Thursday, December 5, 2013

Plot atau Alur Cerita


Apa yang disebut plot atau alur dalam sebuah cerita memang sulit dicari. Plot tersembunyi di balik jalan cerita. Dalam mengikuti jalan cerita itulah kita akhirnya dapat menemukan plotnya. Tetapi jalan cerita itu sendiri bukan plot. Sebuah plot bisa menelurkan beberapa jalan cerita. Jalan cerita hanyalah manifestasi, bentuk wadak, bentuk jasmaniah dari plot.
Sebuah contoh klasik untuk menerangkan perbedaan antara plot dan jalan cerita adalah sebagai berikut. Ada seorang raja yang sangat mencintai istrinya. Si istri tiba-tiba wafat. Tak lama kemudian raja itu sendiri kemudian wafat pula. Ini jalan cerita. Jalan cerita ini menjadi plot kalau ada keterangan tambahannya. Misalnya: raja sangat menyayangi istrinya. Mereka bahagia. Suatu hari sang permaisuri mendapat kecelakaan dan wafat. Jiwa raja tergoncang. Kebahagiaannya hilang. Ia mengurung diri dan murung. Sebulan kemudian raja menunjukkan gejala sakit lantaran tak mau makan karena sedihnya. Raja tak bisa dihibur oleh siapa pun, juga oleh para arif bijaksana. Akhirnya raja merana tak dapat mengatasi kesedihannya, dan ikut wafat pula…
Jelas sekali cerita kedua lebih lengkap dan mudah dimengerti. Raja wafat karena merana ditinggalkan istri yang mencintainya. Mana plotnya? Merana yang menyebabkan kematiannya itulah sukma cerita, itulah plot.
Plot dan jalan cerita tak bisa dipisahkan, hanya bisa dibedakan. Orang sering mengacaukan kedua pengertian tersebut. Jalan cerita hanya memuat kejadian. Tetapi sebuah kejadian tentu ada sebabnya, ada penggeraknya, ada alasannya. Ia tak terlihat tetapi mendasari adanya kejadian. Inilah sebabnya plot sering disebut sebagai segi rohaniah kejadian cerita.
Suatu kejadian merupakan cerita kalau di dalamnya ada perkembangan kejadian. Dan suatu kejadian akan berkembang kalau ada yang menyebabkan terjadinya perkembangan tersebut. Dan penyebab itu adalah konflik. Intisari plot adalah konflik. Tak ada cerita kalau tak ada konflik. Inilah sebabnya kerangka plot biasanya berbentuk demikian:
1.      Pengenalan
2.      Timbulnya konflik
3.      Klimaks
4.      Pengakhiran.

Untuk contoh cerita di atas dapatlah kita menganalisis plotnya sebagai berikut:
1.      Pengenalan: ada raja yang sangat mencintai istrinya. Mereka saling mencintai dan amat bahagia. Rakyat ikut bahagia.
2.      Timbulnya konflik: pada suatu hari permaisuri itu jatuh dari kuda tunggangannya ketika sepasang merpati ini sedang bercengkerama. Tak lama kemudian permaisuri meninggal karena luka-lukanya yang fatal. Raja amat terpukul. Ia kehilangan segalanya.
3.      Klimaks: raja tak bisa mengatasi kesedihannya. Ia mengurung diri dan tak mau makan. Kesehatannya sangat menurun. Lemas dan jatuh sakit. Dalam sakitnya terus mengigau memanggil istrinya.
4.      Pengakhiran: raja tak kuat mengatasi kehilangannya. Raja wafat karena merana.

Konflik utama cerita itu berupa konflik batin dalam diri raja itu. Dengan adanya konflik dalam diri raja itu maka timbul suspense atau ketegangan yang berupa tanda tanya pembaca: bagaimana akhirnya ya? Dan unsur ketegangan inilah yang menarik dan memaksa pembaca untuk mengikuti seluruh kejadian. Dari susunan plot di atas jelaslah bahwa kekuatan sebuah cerita terdapat pada bagaimana pengarang membawa pembacanya mengikuti timbulnya konflik, memuncaknya konflik dan berakhirnya konflik.
Dalam cerpen atau novel konflik digambarkan sebagai pertarungan antara tokoh utama atau protagonis dengan antagonisnya. Faktor antagonis ini bisa bermacam ragam dalam cerita. Bisa berbentuk manusia lain. Bisa berbentuk dirinya sendiri (konflik batin). Bisa berbentuk binatang, alam, kaidah moral, kaidah sosial, kepercayaan dan sebagainya.
Kunci untuk mencari plot adalah menanyakan atau mencari konfliknya. Dan konflik baru diketemukan kalau pembaca telah mengikuti seluruh cerita, yaitu aksi fisik yang dipakai oleh pengarang untuk menyatakan plotnya.
Segi yang menarik dari sebuah cerita memang plotnya. Ketegangan dalam mengikuti sebuah cerita membawa hiburan kepada pembacanya. Rata-rata fiksi hiburan menekankan pada unsur plot ini. Adanya jalan cerita yang berliku-liku dan penuh suspense inilah yang dicari oleh pembaca cerita hiburan. Fiksi hiburan kurang menggarap tema, perwatakan. Fiksi hiburan kurang memerhatikan kedalaman. Ia hanya memedulikan cerita saja.
Sebaliknya cerita-cerita modern tidak begitu banyak yang memerhatikan plot lagi. Inilah sebabnya pembaca fiksi hiburan sering bosan membaca fiksi modern yang berpretensi sastra. Melalui plot pengarang modern menganggap tak banyak yang bisa dikemukakan lagi. banyak hal-hal yang sifatnya psikis atau abstrak yang tak mungkin digambarkan melalui kejadian fisik konvensional lagi. Meskipun demikian unsur plot tak mungkin dilenyapkan dalam sebuah bangunan cerita. Tetapi plot bukan lagi dijadikan modal utama menulis cerita oleh para pengarang modern. Ada pengarang yang lebih menyukai melukiskan watak manusia. Ada yang hanya ingin menampilkan suasana kejiwaan tertentu yang sulit untuk dikatakan secara wadak. Ada yang sarat dengan persoalan atau tema.
Cerita pendek yang menekankan plot cerita sudah dianggap kuno dan sudah lama berlalu bersama zamannya. Cerpen pengarang-pengarang kuno di dunia seperti Pushkin, Gogol, Edgar Alan Poe, Guy de Maupassant dan sebagainya semuanya itu jago-jago cerpen plot. Bagi para pengarang modern cerpen yang hanya menonjolkan unsur cerita saja sudah dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Tugas itu telah diambil oleh para penulis hiburan yang memang sering dianggap kurang penting sumbangannya bagi kesusasteraan.[]

(Sumber Catatan Kecil tentang Menulis Cerpen karya Jakob Sumardjo)