Wednesday, April 30, 2014

(Wawancara Editor) Andri Fabianto: Bagaimana Naskahmu Digarap oleh Seorang Editor?

Halo, Fictionholics!

Ada yang sudah baca novel Jodoh Akan Bertemu terbitan Loveable? Novel yang ditulis duet oleh Dwitasari dan Lana Azim ini beberapa waktu yang lalu sempat Kampung Fiksi review melalui Twitter. Tim review KF sendiri terkesan banget sama novelnya. Selain ceritanya memang bagus, editing buku tersebut rapi sekali. Plot yang tersusun, logika yang nyambung di tiap adegan sampai ke balance gaya bahasa, mengingat novel ini ditulis oleh dua orang, laki-laki dan perempuan. 

So, Kampung Fiksi penasaran, siapakah "bidan" di balik novel ciamik ini? Ternyata beliau adalah Andri Fabianto. Turns out, beliau juga menjabat sebagai Pimred di Loveable. Kampung Fiksi nggak mau buang-buang waktu. Mas Andri langsung kita todong wawancara supaya mau berbagi ilmunya seputar menjadi editor naskah fiksi. Bisa jadi panduan nih buat kamu yang lagi mulai pilih-pilih penerbit. 



1.    Sudah berapa lama Mas Andri berprofesi sebagai editor? Apakah sejak awal sudah khusus menangani naskah fiksi? Boleh dong menceritakan latar belakang kenapa akhirnya bisa menjadi seorang editor?

Andri Fabianto

Awalnya, saya mulai bekerja sebagai editor lepas di salah satu surat kabar nasional, sekitar 1 tahun (2002—2003). Lalu, pada 15 Februari 2007, saya baru bergabung di Penerbit WahyuMedia (PT AgroMedia Group) hingga 31 Oktober 2013. Sekarang, saya bekerja di Penerbit Loveable (PT Ufuk Publishing House Group).

Kalau di surat kabar nasional, saya khusus menangani editing artikel politik, hukum, dan selebritis. Di WahyuMedia sendiri, awalnya menangani buku anak dan agama dari 2007 hingga 2011. Fiksi sendiri, baru saya geluti pada tahun 2012.

Kenapa bisa jadi editor? Kalau ini sebenarnya, sih, nggak ada niatan untuk jadi editor. Justru, yang maksa saya menggeluti dunia editor itu kakak saya dan papa. Karena, keduanya kebetulan bekerja di media. Awalnya, sih, merasa kepaksa. Eh, pas dijalanin malah keterusan. Enak banget. Beneran.

2.    Menurut Mas Andri, apa kualifikasi editor khususnya untuk naskah fiksi? Apa yang harus dikuasai?

Mengenai kualifikasi editor khususnya naskah fiksi, banyak yang salah kaprah tentang detail kualifikasi keahlian yang harus dimiliki. Kebanyakan orang berpikir, kalau editor fiksi cukup memiliki kemampuan mengedit yang mumpuni; seperti mencek EYD, diksi, tanda baca, plot, opening cerita, konflik, karakter tokoh, ending, dan sebagainya. Padahal, seorang editor fiksi tidak hanya harus memiliki hal-hal tersebut. Seorang editor fiksi harus memiliki kemampuan membaca naskah dari sisi kualitas maupun selera pasar/target pembacanya. Artinya, seorang editor fiksi dituntut memiliki keahlian membaca pasar, tren, dan karakter/habit pembacanya.

Kemudian, seorang editor fiksi, juga harus mampu mencari talenta-talenta baru (jemput bola) dan mengonsep naskah mau seperti apa. Initinya, editor itu harus aktif, inisiatif, dan kreatif.

Hal yang tidak kalah pentingnya, kualifikasi lain yang harus dimiliki seorang editor fiksi adalah kemampuan negosiasi dan promosi. Buku yang baik adalah buku yang secara kualitas mumpuni, tapi juga disukai oleh pasar (laku).

3.    Sebagai seorang editor, naskah yang bagaimana yang menarik perhatian Mas Andri? Dan naskah yang bagaimana yang “nggak banget”?

Mengenai naskah mana yang menarik perhatian, ini tergantung selera subyektif si editor. Karena, balik lagi, naskah ituk tidak ada yang baik atau buruk, tapi masalah selera. Seperti halnya kalau dengerin lagu. Ada yang suka jazz, ada yang suka pop, ada yang suka rock, dan ada yang suka melayu atau dangdut.

Kalau saya sendiri, naskah yang menarik perhatian saya adalah naskah yang ceritanya unik, nggak kebanyakan muncul pada novel-novel di pasaran. Lalu, angle cerita yang diambil dan konflik yang dibangun pun harus berbeda. Plus, karakter tokoh yang harus saling bertolak belakang satu sama lain di cerita yang ditulis. Selain itu, opening cerita dan ending juga menjadi perhatian saya. Kalau opening ceritanya kurang “menggigit”, pasti malas baca bab selanjutnya. Begitupun kalo ending-nya mudah terbaca.

Saya juga suka naskah yang masih ada kekurangan, sebab di situlah penerbit akan mencoba memasukkan ide-ide menarik atau hal-hal menarik, guna menggaet pembaca agar tertarik dengan novelnya nanti.

Mengenai naskah yang “nggak banget”, ya. Mmmh, ya naskah yang opening-nya datar, plotnya lompat-lompat, konfliknya “garing”, karakter tokohnya kebanyakan dan pasaran, gaya penulisan yang masih berantakan, pesan yang disampaikan ke pembaca nggak jelas, terlalu banyak di dialog monolog atau justru kebanyakan percakapannya.

4.    Sampai saat ini sudah berapa banyak naskah yang “dibidani” oleh Mas Andri?

Mengenai berapa banyak, nggak kehitung kayaknya, hahahaha. Tapi, kalau fiksi sendiri sih sekitar seratusan lebih kayaknya.

5.    Ini pertanyaan mungkin lebih tepat diajukan untuk Mas Andri yang Pimred, apakah sinopsis berpengaruh besar pada diterimanya sebuah naskah?

Sinopsis berpengaruh besar? Salah satunya. Sebab, naskah yang masuk ke redaksi itu banyak banget. Jadi, dengan adanya sinopsis yang jelas dan detail, akan memudahkan redaksi dan first reader untuk mempelajari sebuah naskah tanpa harus membaca keseluruhan. Dan, redaksi akan mudah mengklasifikaskan naskah tersebut masuk ke kategori apa.

6.    Apa yang harus ada dalam sebuah sinopsis? Dan bagaimana tanggapan Mas Andri jika ternyata sinopsis “nendang”, tapi pas dibaca keseluruhan ternyata banyak kekurangan di sana-sini? Pernah terjadi seperti itu?

Sinopsis yang saya maksud mungkin seperti resensi kali, ya. Jadi, selain inti cerita dari awal sampai akhir, harus ada penjelasan karakter tokoh, konflik apa saja, settingan tempat cerita, keunikan cerita, dan kejutan apa saja yang akan muncul dicerita. Itu aja, sih.

Ketika membaca sinopsis “nendang” tapi pas dibaca keseluruhan ternyata banyak kekurangan di sana sini, buat saya, kalau tidak terlalu parah, wajar-wajar saja. Setiap naskah punya kekurangan. Tapi, kalau sinopsis dan naskah utuhnya jauh atau jomplang (“nggak nendang”), ya jadi kayak merasa tertipu. Sebenarnya, kalau memenuhi standar synopsis yang saya sebutkan di atas, hal yang “nggak nendang” tadi juga terminimalisir.

7.    Pertanyaan khusus untuk novel Jodoh Akan Bertemu. Novel ini ditulis oleh dua penulis, laki-laki dan perempuan. Tapi tidak terasa “jomplang” saat dibaca, seolah-olah seperti ditulis oleh satu orang. Bahkan tidak terasa bedanya antara yang ditulis oleh Dwitasari dan Lana Azim. Sebesar apa kontribusi Mas Andri saat memahat naskah ini? Apakah Mas Andri turun tangan dalam menyeragamkan bahasa mereka berdua? Bisa 
ceritakan pengalaman saat meng-edit naskah ini?



Kenapa nggak “jomplang” antara yang ditulis oleh Dwitasari dan Lana Azim? Begini. Jadi, awalnya konsep kita rembuk bersama. Kemudian, Mas Lana dan Dwita mendapat porsinya masing-masing. Setelah itu, saya memilih Dwita untuk final naskahnya dengan gaya bahasa Dwita. Tapi, dengan izin Mas Lana. Baru, naskah saya edit disesuaikan dengan sasaran pembacanya dan dilakukan penyeragaman, biar nggak “jomplang”.

Mengenai kontribusi, lumayan aja. Sebab, mereka nggak susah diarahinnya. Lalu, untuk menyeragamkan bahasa, iya, saya turun tangan. Soalnya, Dwita kan lebih remaja tulisannya. Nah, kalau Mas Lana lebih dewasa.
Pengalaman mengedit naskah ini  kalau harus digambarkan dengan lima kata; senang, sedih, kesal, ketawa, seru. Pas sedihnya, waktu si Nia diceraikan pas malam takbiran.

8.    Sebagai seorang editor, bagaimana reaksi Mas Andri jika ada penulis yang “ngeyel”? Diminta revisi, tapi nggak mau karena merasa tulisannya sudah bagus? Pernah mengalami nggak yang kayak begitu?

Langsung dijawab, deh. PERNAH. Hahahaha. Itu saya tulis dengan huruf kapital. Ya, kesel banget. Penginnya tuh naskah nggak diterbitin. Tapi, ya mesti sabar. Biasanya, saya kasih pengarahan dan masukan terus-menerus (agak maksa) biar si penulis tersebut ngerti dan mau revisi naskahnya.

9.    Sedikit tips dong, Mas, seputar apa saja yang harus disiapkan seorang penulis sebelum mengirimkan naskahnya ke penerbit?

Mengenai apa saja yang harus disiapkan antara lain;
•    Naskah utuh
•    Sinopsis lengkap (yang saya jelaskan di pertanyaan nomor 6)
•    Curriculum vitae
•    Penjelasan tentang target pembaca dan konsep promosi apa yang bisa dijalankan untuk naskah tersebut jika lolos untuk diterbitkan
•    Pelajari penerbit yang ingin “dilamar”. Nggak mungkin, dong, kalau langung “nikah” tanpa ada kenalan dulu. Ada juga ditolak sama “pacar (penerbit)”

10.    Btw, Mas Andri sendiri setuju atau tidak dengan fenomena penulis baru berfollower ratusan ribu? Apakah ini menjadi pertimbangan penerbit saat menerima sebuah naskah? Atau malah, calon penulisnya dikontrak lebih dulu, naskah bisa ditulis belakangan?

Mengenai fenomena penulis baru ber-follower ratusan ribu. Jawabannya, iya. Bisa menjadi pertimbangan. Tapi, jangan salah, ini nggak jadi jaminan. Banyak penulis yang nggak punya followers, novelnya justru laku. Tergantung promosi yang dilakukan si penerbit dan penulis sendiri.

Kalau dikontrak dan nulisnya belakangan, iya. Bisa seperti itu. Sebab, si penulis akan melalui proses karantina pelatihan penulisan, jika si penulis dengan followers banyak ini kurang mumpuni dalam hal penulisan.

11.    Apa pendapat Mas Andri dengan ramainya dunia menulis fiksi di Indonesia? Berapa banyak naskah fiksi yang diterima penerbit tempat Mas Andri bekerja setiap bulan? Dan berapa naskah biasanya yang lolos dari sekian banyak?

Makin ramainya dunia menulis fiksi di Indonesia, saya makin seneng. Artinya, pilihan akan lebih banyak.
Berapa banyak naskah fiksi yang diterima tiap bulan. Kalau masih di WahyuMedia, sebulannya rata-rata; 40-an naskah yang dikirim via pos dan 75—100an naskah yang dikirim via email. Kalau di Loveable, karena masih baru 6 bulanan jalan, yah masih setengahnya dari yang di WahyuMedia.

12.    Saran-sarannya untuk Fictionholics di Kampung Fiksi, Mas. Kita ini kan sekumpulan writers wanna be, selain berlatih terus, apa yang harus kita lakukan supaya naskah bisa tembus penerbit besar?

Kalau saran, sebenarnya, jawaban-jawaban saya tadi kalau dijalani pasti bisa tembus penerbit besar (sesuai dengan selera penerbit).
Intinya, sebelum naskah diajukan, pelajari kebutuhan paling besar dan potensi pasar pembaca yang akan dibidik sama Fictionholics di Kampung Fiksi apa? Itu yang harus dijawab. Dan itu, harus terjun langsung. Yah, investigasi gitu.

Kemudian, pelajari data atau tren yang berkembang di toko buku, media konvensional (cetak, elektronik, dan lainnya), serta media sosial.

Mulai membentuk komunitas dan cari bentuk promosi untuk naskahnya jika diterbitkan nanti. Si penerbit pasti suka dengan hal ini. Membentuk Kampung Fiksi, salah satunya.


Nah! Fictionholics tunggu apa lagi? Ada yang mau kirim naskahnya? Pelajari tips-tips dari Mas Nadri. Atau ada yang berminat jadi editor naskah fiksi? Belajar dari apa yang sudah dibaginya di sini. Semoga sukses!