Saturday, April 26, 2014

(Wawancara Penulis) Ramayda Akmal: Menulis Wanita dalam Jatisaba



Oleh: Nastiti Denny

Halo Sahabat KF,

Bagaimana perayaan Hari Kartini di tempat kalian? Parade pakaian adat? Lomba memasak? Atau lomba menulis? Apapun yang kalian lakukan dalam rangka Hari Kartini tahun ini, admin yakin kalian melakukannya dengan kesadaran bahwa sosok R.A. Kartini adalah sosok yang menginspirasi rakyat Indonesia tidak hanya wanita tapi seluruh lapisan masyarakat di tanah air.

Kali ini admin ingin mengajak kalian untuk mengingat sosok R.A.Kartini melalui wawancara singkat dengan salah satu pemenang lomba novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2010 yang bernama Ramayda Akmal (biasa dipanggil Ayda). Ayda aktif sebagai tenaga pengajar di beberapa universitas di Yogyakarta, dan saat ini sedang melakukan penelitian di Jerman untuk mengejar pendidikan S3-nya di Hamburg University, Jerman. Wanita kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, 5 Mei 1987 ini menjadi salah satu pemenang unggulan lomba novel DKJ untuk novelnya yang berjudul Jatisaba. Untuk kalian yang belum pernah membaca Jatisaba, admin akan membagi sedikit bocoran tentang kisah yang diangkat dalam novel ini. Jatisaba mengangkat kisah perdagangan wanita dan anak-anak yang terjadi di sebuah desa di daerah Jawa Tengah, tempat di mana Ayda menghabiskan masa kecilnya. 

Melalui wawancara ini admin berharap kalian dapat menggali ilmu tentang bagaimana mengangkat fenomena sosial di sekitar kita ke dalam sebuah cerita. Selain itu kalian juga akan admin ajak untuk mengetahui seperti apa pandangan seorang Ramayda Akmal tentang sosok R.A.Kartini. 

Kita mulai yuk!

Apa yang membuat menulis novel menjadi begitu menarik bagi Ayda?

Saya tertarik dan menulis novel karena saya besar dalam lingkungan yang memiliki tradisi bercerita yang kuat. Disadari atau tidak, itu berpengaruh pada sensitivitas dan pilihan genre tulisan saya. Selain itu, bagi saya hanya novel yang bisa mengakomodasi secara bersamaan hal-hal yang kadang sulit dipersatukan. Fakta dan imajinasi, nilai-nilai dan ideologi, data-data dan rahasia, impian dan kenangan. Begitu banyak cara, begitu luas kemungkinan yang bisa dihadirkan oleh novel, sehingga orang-orang yang masih terus belajar menulis seperti saya akan jatuh cinta padanya.

Apakah dalam menulis Ayda punya idealisme sendiri berkaitan dengan tema? Misal: lebih tertarik dengan tema yang berkaitan dengan wanita, dan lain sebagainya?

Saya banyak mengangkat tema-tema sosial, cerita orang-orang miskin, orang-orang pinggiran dan yang dipinggirkan. Saya memiliki keberpihakan yang jelas kepada mereka. Akan tetapi keberpihakan itu bukan karena keterbatasan atau kekurangan mereka. Saya tidak peduli dengan bagian itu. Bagi saya itu hanya stigma. Mereka adalah orang-orang terpilih dengan kekuatan mereka sendiri, kebijaksanaan yang melebihi orang lain, kesederhanaan dan kemampuan bertahan yang tidak selalu bisa kita duga. Mereka adalah orang-orang yang akan saya cemburui seumur hidup saya karena saya tidak memiliki keberanian untuk menjalankan nasib yang demikian.

Berapa jam dalam sehari Ayda meluangkan waktu untuk menulis, atau dengan kata lain bagaimana membagi waktu antara kegiatan mengajar dan menulis fiksi? Adakah waktu khusus?

Saya tidak ada jadwal menulis yang khusus. Hanya saja, setiap ada ide yang muncul saya cepat menuliskan dalam satu dua kata atau kalimat. Saya bisa segera mengembangkannya menjadi tulisan atau membiarkannya untuk sekian lama. Itu bukan suatu masalah. 

Mengajar adalah kegemaran saya yang lain. Menulis dan mengajar justru kadang saling mendukung. Ide-ide tulisan sering muncul ketika mengajar. Yang terpenting bagi saya, menulis itu butuh irama, bukan hanya jadwal dan kedisiplinan. Ada kalanya menulis dengan cepat, ada kalanya kita perlu menunda dan berpikir kembali.

Apakah Ayda tergabung dalam komunitas penulis? Kalau ya, seberapa aktif? Keuntungan apa yang dirasakan dengan menjadi bagian dari komunitas tersebut? 

Saya tidak tergabung dalam komunitas penulis secara formal. Hanya saja saya punya lingkaran sahabat, guru dan kolega yang selalu menjadi teman diskusi saya. Mereka adalah pembaca-pembaca pertama karya saya, kritikus-kritikus yang terkejam dan yang paling setia sekaligus. Meskipun sedikit berbeda, bersama mereka saya rasakan keuntungan-keuntungan yang berguna bagi proses kepenulisan seperti yang ditanyakan KF.

Siapa saja penulis favorit Ayda? Dari dalam dan luar negeri?

Penulis favorit dalam negeri saya adalah Ahmad Tohari dan Eka Kurniawan. Sementara dari luar negeri ada banyak. Beberapa di antaranya, John Steinbeck, GG. Marquez, Haruki Murakami, Dostoyevski, dan Amy Tan.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan novel Jatisaba?

Saya menulis Jatisaba selama 8 bulan.

Jatisaba menceritakan fenomena sosial yang terjadi di daerah asal Ayda sendiri. Membaca bagian pengantar novel ini, sepertinya kondisi di daerah tersebut sudah sekian lama terpendam dan menjadi pergulatan batin dalam benak Ayda. Apa yang akhirnya membuat Ayda berani menuliskannya menjadi sebuah novel?

Motif menulis Jatisaba sebenarnya sangat pribadi. Jatisaba adalah desa yang saya tinggali selama 18 tahun sebelum kemudian pindah. Saya sulit pulang meski sangat ingin. Kerinduan yang semakin besar, membuat saya takut kehilangan. Mulailah sejak saat itu, segala momen, peristiwa, tempat-tempat di Jatisaba, menjadi menarik untuk dirunut kembali dan ditulis. Tentu saja, banyak masalah sosial di Jatisaba yang dengan jarak serta waktu berselang memunculkan perspektif baru dalam diri saya, bukan hanya sebagai bagian darinya tapi juga pengamat. Alasan emosional dan perspektif baru itu yang menjadi motif utama penulisan Jatisaba.

Membaca Jatisaba, bagi saya, seperti melihat miniatur Indonesia dengan segala carut marutnya. Ada perdagangan wanita ke luar negeri, ada rusuh pemilihan kepala desa, juga pola pikir warga (khususnya wanita) di pedesaan yang entah bagaimana antara meminta belas kasihan dan membuat kesal. Apa sebenarnya yang paling ingin Ayda sampaikan lewat novel tersebut? Mengapa hal itu menurut Ayda penting?

Yang terpenting dalam Jatisaba bagi saya cuma satu, bagaimana persoalan-persoalan di dalamnya membawa pembaca untuk mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya dimaksud dengan nilai yang selama ini dianjurkan untuk kita yakini dan pahami.

Adakah hambatan yang berarti selama menulis Jatisaba, mengingat kisah yang diangkat berasal dari fakta yang tidak menyenangkan? 

Hambatan menulis Jatisaba yang banyak didasarkan pada fakta, sebenarnya sama dengan hambatan yang dialami penulis pada umumnya, yakni prejudice. Saya harus menyiapkan diri menerima prasangka yang muncul berkelindan antara karya yang saya hasilkan dengan fakta-fakta yang saya angkat, pendapat-pendapat di dalamnya dengan gagasan pribadi saya sendiri. Akan dengan mudah pembaca mengira bahwa apa yang saya ceritakan adalah diri saya. Saya hanya perlu menyiapkan cerita lebih banyak untuk menjelaskannya. Cerita itu kadang lebih menarik dari novelnya sendiri.

Adakah alasan khusus mengapa alur yang dipakai bolak-balik?

Alur bolak balik semata-mata saya gunakan demi pertimbangan intrinsik karya sastra. Bagaimanapun, yang intrinsik menentukan keseluruhan bangunan karya sastra. Cerita yang baik menjadi lebih baik lagi jika disampaikan dengan cara yang tepat. Pemilihan alur bolak balik menjadi bagian dari upaya saya mencari cara yang tepat tersebut. Alur bolak balik memungkinkan pembaca menemukan suspense dengan lebih mudah, dan membuat mereka bertahan lebih lama. Tentu saja, beberapa orang tidak sependapat dengan saya dan menganggap itu justru menggangu. Akan tetapi, lagi-lagi ini masalah selera dan pilihan.

Salah satu hal yang paling menarik bagi saya di Jatisaba adalah tokoh utama yaitu seorang wanita yang dengan segala keberaniannya memutuskan untuk menjadi kaki tangan mafia perdagangan wanita dan anak-anak. Konflik batinnya begitu hidup. Nuansa romance-nya juga kuat. Bagaimana Ayda membentuk karakter sang tokoh? 

Tokoh Mae adalah tokoh ideal saya. Mae adalah orang yang bisa bertahan dalam kondisi paling buruk. Menariknya lagi, Mae sulit dan tidak bisa didefinisikan dalam karakter apapun. Dia mengatasi nilai-nilai yang ada. Dalam beberapa hal tokoh Mae sangat radikal. Tentu saja, saya menciptakan tokoh ini setelah melewati berbagai refleksi, dan saya menciptakannya dengan penuh gairah.

Sebagai penulis wanita yang giat mengangkat konflik sosial di masyarakat, seperti apa sih sosok seorang R.A. Kartini di mata Ayda kaitannya dengan dunia literasi?

Bagi saya, R.A Kartini adalah pelopor pada zamannya. Hormat saya begitu besar kepadanya. Akan tetapi saya tidak terlalu suka glorifikasi berlebihan yang dilakukan masyarakat Indonesia. Pertama, masih begitu banyak tokoh perempuan lain yang juga perlu diteladani. Kedua, apa yang diperjuangkan RA. Kartini sudah sangat berbeda konteksnya dengan yang dihadapi perempuan Indonesia kontemporer. Alih-alih meneruskan perjuangan, kita seringkali terjebak pada melankolia masa lalu. Ketiga, menegaskan pemberdayaan perempuan sama dengan mengakui jika perempuan lemah dan berbeda. Selalu ada bias di dalamnya, sehingga saya pribadi tidak begitu terkesima dengan upaya-upaya yang demikian. Teman-teman bisa perhatikan tokoh Mae atau Sitas di dalam Jatisaba, bagaimana hubungan mereka dengan laki-laki, bagaimana mereka tampak sangat bergantung tetapi sebenarnya tidak.

Wanita di dalam Jatisaba seolah terbagi menjadi 2 kelompok secara ekstrim. Yang lemah; mampu diperjualbelikan dan tidak berpendidikan, dan yang kuat; mampu mengendalikan situasi dan memiliki ambisi besar yang dikendalikan oleh materi dalam hal ini diwakili Mae, sang tokoh utama. Apakah Ayda memandang situasi semacam ini sebagai dampak pembangunan yang gagal ataukah emansipasi wanita yang diterjemahkan secara keliru?

Saya tidak berniat membagi-bagi kelompok sosial tokoh-tokoh perempuan di dalam Jatisaba. Mereka hanya berbeda kehidupan. Yang justru ingin saya tekankan adalah bagaimana dengan caranya masing-masing, mereka bertahan. Tentu saja, saya juga menunjukkan bagaimana perempuan berhadap-hadapan langsung dengan dunia politik, urusan ekonomi keluarga, kekerasan, dan lain-lain yang seringkali membuat mereka tunduk. Akan tetapi, ketundukan yang saya uraikan tidaklah absolut. Itu hanya sebuah cara untuk bertahan, dan tidak ada yang lebih emansipatif lagi kecuali kemampuan bertahan. Jika ditanya mengapa bisa demikian? Saya, seperti juga lainnya, masih akan menyalahkan institusi-institusi yang tidak menjalankan peran dengan semestinya seperti negara. Juga orang-orang yang bertanggung jawab di dalamnya.

Banyak pendekatan dan metode dilakukan untuk memelihara semangat Kartini pada generasi muda. Sebagai seorang tenaga pengajar dan penulis, adakah keinginan Ayda dalam rangka memelihara semangat tersebut yang belum juga terlaksana hingga sekarang?

Saya akan memelihara semangat Kartini dengan melupakan bahwa dia adalah perempuan. Dalam artian, saya lebih tertarik dengan ide-ide Kartini tentang dunia dan pendidikan. Bukan melulu dalam hubungannya dengan laki-laki dan feodalisme. Ke depan urusan perempuan bukan hanya berhadapan dengan laki-laki, memperjuangkan hak-haknya, melindungi diri, dan "keluar rumah". Yang dihadapi perempuan adalah dunia. Oleh karena itu, sebagai guru dan penulis, yang saya hadapi adalah murid dan ide-ide. Kepada mereka hidup akan saya pertaruhkan. Sejauh ini, saya baru dalam upaya untuk konsisten dengan niat tersebut. Sejuta rencana menunggu direalisasikan, di antaranya menulis selalu menjadi yang pertama dan utama.

Seru ya, Sahabat KF, ngobrol dengan Bu Dosen yang satu ini. Kalau kalian masih punya pertanyaan yang belum terjawab, kalian bisa berinteraksi dengan Ayda langsung melalui akun facebooknya Ramayda Akmal.

Sekian dulu ya wawancara KF kali ini. Semoga kalian dapat memetik banyak manfaat di dalamnya.

Selamat menulis!

Jakarta, 26 April 2014