Halooo! Halooo! Tidak terasa bulan April berakhir hari ini. Sesuai janji para bungloners di Kampung Fiksi ini, hari ini kami akan bagi-bagikan hadiah bagi para pecinta Kampung Fiksi yang sudah bersusah-payah dan rela meluangkan waktunya untuk meramaikan acara bulan April di Kampung Fiksi.

Wah, bahagia sekali membaca review dan komentar/tanggapan atas cerpen-cerpen yang dimuat di Kampung Fiksi. Menunjukkan betapa besar apresiasi teman-teman semuanya pada Kampung Fiksi. Untuk ke depannya, kami berharap Kampung Fiksi dapat lebih banyak lagi berkontribusi demi kemajuan dunia fiksi terutama melalui goresan kata para penulis pemula yang bersemangat untuk belajar menjadi lebih baik lagi. Tunggu gebrakan selanjutnya dari kami, ya! Mohon do’anya… :D
Jangan berpanjang-panjang lagi, deh!

Berikut ini para pemenang 1 buah novel Blackbook dari hasil review-nya atas cerpen-cerpen di Kampung Fiksi:

1. Meysha Lestari: Mengintip Bunglon di Kampung Fiksi
2. Princess E Diary: (Review) Perempuan Pengikat Pagi
3. Uleng Tepu: Dua Lelaki Tentang Perempuan (Sebuah Review)
4. Ma'mar: Warung Kopi Ci Ling (Mungkin Review)
5. Jingga: Anak (Berharap Ini Termasuk Sebuah Review)
6. Meddy Danial: Review di Hari Kartini: Lelaki Pagi dan Sarapan Pagi

Dan 3 orang komentator terbanyak yang beruntung mendapatkan masing-masing sebuah novel Blackbook adalah:
1. Sabil = 23 komentar
2. Drina = 24 komentar
3. Irene = 5 komentar

Daaaaan…yang beruntung mendapatkan satu buah novel Blackbook plus pulsa sebesar Rp 100.000,- adalaaaah:

Dina Sulistyaningtias: (Review) Tepat Ketika Bibirnya Mengecup Hangat Tepi Keningku

Mohon kirimkan alamat kalian ke kampungfiksi@gmail.com, khusus untuk Dina Sulistyaningtias, juga berserta no HP-nya.

Terima kasih atas partisipasinya dan sampai jumpa di event-event selanjutnya ya! Jangan lupa promosikan blog ini supaya kita semakin ramai bersenang-senang dalam tarian kata.

Nantikan kehadiran 24 dari Kampung Fiksi dalam waktu dekat! Apa itu 24? Tunggu kabar selanjutnya, ya!




Fiction Lovers, mau dapat hadiah Blackbook-nya Winda Krisnadefa dari Kampung Fiksi? Yuk ikutan meramaikan bulan April di Kampung Fiksi dengan berpartisipasi dalam: Menuliskan review cerpen-cerpen di Kampung Fiksi atau berkomentar sebanyak-banyaknya di cerpen-cerpen pilihanmu pada blog Kampung Fiksi. Perayaan ini dilaksanakan sejak 1 s/d 30 April 2011.

Para pemenang  diumumkan pada tgl 30 April 2011, yaitu 10 orang komentator/pereview cerpen di blog Kampung Fiksi pilihan para admin Kampung Fiksi, akan mendapatkan @1 buku Blackbook Winda Krisnadefa, 1 orang komentator atau reviewer dengan komentar/review terbaik akan mendapatkan 1 Novel Blackbook + voucher isi ulang sebesar Rp. 100.000 .

Penulis yang review/komentarnya terpilih diminta memberikan no ponsel (melalui email) ke kampungfiksi@gmail.com untuk diisi voucher, dan hadiah tidak dapat diganti dengan uang tunai. Acara ini berakhir pada 30 April 2011.

Gimana? Gampang kan? Karena itu, yuuuk buruan ikutan :)

Yang sudah mereview sepanjang bulan April: (akan di-update bila bertambah)

Meysha Lestari: Mengintip Bunglon di Kampung Fiksi
Princess E Diary: (Review) Perempuan Pengikat Pagi 
Dina Sulistyaningtias: (Review) Tepat Ketika Bibirnya Mengecup Hangat Tepi Keningku
Uleng Tepu: Dua Lelaki Tentang Perempuan (Sebuah Review)
Ma'mar: Warung Kopi Ci Ling (Mungkin Review)
Jingga: Anak (Berharap Ini Termasuk Sebuah Review)
Meddy Danial: Review di Hari Kartini: Lelaki Pagi dan Sarapan Pagi Kami Tadi Pagi

Yang sudah berkomentar sepanjang bulan April: (akan di-update bila bertambah)


Sabil (23)
Drina (24)


Dina Sulistyaningtias (1)
Jingga (3)
Is Ko (2)
Reni (1)
Naim Ali (3)
Daeng Anto (4)
Dede Supriatna (2)
Newsoul (2)
Sang Cerpenis Bercerita (1)
Nuraziz Widianto (1)
Irene (5)
Shelly Yanti (2)

Cerpen-cerpen yang dapat dibaca di Kampung Fiksi:


  1. Pulang
  2. Aku dan Bayu
  3. Anak
  4. Falling In Love Again
  5. Tepat Ketika Bibirnya Mengecup Hangat Tepi Keningku
  6. Serial Empat Perempuan 1
  7. Kepada Lelaki Yang Mencintai Biru
  8. Mampukah Dia Membuatku Tersenyum?
  9. Ijinkan Aku Menjadi Kekasihmu di Surga
  10. Tak Terpisahkan
  11. Seandainya Kamu Tahu
  12. Perempuan Penjual Wadai (1)
  13. Serial Empat Perempuan (2)
  14. Putera Para Monster
  15. Perempuan Penjual Wadai (2)
  16. Tanpa Tujuan
  17. Quin
  18. Winny
  19. Lelaki Pagi dan Sarapan Pagi Kami Tadi Pagi
  20. Prosa Rumput dan Ilalang
  21. Sulis, Polisi Cantik
  22. Bi Enung
  23. Via si Dokter Muda
  24. Perempuan Pengikat Pagi
  25. When Doubt Mee Faith
  26. Uang
  27. Percayalah, Empat Bilik Jantung Ini Milikmu
  28. Penulis, Itu Pekerjaanku
  29. Rahasia
  30. Serial Empat Perempuan (3)
  31. Surat Cinta Samudera Kepada Langit
  32. Maryam
  33. Aku dan Hujan
  34. Warung Kopi Ci Ling
  35. Serial Empat Perempuan (4)
  36. Mimpi Tania
  37. Serial Empat Perempuan (5)
Ilustrasi: Azam Raharjo

Episode 6: Dea Jatuh Cinta


Tubuh yang masih belum sepenuhnya terbentuk sempurna itu tengkurap di atas tempat tidur Runi. Kaki-kakinya yang kurus ditekuk ke atas di bagian lutut, bergerak-gerak seirama betotan gitar Joe Satriani yang ia nikmati lewat earphone yang tersambung ke iPod merah.

“Rambut Mama udah kepanjangan. Dipendekin, Ma. Biar tampak lebih muda,” Dea mengamati mamanya yang sedang mengeringkan rambut. “Biar kayak itu, lho….”

Mulut Dea berhenti bicara karena tatapan tajam mamanya yang tersorot lewat cermin. Runi punya kemampuan membungkam orang dengan sorot matanya. Keahlian yang tidak dimiliki oleh dua adiknya itu ia warisi dari ayahnya. Suatu keahlian yang sangat berguna bila ia sedang bepergian sendiri ke tempat-tempat asing.

Ilustrasi: Azam Raharjo
Episode 5: Seruni Pulang (2)

“Banyak bercak hitam. Ke lapangan tiap hari, ya? Nggak pakai tabir surya?” Eyang memeluk Seruni sambil mengamati wajah anak sulungnya. Sejak tumbuh dewasa, anaknya yang satu ini sangat malas merawat wajah cantiknya. Banyak bercak hitam akibat sengatan sinar matahari ia biarkan saja. Berbeda dengan dua adiknya yang sejak remaja rutin ke salon untuk merawat muka.
“Yang penting saya sehat, Bu.” Runi mendengus, merasa sang ibu lebih menghargai wajah mulus daripada jiwa dan raga yang sehat. “Ibu baik-baik saja, kan? Tensi? Lutut?”
“Alhamdulillah. Tensi normal. Lutut nggak nyeri-nyeri lagi. Dua kali seminggu Priyo ngantar Ibu ke kolam renang.” Ibu dan anak beriringan masuk ke ruang keluarga. “Iroh masak pesenanmu. Lodeh dan tahu-tempe goreng.”

Ilustrasi : Azam Raharjo
Episode 4: Seruni Pulang

Pesawat mendarat dengan nyaman meskipun hujan. Bersama penumpang lainnya, hati-hati Seruni keluar dari kabin dan turun menapaki tangga. Di landasan, di ujung tangga, tiga petugas bandara membawa puluhan payung untuk dipinjamkan pada para penumpang. Angin kencang menerpa tubuh Seruni, payung ia pegang erat-erat agar tidak terhempas. Sayup-sayup ia dengar dering ponsel yang ia selipkan di saku tas. Ia tidak menerima panggilan itu karena tangan kirinya menenteng tas dan tangan kanannya menggenggam gagang payung. Kalau bukan Dea, pasti Ibu, pikirnya. Baru setelah sampai di bawah kanopi ruang kedatangan, dan payung ia serahkan petugas, Seruni merogoh ponselnya. Dea. Sambil mengibas-ngibaskan air yang membasahi tas kerjanya, Seruni menelpon balik.

“Halo, Cinta!” Tinggi suara Seruni mengatasi bising mesin pesawat.