Wednesday, August 31, 2011

Pemisalan Tentang Orang Gila yang Bahagia dan Sombong

gambar diunduh dari sini
-satu-

“Menjadi gila adalah pencapaian terbesar dalam hidupku”, katanya sambil memasuki sebuah kubikel putih dengan lantai, dinding dan langit-langit putih. “Senang rasanya terbebas dari ikatan kewarasan yang selama ini memasungku.”

Lelaki itu lalu menari dalam putaran tiga kali, meneriakkan sesuatu yang telah lama tak terdengar dari negeri ini, “Merdeka! Merdeka! Merdeka!”




-dua-

Setiap Minggu sore, sekelompok pemuda yang menamakan diri mereka Komunitas Anti Kemapanan berkumpul di bawah sebatang pohon akasia di depan kompleks perumahan. Di sana, mereka mengenakan topeng kegilaan, menandak-nandak serupa pemain kuda lumping yang kesurupan. Esok harinya, masing-masing seperti biasanya, mengenakan dasi mereka, berangkat kerja dan menyebut diri mereka para eksekutif muda.

-tiga-

Pernah, aku bertanya pada orang gila yang sering nongkrong di pasar, “Apa tidak bosan menjadi orang gila?”
Ia seketika tergelak, “Aku pernah hendak menjadi pengemis, tapi memasang tampang memelas pada akhirnya hanya akan memutuskan saraf kebahagiaanku. Lagian, aku ingin bebas, tidak dilindungi oleh Undang Undang Dasar 45.”

-empat-

Kabarnya, ia menjadi gila setelah gagal menjabat sebagai bupati di daerahnya. Ketika kutemui sedang menghirup segelas susu di warung kopi, lelaki tua itu terlihat begitu bahagia. Katanya, “Aku menolak menjadi pejabat dan memilih menjadi gila. Kukorbankan diriku sendiri supaya rakyat tidak menjadi gila karenaku.”

-lima-

Siapa bilang orang gila tak perlu identitas? Di jaman sekarang ini, banyak yang suka berpura-pura gila. Untuk menjadi seorang gila yang diakui negara, maka serangkaian tes dan ujian perlu dilewati.

“Mulai detik ini aku resmi menjadi orang gila,” katanya sambil memperlihatkan Kartu Tanda Gila yang baru ditandatangi Pak Camat. “Sekarang aku berhak menjadi bahagia.”

-enam-

Apa bedanya orang kaya dengan orang gila?
Orang kaya mempunyai rumah besar, istri yang cantik dan uang yang berlimpah. Mereka kerap terlihat bergerak sibuk dan gelisah.

Orang gila mempunyai semesta sebagai rumahnya, Dewi Persik sebagai istri dan tak pernah dipusingkan oleh uang. Mereka selalu berjalan santai dan terlihat sangat bahagia.

-tujuh-

Aku menatap formulir isian untuk laporan kelulusanku dengan gamang. Di kolom cita-cita, aku berhenti lama sekali. Haruskah kujawab dengan jujur atau mengikuti sebagian besar temanku, yang memilih menjadi pejabat koruptor, politikus perampok, atau pengacara pemeras?

Gemetar, kugerakkan pulpenku menulis dengan huruf besar-besar. Cita-cita: menjadi GILA.

-delapan-

Seorang pendatang baru di kampung kami yang katanya datang dari negeri yang jauh, sukses menjadi orang kaya dalam waktu dua bulan. Ia membuka kursus. Di depan rumahnya, berdiri sebuah plang kayu bertuliskan: Kursus Menjadi Orang Gila yang Bahagia.

-sembilan-

Orang gila itu menatapku dengan marah. “Kau pikir orang gila itu tak punya harga diri?”
Itu, ketika kutawari ia menjadi pemeran utama di filmku dan kujanjikan akan mengorbitkannya menjadi seorang selebriti.

-sepuluh-

Gila itu romantis. Bahagia itu gila. Gila itu gila. Gila itu tak mengerti. Untuk apa dimengerti kalau gila? Gila yah gila. Aku gila. Kau mau ikutan gila kah?

Gila! yang nulis ini
(lebih gila lagi yang baca)