Bagian 6

Tim menggelar peta tanpa skala wilayah Sangkhlaburi dan Three Pagodas Pass.

“Ini lokasi kamp pengungsian Ban Luang. Kita akan ke sana lusa. Seorang teman di UNHCR sudah memastikan kita dapat clearance. Kontak kita, namanya Naing Naing, akan menunggu di pertigaan ini,” Tim menandai lokasi itu dengan tinta merah, “Dia jurnalis. Punya banyak kontak,” Tim menyebut nama sebuah majalah berita internasional, “orang di sini mengenalnya sebagai relawan Angel’s Hand.”

Pagi itu sehabis sarapan aku dan Rudi akan menuju kantor Angel’s Hand. Sambil mendengarkan penjelasan Tim, Rudi mengeluarkan rokok dari saku celana kargonya.

“Tolong ambil sebanyak mungkin foto kegiatan mereka, terutama anak-anak,” Tim menatap Rudi. “Proposal yang kita susun ini untuk pendidikan anak-anak. Mirip yang kita buat tahun lalu.” Mata Tim beralih menatapku. Aku ingat. Kami bisa mencarikan dana US$10 ribu untuk sebuah LSM lokal di Chiang Mai. Lumayan. Mereka bisa membangun perpustakaan kecil dengan uang itu.

  Wah, udah lama juga gue puasa menulis dan beneran deh... Semua tips and trik menulis itu gak akan ada gunanya kalau gak dipraktekkan. Karena gue merasa sendiri nih blank-nya pas baru mau memulai menulis lagi. Yang ada gue bengong lamaaa dan berakhir dengan baca buku cerita alias menulisnya gak maju-maju.

Oh? Baca buku cerita apa nih? Gue suka cerita-cerita mistery pembunuhan sejak SMP. Salahin temen gue deh yang meminjamkan buku Agatha Christie yang mengenalkan gue dengan detektif Hercule Poirot. Jadilah sejak itu gue demen dengan cerita-cerita misteri lalu merambat ke cerita hantu kemudian ke cerita fantasy lainnya. Dan gue nyaris tidak pernah membaca cerita romance, entah yang versi lokal ataupun terjemahan. Dan ternyata, hal ini berpengaruh banget pada tulisan-tulisan gue. Coba tanya temen-temen gue yang pasti pada ngakak kalau mendengar gue mengarang cerita romance. Langsung kutu gue mati semua tuh (idih. gue punya kutu?).
Bagian 5

Hotel yang akan kami tempati selama 4 malam ini lebih tepat disebut guesthouse, kamar-kamarnya terpisah satu sama lain, menyerupai bungalo, berderet ke bawah menuju danau. Kamar Tim berada paling ujung, juga paling besar agar kami bisa rapat di situ. Sejak masih di Bangkok Tim sudah minta Rudi untuk mengatur supaya ruang duduk di kamarnya diberi meja dan empat kursi, tempat kami rapat dan bekerja.

“Nggak sabar ingin berenang di danau,” gumam Tong Rang.

“Itu bukan danau, itu reservoir!” Sergah Rudi.

“Apa bedanya?” Tong Rang ngeyel.

Tim menatap dua anak buahnya dengan cara yang membuat mereka berhenti bercanda, lalu duduk. Ia punya kemampuan menyuruh orang mematuhinya lewat tatapan mata. Aku merasa sedikit lemas, mungkin karena pain killer yang kuminum dan obat anti tetanus yang disuntikkan ke tanganku, sekitar 2 jam lalu. Rudi mengkhawatirkan lengan bawah kiriku yang dibebat perban, persis dari bawah siku hingga tiga senti dari pergelangan tangan. Kujelaskan kalau dokter melapisi lukaku dengan hidrokoloid yang harus diganti tiap 3 hari, jadi harus ditutup.

Bagian 4


Ternyata perjalanan sekitar 6 jam dari Bangkok menuju Three Pagodas Pass menyenangkan. Sepanjang jalan mataku menikmati rangkaian perbukitan yang hijau-teduh-rimbun. Jalan yang dilewati mulus, tidak kalah dengan jalan-jalan raya lintas negara bagian di Amerika. Masing-masing jalur untuk satu arah dan tiap jalur terdiri atas 2 lajur. Sangat nyaman untuk perjalanan jarak jauh.

Kendaraan yang berpapasan di sepanjang perjalanan sebagian besar keluaran terbaru. Four-wheel drive berbagai merk aneka warna. Setiap kendaraan itu kupandangi penuh kekaguman. Aku jadi ingin tahu siapa pemilik kendaraan-kendaraan itu. Menurut yang kubaca, penduduk di wilayah itu sebagian besar petani.

Four-wheelers itu milik para petani,” jelas si supir, seperti mengerti isi pikiranku. Ia melihatku melalui kaca spion. Nama lengkapnya Saw Ku Moe, namun lebih senang dipanggil Mo, katanya agar mudah diingat. Ia lahir di Burma. Bersama keluarganya Mo pernah menjadi pengungsi di salah satu kamp pengungisan di Mae Sai, di perbatasan Burma-Thailand bagian utara. Sebuah LSM Swedia pada akhir tahun 2003 berhasil membawa keluar 30 orang pengungsi dari kamp itu. Keluarga Mo ada di antara mereka. Sebagian besar mereka kini tinggal di berbagai negara di Eropa. Mo dan keluarganya memilih menjadi warga negara Thailand. Laki-laki murah senyum yang istrinya baru saja melahirkan anak kedua itu ingin bisa berbuat sesuatu untuk para pengungsi yang tidak seberuntung dirinya.


Apa yang menjadi motivasi kamu untuk menulis? Sekedar menuangkan keluar apa yang ada di kepala alias uneg-uneg yang sudah membuncah? Self-therapy? Ingin berbagi informasi dengan orang lain? Hobby? Hati terasa senang ketika menyadari ada kekuasaan disana untuk menentukan nasib para tokoh ciptaannya? Atau uang? Atau ketenaran?

Kalau kalian menebak gue hendak membahas tentang JKR lagi, tepaaat sekali!  Dalam video yang gue tonton itu, diceritakan soal proses yang berjalan setelah ia menyelesaikan naskah. Orang mungkin sulit untuk percaya jika prosesnya terlihat biasa-biasa saja bahkan nyaris membosankan. Setelah ia selesai menulis, naskah itu ia print dan bersama dengan editornya mereka membaca ulang bersama. Memastikan tidak ada yang terlewat. Ada proses menyusun, membaca ulang, menulis ulang, lalu dibaca ulang lagi, di edit dan seterusnya. Memang begitulah yang seharusnya dilakukan oleh setiap penulis. Kalau JKR punya editor, kita juga bisa meminta tolong teman untuk membantu membaca, menemukan kalimat yang gak nyambung karena terlalu semangat menyisipkan kalimat tambahan tapi lupa menghapus yang sebelumnya. Yang penting periksa, baca, tulis ulang, baca lagi, edit dan proses itu berjalan terus. Membosankan ya? Tapi itulah proses yang memang harus terjadi.


Gue masih melanjutkan nonton video wawancara JK Rowling yang diberikan oleh sesama bungloner ke gue. Ceritanya tentang JK Rowling yang baru saja menyelesaikan naskah Harry Potter buku terakhir. Setelah perjalanan panjang selama 17 tahun! Wow!

Anyway, JKR bilang bisa aja naskah yang telah selesai ini hanya sampah. Banyak orang yang akan gak suka sama cerita ini. Bisa jadi mereka gak suka sama akhir dari ceritanya yang berbeda dari harapan mereka sebagai para die-hard fans Harry Potter.


Tgl 31 July di media sosial twitter sempat trending ucapan Selamat Ulang Tahun Harry Potter dan JK Rowling - penciptanya. Ternyata JKR dan Harry Potter tokoh fiksi rekaannya berulang tahun di hari yang sama.

Ngobrolin soal Harry Potter dan JK Rowling, temen gue yang juga sesama bungloner Kampung Fiksi mengirimkan bagian pertama dari interview dengan si penulis Harry Potter.

Dari video bagian pertama yang dikirimkan ke gue itu diceritakan betapa meninggalnya sang ibu sangat mempengaruhi JKR. Dan kesedihan yang sama itu juga (ceritanya) di rasakan si tokoh Harry Potter. Lalu diceritakan pernikahan JKR yang berumur 2 tahun dengan seorang puteri itu berakhir dengan perpisahan. Dan hal itu membuatnya sempat depresi dan ia menyadari betapa kacau kehidupannya. Dan depresi itu membuatnya mati rasa dan sepertinya ia tidak mungkin merasa kegembiraan lagi. Dan perasaan depresi ini yang menginspirasinya untuk menciptakan tokoh dementor. Mereka diceritakan memangsa kesedihan, ketakutan yang ada di dalam hati manusia sehingga begitu perasaan itu diserap oleh dementor, maka manusia itu akan merasa depresi; dengan perasaan yang sama seperti dirasakan oleh JKR.

Bagian 3

Terburu-buru aku keluar kamar hotel. Tim sudah berada di restoran untuk sarapan. Pagi ini aku kemrungsung sekali, mungkin terlalu banyak pikiran, sampai-sampai lupa memakai bra. Untung sewaktu menyusuri koridor hendak menuju lift aku merasa ada yang aneh di dadaku, rasanya semriwing, enteng dan lega; lalu aku berlari kembali ke kamar, tergesa-gesa memakai bra biru tinta itu, warna favoritku, selaras dengan rona kulitku.

“Kamu baik-baik saja, kan?” Tim manatap rambutku yang belum kering benar dan berbagai perlengkapan yang memenuhi kedua tanganku.

“Aku terlalu lama mendengarkan berita…” Sambil duduk kulolos ranselku dari punggung. Satu-satu perlengkapanku kumasukkan ke dalamnya.

“Jangan khawatir. Akhir-akhir ini situasi cukup terkendali. Suasana di sana tidak seseram yang ditulis media,” Tim meyakinkanku. Aku mendengus geli, sejak bangun tidur berkali-kali kuyakinkan diriku agar tidak perlu mengkhawatirkan situasi di lokasi yang akan kami kunjungi.

Bagian 2

Rasa was-was tak mau pergi dari hatiku. Kurang dari satu jam lagi kami akan berangkat menuju Three Pagodas Pass. Menurut media, beberapa minggu terakhir konflik terbuka lebih sering muncul di kawasan perbatasan Burma-Thailand bagian barat itu. Berita di TV tadi malam menyebutkan kalau checkpoint – pos penjagaan – di sana ditutup sejak seminggu lalu, pasca konflik terbuka. Tujuh pengungsi Burma tewas ditembaki sekelompok lelaki berseragam militer.

Sejak bangun tidur – yang tidak nyenyak – berbagai bayangan buruk melintas di benakku: jalan rusak dan berdebu sebagaimana jalan-jalan di pedalaman Indonesia, munculnya sekelompok perampok menghadang kendaraan di jalan, kecelakaan yang direkayasa, pelemparan batu dari arah belukar di tepi jalan, kelompok gerilyawan bersenjata yang mencegat untuk minta uang, dan berbagai hal buruk lain yang sulit diperkirakan.

Meskipun khawatir, bayangan seram itu tidak kuberi kesempatan menyurutkan langkahku. Aku tahu media gemar melebih-lebihkan situasi. Itu bagian dari promosi. Semakin berbeda dan terdengar berbahaya berita dan liputan mereka, semakin orang ingin mendengar, melihat, dan membacanya.

Ada tiga cerpen saya di antologi Kampung Fiksi yang terbaru: Kotak Pandora. Ketiga cerpen ini sudah pernah dimuat di blog beberapa waktu yang lalu. Jadi memang bukan cerpen-cerpen baru bagi mereka yang rajin berkunjung ke Kampung Fiksi dan memang suka membaca tulisan saya. Tetapi :) tentu saja cerpen-cerpen ini ketika akan diterbitkan sebagai buku mengalami revisi, penulisan ulang, sehingga memang ada perbedaannya dengan yang ada di blog.

Berikut ini, cuplikan-cuplikan ketiga cerpen:

Cerpen Headline! (Hal. 197-204) 


Apa yang memotivasi seseorang untuk melakukan sebuah tindakan, seringkali tidak dapat ditebak oleh mereka yang hanya melihat dari sisi luarnya saja. Bahkan mereka yang paling sukses sekalipun memiliki penderitaannya sendiri. Ada orang yang membangun tembok disekitar dirinya sehingga orang lain tidak dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok tersebut.

"Di koran pagi itu, fotonya masuk menemani kepala berita, Young Entrepreneur Of The Year, begitu koran pagi menyebutnya. Di dalam gambar ia nampak menerima sebuah plakat, hanya dengan senyum sedikit saja. Seakan berkata, “Yup, saya memang pantas dapat bintang.” Dan benar saja, konon kabarnya, begitu tiba di kantornya, plakat itu dimasukkannya ke tempat sampah! Dia bilang, dia tak perlu penghargaan-penghargaan yang hanya untuk gengsi-gengsian, yang dia perlukan adalah kerja-kerja-kerja dan lebih banyak lagi kerja guna membuktikan karya nyata dan menerima hasil yang setimpal!"

Cerpen Meda dan Waktu  (Hal. 205-219)


Waktu dapat terasa tidak mencukupi, terutama bagi mereka yang ingin melakukan segala sesuatu sekaligus. Hal ini pastinya juga dirasakan oleh kebanyakan orang. Waktu berlari begitu cepat dan kita selalu tertatih-tatih mengejarnya. Haruskah selalu seperti itu?

"Bukankah seorang mama juga manusia, yang memerlukan me-time? Aku perlu waktu untuk bernafas lega tanpa dihimpit oleh kegiatan-kegiatan untuk orang lain. Aku perlu waktu untuk membaca buku-buku yang bisa saja menjadi favoritku, tetapi aku belum tahu karena hingga kini mereka teronggok saja pada meja di samping ranjang, masih rapi terbungkus plastik tipis, belum terusik. Persis seperti saat aku membelinya. Aku juga perlu waktu untuk mandi berendam dalam busa-busa bubble bath kesukaanku, sambil mendengarkan musik instrumental yang melarutkan dan mencairkan kepenatan setelah aktifitas berlimpah-limpah sepanjang hari. Dan waktu shopping! Shopping yang benar-benar shopping, bukan ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari."

Cerpen Kalau Saja Cicak Bisa Bicara (Hal. 221-238)


Cerpen ini memiliki sejarah tersendiri. Saya mencurinya dari kehidupan orang-orang terdekat dalam kehidupan saya. Tentu saja tidak persis sama kejadiannya, tetapi kurang-lebih, apa yang diceritakan di sini menggambarkan situasi yang pernah terjadi. Perempuan dan laki-laki memang memandang sebuah masalah dari sudut pandang yang berbeda dan melalui level emosi yang juga berbeda. Bagaimana cara sebuah pasangan menyelesaikan perbedaan yang terjadi menentukan kualitas hubungan mereka.

"Demikianlah diskusi tentang calon anak mereka terjadi. Ben tertidur lelap, sementara Nirina terus berpikir dan berpikir dan berpikir. Semakin ia berpikir, semakin jelas baginya, Ben tidak mengerti apa yang dimintanya dari dirinya... Profil damai dan pulas yang waktu itu membuatnya kembali jatuh cinta, kini menimbulkan kejengkelan yang luar biasa! Ingin rasanya menyepak laki-laki egois itu hingga jatuh terguling dari tempat tidur mereka."

Bagi yang tertarik untuk membaca dan mengoleksi cerpen-cerpen Kampung Fiksi dalam bentuk buku, dapat membeli Kotak Pandora, dan silahkan membukanya untuk menikmati seluruh isinya. Tertarik? Ayo diborong, untuk kakak, adik, pacar, calon pacar, suami, isteri, ayah, ibu, ayah mertua, ibu mertua, rekan-rekan kerja dan siapa saja :))

Salam,
Miss G
follow my twit @gratciaschannel