Thursday, August 2, 2012

Tembak Di Tempat 2

Bagian 2

Rasa was-was tak mau pergi dari hatiku. Kurang dari satu jam lagi kami akan berangkat menuju Three Pagodas Pass. Menurut media, beberapa minggu terakhir konflik terbuka lebih sering muncul di kawasan perbatasan Burma-Thailand bagian barat itu. Berita di TV tadi malam menyebutkan kalau checkpoint – pos penjagaan – di sana ditutup sejak seminggu lalu, pasca konflik terbuka. Tujuh pengungsi Burma tewas ditembaki sekelompok lelaki berseragam militer.

Sejak bangun tidur – yang tidak nyenyak – berbagai bayangan buruk melintas di benakku: jalan rusak dan berdebu sebagaimana jalan-jalan di pedalaman Indonesia, munculnya sekelompok perampok menghadang kendaraan di jalan, kecelakaan yang direkayasa, pelemparan batu dari arah belukar di tepi jalan, kelompok gerilyawan bersenjata yang mencegat untuk minta uang, dan berbagai hal buruk lain yang sulit diperkirakan.

Meskipun khawatir, bayangan seram itu tidak kuberi kesempatan menyurutkan langkahku. Aku tahu media gemar melebih-lebihkan situasi. Itu bagian dari promosi. Semakin berbeda dan terdengar berbahaya berita dan liputan mereka, semakin orang ingin mendengar, melihat, dan membacanya.

Aku sudah beberapa kali bekerja di kawasan yang oleh kebanyakan orang dianggap berbahaya. Pengalaman pertamaku terjadi sekitar tujuh tahun silam, di tahun 2003, saat usiaku menginjak angka 23. Di sela-sela jadwal kuliah, aku menjadi asisten peneliti untuk mentorku. Kami mengerjakan proyek penelitian di sebuah kampung imigran, di Amerika. Ya, aku lebih suka menyebut permukiman di pinggiran kota Washington, D.C. itu sebagai kampung.

Di siang hari kampung itu tampak tenteram, namun bila malam – kata orang-orang – berubah bagai medan tak bertuan. Tak ada perempuan berani berjalan sendirian selepas jam makan malam bila tak mau mendapat kesulitan.

“Amira Mumtaz?” Lelaki bercelana jeans yang kedodoran untuk tubuh kurusnya itu menyebut nama panjangku. “Saya Kenneth Young.”

Wah! Buru-buru kusembunyikan rasa kecewaku, berharap mentorku itu tak menangkap rasa kecewa di mataku. Sebelum bertemu, kubayangkan pemilik nama Kenneth Young seharusnya bertubuh minimal setinggi 178 cm, berambut lebat-ikal-sedikit-gondrong-berhias uban, berahang kokoh, dan berkulit kecoklatan. Namun yang berdiri di depanku ternyata selain tubuhnya kurus, tingginya nyaris sama denganku – sekitar 160 cm – rona kulitnya pucat, dan rambutnya lurus-tipis-lepek seperti lama tidak dikeramas. Namun senyumnya bersahabat, giginya rapi dan sehat. Sorot matanya hangat. Warna matanya mengingatkanku pada pantai di pulau Samalona, sebuah pulau kecil 30 menit naik perahu motor tempel dari Makassar: biru bening kehijauan.

Nice to meet you, Professor Young,” kusambut uluran tangan kurusnya sembari sedikit membungkukkan badan. Pasti usianya hanya terpaut satu dasawarsa denganku: tampak sangat muda. Seorang temanku yang pernah ia bimbing bilang kalau lelaki ini sangat cerdas.

“Ken, please.” Senyumnya membuat mata birunya berkilau. Ia tak hanya cerdas, juga tampak baik hati, pikirku. Semoga ia memang baik hati, harapku.

“Mia,” kusebut nama panggilanku.

As in Mia Farrow?” Kedua tangan kurusnya terbuka di depan dada tipisnya. Aku mengangguk. Kepalanya meneleng ke kiri, “I like that…” ujarnya jenaka.

Tak butuh waktu untuk membuktikan kalau Ken memang cerdas, baik hati dan penuh perhatian pada semua mahasiswa yang dibimbingnya. Seminggu setelah pertemuan pertama, ia mengajakku bergabung dalam penelitiannya di sebuah kampung imigran.

Itulah awal mula aku terpapar pada masyarakat marjinal di luar negeri. Bapak dan Ibu di Jogja senang sekali menerima kabar itu. Terutama Ibu. Dulu ia berharap aku jadi insinyur, seperti kakakku, Amania Fairuzia, yang kupanggil Mbak Nia. Tapi aku memusuhi matematika dan fisika, meskipun di SMA aku masuk jurusan IPA dan nilai untuk dua mata pelajaran itu tak pernah kurang dari 8. Ibu sempat masygul berhari-hari sewaktu tahu aku pilih jurusan sosiologi. Namun ia akhirnya begitu bahagia: aku lulus sangat memuaskan dan memperoleh beasiswa.

Aku menemukan lebih banyak ilmu di kampung imigran itu ketimbang bertumpuk buku yang memenuhi kamarku.

“Jangan sekali-kali datang kemari malam-malam sendirian,” pesan salah satu teman kuliahku yang tinggal di kampung itu, “kamu tidak tahu apa yang akan mengincarmu dari balik pagar atau tikungan,” tambahnya dengan mata dipicingkan.

Awalnya aku sulit memercayai omongannya. Kampung itu mengingatkanku pada kompleks perumahan mewah di kota-kota besar di Indonesia. Jalanannya mulus dengan trotoar di kanan-kirinya, diteduhi pohonan white oak, elm, dan maple. Rumah-rumah berjajar rapi, berhalaman rumput depan-belakang dan tanpa pagar. Lampu-lampu jalan menyala cukup terang segera setelah matahari tenggelam; bersamaan lampu teras, rumah samping dan belakang yang dinyalakan oleh penghuninya. Banyak mobil terparkir di halaman begitu saja. Bila berjalan di trotoar, sesekali terdengar celoteh anak-anak dan suara TV dari dalam rumah. Aroma sedap masakan pun menyebar ke udara, menandakan adanya aktivitas para penghuninya. Sepertinya aman.

Kenyataannya, di sudut-sudut yang gelap, yang lampu jalannya sengaja dipecah, bersembunyi satu dua orang menunggu mangsa, mencegat siapa saja yang berjalan sendirian. Apalagi bila ia perempuan.

Di kampung itu, aku belajar mengenali bahaya. Ken dengan telaten membimbingku. Ia menyuruhku belajar mengasah indera. Belajar membaca lingkungan dari benda-benda yang ada di dalamnya: tong sampah yang kotor tak terjamah, rumput liar yang tinggi, graffiti buruk di tembok rumah-rumah kosong, kaca-kaca jendela yang pecah. Semua itu benda-benda yang berbicara. Penanda yang wajib dicatat bila memasuki lingkungan asing. Termasuk sekelompok orang bergerombol atau berkeliaran dengan mata jelalatan di siang hari, di sudut-sudut jalan. Playground yang sepi dari celoteh dan kerumunan anak-anak. Ruang terbuka atau taman yang tak terpelihara. Remaja yang gentayangan di jalanan pada jam sekolah. Hal-hal semacam itu bisa menjadi petunjuk kondisi keamanan sebuah kampung.

Namun dari kampung imigran itu pula aku belajar tentang kebaikan dan persahabatan. Seorang perempuan kulit putih bernama Gwen, mahasiswa S-3 di Universitas Maryland yang sudah dua tahun tinggal di situ, suka rela mengantarku keliling kampung, kemudian mengajakku minum teh di teras kecilnya. Menurutnya masalah keamanan lingkungan yang kudengar itu gossip belaka, dipicu oleh rasisme.

“Siapa yang tidak curiga pada orang asing? Orang yang tampak beda dari diri kita? Itu alamiah. Kamu dan aku pasti bersikap begitu juga pada awalnya. Kalau aku ke negerimu, rambut blonde ini pasti mengundang mata menengok lebih dari sekali,” Gwen menyentuh rambutnya. “Mungkin detik ini kamu bertanya-tanya, kenapa kulitku pucat, berbercak coklat dan ditumbuhi bulu halus, tidak seperti kulitmu yang mulus?” Ia tertawa mengusap lengannya sendiri.

Warga lain yang kutemui di community center, seorang lelaki yang lahir di tempat itu, mengatakan kalau di sana memang sering ada gerombolan pemuda berandal nongkrong di depan rumah-rumah kosong. Namun mereka tidak berbahaya meskipun suka mabuk-mabukan, menendangi kaleng-kaleng minuman, membuat gaduh tanpa alasan, atau mencoret-coret graffiti sembarangan. “Kejahatan terjadi dimana-mana. Jangan percaya pada label yang diberikan semena-mena. Tempat ini sama amannya dengan tempat lain, namun sama berbahayanya bila kita tidak berhati-hati.”

Persahabatanku dengan warga kampung itu membuatku percaya bahwa manusia itu pada dasarnya sama, memiliki sisi baik dan buruk, tinggal sisi mana yang dipilih hendak dijalani.

Di tempat itu pula aku pertama kali bertemu Timothy Rosenberg. Tim, panggilannya. Saat itu ia menjadi penasihat sebuah LSM yang membantu para imigran beradaptasi dengan lingkungan baru. Awalnya ia mengira aku dari Philipina. Sangat menjengkelkan. Dari segi populasi, Indonesia negara terbesar keempat di dunia setelah Amerika, namun banyak orang bertanya dua-tiga kali tiap aku menyebut asalku, terutama di depan warga biasa. Bahkan beberapa teman kuliahku, yang tak tertarik dengan Asia, menanyakan beda Indonesia dengan Malaysia. Bagiku ini penunjuk rendahnya pamor Indonesia di dunia internasional. Orang seperti Tim pasti paham akan Indonesia, namun – sialan – dalam pergaulan internasional sosok Indonesia memang tertutupi oleh Philipina, Thailand, dan Malaysia.

You don’t know Indonesia?” rutukku waktu itu, kami baru selesai rapat membahas pentas seni untuk merayakan hari kemerdekaan Amerika di kampung itu. “And you’re taking care of these immigrants….” tambahku sinis.

“Maaf. Tentu saja aku tahu. Aku juga punya beberapa teman dari Indonesia. Tapi belum pernah ada orang Indonesia di sini. Imigran Asia kebanyakan dari Vietnam dan Philipina. Juga para relawannya… Jadi…” ia menelengkan kepala.

“Aku bukan imigran. Aku mahasiswa. Aku tidak berniat menetap….” Kuberikan senyumku sebagai ganti permintaan maaf atas kekesalanku.

Alasan Tim masuk akal. Setelah beberapa bulan kuliah, kuperhatikan kebanyakan mahasiswa Indonesia lebih suka ubyang-ubyung bersama. Mereka tinggal di apartemen yang dipenuhi oleh orang Indonesia, mencari roommate sesama mahasiwa Indonesia, ‘going native’ sebatas permukaan, pada cara berpakaian dan berperilaku ala film Hollywood yang tidak benar-benar mencerminkan kehidupan sehari-hari kebanyakan orang. Tidak mau keluar kampus – bergaul dengan warga lokal – tidak mengenal orang-orang biasa yang menjalani hidup seperti umumnya orang di Indonesia dan di negara lain. Orang-orang yang menginginkan sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan yang terjangkau; berkeluh kesah atas kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Orang-orang yang takut menderasnya arus imigran akan menyempitkan kesempatan kerja dan meningkatkan kejahatan.

“Ini hukum alam. Imigran yang tinggal di sini lebih dulu merasa terancam oleh pendatang baru. Coba kamu baca ini… atau sudah?” Tim mengeluarkan sebuah buku setebal hampir 4 cm dari tas, menunjukkannya padaku. “Guns, Germs and Steel? Jared Diamond?” Mata coklatnya menatapku. Aku menggeleng. Buku itu sudah lama ingin kubeli.

You can have it…” ia angsurkan buku itu.

“Sungguh?” Mataku membelalak. Sambil mengucap terima kasih buku itu cepat kuraih, seperti kucing lapar menyambar ikan asin.

“Aku juga imigran. Ibuku tidak lahir di sini. Di Swedia. Nenek-buyut ayahku dari Inggris, dan aku lahir di Kanada. Jadi, aku tidak beda dengan mereka….” Tim mengarahkan kepala dan matanya pada sekelompok remaja yang sedang berlatih menari di halaman community center, tempat pengurus LSM mengadakan rapat dwi-mingguan. “Hasil sensus 2002 menunjukkan, sekitar 33 juta rakyat Amerika tidak lahir di negara ini. Bisa jadi keturunan mereka nantinya mengklaim sebagai pribumi…” Tim membuat tanda petik dengan jemarinya ketika mengucapkan pribumi. Kami tertawa.

“Bila selesai membaca buku itu kamu mungkin setuju denganku, di abad ini, menurutku kita semua imigran… nenek moyang kita berasal entah dari mana. Yang mengklaim sebagai pribumi adalah kelompok yang datang ke suatu wilayah lalu menaklukkan kelompok lain yang lebih dulu datang atau menghuni wilayah itu; beberapa abad lalu…” Tim membelalakkan matanya sambil mengangkat bahu.

Kata-katanya membawaku terbang: pulang. Terbayang kisah ibuku tentang nenek buyutnya yang sebagian berdarah Arab dan sebagian lagi berdarah Cina. Terngiang gerundelan kakak sepupuku, Mutia, yang terlahir di Padang – tempat kelahiran papanya juga – lalu bermukim di Jakarta sejak usia 2 tahun, “Aku benci orang yang berduyun-duyun masuk Jakarta tiap habis Lebaran.”

Aku tertawa mendengar omelannya, ia lupa kalau dirinya juga – 35 tahun lalu – pendatang.

Buku itu mengawali persahabatanku dengan Tim. Dua tahun kemudian, ia mengajakku bergabung ke dalam proyeknya di Asia Tenggara. Hingga saat ini.

***