Thursday, December 5, 2013

Kejernihan Pikiran, Ketepatan Bahasa


Pelukis-pelukis yang besar seperti Rusli dan Nashar selalu hemat dengan garis. Mereka tidak mengobral garis begitu saja. garis hanya dicoretkan seminim mungkin, tetapi setepat mungkin sehingga kandungan isi dan maknanya melebihi garis itu sendiri. pelukis yang mashur cukup menorehkan garis-garis pokok, namun mampu membangkitkan emosi dan rangsangan bagi penontonnya. Berbeda dengan mereka yang baru belajar menggambar. Untuk satu arti saja bahkan satu informasi saja mereka berkali-kali mencoret-coret dengan begitu banyak garis.
Begitu pula penulis-penulis besar hemat dengan hamburan-hamburan kata-kata. Kalimat-kalimat mereka ringkas namun jelas, bening dan kaya makna. Kalimat-kalimat yang mereka ciptakan untuk menggambarkan pengalaman hidup tokoh-tokohnya begitu kokoh dan tegas. Kalimat-kalimat sastra harus mempunyai kekuatan. Ia harus mampu melukiskan informasi secara tepat dan kaya. Saya kutipkan sebuah cerpen Putu Wijaya yang terkenal dengan pilihan-pilihan katanya yang tepat serta berisi.

“Kota kami yang mencangking di lereng bukit, pada mulanya adalah sebuah masyarakat yang damai. Angin pagi yang menembus kabut, menggoyangkan beringin tua di tengah kota lalu menepuk pipi wanita-wanita pedagang sayur yang mengalir dari pinggiran kota”.
                                                                                                       (Beringin, Horison Agust. 77)

Dan satu lagi kutipan pendek dari cerpen John Steinbeck:
“Kira-kira lima belas mil di bawah Monterey, terhampar ladang keluarga Torres beberapa bahu tanah menurun di atas karang yang curam terjun ke bawah ke batu-batu karang yang kehitam-hitaman, tempat ombak samudra putih memecah”.
                                                                                                             (Lari, terj. Mochtar Lubis)

Jelas terlihat bahwa dengan dua dan satu kalimat saja para pengarang ini mampu memberikan gambaran yang jelas dan indah pada kita. Kesalahan para pemula ialah terlalu obral dengan kalimat. Hanya sebuah informasi kecil bahkan perlu ditulis bertubi-tubi dalam susunan kalimat yang berbelit. Hal ini memberi kesan bahwa penulisnya tidak punya konsep yang utuh tentang apa yang hendak dikatakannya. Suatu pokok pengertian saja kadang diulang-ulang dalam alinea-alinea di bawahnya, seolah penulis tidak yakin bahwa pembacanya telah memahami maksudnya. Dan akibatnya akan memberikan kebosanan serta kemuakan lantaran pembaca merasa diperbodoh penulis.
Sebelum menulis hendaknya tersedia konsep yang jelas: apa sebenarnya yang hendak disampaikan kepada pembaca. Penemuan apa yang kiranya penting buat diketahui pembaca. Ide yang bagus, pikiran yang baru, permasalahan yang urgen, informasi pengetahuan yang baru, adalah beberapa konsep yang mungkin hendak disampaikan. Dan pengarang cerpen hendak menyampaikan semua itu dalam bentuk cerita. Bagaimanapun bagusnya ide kalau pengarang tidak mampu menyusunnya dalam sebuah cerita, tidak akan menjadikan sebuah cerpen berhasil. Cerita adalah sesuatu yang mengalami perkembangan. Harus ada perubahan yang terjadi dalam cerita. Cerpen yang berputar-putar tanpa beranjak dari keadaan semula bukanlah cerpen, mungkin hanya sebuah esei belaka. Sebab dalam esei tak diperlukan adanya perubahan, perkembangan dari mula sampai akhir. Dalam sebuah cerpen harus ada perbedaan dari yang awal sampai akhir.
Kalau konsep itu telah ada dan siap tersusun dalam cerita maka mulailah menulis. Apa yang sudah jelas di kepala dengan sendirinya akan menuntun penulis untuk menggambarkan jalan ceritanya. Dan makin kaya pengalaman serta pengetahuan penulis tentang apa yang ditulisnya akan memudahkan memuntahkan kalimat-kalimat yang diperlukan. Kalimat-kalimat yang amat diperlukan saja hendaknya yang ditulis. Untuk seorang pemula mungkin baik untuk menulis sebanyak mungkin, berkali-kali, dan setelah itu periksa kalau ada pengulangan-pengulangan yang kurang perlu. Mungkin saja ada sepuluh kalimat yang ternyata tak ada artinya karena sudah dituliskan dalam satu kalimat sebelumnya. Pokoknya bangunkanlah kalimat-kalimat yang kuat, berisi dan kaya akan imajinasi. Di mana keindahannya? Justru pada kekuatan kalimat itu. Hanya yang benar yang indah. Tak ada timbul keindahan dari kepura-puraan, kepalsuan. Kalimat-kalimat palsu hendaknya dicoret sebanyak mungkin.
Pikiran yang jernih akan menghasilkan kalimat-kalimat yang tepat dan kuat. Orang tak perlu takut hanya menulis cerpen yang pendek. Lebih baik cerpen pendek tapi kuat, kukuh, daripada cerpen panjang yang bertele-tele dan membosankan. Keindahan terletak dalam kebenaran, keluguan, bukan pada pamer dan sikap sok. Tulislah secara wajar, biasa namun jujur. Jangan terlalu banyak pretensi.

(Sumber: Catatan Kecil tentang Menulis Cerpen karya Jacob Sumardjo)