Tuesday, May 6, 2014

#Rabview - Gone With The Wind

Selamat hari Rabu pertama di bulan mei, Fictionholic. Sudah berapa buku yang kalian baca di tahun ini? Setelah rapat dengan semua admin KF, tukang review KF memutuskan bahwa hari rabu pertama setiap bulan adalah hari mereview buku-buku spesial atau buku-buku bestseller baik internasional maupun nasional yang ditulis oleh penulis-penulis keren. Tidak hanya buku baru, buku lama pun akan coba kami review.  Buku-buku spesial yang akan direview ini adalah buku yang WAJIB menjadi bacaan fictionholic yang ingin menjadi penulis. Mengapa demikian? Karena buku-buku yang masuk kategori ini adalah buku yang bagus untuk “dicontek” baik dalam hal gaya penulisan, cara pembuatan dialog, pembukaan novel, dll. Yang pasti buku-buku ini memberi kita banyak pelajaran dalam menulis. Di Rabview spesial kita yang pertama, tukang reviewKF akan mereview “Gone With The Wind”. sebuah buku lama, bahkan lama banget, tapi punya keistimewaan yang bisa dijadikan sumber belajar buat kita semua. 


Courtesy of www.library.wisc.edu

Gone with the wind adalah novel terkenal karangan Margareth Mitchel yang terbit tahun 1936. Novel fenomenal tentang kisah cinta Scarlettt O’hara dan Rhet Buttler berhasil dijual 176.000 copy dalam tiga minggu pertama. Tahun berikutnya, 1937, novel ini meraih hadiah pulitzer. Itu loh penghargaan bergensi untuk novel sastra yang bagus. MGM kemudian mengangkat novel ini layar lebar dengan judul yang sama. Filmnya meraih sepuluh piala oscar dan sampai sekarang termasuk dalam 100 film terbaik menurut. Dialog Rhett Butler “Frankly my dear, I dont give a damn” pada Scarlett di akhir film ini juga menjadi 100 dialog terbaik yang dinobatkan oleh instansi perfilman di Amerika. Pada jamannya hingga sekarang novel maupun film ini masih menjadi fenomena.


Gone with the wind berkisah tentang Scarlett O’hara, seorang perempuan muda yang cantik dan keras kepala. Dia adalah putra dari Gerald O’hara, seorang skotlandia yang ulet. Ibunya, Ellen adalah seorang putri pengusaha kaya yang lembut dan tegas. Scarlett adalah perempuan yang sangat tahu apa yang diinginkannya. Dia tahu bahwa dia cantik dan memepesona dan hal itu dimanfaatkannya dengan baik untuk merebut perhatian pria. Semua perempuan membenci Scarlett karena hal itu. Namun, tak ada yang tahu bahwa Scarlett mencintai seorang laki-laki yaitu Ashley. Sayangnya, Ashley akan bertunangan dengan perempuan lain yaitu Melanie. Scarlett yang yakin ashley mencintainya berusaha menggagalkan pertunangan itu dengan meminta Ashley kawin lari dengannya. Ashley ternyata serius ingin menikahi Melanie dan dia menolak untuk lari bersama Scarlettt. Saat mengatakan hal itu dia bertemu Rhett Butler. Seorang laki-laki yang keras kepala dan menjengkelkan Scarlettt. Scarlettt patah hati dan memutuskan untuk menerima lamaran Charles kakak Melanie. Sayangnya, Charles yang bertugas sebagai tentara tewas di peperangan. Membuat Scarlettt menjadi janda. Melanie yang menyayangi Scarlett memintanya untuk tinggal bersama karena Ashley juga bertugas sebagai tentara. Selama tinggal bersama Melanie, Rhet Buttler kembali hadir dalam kehidupannya. Memberi dia perhatian khusus. Suatu waktu Ashley kembali dari peperangan dan kembali bersama Melanie dan Scarett. Scarlett sadar dia masih mencintai Ahsley. Bagaimana kisah Scarlett seterusnya? Apakah dia kembali bersama Ashley? Bagaimana kisahnya dengan Rhet Butler? Sebaiknya Anda temukan sendiri.

Gone with the wind bersetting di Amerika tahun 1800an. Masa itu adalah masa ketika perempuan berusia usia 20an tahun adalah perawan tua. Masa itu adalah masa ketika perempuan harus tunduk pada laki-laki. Masa itu adalah masa ketika menjadi janda adalah menyedihkan. Masa itu adalah masa ketika kehormatan adalah segala-galanya. Di dalam novel ini, kita membaca bagaimana “mengerikan” norma-norma dan kebiasaan yang terjadi pada jaman itu seperti perbudakan, diskriminasi pada perempuan, kekuasaan laki-laki dan lain-lain. Dengan hadirnya tokoh Scarlett yang berpandangan beda membuat kita begitu lega karena ada orang yang berani menantang norma. Scarlett O’hara hadir sebagai perempuan yang tidak peduli akan semuanya itu. Dia mengabaikan pandangan masyarakat yang dianggapnya tak masuk akal. Inilah salah satu hal yang perlu dicatat oleh fictionholic sebagai penulis. Tokoh utama yang unik dari sebuah lingkungan yang monoton akan menarik minat pembaca seperti Scarlettt yang menarik minat kita karena karakternya yang lain daripada yang lain. Jadi, buatlah karakter tokoh yang unik untuk novel Anda.

Hal penting dalam sebuah novel adalah karakter utama. Di novel Gone with the wind karakter utama perempuan adalah Scarlett O’hara dan Karakter utama laki-laki adalah Rhett Butler. Scarlett O’hara digambarkan sebagai gadis keras kepala dan berkeinginan kuat. Karakternya itu sangat terasa saat dia mengambil keputusan apapun. Termasuk pendirian yang teguh tentang Ashley yang akan menjadi miliknya meski Ashley telah menikah dengan Melanie. Dia percaya suatu saat Ashley akan berpaling padanya. Dia juga tetap yakin pada hal itu meski Rhet Buttler selalu ada untuknya. Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi kita yang ingin menulis. Karakter kita harus kuat dan konsisten. Penting bagi penulis untuk konsisten pada karakternya. Jangan sampai membuat tokoh yang di awal penakut tiba-tiba dia berubah pemberani tanpa alasan yang kuat. Perkembangan karakter haruslah sesuai dengan jalan cerita. Seperti karakter Scarlettt yang tidak langsung melupakan Ashley karena ada Rhett Butler. Scarlett adalah wanita keras kepala dan berpendirian kuat kalau dia langsung jatuh cinta pada Rhett Butler tentulah melenceng jauh dari karakternya yang berpendirian kuat tadi. Rhet Butler sendiri digambarkan sebagai pria yang kuat, perhatian, dan tentu saja laki-laki idaman. Sejak awal dia sudah menunjukkan ketertarikannya pada Scarlett, tapi karena Scarlett dibutakan cinta pada Ashley, perempuan itu tidak menanggapi serius hal itu. 

Selain karakter utama yang mumpuni, konflik juga hal penting dari sebuah novel. Tahukah Fiction holic mengapa manusia membaca fiksi? Jawabannya karena mereka bosan dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Novel membuat membuat mereka mengalami hal lain. Oleh karena itu, konflik dalam sebuah novel harus kuat dan menarik. Gone with the wind juga mengajarkan hal paling penting lain untuk penulis yaitu “jangan ragu untuk memberikan konflik seberat-beratnya pada karakter Anda.” Sebagai penulis terkadang muncul perasaan sayang pada tokoh kita dan hal itu mebuat kita enggan memberi dia konflik yang berat. Padahal inti dari menulis adalah bagaimana membuat pembaca kita kagum pada cara tokoh kita mengatasi konflik. Di gone with the wind, penulisnya memberi begitu banyak konflik pada hidup Schlarlet yang membuat pembaca gemas pada tingkah Scarlettt menghadapi konflik itu sekaligus penasaran ingin tahu bagaimana dia mengatasi konflik dalam kehidupannya. Jadi jangan ragu memberi konflik pada tokoh kita. 

Gone with the wind adalah novel yang sangat tebal dan untuk versi Indonesia terdiri dari dua buku. Buku pertama adalah kisah Scarlettt, Ashley, dan pertemuan awal dengan Rhett. Buku kedua tentang hubungan Scarlett dan Rhet lebih jauh. 

Meskipun sangat tebal tetapi pembaca tidak akan bosan membacanya. Hal ini karena narasi penulis sangat menarik. Salut untuk penerjemah novel ini karena berhasil membuat terjemahan yang keren. Selain itu dialog antar para tokoh juga sangat bagus. Dari dialog kita bisa tahu kondisi tokoh, latar belakang tokoh, dan tentu saja konflik novel ini. Saya rasa novel ini ini laya diganjar Pulitzer. Beberapa pesan yang bisa kita petik dari novel ini sangat banyak. Tiga diantaranya adalah ketahuilah batas kemampuanmu jangan sampai mengharapkan sesuatu yang tidak bisa kau gapai, hargailah setiap orang yang memberimu dukungan, dan terobsesi pada suatu hal secara berlebihan sangatlah tak baik. Demikian review singkat novel keren ini. Saya rasa, kalau fictionholic membacanya sendiri, akan lebih banyak hal menarik yang bisa ditemui. Sekarang tunggu apa lagi, ayo membaca dan mulai menulis kisahmu!

Oleh: Ajen Angelina
Editor: Hadi Samsul