengan caranya masing-masing, mereka bertahan. Tentu saja, saya juga menunjukkan bagaimana perempuan berhadap-hadapan langsung dengan dunia politik, urusan ekonomi keluarga, kekerasan, dan lain-lain yang seringkali membuat mereka tunduk. Akan tetapi, ketundukan yang saya uraikan tidaklah absolut. Itu hanya sebuah cara untuk bertahan, dan tidak ada yang lebih emansipatif lagi kecuali kemampuan bertahan. Jika ditanya mengapa bisa demikian? Saya, seperti juga lainnya, masih akan menyalahkan institusi-institusi yang tidak menjalankan peran dengan semestinya seperti negara. Juga orang-orang yang bertanggung jawab di dalamnya.

Banyak pendekatan dan metode dilakukan untuk memelihara semangat Kartini pada generasi muda. Sebagai seorang tenaga pengajar dan penulis, adakah keinginan Ayda dalam rangka memelihara semangat tersebut yang belum juga terlaksana hingga sekarang?

Saya akan memelihara semangat Kartini dengan melupakan bahwa dia adalah perempuan. Dalam artian, saya lebih tertarik dengan ide-ide Kartini tentang dunia dan pendidikan. Bukan melulu dalam hubungannya dengan laki-laki dan feodalisme. Ke depan urusan perempuan bukan hanya berhadapan dengan laki-laki, memperjuangkan hak-haknya, melindungi diri, dan "keluar rumah". Yang dihadapi perempuan adalah dunia. Oleh karena itu, sebagai guru dan penulis, yang saya hadapi adalah murid dan ide-ide. Kepada mereka hidup akan saya pertaruhkan. Sejauh ini, saya baru dalam upaya untuk konsisten dengan niat tersebut. Sejuta rencana menunggu direalisasikan, di antaranya menulis selalu menjadi yang pertama dan utama.

Seru ya, Sahabat KF, ngobrol dengan Bu Dosen yang satu ini. Kalau kalian masih punya pertanyaan yang belum terjawab, kalian bisa berinteraksi dengan Ayda langsung melalui akun facebooknya Ramayda Akmal.

Sekian dulu ya wawancara KF kali ini. Semoga kalian dapat memetik banyak manfaat di dalamnya.

Selamat menulis!

Jakarta, 26 April 2014

Halo #fictionholic apa kabar? Berapa buku yang kamu baca bulan ini? Kalau saya banyak sekali *pamer. Tahukah Fictionholic kalau awal bulan lalu  kampung fiksi lagi senang? Salah satu admin kami Mbak Nastiti Deni baru saja menerbitkan novel perdananya. Novel itu berjudul (bukan) salah waktu dan diterbitkan Bentang Pustaka. Beberapa waktu lalu kampung fiksi dan Bentang juga baru launching novel ini, loh. Di Rabview kali ini, tukang review kampung fiksi akan mereview novel ini.

Bukan salah waktu dimulai oleh adegan Sekar, tokoh utama perempuan dalam novel ini yang mimpi terkurung dalam sebuah ruangan sempit. Mimpi itu dimulai ketika Sekar memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi Ibu rumah tangga dengan alasan fokus mengurus suami. Untuk sebuah pembukaan novel, menurut saya ini ide yang cukup briliant. Ini bisa jadi salah satu saran bagus buat Fictionholic yang sedang bikin novel. Mulailah novelmu dengan adegan yang keren dan jangan pernah mulai novelmu dengan bangun tidur.

(foto diambil dari Hadisome.wordpress.com)

Selain Mimpi, Sekar dihadapkan pada tiga hal pelik. Satu, dia belum siap untuk jadi Ibu Rumah tangga karena dia tidak bisa masak dan tidak bisa diharapkan dalam melakukan perkerjaan rumah tangga. Dua, dia tidak terus terang pada keluarga suaminya kalau kedua orangtuanya telah berpisah, padahal buat sang suami, keterbukaan latar belakang keluarga adalah hal yang sangat prinsipil. Dan tiga, seorang pria bernama Bram tiba-tiba datang dan mengabarkan bahwa suaminya, Prabu, sudah punya anak dari perempuan lain. Masalah-masalah itu bikin Sekar sukses jadi wanita galau nomor satu di dunia. Dan puncaknya dia mengetahui rahasia besar tentang jati dirinya. Bagaimana kelanjutan hubungan Sekar dan Prabu? Apakah Sekar akan memaafkan Prabu? Apakah Sekar akhirnya jadian sama Bram? Bagaimana  akhirnya Sekar menjalani hidup yang harus terus berputar seiring waktu? Yups biarkan waktu dan kalian temukan sendiri di novel keren ini.

Ketika dihubungi oleh pihak Smartfren untuk ikutan nonton bareng film THE RAID 2: BERANDAL , kami sempat merasa khawatir tidak bisa menghadiri. Pertama diinformasikan bahwa jam nonbar ini berlangsung di siang hari. Waduh.... Kami yang terdiri dari berbagai personil yang tinggal berjauhan dengan kesibukan masing-masing sempat pesimis. Hingga akhirnya mendapat kabar kalau acara berlangsung pukul 7 malam. AH! Akhirnya jadi juga menonton film yang konon sampai dilarang beredar di Malaysia. #DJTWITKF juga penasaran dengan berita yang mengatakan kalau film ini terlalu sadis. Aih, seeing is believing jadi mari nonton!