Putera Para Monster

Arrrgghh… lagi-lagi selalu saja ada teriakan keras di rumah ini. Bentakan, makian, umpatan segala jenis spesies hewan keluar dari mulutnya yang berbau alkohol. Benda-benda kesayangan melayang hancur-berantakan dan yang terparah seolah kau ingin tunjukkan eksistensimu sebagai seorang penguasa rumah tangga ini di hadapan anakku, mahluk rapuh itu milikku, ya milikku! Bahkan pada proses penciptaannya kau tak sadarkan diri, terlebih kau menolak kehadirannya dalam dunia ini. Tetap kupertahakan sampai kapanpun.

Rere menggigil di pojokan kamar mendekap boneka kelinci bertelinga panjangnya. Sejenak menatapku ragu…, ragu akan kekuatanku menahan pintu kamar ini dari amuk monster berbadan kecil dan berkacamata itu. Rere pernah menggambarkan ayahnya, setara dengan monster-monster lainnya, dengan karakter berbadan kecil, berbulu merah, bertanduk dan dari hidungnya menyemburkan api sementara tangannya memegang botol yang mencurigakan; monster itu berkaca mata! Ketika kutanyakan maksud karyanya dari gores pastel berwarna merah itu, air mataku menitik karena Rere sudah bisa berbohong, sudah jelas Rere menggambarkan sosok ayahnya bahkan memberi nama PEA, aku menduganya ini pasti inisial ayahnya.

Kubujuk pangeran kecilku agar tidur saja, badanku masih membelakangi pintu. Rere menolak, dia berteriak lirih jika dia tertidur maka monster bernama PEA itu akan menculiknya karena bunda juga ikut tertidur. Aku tidak boleh melemah, meski setiap sendiku bergetar begitu mendengar suara lirih pangeran kecilku. Jika sedikit saja kukendorkan badanku dari pintu ini sudah dapat dipastikan monster itu berhasil masuk dan menculik pangeran kecilku. Tidak akan terjadi.

Kudengar monster bertubuh kecil-berkacamata itu mengancam akan membakar rumah ini. Cukup sudah, kau telah membangunkan monster yang sesungguhnya kini. Kubuka pintu kamar, kunci yang sejak semula berada pada lubang sebelah luar papan pintu ini kupastikan terputar penuh mengunci kamar Rere, kumasukan saku agar lelaki yang berlagak seperti monster itu tidak merebutnya dan mengambil pangeranku di dalam sana.

Lelaki itu masih mengumbar kata-kata kosongnya dari ruang dapur sambil mengacungkan jerigen minyak tanah dan korek api gas di tangan lainnya. Aroma alkohol dari mulutnya mengalahkan minyak tanah yang sebagian sudah ditumpahkan pada lantai dan kompor gas. Aku tak gentar. Dia berkoar-koar, tidak akan merugi harus membakar rumah yang telah dia bangun dari hasil keringatnya. Emosiku berhasil berontak dari ujung ubun-ubunku. Kau bilang ini rumahmu? Sejak kapan kau turut menyumbang satu sen bagi rumah ini? Untuk membeli sebatang paku saja tak ada andilmu.

Kurebut jerigen minyak tanah dari tangannya, kutampar wajah lelaki kecil itu hingga terhuyung dan berdebam keluar halaman belakang. Kusiram sekujur tubuhnya terutama mulutnya dengan sisa minyak tanah yang ada. Mari kita lihat kuat mana pengaruh alkoholmu atau minyak tanah yang selalu kami, kaum perempuan, perebutkan dalam antrian panjang hanya demi beberapa liter ini? Sekarang tidak akan sia-sia kesabaranku menunggu dan berdesakan antri minyak tanah jika dapat menciptakan arang dari tubuh busukmu.

Kau ingin ambil pangeran kecilku ini begitu saja. Dimana kau ketika pertama kali baru kusadari ada darah mengalir dari sela kedua pahaku? Kau lari dari kamar kos hanya meninggalkanku dengan setengah botol cairan yang membuatku pening, bahkan kau lari dari kampus tempatmu kuliah, menghilang beberapa semester. Dimana kau ketika aku mengejang dan mengerang mengeluarkan anakku? Bahkan kedua orang tuamu yang dulu turut menghadiri ritual ijab kabul kita, meski hanya sejenak, juga tak tampak saat aku melahirkan pangeran kecilku. Lagi-lagi hanya keluargaku juga yang menghadapi bagian keuangan rumah sakit itu. Ada dimana kau ketika pangeranku tengah malam menggigil demam tinggi? Bahkan ketika kuhubungi teleponmu hanya sejenak kau jawab dengan alasan sibuk berkumpul dengan kawanmu! Adakah satu rupiah yang pernah kau sumbangkan untuk biaya rumah, sekolah dan segala kebutuhan hidup kita bertiga? Lantas apa hakmu merebut pangeranku? Dia milikku!

Tak perlu kurebut korek api gas dari tangan satunya, akupun sama dapat menyemburkan api dari kedua lubang hidungku, biar kutunjukkan padanya, tapi kupastikan pangeran kecilku tidak melihatnya. Tidak terdengar sedikitpun suara dari mulutnya meskipun dia membuka-menutup mulutnya, terlihat seperti slow motion, sementara hidungku sudah memercikkan api, semakin kutahan nafasku-semakin membesar api itu menyembur, sekali hembusan saja pasti membakar lelaki ini.

Tak jadi...

Tak jadi kusemburkan api dari hidungku..., tidak..., aku tidak ingin pangeranku menggambarkanku seperti monster berambut api lalu memberi nama PEDE, inisial namaku. Tidak!

Maaf bang, aku harus hentikan pembicaraan malam ini, Rere terbangun, kudengar dia meneriakkan nama monster itu. Terimakasih atas kesediaan abang mendengarkan curhatku kali ini seperti malam-malam biasanya. Besok kita sambung lagi. Klik!

***

Oleh: Allyth Prakarsa

-Propinsi B, Kota S, Kecamatan S-
Lagi-lagi satu tulisan yang tertunda di tengah jalan (2 Mei – 29 Mei 2009)
Kali ini terprovokasi oleh para penelpon di tengah malamku, G, dan Herlina Tiens... but thanks!
Versi lengkap posted in: http://timoerlaoetnoesantara.blogspot.com/2009/05/putera-para-monster.html


****


Aliyth Prakarsa

salam kenal
Saya lebih dikenal oleh kawan-kawan dunia maya (yg kenal saya saja tentunya) dengan nama Koelit Ketjil (KK) satu bagian dari dalam diri yang sengaja diciptakan untuk memerdekakan diri ini.

keinginan terbesar saya adalah tidak punya keinginan karena cukup repot sekali ketika saya punya keinginan namun banyak halangan di depan sampai akhirnya saya hanya bengong hingga larut malam.

beruntung saya bertemu dengan banyak kawan penulis yang memotivasi saya untuk, yaa setidaknya gak bengong-bengong banget kalau lagi menikmati insomnia. terutama saya banyak berterimakasih dengan G, kawan tertawa yang tiada tanding, sampai-sampai dia di black list oleh semua Mall karena sering ketawa koprol cekakkan sendirian di mall :))

saya sedang mengumpulkan keberanian untuk dapat mempublikasikan produk-produk insomnia saya yang tersebar di blog saya yang tak terurus setelah sekian lama. kiranya kawan-kawan bersedia berkunjung di Timoer Laoet Nusantara

email: prakarsa79@gmail.com , timoerlaoetnoesantara@gmail.com
blog: Timoer Laoet Nusantara
aktivitas: 1. pengurus Lembaga Perlindungan ANak (LPA) Prov. Banten
2. kadang-kadang ngajar mahasiswa ketika jadi AP (gak usah tau kepanjangan dari AP, ya!) :p
hobby: membaca, nulis (jarang-jarang), mengejek (sering), diejek (kadang-kadang), bermain bersama anak-anak de el el

trimakasih-mitrakasih

Koelit ketjil

11 comments:

  1. ahai... Pak Dosen ade di mari rupanya... :)

    ReplyDelete
  2. @GM, Aih.. kembaranku juga ada di sini rupanaya.. wkwkwkwk.. *ngebayangin Pak Dosen itu ngajar dengan dengkul begitu lho... wkwkwkwk, bukannya ngomentarin tulisannya malahan ngebahas orangnya, huahaa... Saya kok merasa perlu menunggu Hesra muncul dan berkomentar baru terasa lengkap, kekekeee*

    ReplyDelete
  3. bikin merinding... semoga Rere tumbuh dewasa tidak seperti ayahnya...

    ReplyDelete
  4. waduh... kasian anaknya :( . Semoga dia baik-baik saja.

    Menarik ceritanya.

    ReplyDelete
  5. @GM: rasa-rasanya yg hadir disitu KK deh!

    @G: *ngecek bagian bawah tulisan*
    hlooo kokk??? wahh ini namanya penyerobotan karya neh! ralat itu bukan karya AP!
    *ngelus dengkul sexy ku*
    Si Pon itu lagi sibuk membenahi tiray rumah makan padangnya :P

    ReplyDelete
  6. @ER: amiiienn...

    @idea: semoga...

    ReplyDelete
  7. cerita mengenai kekerasan..cukup membuat merinding...

    ReplyDelete
  8. Salah satu kekuatan cerpen, menurut saya, adalah ending yang kuat dan mengejutkan. Dan cerpen ini, menyajikannya. Keren!

    ReplyDelete