Friday, August 31, 2012

Tembak di Tempat 6

Bagian 6

Tim menggelar peta tanpa skala wilayah Sangkhlaburi dan Three Pagodas Pass.

“Ini lokasi kamp pengungsian Ban Luang. Kita akan ke sana lusa. Seorang teman di UNHCR sudah memastikan kita dapat clearance. Kontak kita, namanya Naing Naing, akan menunggu di pertigaan ini,” Tim menandai lokasi itu dengan tinta merah, “Dia jurnalis. Punya banyak kontak,” Tim menyebut nama sebuah majalah berita internasional, “orang di sini mengenalnya sebagai relawan Angel’s Hand.”

Pagi itu sehabis sarapan aku dan Rudi akan menuju kantor Angel’s Hand. Sambil mendengarkan penjelasan Tim, Rudi mengeluarkan rokok dari saku celana kargonya.

“Tolong ambil sebanyak mungkin foto kegiatan mereka, terutama anak-anak,” Tim menatap Rudi. “Proposal yang kita susun ini untuk pendidikan anak-anak. Mirip yang kita buat tahun lalu.” Mata Tim beralih menatapku. Aku ingat. Kami bisa mencarikan dana US$10 ribu untuk sebuah LSM lokal di Chiang Mai. Lumayan. Mereka bisa membangun perpustakaan kecil dengan uang itu.

“Untuk proposal ini, kamu tidak keberatan fotomu tidak dibayar, kan?”

“Pakai sebanyak yang diperlukan,” Rudi tersenyum.

“Ini TOR untuk wawancaramu,” Tim menyodorkan dua lembar kertas ukuran kuarto pada Tong Rang. “Punyamu sudah tadi, ya?” Tim kembali memandangku. Aku mengangguk. “Okay? Sepertinya Rudi sudah hampir mati kalau tidak segera menyedot kreteknya,” Tim melihat Rudi yang mengendus-endus sebatang rokok.

Di antara kami berempat, hanya Rudi yang merokok; dan aku satu-satunya yang tidak minum bir.

Masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum kami meninggalkan hotel. Mo akan mengantar aku dan Rudi. Tong Rang akan ke permukiman di seberang danau membonceng sepeda motor Yan Aung. Tim dijemput kontaknya yang akan membawanya bertemu bhiksu bernama Nai Tin Sap, biasa dipanggil Father Sap, salah satu tokoh yang disegani di kalangan orang Mon.

Sejak kamp pengungsi Ban Luang diakui UNHCR tahun 2004, Father Sap aktif menjadi mediator antara pengungsi, pengelola kamp, militer Burma, patroli perbatasan Thailand, Karen National Union, LSM yang membantu pengungsi, dan pihak-pihak lainnya. Ia sudah menolong ratusan pengungsi keluar dari kamp berjarak 30 menit dengan mobil dari Three Pagodas Pass itu.

Sebagian pengungsi memutuskan tinggal di Thailand, di Propinsi Kanchanaburi, mengantongi semacam KTP lokal agar bisa sekolah atau bekerja meskipun dengan gaji lebih rendah dari warga lokal; namun KTP ini tidak berlaku di luar wilayah propinsi. Sebagian lainnya, dengan bantuan berbagai pihak, mengikuti program pengungsi PBB, berhasil pindah ke negara-negara ketiga.

Proses rumit dan panjang memindahkan pengungsi ke negara ketiga ini selain tidak selalu berhasil juga melibatkan banyak lembaga: pemerintah setempat, pengurus pengungsi di dalam kamp, UNHCR, LSM (di negara tujuan dan negara lokasi kamp), dan pemerintah negara tujuan. Seseorang yang lari dari negaranya ke negara lain akibat perang atau konflik tidak otomatis diakui secara resmi sebagai pengungsi. Ia harus terdaftar dulu di negara tempatnya mengungsi (yang punya aturan sendiri dan belum tentu sama antara negara satu dengan lainnya), di lokasi yang juga telah diakui sebagai kamp pengungsi, baru UNHCR akan mendaftarnya sebagai pengungsi resmi.

Banyak pengungsi berusaha bermukim di negara ketiga secara sembunyi-sembunyi – aku enggan memakai istilah ilegal – tentu dengan bantuan pihak lain. Cara ini jelas penuh risiko. Bila seseorang tak punya hak hidup di tanah kelahirannya, tak punya harapan akan masa depan, bahkan nyawanya terancam setiap saat, apa ruginya menempuh bahaya demi secuil harapan meskipun harus tinggal di negeri orang? Bila dalam posisi seperti itu, mungkin aku akan menempuh risiko juga. Lebih baik bertaruh nyawa demi memerdekakan diri dari pada menyerah ditindas.

“Mia?” Tim menyentuh pundakku, “Lukamu masih sakit? Perlu mampir ke klinik hari ini?”

“Aku baik-baik saja.” Itu-itu saja jawabanku meskipun sepanjang lengan kiriku hingga ke bahu terasa kaku, senut-senut. Kupakai blus katun lengan panjang, menutupi bebatan di lenganku, agar tidak mengundang pertanyaan. Kuakui, lukaku ini membuatku jadi sensitif, mudah kesal. Aku tidak suka itu, menurutku perempuan yang mudah kesal jadi terlihat lemah.

“Itu Mo sudah menunggu. Rudi juga sudah siap. Aku harus segera berangkat. Sampai ketemu nanti sore. Take care.” Dari belakangku, ia meraih ranselnya, mengecup ubun-ubunku sekilas, lalu bergegas keluar restoran menuju halaman depan hotel. Aku berharap Rudi tidak memperhatikan, namun harapanku tidak terkabul.

“Ehm…” Ia pura-pura batuk.

“Jangan tanya. Aku tidak tahu itu tadi untuk apa…” sungutku.

“Pengalaman buruk yang dialami bersama bisa mendekatkan hati…” Rudi terkekeh sambil membuang puntung rokok.

** 

Kantor Angel’s Hand tidak jauh dari hotel. Kalau berjalan kaki cuma perlu sekitar 15 menit. Namun Mo tetap mengantar kami. Kadang-kadang ia bisa mempermudah urusan, terutama soal bahasa. Sosoknya kurus kecil, satu-dua sentimeter lebih pendek dari aku. Kulitnya kuning nyaris langsat, setingkat lebih terang dari kulitku. Garis bibirnya naik ke atas, membuat wajahnya tampak selalu tersenyum.

“Itu, Mo. Bangunan bercat putih biru itu. Sebelah kanan,” Rudi menunjuk kantor Angel’s Hand.

Dari pinggir jalan kuedarkan pandangan, mengamati kantor Angel’s Hand. Tadi malam, sebagai pengantar tidur, sudah kubaca sekilas profil LSM itu. Pada awal tahun 1991, enam aktivis perempuan dari India, Swedia dan Philipina datang ke Three Pagodas Pas, membuktikan kabar yang mereka dengar tentang anak-anak pengungsi Burma yang terlantar. Mereka menemukan ratusan pengungsi di dalam tenda-tenda dan gubuk-gubuk, di hutan sepanjang kawasan perbatasan; situasinya merobek hati. Para perempuan itu lalu menggalang dana dari teman-teman yang peduli; bukan dari lembaga donor besar.

Misi utama LSM ini melindungi pengungsi anak-anak dan perempuan tak bersuami yang punya bayi. Kegiatan mereka bermacam-macam, fokusnya pada pendidikan. Mereka juga membantu pengungsi pindah ke negara lain. Dalam laporan yang kubaca, pada akhir tahun 2009 ada 150 anak-anak dan perempuan yang dilindungi. LSM ini tidak melulu bergantung pada donor. Untuk bertahan hidup, para aktivisnya melakukan penggalangan dana secara mandiri, membuat dan menjual kue-kue vegetarian serta pakaian dan aneka kerajinan tangan dari kain tenun Burma.

Di bagian depan terdapat dua ruangan. Yang sebelah kanan, kira-kira 4 m x 5 m, untuk showroom pakaian, pernak-pernik hiasan, dan suvenir. Di ruang satunya, sedikit lebih kecil, berjajar dua etalase pendek berisi aneka kue dan pastry yang terlihat bersih dan lezat. Di atas etalase itu tertata rapi belasan stoples berisi camilan.

“Hello!” Sapa salah satu dari tiga anak perempuan usia 6-tahunan yang sedang bermain di halaman samping, diteduhi pohonan.

“Hai. Selamat pagi,” kubalas sapaan ramah si anak, rambutnya berponi dan berekor kuda. Bajunya kedodoran. Kakinya telanjang, sama seperti dua temannya. Rudi melambaikan tangan, ketiga gadis kecil itu lalu mengerumuninya.

“Madam Jessica ada?” aku bertanya pada anak bertubuh paling besar, yang memakai rok polka dot merah. Orang yang akan kutemui, Jessica Lindhom, adalah direktur Angel’s Hand.

“Madam Jessica? Kha…?” ia berlari menuju bangunan di belakang, melalui pintu bercat biru terang.

“Mister…” si ekor kuda menarik tangan Rudi, “Maa…” ia mengajak kami mengikuti si polka dot.

Dari pintu biru itu muncul seorang perempuan bertubuh tinggi besar berambut keriting pirang. Ia memakai celana panjang gombor dan atasan model kelelawar dari kain tenun putih transparan. Di dalamnya bisa kulihat samar-samar kaus hijau toska tanpa lengan. Baju itu tampak sangat nyaman untuk cuaca yang sedikit lembab. Mata birunya ramah menatap kami.

“Hai. Kamu pasti Mia,” ia buka kedua lengannya setinggi perut.

“Saya Jessica,” lanjutnya seraya menyalamiku. Dua tangannya kokoh. Kami bersalaman, berbasa-basi sebentar.

“Ini Rudi. Dia fotografer.” Dua orang yang sama tinggi itu lalu bersalaman.

“Silakan masuk….” Jessica membuka kedua daun pintu lebar-lebar. Kami dipersilakan duduk di sebuah ruang terbuka, semacam teras, menghadap ke ruang terbuka lain, di tengah-tengahnya ada taman berumput. Di situ tumbuh dua pohon mangga apel. Ruang terbuka di seberang itu dipakai untuk studio jahit. Tampak tiga perempuan sedang asyik bekerja. Yang satu tengah membuat pola dan dua lainnya menjahit.

Jessica keluar dari ruangannya diikuti seorang perempuan tengah baya berwajah bulat dengan mata menyorot hangat, mengingatkanku pada bakpao. Dua belah pipinya diolesi thanaka, semacam bedak dingin dari kulit kayu, biasa dipakai anak-anak dan perempuan Burma sebagai pelindung kulit dari sengatan matahari.

“Ini Aye Aye Win, Program Manajer yang menangani anak-anak pengungsi.” Dari namanya ia pasti orang Burma.

“Panggil Aimee saja.” Kami berkenalan, bertukar kartu nama. Di bawah nama aslinya, ditulis tangan dengan tinta hijau ‘Aimee’.

Kami segera terlibat dalam pembicaraan serius. LSM ini punya dua ruang kelas di dalam kamp Ban Luang. Di sana mereka mengajarkan ketrampilan, khususnya membuat kue dan jahit-menjahit, pada remaja dan perempuan dewasa. Yang sudah mahir diajak ke kantor Angel’s Hand untuk praktek. Bila kue atau pakaian buatan mereka terjual, keuntungannya untuk mereka, Angel’s Hand hanya mengambil biaya bahan mentahnya. Jessica tahu ada banyak stateless people yang tidak bisa mendapat kesempatan serupa, berharap punya cukup dana untuk mendirikan semacam pusat pendidikan bagi mereka; atau setidaknya bisa mendatangkan relawan yang bersedia mengajar. Sesekali Jessica mengajak anak-anak dan remaja stateless bergabung.

Rudi minta ijin memotret para perempuan yang sedang bekerja di studio jahit. Menurut Aimee mereka masing-masing punya bayi yang tak jelas bapaknya. Ia akan menerjemahkan bila aku ingin mewawancarai mereka, namun aku tidak ditugaskan untuk bicara langsung dengan pengungsi, itu tugas Tong Rang. Kalau sekedar basa-basi tentu aku senang melakukannya.

“Semua kegiatan kami ada di dalam dokumen ini, juga daftar semua anak. Kalau ada satu anak saja yang bisa keluar dari sini, kami senang sekali,” ujar Jessica. Kuterima amplop putih tebal ukuran kuarto dari tangannya. Aku berdiri, disusul Jessica dan Aimee.

“Khap kun kha,” Aimee berterimakasih dalam bahasa Thai, menelangkupkan dua telapak tangan lalu menempelkannya ke dada. Wajah bulatnya lega.

“Jangan lupa belanja di toko kami. Kami punya rok dan kemeja bagus-bagus,” Jessica mengantar kami sampai ke halaman depan.

“Sebelum kembali ke Bangkok kami akan sempatkan berbelanja,” ujarku.

“Khap kun kha,” katanya, tersenyum. Perempuan asal Swedia berusia awal tigapuluhan itu kembali ke kantor melalui pintu biru.

"Bye-bye... bye-bye..." Tiga gadis kecil itu masih bermain di halaman, melompat-lompat sambil melambaikan tangan.