Selayaknya sebuah kota pelabuhan kecil yang sarat dengan aroma laut dan orang-orang dari berbagai suku bangsa, kehadiran warung-warung kopi yang berjajar di perbatasan laut dan ruas-ruas jalan menjadi semacam inti yang menggerakkan rotasi dinamika kehidupan di kota ini. Orang-orang ramai berkumpul di warung-warung kopi, tidak peduli pagi atau petang, memperbincangkan apapun yang dianggap penting, mulai dari cuaca yang semakin tidak terbaca, berita di koran yang mengabarkan kecelakaan kereta api, artis dangdut yang baru menikah untuk ketiga kalinya, pejabat yang memberangkatkan seluruh keluarganya naik haji, sampai ke urusan ranjang dan ayam tetangga. Tidak penting apakah kopi yang dihidangkan di warung itu terlalu encer atau pahit, sebab semua percakapan yang tumpah di sana pasti manis adanya.

Dari semua warung kopi di kota ini, mulai dari yang ukurannya paling besar sampai yang menyajikan berbagai fasilitas dan makanan, tidak ada yang dapat menandingi warung kopi Ci Ling yang terletak di pinggir jalan yang menghadap pantai. Warung kopi yang selalu ramai dikunjungi orang-orang itu diyakini menyediakan kopi paling enak di kota ini. Beberapa orang bahkan berpendapat kopi racikan Ci Ling adalah kopi paling sempurna di dunia. Perpaduan kopi segar yang digiling dengan tangan, desis ketel air yang mendidih dan gula pasir, entah bagaimana, menjadi harmonisasi rasa yang luar biasa di tangan Ci Ling.

Aku dan hujan itu awalnya bermusuhan! Iya aku tidak main – main dan bukan sekedar bercanda atau mengada – ada. Tapi ini benar – benar terjadi.
Ah, kalian pikir aku pasti sudah gila karena begitu tidak sukanya pada hujan. Nah, aku yakin jika aku beberkan cerita dari diriku kalian akan mengerti sebabnya aku tidak suka pada hujan. Kau mau tahu apa alasannya? Pssst, tidak lain karena hujan tidak bermaksud baik dengan membasahi bumi melainkan hanya untuk membasahi diriku semata.
Hmmm? Kalian tidak percaya akan kata – kataku? Aku akan membuktikannya dengan fakta – fakta berikut ini.
Paragraf-paragraf dongeng ini ditulis bersama-sama oleh: Meliana IndieWinda KrisnadefaIndah Wd & G

Serial lengkapnya dapat ditemukan di sini: Petualangan Kasenda dan Twittwit

4. Sepasang Sayap Andaralivia, Negeri di Balik Gunung-Gunung Embun dan Bait-bait Poesis, Para Kurcaci dan Bola Kristal
Twittwit terpesona. Keindahan tempat tinggal para kurcaci ini sama sekali berada di luar dugaan Twittwit. Mengapa?

Ada sesuatu tentang tempat ini yang membuat Twittwit merasakan getaran aneh di dadanya. Tiba-tiba saja ia ingin menangis dan tertawa secara bersamaan. Kampung kecil itu sangat indah sekaligus begitu sunyi. Ada kemuraman di sana yang tidak mampu dijelaskan dengan kata-kata.

“Mereka sudah lama membunuh musik. Mereka menguburkan musik dan menolak apapun juga yang menimbulkan nyanyian. Mereka tenggelam dalam ritme kerja dan kerja. Mahluk Bajang memang pekerja keras dan sangat rajin. Usia mereka begitu panjang karena minum embun pagi dari mawar-mawar cahaya yang mereka pelihara dan tanam secara khusus di taman-taman mereka. Tetapi mereka juga mahluk yg mudah marah dan bersungut-sungut, karena telah kehilangan melodi dari dalam hati mereka.” Peri sayap ungu menerangkan tanpa diminta oleh Twittwit.

“Kenapa aku bisa merasakan kesedihan mereka?” tanya Twittwit keheranan. Peri ungu menatapnya dengan sungguh-sungguh, “Ingat-ingatlah siapa dirimu Andaralivia, ingat-ingatlah kembali, sebab siapa dirimu dan nasib Kaum bajang, bahkan nasib negeri-negeri di Balik Gunung-Gunung Embun dan Bait-bait Poesis ini bergantung padanya.”
Pohon Jalan Rahasia

Masih sambil bersungut-sungut Kasenda menyepak batu kecil berwarna coklat kehitaman yang dilihatnya di pinggir jalan. Batu itu terpental dan membentur batang pohon karnesia merah berdaun rimbun menyerupai payung. Seakan belum puas, Kasenda mengejar batu kecil itu dan bersiap kembali menyepaknya ke jalan setapak yang dilaluinya tapi kembali ekornya berulah dan Kasenda jatuh terjerembab sementara kepalanya terantuk sebuah tonjolan di bagian bawah pohon. Kasenda menatap sebal tonjolan itu dan bersiap meninjunya ketika ia mendengar sebuah suara *kraakk* yang membuatnya terlonjak kaget dan lupa akan rasa sakit di kepalanya, terlebih ketika batang pohon karnesia merah itu mulai membuka diri. Kasenda bersiap untuk lari tanpa henti kembali ke rumahnya namun ekornya kembali membelit kakinya dan Kasenda jatuh terguling masuk ke dalam lubang di pohon tersebut yang langsung menutup ketika Kasenda telah masuk ke dalamnya.
Setelah selesai membaca iqra bocah-bocah kecil itu menulis huruf hijaiyah. Maryam duduk tersenyum melihat anak muridnya semangat belajar meski buku tulis mereka beralas lantai. Ada Samsul yang tidak berhenti menarik ingus yang selalu gagal turun dari lubang hidungnya. Juga Jamal yang tidak sadar tangan kirinya menggaruk pinggir luka di dekat mata kaki, sekaligus gerakannya itu membuat lalat tidak jadi hinggap. Sementara Siti, menulis dengan hati-hati karena ujung pensilnya hampir patah. Panjang pensil itu sudah setengah kelingking, tidak bisa diraut lagi andai patah matanya.

Jamal, Samsul, Siti dan teman-temannya itu berasal dari keluarga tidak mampu. Maryam berinisiatif mengumpulkan karena dia tahu mereka semua tidak sekolah. Selain diajarkan baca kitab suci, Maryam mengajarkan juga kemampuan dasar lainnya seperti membaca, berhitung serta sedikit percakapan standar Bahasa Inggris.
/1./
Bahkan dalam hujan sekalipun, engkau mencurahkan cinta yang menitisi gelombang yang menengadahimu..

/2./
Pernah kau tanya, Langit, serupa apakah biru?

Kataku, seperti aku yang menyebutmu dengan lafal cinta, biru, sekalipun malam yang tergelap bersiasat menyembunyikan kerlip-kerlip bintang darimu.

/3./
Aku mencintaimu. Dengan satu-satunya cinta yang kuketahui. Seperti lengkung dirimu yang melingkupiku utuh-utuh, melepas semua batas. Seperti pernah di suatu masa hanya ada debur dadaku yang mendegupi debar dadamu. Seperti itu saja aku mencintaimu. Tanpa ingin. O, bagaimana mungkin aku menginginkan, sementara kau menindai setiap ombak yang ada di diriku, menjadikanku seluruhmu dalam sepenuhku?

/4./
Dan aku hanya samudera kecil, melaju serupa perahu yang terhela oleh anginmu, langit yang membentangi seangkasa raya.

Ilustrasi: Azam Raharjo
Episode 3: Iroh Ngambek

Eyang hapal polah tingkah Iroh karena perempuan lajang itu sudah bekerja padanya lebih dari empat tahun. Seperti pagi itu. Iroh sedang mem-vakum karpet sambil mengirim sms ke teman-temannya. Telinganya tersumpal earphone sementara MP3 player tersimpan di saku celana pendeknya. Hebat juga si Iroh ini, pikir Eyang, kemampuan multitasking-nya tak kalah dengan laptop Dea.

Eyang dulu tidak setuju ketika Runi membelikan Iroh MP3 player dengan earphone segala. Tapi menurut Runi, Iroh berhak mendapat kesenangan seperti layaknya perempuan muda sebayanya. Kata Runi, pembantu itu hanya profesi saja, para majikan tidak berhak menghalangi mereka untuk menikmati hidupnya. Asal tidak menggangu pekerjaan dan tidak melanggar norma umum yang berlaku bagi manusia lainnya.

Paragraf-paragraf dongeng ini ditulis bersama-sama oleh: Meliana IndieWinda KrisnadefaIndah Wd & G

3. Perkampungan Kurcaci, Jalan Rahasia dan Andaralivia

Peri bersayap ungu itu terdiam sejenak mendengar perkataan Twittwit sebelum berkata lirih yang terdengar bagaikan melodi sedih, "Mengenai hal itu aku tidak bisa memberitahukannya kepadamu karena itu merupakan rahasia kami."

Twittwit tidak mendesak karena ia sendiri mempunyai rahasia yang bahkan tidak dibaginya dengan Kasenda, namun pandangannya tak lepas dari sulingnya, "Kembalikan sulingku!" Twittwit berkata tegas.
"Kami turut berduka ya nak, atas kepergian ibumu yang begitu mendadak...," aku menerima ucapan bela sungkawa entah dari beberapa orang di rumah duka pada malam itu.

Sambil terus berusaha menyembunyikan ekornya di dalam celananya, Kasenda berjalan pulang dengan lesu. Tanpa Bootnya, Kasenda tidak lagi berminat untuk melakukan perjalanan yang penuh petualangan dengan Twittiwit. Di tengah hutan, mendadak Kasenda dikejutkan oleh suara nyanyian yang sedemikian merdu dari balik perdu mawar berwarna cahaya. Pelan-pelan Kasenda menyibak rerimbunan mawar itu, dan mendapati seorang peri lonceng sedang mengumpulkan embun dari mawar-mawar paling bercahaya. Setelah selesai mengumpulkan embun-embun dan memasukkannya ke dalam sejenis kantung yang terikat dipinggangnya yang ramping, peri kecil itu dengan nyamannya berayun-ayun di antara ranting pohon. "Peri lonceng!" sorak Kasenda dalam hati. Menemukan peri lonceng yang sedang sendirian adalah hal yang langka ditemui, karena mereka biasanya selalu berkelompok. "Aha!" Kasenda mendapat ide. Akan ditangkapnya peri lonceng tersebut dan memaksanya untuk memberi tahu letak desa rahasia para kurcaci. Boot Kasenda, mungkin akan dapat kembali padanya..
3. Empat Kurcaci, Peri Bunga Lonceng dan Racun Tulip Ungu

Kasenda berjalan mengendap-endap menuju tirai. Tepat ketika tangannya hendak menarik tirai kuning itu, sesosok makhluk kecil melompat ke arahnya dan berteriak, "Lariii!". Kasenda terkejut bukan buatan. Sedetik kemudian tiga sosok kecil menyusulnya. Berlari-larian keluar dari rumah. Bibi Kara dan Kasenda terpana melihatnya. Empat kurcaci berlari-larian membaa sepatu boot milik Kasenda. Tiba-tiba saja Kasenda tersadar dan berteriak, "Bootkuuu!!! Kurcaci nakaaal! Kutangkap kalian!" Dengan gusar ia berlari mengejar empat kurcaci berbaju hijau itu. "Kasenda!! Hati-hati! Mereka punya tulip beracun!" Bibi Kara berusha memperingatkan Kasenda yang sudah jauh mengejar kurcaci-kurcaci itu.

Perkenalkan nama asli saya, Fadilla Raisya. Tetapi orang banyak mengenal saya sebagai Lalita. Ya, Lalita, begitu saya cantumkan nama saya di setiap karya saya, entah itu di majalah, Koran, buku dan novel saya. Gambar wajah saya pun tidak pernah saya ijinkan bagi wartawan atau penerbit buku untuk dipublikasi. Alasannya, sederhana saja, ‘Privacy’ dan saya ingin para pembaca hanya menikmati karya yang saya tulis tanpa perlu embel-embel mengetahui profil pribadi saya. Saya cukup katakan, saya adalah penulis traveling, bercerai dan punya satu anak. Selebihnya kosong, karena menurut saya juga, dengan tulisa-tulisan saya, pembaca dapat mengetahui bagaimana kehidupan saya yang saya  jalani. Tentu, orang-orang tahu bahwa saya teramat menyukai perjalanan dari kota satu ke kota lainnya, dari Negara satu ke Negara lainnya.

Paragraf-paragraf dongeng ini ditulis bersama-sama oleh: Meliana IndieWinda KrisnadefaIndah Wd & G


2. Peri bunga lonceng

Mereka mempercepat langkah mereka. Sambil terengah-engah karena saling berkejaran, Kasenda bertanya, “Mengapa peri-peri bunga lonceng itu suka sekali mencuri musik? Masih ingatkah kau kisah Nenek Pea yang kehilangan lonceng2 peraknya, padahal lonceng perak itu selain bunyinya indah juga menjadi pemanggil serpih-serpih salju warna bening yang bisa berubah menjadi gelembung-gelembung kupu-kupu ketika tertiup angin utara… Ah, aku tak habis pikir.”

Masih sambil berlarian, Twittwit menimpali ucapan Kasenda, “Dulu ketika aku masih kecil, kakekku pernah bercerita bahwa kaum peri lonceng itu adalah kaum bersuara emas, berbicara biasa saja seperti yang kita lakukan sekarang ini, bila mereka yang mengucapkannya terdengar seperti lantunan melodi yang indah, apalagi ketika mereka mulai bernyanyi, suara mereka mampu membuai setiap makhluk yang ada di sekitarnya.”
“Lingga, please… aku cuma inginkan kamu…,” laki-laki itu mencoba menatap mata Lingga yang dari tadi tertunduk.
Sreeettt…. Sreeettt…. Sreeettt….
Perempuan itu terus menata susunan kertas yang ada di hadapannya.

Pk 07.30 WIB
Mereka duduk berhadapan di meja bundar di sebuah coffee shop.

Sluuurrrppp.
Perempuan itu mengangkat cangkir cappuccino hangatnya.
Huuffhhh...
Mencoba menghela nafas, merapikan blazer hitamnya. Menatap pria beralis tebal yang dari tadi mengucapkan kalimat yang sama sejak sepuluh menit yang lalu.
“Baiklah, apa maumu sekarang? Bukankah semuanya sudah jelas? Sejak dua malam yang lalu dan sejak semalam yang lalu.”
“Mau aku? Aku hanya inginkan kamu….” Kedua mata mereka saling berhadapan, tapi nampaknya ada yang kemudian berganti arah.

“Sayang, kamu sudah gajian belum?” tanya Rizki pada Rere istrinya yang sedang bersiap – siap untuk mandi di pagi hari itu. Ketika dilihatnya istrinya tidak menjawab, Rizki mengulang pertanyaannya dengan suara yang sedikit meninggi.

Rere melirik ke suaminya dan dengan berusaha menyabarkan hatinya ia menjawab bahwa seperti yang Rizki tahu hari ini dia belum gajian. Dia mengira – ngira dengan kelelahan yang tiba – tiba menyelimutinya bahwa pasti ada yang diinginkan suaminya dengan menanyakan kapan ia gajian. Dan benar saja, wajah suaminya langsung berubah masam seolah Rere yang bersalah karena hari itu belum mendapatkan gaji.

Tanpa buang waktu Rere langsung melangkah keluar kamar dan ia pun langsung diserbu oleh ketiga anaknya yang masing – masing hanya terpaut usia setahun. Jika orangtuanya tidak mengingatkannya untuk segera menggunakan alat KB mungkin sekarang ia sudah punya kesebelasan sepakbola. Orangtuanya yang memang tidak menyukai suaminya itu juga mengingatkan bahwa jaman sekarang mengurus satu anak saja sudah sulit apalagi jika mempunyai terlalu banyak?
 Picture is taken from :
http://www.sermons4kids.com/doubt_to_faith_maze.htm


One rainy afternoon in a small cafe near the forest, there was Doubt who was sitting outside and once in a while she sipped her warm coffee and looked interestingly to the people around her.

Sometime she let herself got lost in the rhythm of the rain. She liked closing her eyes and enjoyed the dripping sound of the raindrops which echoed in her head like beautiful melodies. By doing that, all her troubles seemed so very far away and that was the only time she could find some peace of mind.

Seemed like Doubt closed her eyes for too long that she didn't even realize that someone had taken the seat next to her and by the time she opened her eyes, she felt kinda surprised to see Faith.
Dalam senyap Malam merangkak menjauhi Bulan, mendekati Mentari bersamaan dengan gegas langkah seorang perempuan yang menyelinap di balik bayangan. Mata perempuan itu sendu menatap wajah gulita Sang Malam. Begitu takutnya perempuan itu pada terang hari hingga ia menangkapi pagi dan mengikatnya, lalu menyembunyikan mereka di dalam gua.

“Aku harus cepat.” Bisik perempuan itu sambil mendongak memandangi langit. Tangan kanannya menggenggam kantung dan seutas tali. Di sepanjang jalan terlihat lampu-lampu yang hening dalam keremangan. Kaki-kakinya kecil dan pucat, dengan cepat menapaki rerumputan, menerobos alang-alang dan menembus hutan.

“Ah. Aku tepat waktu.” Bibirnya membentuk senyuman yang menyimpan pilu. Dipandanginya batu besar di ujung hutan. Dengan sigap ia melompat dan secepat kilat tangan-tangan kurusnya menangkap kuncup-kuncup Pagi yang bersiap-siap hendak mekar.

Ibuku selalu sibuk dengan pekerjaannya, biasa pergi pagi sekali dan pulang jam 4 sore. Sejak kepergian ayah, ibu mengurus perusahaan peninggalannya. Untunglah ada Bi Enung yang selalu sabar, yang menggantikan tugas ibu dengan kasih sayang yang sama.

Menjelang masuk kuliah, sedih rasanya ketika Bi Enung bicara bahwa ia tidak bisa bekerja lagi di rumah kami, karna akan menikah dan tingal bersama suaminya. Hmm…, beruntunglah lelaki itu, mendapatkan istri seperti Bi Enung yang sabar, baik dan pandai dalam mengurusi semua kebutuhan keluarga. Seperti di rumahku, semuanya selalu tertata rapih, tak pernah aku mendengar Bi Enung mengeluh tentang apapun, ia selalu tersenyum dan selalu membuat kami sekeluarga merasa nyaman.

Selain pandai mengurusi kebutuhan kami sekeluarga, Bi Enung juga memiliki wajah yang cantik alami, kulitnya putih, pipinya merona. Dia tak pernah memakai lipstik dan riasan wajah seperti ibuku. Meski demikian, Bi Enung terlihat segar dan  mempesona dalam kesehariannya, hingga sering sekali beberapa tamu ibuku menganggap dia sebagai kakakku, dan menggodanya. Namun Bi Enung sudah memiliki calon, dan ia sangat setia padanya, yang kini telah menjadi suaminya.

"You know you are in love when you can't fall asleep because reality is finally better than your dreams."

Malam itu Rumput tak bisa tidur, sebab ia sibuk memikirkan Ilalang. sedang apa engkau kekasih, bisiknya mengusir Mimpi yang mencoba membujuknya untuk tidur bersisian. aku belum ngantuk! sungut Rumput. Mimpi tahu dia berbohong. bukan itu alasan yang sebenarnya. Kau isteriku! biniku! perempuanku! setiap Matahari sembunyi dan masuk ke dasar danau itu kau adalah milikku! desaknya gusar. berhentilah main mata dengan Angin, Rumput! berhentilah!
Sebagian orang percaya cemburu adalah tanda cinta. Sebagian lagi mengatakan cemburu adalah perasaan negatif hasil dari pemikiran yang negatif juga karena kurangnya rasa percaya diri. Mana yang lebih tepat? Entahlah, mungkin semua tergantung dari seberapa besar dosis kecemburuan itu sendiri, serta sejauh mana sebuah hubungan telah berjalan. Yang pasti (bagi saya), perasaan itu asyik untuk dicermati.

***

"Selayaknya ini bukan puisi," katamu saat mendorong secarik kertas itu kehadapanku. kertas itu berhenti dengan rapi dalam jarak yang tepat sekian senti dari cangkir kopiku yang mengepulkan asap dan aroma pagi yang kita kenal baik.

"Aku hanya ingin mengibaskan mendung yang menggantung di langitmu. bukankah sudah terlalu lama dia mengganggu karena enggan menjadi hujan?" Katamu lagi. Aroma pagimu selalu saja lebih segar daripada milikku. Wajah cerahmu yang tercukur licin memantulkan sinar matahari yang begitu muda mengecup langkah pagi yang ringan membuka pintu hari. Sementara aku, selalu saja merasa diriku ini masih terus-terusan betah duduk dalam waktu seperempat malam, menarik selimut subuh dan bersikeras gelap masih menyertaiku. Ah, kamu kira semua itu mendung? Padahal bagiku semua itu adalah selimut yang nyaman. Aman. Menentramkan. Terbebas dari tanggungjawab. Boleh bermain dalam mimpi. Ah, bagimu semua itu mendung?

Namaku Winny, double N dan pake Y. Aku bekerja sebagai khadimat1) pada sebuah keluarga . Aku belum lama terjun di dunia pekerjaan sebagai penata laksana rumah tangga ini. Padahal dulu aku sekolah sampai SMA. Namun karena alasan klasik, biaya, aku tak mampu melanjutkan kuliah seperti halnya teman-teman satu angkatanku di SMA.

Parasku katanya lumayan cantik. Usiaku juga masih dibilang muda. Dua tiga. Usia keemasan seorang perempuan, katanya. Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa aku memilih bekerja di sektor informal padahal banyak sekali pabrik yang membuka lowongan bagi lulusan SMA seperti aku. Baiklah, aku kasih alasannya. Bahwa aku bekerja di sektor informal karena aku adalah bukan tipikal penjilat. Ketika aku bekerja di pabrik dulu, supervisorku orangnya tukang cari muka sama atasan. Aku bentrok sama si supervisor itu, dan memutuskan untuk mundur karena aku mempertahankan apa yang aku yakini benar. Itu terjadi bukan hanya sekali dua, maka kuputuskan untuk bekerja di sektor informal saja. Dengan bekal nekad, akupun bekerja di negeri jiran ini. Siapa tahu aku bisa melatih kesabaran, begitu batinku menghibur diri sesaat sebelum aku meninggalkan kampung halaman beserta ibu dan adik-adikku.
 Gambar diambil dari :
http://crumpets4eva.blogspot.com/2009_01_01_archive.html


Hai. Perkenalkan, namaku Quin. Kamu tau apa yang membawaku bertemu dengan kalian? Jawabannya adalah sebuah pertanyaan. Hmm, bagaimana mungkin sebuah pertanyaan bisa menjadi jawaban? Ah, mengenai hal yang satu itu baiklah kita simpan untuk lain kali saja karena saat ini aku akan bercerita mengenai pertanyaan yang membawaku kepada kalian.

Ya, sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seorang perempuan di suatu sore yang cukup dingin karena hujan baru saja selesai mengguyur bumi yang belakangan ini hanya dihiasi panas terik sang matahari yang enggan berbagi jatah dengan awan mendung.

** untuk membaca versi lengkapnya, silahkan klik di sini**
Johanna berjalan dengan gusar kembali ke tempat duduknya dan menatap layar computer. Berusaha kembali berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Ia tidak menyesal meluapkan kekesalannya pada Meti karena wanita itu benar – benar sudah membuatnya kesal selama beberapa bulan terakhir. Dia dan para karyawan lain yang menggunakan keluarga untuk kabur dari pekerjaan mereka.

Paragraf-paragraf dongeng ini ditulis bersama-sama oleh: Meliana Indie, Winda Krisnadefa, Indah Wd &G

1. Sepatu Boot dan Seruling

“Mari kita memulai perjalanan kita,” bisik Kasenda kepada Twittwit, mereka melangkah meninggalkan rumah yg terletak di balik bukit kecil dekat padang ilalang itu. atap merah dan pintu kayu memandang langkah mereka. kaki-kaki kecil tak beralas menapaki jalan kecil berkelok-kelok yang disusun dari bata merah.

Tiba-tiba Kasenda berseru, “Astaga! Aku belum memakai sepatu bootku!”

Twittwit memandangnya dengan heran. “Kita tidak butuh sepatu, Kasenda. Bukankah rumput adalah permadani yang sangat enak dan empuk untuk diinjak-injak?”
Lelaki itu menggelesot di lantai di sebuah rumah di kompleks Bulaksumur, memegang selembar kertas bertuliskan puisi-puisinya dan tersenyum lucu memamerkan gigi-gigi kecilnya. Begitulah pertama kali saya bertemu Gunawan Maryanto, di awal tahun 2000. Sepuluh tahun kemudian, kumpulan puisinya yang bertajuk Sejumlah Perkutut buat Bapak mendapatkan anugerah sastra Khatulistiwa Literary Award (KLA).

Selasa, 1 Maret 2011, saya beruntung bisa duduk santai dan ngobrol dengan Gunawan. Awalnya saya ragu-ragu untuk mengajaknya bertemu. Ternyata, meski telah kondang, dia masih tetap Gunawan yang sama, lelaki sederhana yang saya kenal 11 tahun lalu. Memandang Gunawan ditemani kopi dan beberapa potong donat siang itu, saya teringat pada kata-kata mentor saya bahwa ‘a good writing is a hard work’. Gunawan salah satu buktinya. Ia telah menempuh perjalanan panjang, selama belasan tahun, untuk mencapai prestasinya. Dua jam berbincang dengannya, rasanya bagai mengikuti kelas ‘belajar menulis cerpen’ selama satu semester.

Berikut ini teman-teman saya ijinkan mengintip kencan kami di sebuah kedai donat.



Lanjutan .....
Dari dua minggu pertemuan aku dan Acil, setidaknya aku jadi tahu siapa dan bagaimana dia. Kehidupan yang dia jalani sungguh tidak mudah. Menikah di usia masih sangat belia, 15 tahun. Punya anak tiga orang. Suaminya dulu adalah seorang buruh tani. Namun, karena tergiur teman sekampungnya yang merantau ke ibukota, suaminya akhirnya berangkat ke Jakarta meskipun tanpa keahlian. Bulan-bulan pertama, suami Acil masih sanggup mengirim biaya untuk tiga anak mereka. Kabar pun masih rutin mereka terima. 

Namun itu hanya bertahan setahun. Selanjutnya, Acil tak lagi menerima kiriman rutin dari suaminya. Dia berusaha untuk mencari tahu keberadaan suaminya. Berbagai cara dia usahakan untuk mengetahui kondisi suaminya. Ratusan lembar surat tak pernah berbalas. Bahkan, pernah sekali waktu Acil bertekad untuk menyusul suaminya ke Jakarta berbekal alamat surat yang tertera di amplop yang mengantarkan surat dari suaminya. Namun itu urung ia lakukan mengingat biaya anaknya untuk sekolah dia rasa jauh lebih penting ketimbang mencari suaminya. Hingga akhirnya Acil menerima kabar bahwa suaminya katanya menikah lagi dengan seorang perempuan Jawa di Jakarta sana. Sejak saat itu Acil tak lagi menggantungkan harapan bahwa suaminya akan kembali.

Acil membanting tulang membesarkan ke tiga buah hatinya. Si Sulung, laki-laki, kini sudah bekerja di sebuah supermarket di Banjarmasin. Berbekal ijazah SMA, si Sulung akhirnya turut menopang biaya sekolah adik-adiknya. Anaknya yang ke dua dan ke tiga, keduanya perempuan. Anak ke dua, seharusnya bersekolah kelas tiga SMA, namun dia lebih memilih untuk kursus menjahit, dan kini bekerja di salah satu konveksi. Sedangkan anak bungsu Acil masih kelas tiga SMP. Anak bungsu inilah yang sedang berusaha untuk disekolahkan tinggi oleh Acil dan anak tertuanya.

Berbagai pekerjaan pernah Acil lakoni untuk memenuhi kebutuhan dan biaya sekolah anak-anaknya. Mulai dari menjadi pembantu rumah tangga, buruh cuci pakaian, hingga jualan wadai, dia lakoni agar anak-anaknya tidak seperti dirinya. Buktinya, Acil mampu menyekolahkan anak sulungnya hingga jenjang SMA. Sebuah prestasi yang hebat menurutku. Di tengah ketidak jelasan kondisi ekonomi keluarga, Acil yang bertekad baja mampu membuat anaknya menggenggam ijazah SMA. Sungguh sebuah semangat hidup yang pantas untuk aku tiru.

Diam-diam aku kagum dengan kegigihan Acil berjuang untuk kehidupan dan penghidupannya.

oOo

Pagi ini aku sangat ngantuk sekali. Maklum semalam aku begadang menonton bola. Kuputuskan  untuk tidur-tidur ayam sambil menunggu Acil datang menawarkan wadainya. Tak ada lengkingan Acil Siah memecah tidurku. Akupun bablas tidur sampai pukul sembilan pagi. Kebetulan di hari sabtu seperti ini aku libur.

Ah, hari ini aku tidak sarapan wadai seperti biasanya. Sudah hampir sebulan terakhir ini sarapanku selalu ditemani Acil di teras rumah. Wadai khas buatan ibu Jubaidah yang dijajakannya selalu menjadi pembuka pagi hariku juga menjadi menu sarapan abangku.

Sehari dua hari lengkingan khas Acil tidak muncul. Aku berpikir mungkin Acil sedang sakit atau berhalangan jualan.

Aku tak mendengar lengkingan itu sudah seminggu hingga hari ini. aku penasaran untuk bertanya kepada para tetangga. Namun rasa malu dan tidak adanya waktu selalu menjadi alasan untuk mencari tahu penjual wadai yang sudah menjadi langgananku itu.

Dan hari ini aku kembali mendengar lengkingan wadai, namun dari suara yang berbeda.

“Wadai.. wadai…”

Tanpa menunggu dia mendekat, aku segera keluar untuk memanggil penjual wadai itu. Bukan Acil Siah yang kulihat.

Nggih mas, saya yang menggantikan almarhumah Acil Siah.”

Seketika aku lemas. Acil sudah wafat?

“Iya mas, sidin meninggal karena penyakit yang sudah lama dideritanya . Seminggu ini kami sengaja libur dulu. Ibu Jubaidah sengaja tidak membuat wadai karena benar-benar kehilangan Acil Siah yang sudah banyak membantu. Dan sekarang ulun yang menggantikannya berkeliling ke kompleks  ini.”

“Kalau boleh tahu, penyakit apakah yang dia derita. Tahukah pian, Cil?” aku penasaran.

“Kanker payudara.”

Ah Acil, betapa aku akan kehilangan lengkingan khasmu. Bagaimana nasib anak-anakmu? Semoga mereka tetap tegar dan bertahan untuk melanjutkan perjuanganmu. Semoga kau tenang di sana Cil.

Diam-diam aku melantunkan surat alfatihah untuknya.(HS)

Kakimanangel, 25022011.

Keterangan:
Wadai: Kue, 
Ulun:  saya,  
Pian: kamu (untuk orang yang lebih tua), 
kada: tidak, 
bulik:balik, 
inggih: iya,   
sidin: dia
Nggih, ulun mulai berkeliling manjuali wadai ini bada subuh : iya, saya mulai berkeliling menjual kue ini setelah subuh.

****

Hadi Samsul
Buat saya, menulis itu adalah berbagi. Berbagi ide, cerita, semangat, motivasi, bahkan informasi. Tidak terkecuali dalam fiksi. Saya selalu ingin tulisan saya bermakna bagi yang membacanya. Menulis fiksi sebenarnya bukan hal yang baru. Namun ketidak percayaan diri membuat saya mengubur dalam-dalam aneka tulisan fiksi saya agar tidak terpublikasi. Cukup jadi bagian dari memori, atau paling banter, bagian dari isi harddisk saya hehehe.
Melalui kampungfiksi ini, saya memberanikan diri untuk berlatih menulis fiksi. Selamat datang fiksi di kehidupan hadi, selamat datang hadi di dunia fiksi.  (HS)





Arrrgghh… lagi-lagi selalu saja ada teriakan keras di rumah ini. Bentakan, makian, umpatan segala jenis spesies hewan keluar dari mulutnya yang berbau alkohol. Benda-benda kesayangan melayang hancur-berantakan dan yang terparah seolah kau ingin tunjukkan eksistensimu sebagai seorang penguasa rumah tangga ini di hadapan anakku, mahluk rapuh itu milikku, ya milikku! Bahkan pada proses penciptaannya kau tak sadarkan diri, terlebih kau menolak kehadirannya dalam dunia ini. Tetap kupertahakan sampai kapanpun.

Rere menggigil di pojokan kamar mendekap boneka kelinci bertelinga panjangnya. Sejenak menatapku ragu…, ragu akan kekuatanku menahan pintu kamar ini dari amuk monster berbadan kecil dan berkacamata itu. Rere pernah menggambarkan ayahnya, setara dengan monster-monster lainnya, dengan karakter berbadan kecil, berbulu merah, bertanduk dan dari hidungnya menyemburkan api sementara tangannya memegang botol yang mencurigakan; monster itu berkaca mata! Ketika kutanyakan maksud karyanya dari gores pastel berwarna merah itu, air mataku menitik karena Rere sudah bisa berbohong, sudah jelas Rere menggambarkan sosok ayahnya bahkan memberi nama PEA, aku menduganya ini pasti inisial ayahnya.

Kubujuk pangeran kecilku agar tidur saja, badanku masih membelakangi pintu. Rere menolak, dia berteriak lirih jika dia tertidur maka monster bernama PEA itu akan menculiknya karena bunda juga ikut tertidur. Aku tidak boleh melemah, meski setiap sendiku bergetar begitu mendengar suara lirih pangeran kecilku. Jika sedikit saja kukendorkan badanku dari pintu ini sudah dapat dipastikan monster itu berhasil masuk dan menculik pangeran kecilku. Tidak akan terjadi.

Ilustrasi: Azam Raharjo
Episode 2: Supir Eyang

Di dalam mobil tua Peugeot 505 GR warna hitam yang sangat terawat, mulus dan gagah itu Dea sibuk dengan gadgetnya, nge-tweet dengan hebohnya. Dea minta teman-teman cewek sekelasnya menunggu di halaman depan sekolah. Dea mau pamer supir barunya.
Dea tidak tahu kalau Mama memantau kelakuannya dan ikut membaca tweet-nya dari negeri seberang. Sang Mama jadi berang dan menelpon anak gadisnya.
“Hai… hai… Mamaaaa,” suara Dea manja.
“Dahlia Indraswari Syahputra!” Suara tajam Runi membentur telinga Dea. Kalau Mama sudah menyebut lengkap namanya, itu berarti sedang marah dan tidak bisa dibantah.
“Kenapa kamu nggak berangkat sendiri aja naik bis kota?”
“Emmm…, soalnya Eyang yang nyuruh Priyo ngantar Dea, Ma.”

Hampir setiap pagi selama beberapa hari ini aku mendengar suara nyaring perempuan itu. suara yang menawarkan dagangan yang dia jual. Berkeliling dari satu kompleks ke kompleks lainnya.

Wadai… wadai…” begitu teriaknya.

Membangunkanku dari tidur-tidur ayam setelah adzan subuh. Awalnya aku kerap terganggu dan belum bisa membiasakan diri dengan teriakan di pagi buta itu.

“Bang, Emak-emak itu jualan apa sih?” begitu tanyaku suatu hari ketika awal-awal mendengar teriakannya.

“Wadai.” Abangku menjawab singkat. Aku pun malas bertanya lebih lanjut, lebih baik kuteruskan saja tidur-tidur ayamku.

Jam segini masih terlalu dini untuk bangun. Patokanku masih WIB seperti halnya di Jawa, padahal kini aku sedang berada di tanah borneo. Tentu saja satu jam lebih cepat ketimbang di Jawa. Dan biasanya, jika patokanku adalah waktu di Jawa, Jam segini itu baru adzan subuh, dan kebiasaanku adalah masih meringkuk di bawah selimut yang hangat untuk melawan hawa dingin.

“Wadai.. wadai…”
 Gambar diambil dari :
http://portfolio.dinp.org/2010/05/22/mom-son-daughter/

“METI!” terdengar suara yang bernada keras dari sebuah ruangan. “METI! Dimana dia? Cepat panggil dia ke dalam ruangan saya…!”

Sementara itu diluar ruangan kecil tersebut, beberapa orang saling melirik satu sama lain. Sebagian besar hanya mengangkat wajah mereka sejenak dan mengintip dengan rasa ingin tahu. Tapi hanya bertahan beberapa lama karena mereka dengan segera kembali sibuk dengan apa yang tengah mereka kerjakan. Seorang office boy dengan takut – takut memanggil seorang karyawan yang tengah berada di dekatnya dan membisikkan sesuatu. Karyawan itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum melaju meninggalkan mejanya.