Oleh: Safinah Hakim


Selimut adalah kain pemberi nyaman, penghangat saat tidur. Semua orang ingin nyaman, oleh karena itu semua orang butuh selimut. Selimutku berwarna putih kusam bergaris  abu-abu. Meskipun kusam, setiap hari selimut ini membuatku nyaman. Selimut ini membantuku melupakan masalah. Setidaknya saat tidur.

Tapi malam ini sunguh berbeda. Selimut ini tak bisa memberiku kenyamanan. Kumatikan lampuku berharap lebih menenangkanku, tapi nyatanya semakin mencekam. Selimut ini tak mampu mententramkanku dan menenangkanku. Aku memikirkan mereka. Mereka adalah Arka, Rahmat, Sekar dan 18 anak lainnya. Mereka sahabatku, penyemangatku, dan adik-adikku yang kini tinggal, berbagi semangat, senyum dan tangis rumah singgah ini. Rumah singgah "Sahabat". Begitu Ibuku memberi nama rumah singgah ini.

Entah mengapa Ibuku memberi nama rumah singgah ini dengan nama "Sahabat". Mungkin Ibuku menganggap anak-anak yang ada di sini adalah sahabatnya, atau mungkin juga Ibu berharap semua yang ada di rumah singgah ini bisa bersahabat. Aku juga bertanya mengapa Ibu lebih memilih memberi nama rumah ini sebagai rumah singgah, bukan panti asuhan. Padahal, faktanya hampir semua anak di sini adalah anak yatim piatu. Lalu, ibu dengan tegas berkata bahwa rumah ini adalah rumah persinggahan mereka sebelum menuju kesuksesan, bukan panti asuhan yang kadang hanya menimbulkan kesan mengiba ke orang lain.

Lima tahun lalu, tiba-tiba Ibu dan Bapak pulang membawa seorang anak. Mereka bilang, mereka bertemu anak itu di pinggir rel jalan. Anak itu lusuh, dan tak tahu harus pergi ke mana. Ibu dan Bapak sudah membuat laporan ke kantor Polisi terdekat, tapi nihil. Tak ada keluarga yang merasa kehilangan anak laki-laki berusia 5 tahun itu. Anak itu bernama Arka. Kedatangan Arka, diikuti kedatangan anak-anak yang lain. Ada juga yang dititipkan oleh orangtuanya langsung, dengan alasan tak mampu menahan biaya hidup sang anak.

Dari mana Ibu dan Bapak mendapatkan uang untuk memberi makan dan menyekolahkan mereka? padahal Ibu dan Bapak cuma PNS golongan pas-pasan. Sekali-sekali Ibu menjahit baju untuk orang lain. Tapi Ibu bilang, Tuhan selalu memberikan selimut kedamaian serta selimut rejeki kepada anak-anak sehingga rumah singgah ini bisa bertahan hingga saat ini. .

Lalu keadaan berubah cepat. Tepat tiga bulan yang lalu, Ibu dan Bapak meninggal dalam kecelakaan motor. Lalu, tinggal aku di sini bersama anak-anak rumah singgah. Aku tak larut dalam kesedihan memikirkan kepergian Ibu dan Bapak, tapi yang aku pikirkan setiap hari adalah bagaimana cara memberi makan anak-anak di rumah singgah yang berjumlah 21 anak ini. Aku, freshgraduate, baru saja mendapatkan kerja di perusahaan telekomunikasi yang cukup ternama. Tapi, apa yang bisa gaji freshgraduate ini bisa memberi makan 21 anak. Oh ya, plus biaya sekolah mereka.


Aku menarik selimut putih kusam bergaris abu-abuku ini menutupi ujung kepala. Kuingat, Pagi ini aku ke ATM untuk mengecek berapa rekening tersisaku. Bergetar rasanya, saat mengetahui rekeningku hanya Rp. 325.000. Ya Rabb, aku harus bagaimana. Kurasakan ujung mataku tergenang air. Rasanya aku terlalu letih menangis, lalu aku tertidur.

####

" Bindu, kenapa? " kata Mahesa membuyarkan lamunku. Mahesa, teman dekatku. Aku sudah mengenal Mahesa sejak tingkat satu di bangku kuliah. Kita mengikuti kerja praktik lapang mahasiswa bersama, wisuda bersama, melamar pekerjaan bersama, dan diterima di satu perusahaan yang sama. "Sakit?".

"Eh, enggak. Mungkin karena lapar. Makan yuk,"ajakku. Lalu tanpa banyak bicara kita menuju warung makan di samping kantor.

" Senyum dong. Banyak yang bilang, yang pelit senyum akan cepat tua loh," goda Mahesa

"Ah, kamu ada-ada saja. Toh, pada akhirnya, semua juga akan tua," Aku menarik ujung bibirku. Tersenyum.

"Eh, bagimana kabar Arka? Sudah lama aku tak main ke rumahmu dan bercanda dengan mereka," tanya Mahesa sembari makan mi ayam yang baru kita pesan. 

Ah, kenapa Mahesa mengingatkanku pada Arka di momen makan siang yang aku harapkan jadi waktu pelarianku melepaskan pikiran tentang mereka. Aku terdiam. Ujung mataku basah, airmataku meleleh.

"Bindu, Kamu kenapa?"

"Aku bingung,"Aku terisak. 

"Kenapa?, urusan kantor? Bos kamu berulah lagi? "

Aku terdiam. Aku malu bercerita. Aku ingat Ibu bilang Aku tak boleh meminta belas kasihan dari orang lain. Tapi sungguh Bu, kali ini Aku bukan meminta belas kasihan. Aku hanya ingin bercerita kepada orang lain, meringankan bebanku. Bukan meminta belas kasihan. "Bukan. Ini tentang Arka juga teman-temannya."

Mahesa terdiam, tak berkomentar. Matanya menatap mataku seakan bermakna permintaan untukku melanjutkan cerita.

"Mahes, Aku bingung. Aku bingung bagaimana cara membiayai hidup dan pendidikan anak-anak di rumah singgah sahabat "

"Bukannya ada donatur tetap di rumah singgah itu?"

"Ibu dan Bapak tak pernah menerima sumbangan dari donatur tetap. Mereka gerah. Seringkali orang yang mengaku sebagai donatur itu menyalahgunakan status itu untuk meminta belas kasian ke orang lain, tapi seringkali hanya sebagian saja yang masuk ke Rumah Singgah kita".

"Lalu apa rencanamu?"

"Belum tahu. Aku mungkin mau mencari part-time job. Aku sungguh tak akan mampu membiarkan mereka kelaparan"

"Bindu, ini sulit. Belum tentu semua orang akan berbuat yang negatif terhadap rumah singgahmu itu. Itu hanya oknum. Masih banyak orang yang di luar sana rindu untuk berbuat baik, dan mereka menunggu kesempatan untuk itu. Salah satunya mungkin lewat Rumah Singgahmu itu. "

"Ya, mungkin. Tapi aku belum bisa"

Tak ada tanggapan dari Mahesa. Akupun terdiam. Aku berfikir, mungkin Mahesa benar.

###
Hari sudah malam. Aku menarik selimut putih kusam bergaris abu-abu kesayanganku. Malam ini selimut ini benar-benar membuatku tenang. Sejak Ibu dan Bapak meninggal, belum pernah aku setenang hari ini.

Malam ini, tepat 1 Ramadhan. Setelah shalat tharawih berjamaah, Arka dan teman-temannya menuju ke tempat tidur masing-masing. Semua anak-anak bersemangat untuk tidur dan bangun untuk sahur esok hari. Mereka terseyum lepas, dan ini yang membuatku terus semangat untuk mendukung mereka mencari masa depan lebih baik setelah mereka merasa cukup waktunya tinggal di rumah singgah ini.

Untuk esok hingga hari ke-30 Ramadhan, ada donatur yang bersedia memberi santunan makanan untuk berbuka dan sahur mereka. Setelah makan siang dengan Mahesa kala itu, Mahesa membantuku dengan menginformasikan perihal rumah singgahku ke teman-teman kantor. Satu-persatu mengajukan diri untuk membantu anak-anak di rumah singgah ini. Pada bulan Ramadhan, sedakah yang diberikan akan berganjar pahala berkali-kali lipat, begitu katanya.

Mahesa benar, ada kalanya kita harus memberi kesempatan teman-teman yang lain untuk berbuat baik, untuk meminjamkan selimutnya kepada yang merasa kedinginan.

Selimut yang menenangkan tidurku bukan hanya selimut putih kusam bergaris abu-abu ini, tapi juga selimut lain yang bernama Ramadhan. Selimut Ramadhan ini, menyelimut Arka dan teman-temannya, Aku, dan mereka yang berbaik hati berbagi selimutnya di Ramadhan ini.

Bagaimana nasib anak-anak nanti setelah Ramadhan? Ah, tidak usah dicemaskan. Tuhan masih punya banyak persediaan selimut untuk mentrentamkan hati umatnya. SEperti Ibu pernah bilang, Tuhan selalu memberikan selimut kedamaian serta selimut rejeki kepada anak-anak sehingga rumah singgah ini bisa bertahan hingga saat ini. Dan lagi, Aku sekarang punya teman yang akan membantuku, Mahesa. Oh ya, Mahesa melamarku kemarin.

***

Pengarang cerpen terpilih #CeritaRamadan Minggu ke-2 ini berhak mendapatkan satu buah USB modem Wifi DF78AH dari Smartfren.


Oleh: Dian Mariani



“Bu, nanti malam saya boleh taraweh?” tanya Ipah, salah satu pengasuh anakku.
            Jam piro, Pah?”
            “Jam tujuh, Bu.”
            Aku mengutak-atik smartphoneku. Mengintip jadwal padatku seharian ini. Hmmm, ada meeting finalisasi policy jam tiga nanti. Tidak mungkin aku tidak hadir, secara sangat terkait dengan pekerjaanku. Sepertinya akan sulit pulang tepat waktu. Di jadwal memang hanya dua jam, tapi pelaksanaannya bisa molor sampai empat jam.
            “Saya ada meeting sore, Pah. Tapi nanti saya lihat, ya. Kalau udah kelar meetingnya, saya langsung pulang, deh. Semoga kamu keburu taraweh.”
            Ipah mengucapkan terima kasih, lalu pamit keluar dari kamarku.
            Aku menghela napas. Di bulan Ramadan ini, memang ada beberapa kebiasaan di rumah yang berubah. Misalnya, jam tiga pagi, sudah terdengar bunyi kelontang-kelonteng dari arah dapur. Mbak-Mbak di rumah sedang menyiapkan makanan untuk sahur. Lalu yang kedua, sebelum puasa, Mbak-Mbak di rumahku ini biasa lanjut kerja setelah anak-anak tidur bersamaku dan ayahnya. Tapi di bulan puasa ini, setelah anak-anak tidur, mereka pun beristirahat. Baju kotor pun menumpuk, begitu juga dengan baju kering yang belum disetrika.
Biasanya, ketika aku bangun jam lima pagi, aku selalu melihat Bu Yun, yang bertugas bersih-bersih rumah dan memasak, sedang menyapu lantai 1. Sementara Tikna mencuci baju anak-anak, dan Ipah menyetrika atau membereskan mainan anak-anak. Memasuki bulan puasa, aku hampir selalu menemukan rumah dalam keadaan gelap ketika bangun pagi. Lampu depan belum dimatikan, sementara lampu dalam belum menyala, dan kaca-kaca jendela masih tertutup. Wah, ternyata Bu Yun, Tikna dan Ipah, tidur lagi setelah sahur. Dan baru terbangun sekitar jam lima tiga puluh.
Tak hanya itu. Selama puasa, mereka bertiga ganti-gantian sakit dan masuk angin. Belum lagi sesekali tertidur ketika bekerja, dan terlihat lemas sepanjang hari. Plus permintaan taraweh yang menyebabkan aku harus berusaha pulang lebih awal setiap hari selama sebulan ini.
Aku berusaha memaklumi. Namanya juga bulan puasa. Umat muslim harus menahan haus dan lapar seharian. Kebayang pasti susahnya minta ampun. Aku aja yang umat Kristiani dan hanya pantang setiap hari Jumat selama masa Prapaskah, merasakan susahnya menahan diri untuk melakukan hal-hal yang kita sukai namun bertekad untuk kita kurangi. Aku super salut dengan kawan-kawan muslim yang bisa menahan diri tidak makan, tidak minum, terlebih lagi menahan emosi untuk tidak marah dan merasa benci. Karenanya, aku mengerti kalau Mbak-Mbak di rumah agak berubah selama bulan puasa ini. Walaupun terus terang, aku agak terganggu dengan kinerja mereka yang menurun. Tapi selama semua masih bisa ditoleransi dan tidak keterlaluan, aku berusaha mengerti.
            Suatu sore, sebelum semuanya menjadi semakin riweh, aku memanggil Bu Yun, Tikna dan Ipah, lalu mengajak mereka bicara.
            “Bu Yun, Tikna dan Ipah, kalian kan punya tanggung jawab masing-masing. Bu Yun bersih-bersih rumah. Tikna dan Ipah jaga anak. Jadi terus terang, saya agak keberatan kalau sepanjang hari kalian kelihatan lemas dan jadi gampang sakit. Namanya jaga anak, harus selalu fit dan gerak cepat. Tau sendiri kan, Chris dan Laura lagi aktif-aktifnya, ga bisa diam,” kataku menyebut nama kedua anak batitaku, yang sedang senang-senangnya berjalan dan berlari.
            Aku mengamati ketiga orang di hadapanku. Ketiganya memperhatikan aku dengan raut muka datar yang tak tertebak.
            “Saya mengerti kalau kalian lagi puasa, pasti stamina menurun. Tapi saya minta tolong aja, kalau ga kuat atau sakit, jangan dipaksa puasa,” aku mewanti-wanti. “Daripada sakit berkepanjangan, nanti anak-anak ketularan, kasihan mereka.”
            Aku mengeluarkan botol kecil dari tasku.
            “Tadi saya beli vitamin, kalian makan ya. Selama bulan puasa ini, buat bantu jaga kesehatan.”
            Mereka mengangguk.
            “Kalau masalah taraweh, saya usahakan ga pulang malam sebulan ini, jadi keburu kalau kalian mau taraweh. Tapi kalau bisa, jangan barengan tarawehnya ya, gantian, jadi ada satu yang bantu saya ngeliatin anak-anak.”
            Tikna mengangguk, diikuti dengan Bu Yun. Ipah masih diam terpekur.
            “Pah? Kamu gimana, ga papa, kan?”
            “Gapapa, Bu,” jawab Ipah.
            Fiuh, aku menghela napas lega. Semoga dari saat ini sampai setelah Lebaran, keadaan kembali seperti semula.
* * *
            Aku menerima kertas menu yang diberikan pelayan. Menoleh ke Ipah yang sedang menggendong si bungsu.
            “Pah, saya mau makan dulu. Kamu mau tunggu di luar aja? Biar Laura sama saya,” kataku sambil mengulurkan tangan untuk menggendong anak bungsuku.
            “Ga usah toh, Bu.”
            “Saya bisa gantian makan sama Bapak, kok. Daripada kamu melihat saya makan.”
            Ipah menggeleng. “Gapapa, Bu. Ibu makan aja.”
            “Duh, saya ga tega makan di depan kamu, Pah. Kamu kan lagi puasa.”
            Ipah menggeleng. “Saya puasa dari SD, Bu, walau masih setengah hari. Sejak umur sembilan tahun, saya udah puasa penuh.”
            “Kamu mau nunggu di luar aja, Pah?” Aku menunjuk kursi rotan yang terletak di depan tempat makan itu.
            “Ga usah, Bu. Nanti Laura ga ada yang jaga, malah Ibu repot.”
            Aku mendelik. Di saat puasa, seharian menahan lapar, Ipah masih memikirkan aku. Ia tak keberatan aku makan di hadapannya. Malah ia menolak ketika aku minta tunggu di luar.
            Malamnya, aku memanggil Ipah dan mengajaknya bicara.
            “Pah, makasih, ya,” kataku.
            “Makasih apanya, Bu?”
            “Makasih kamu masih mau bantuin saya jaga anak-anak sebaik mungkin. Tau ga Pah, di kantor saya tuh, banyak banget Ibu-Ibu yang mengeluh. Sejak bulan puasa, Mbak di rumahnya pada berubah. Bukan cuma ngantuk dan lemas sepanjang siang, tapi juga kesal kalau ada orang yang makan di depannya.”
            “Hahaha, itu mah puasanya ga ridho, Bu. Orang puasa itu artinya menahan napsu makan, napsu marah, napsu ngomongin orang. Jadi kita yang harus menahan napsu, bukan orang lain yang nahan diri supaya ga bikin kita marah.”
            Aku mengangguk. “Yang begitu yang benar ya, Pah?”
            “Makanya aneh tuh berita-berita di TV, Bu. Moso orang puasa, terus orang lain ga boleh makan? Ga boleh jualan? Islam itu ga begitu, Bu. Agama Islam itu penuh toleransi sama agama lain,” Ipah menjelaskan.
            Aku tersenyum, percaya sepenuhnya kepadanya.
            “Hebat kamu, Pah. Salut saya. Udah puasa seharian, ga makan, ga minum, masih tetap semangat aja sampai malam begini.”
            “Makasih juga, Bu. Ibu ngijinin Ipah taraweh. Teman-teman Ipah ga ada yang sempat taraweh. Majikannya pulang malam terus. Ibu kan rela pulang cepat supaya Ipah dan Mbak Tikna keburu ke Mesjid.”
            Belum selesai aku mencerna kalimatnya, Ipah melanjutkan, “Apalagi Ibu sampai kasih vitamin ke Ipah. Selama Ipah kerja tahunan, belum ada majikan yang mikirin kesehatan Ipah sampai segitunya, Bu. Baru Ibu aja. Biasanya majikan mah yang penting beres, terserah mau makan apa, mau puasa atau enggak.” Ipah menjelaskan dengan penuh semangat.
            “Ibu ga usah kuatir. Habis Lebaran nanti, Ipah pasti balik jagain Laura lagi,” katanya ringan.
            Bagai disiram air dingin, asap di kepalaku langsung padam. Kalimat Ipah barusan, sudah mengusir rasa cemas dan kuatirku, mengingat susahnya mencari pengasuh yang cocok dengan anak-anakku. Sebagian toleransi, ditambah sedikit apresiasi, ternyata membuat bulan puasa ini jadi jauh lebih indah dan bermakna. Ramadan kali ini benar-benar damai.

***

Pengarang cerpen terpilih #CeritaRamadan Minggu ke-1 ini berhak mendapatkan satu buah USB modem Wifi DF78AH dari Smartfren.

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan ya sobat KF, semoga di bulan Ramadhan taun ini, kita semua bisa beribadah lebih baik lagi. 

Di awal juli kemarin, kami menyelenggarakan online event berupa lomba review novel Macaroon Love karya KF Winda Krisnadefa. Lomba ini masih berlangsung hingga 1 Agustus 2013. Nah memasuki bulan Ramadhan ini, biar kami dapat pahala lebih, kami juga akan membagi-bagikan hadiah lagi buat sobat KF semua.

Namun berhubung hadiah yang kami bagikan terbatas cuma ada tiga buah, maka kami harus membuat semacam lomba lagi buat sobat KF sekalian. Tapi tenang, lombanya menyenangkan kok yaitu membuat cerita pendek bertema Ramadhan Damai. Setiap minggu, akan terpilih satu buah cerpen yang bakal tayang di blog Kampung Fiksi ini. Cerpen yang terpilih berhak mendapatkan satu buah USB modem Wifi DF78AH dari Smartfren.





Berikut persyaratannya:
1. Tema cerita adalah “Ramadhan Damai.”
2. Panjang cerita antara 1000 hingga 1500 kata. Cerita yang dibuat merupakan cerita fiksi.

3. Cerita tidak mengandung unsur SARA atau pornografi dan tidak menyinggung pihak-pihak tertentu dan potensial menimbulkan pertentangan.
4. Cerita dikirimkan ke admin kampung fiksi melalui email:
kampungfiksi@gmail.com dengan subjek Cerpen ramadhan kampung fiksi.5. Periode lomba ini dimulai dari tanggal 10 juli hingga tanggal 30 juli 2013.
5. Setiap minggu, kami akan menayangkan satu buah cerpen. Cerpen yang tayang berhak mendapatkan hadiah yang sudah kami sebutkan.

6. Naskah tidak sedang diikut sertakan pada lomba di media lain.
7. Naskah harus ASLI bukan copy paste karya orang lain.
8. Naskah boleh saja yang pernah tayang di blog masing-masing, asal karya sendiri. ketika mengirimkan naskah yang sudah pernah tayang di blog masing-masing, harap mencantumkan url (link) blognya, supaya bisa kami backlink ke blog sobat KF.
9. Lomba ini tidak berlaku untuk admin KF.

10. harap peserta mencantumkan nama dan alamat surat menyurat di Indonesia di email yang dikirim. (siapa tau  menang) :)

So, what are you waiting for, Sobat KF? Kami tunggu ya cerita sobat KF sekalian. (HS)


Didukung oleh Smartfren



Media Partner: Warung Blogger



Hai, hai! Kampung Fiksi bikin lomba berhadiah gadget lagi, nih! Mau? Siap-siap, yah!

Udah pada baca dong novel Macaroon Love yang ditulis oleh salah satu pengurus Kampung Fiksi, Winda Krisnadefa? Belum? Wah, coba baca-baca dulu di sini. Novel ini diterbitkan oleh Qanita Mizan bulan Mei 2013 lalu. Naskahnya adalah hasil dari lomba penulisan novel Qanita Romance dan masuk ke dalam naskah unggulan. Selain itu, beberapa minggu yang lalu Macaroon Love juga jadi The Most Wanted Book dan menjadi editor's choice di majalah CHIC juga.


Nah, buat yang belum baca atau beli novelnya, buruan beli di toko buku terdekat, ya! Karena Kampung Fiksi didukung oleh Smartfren dan Mizan mengadakan lomba review novel Macaroon Love berhadiah gadget keren produk Smartfren dan buku-buku terbaru terbitan Mizan! Wuayyoo, siapa yang mau?
Lomba ini didukung oleh:

Smartfren dan Mizan




Media Partner:
Warung Blogger




Persyaratannya gampang, nggak pakai ribet, tapi yang jelas WAJIB diikuti. Kalau ada satu syarat yang kurang terpaksa langsung diskualifikasi.

Syarat:

1. Membuat review novel Macaroon Love di blog pribadi masing-masing. Panjangnya tidak lebih dari 500 kata. Bagi yang sudah terlanjur membuat review di blog-nya, bisa mengikutsertakan review tersebut dengan melengkapi syarat-syarat yang lain (yang ada di bawah ini).

2. Wajib memasang banner Smarfren di bawah ini dan mengarahkan banner tersebut ke http://www.smartfren.com/ina/home/ pada postingan review.



3. Wajib follow akun Twitter @KampungFiksi, @windakrisnadefa, @PenerbitMizan dan @smartfrenworld dan like page Kampung Fiksi, Smartfren dan Emak Gaoel.

4. Twit link postingan ini dengan format: "Lomba review #MacaroonLove @windakrisnadefa di @KampungFiksi hadiah dr @smartfrenworld dan @PenerbitMizan [link]"

5. Mengirim link postingan di blog kamu ke e-mail windafitriani48@gmail.com, Cc ke kampungfiksi@gmail.com dengan Subyek: Lomba Review Macaroon Love. Sertakan nama dan kota domisili juga, ya.

6. Lomba ini berlangsung sejak tanggal 1 Juli 2013 sampai 1 Agustus 2013. Karena kita sedang ada di bulan Ramadhan dalam waktu dekat, maka pengumuman pemenang akan diumumkan setelah Idul Fitri.

Syarat yang nggak kalah penting:

- Punya alamat pos di Indonesia! :D
- Masih perlu dijelaskan kalau copas/plagiat/menjiplak karya orang lain itu BIG NO


Penilaian:

1. Review yang lengkap mencakup semua elemen cerita. Mampu menunjukkan kelebihan dan kekurangan dari novel Macaroon Love.

2. Sudut pandang yang tidak biasa, gaya bahasa yang menarik dan kelengkapan foto yang unik.

3. Nilai tambah: aktif share link postingan di social media antara lain di page Kampung Fiksi, page Emak Gaoel, mention Twitter @KampungFiksi, @smartfrenworld, @PenerbitMizan dan @windakrisnadefa.

Hadiah:

Juara 1 akan mendapat HP Andromax U dari Smartfren



Juara 2 akan mendapat HP Andromax I dari Smartfren

Juara 3 akan mendapat USB Modem WiFi DF78AH dari Smartfren

2 Juara Favorit (dengan komentar terbanyak di blognya) akan mendapat masing-masing 2 novel terbaru dari Penerbit Mizan (pilihan judul masih dalam konfirmasi), 1 buah jam dinding Smartfren dan 1 buah tumbler Smartfren.

Nah, silakan dibaca dengan teliti persyaratannya. Kalau masih ada yang kurang jelas (dan tidak dijelaskan di atas) silakan bertanya di kolom komentar postingan ini. Selamat berlomba! ^_^