Saturday, May 18, 2013

Fitri Yenti dan Katedra Rajawen: Dari Sekedar Iseng Jadi Jodoh




Jadi begini, ceritanya Kampung Fiksi mewawancarai penulis novel “Satu Cinta Dua Agama”. Dan seperti biasanya, wawancara diadakan secara online di antara kesibukan para penulis dan kru Kampung Fiksinya (udah kayak anggota dewan aja ya sibuknya :D). Jadi ini salah satu wawancara terlama dan tersibuk yang pernah dilakukan, sebab dibarengi dengan memasak, makan, berdandan dan bahkan sambil berjalan-jalan. Asyik kan ;)

Oke, mari kita mulai mengenal sosok-sosok di belakang novel “Satu Cinta Dua Agama” ini, siapa lagi kalau bukan Fitri Yenti dan Pak Katedra Rajawen. 

Sumber gambar: Facebook Fitri Yenti



Berapa lama novel ini dikerjakan?

Tulisan ini sebenarnya sudah lama. Kami tulis sekitar awal tahun 2011. Kalo gak salah menghabiskan waktu sekitar 2 bulan untuk penulisannya. Tidak terpikirkan akan diterbitkan, karena kami awalnya hanya memenuhi hasrat dan hobi menulis. Dan buat saya sendiri..jujur saat itu sebenarnya saya masih belajar menulis, masih baru banget dalam menulis.

Awalnya gimana sih, kok ketemu ide bersama ini?

Awalnya waktu kita ikutan kolab nulis Festival Fiksi Kolaborasi Kompasiana. Berteman dengan Ko Kate ternyata kita nyaman-nyaman aja. Lalu Ko Kate cerita banyak tentang menikah beda agama dengan istrinya, Budha dan Kristen Protestan. Dan mereka juga baik-baik saja. Nah, terinspirasi dari sanalah kami akhirnya menulis kisah "Satu Cinta Dua Agama" ini. Untuk memasukkan konfliknya akhirnya kami menulis dengan latar belakang kami masing-masing. Saya Islam dari Minang, pernikahan beda agama tidak boleh dalam agama saya. Nah ide itulah yang kemudian kami jadikan tulisan.

Boleh dong diceritain gimana dengan proses penulisannya.

Proses penulisannya kami lakukan dengan sistem diskusi. Kami menulisnya dengan episode-episode. Satu episode kami tulis berdua, lalu kami saling diskusikan. Agak rumit memang, karena ini terkadang menyangkut masalah prinsip masing-masing. Tidak hanya sekedar fiksi. Kadang Ko Kate ingin jalan ceritanya begini, dan saya tidak setuju. Lalu kami akan cari referensi lagi, bertanya ke orang-orang bagaimana jika begini? Atau begini? Terkadang untuk satu episode itu kami butuh waktu sangat lama untuk menyelesaikannya.

(kru pewawancara nyimak sambil sibuk sendiri, yang satu nyari-nyari cara supaya wifinya kenceng, yang satu sambil makan rendang, yang diwawancara jawabnya sambil sisiran :D)

Ceritakan sedikit dong sinopsisnya, cerita dimulai seperti apa dan kenapa dipilih mulai dari kejadian tsb?

Sinopsis: dua orang yang berbeda agama, satu China penganut Budha yang taat. Bertemu dengan seorang perempuan muslim yang juga dari keluarga yang taat. Mereka saling jatuh cinta dan ingin melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Perbedaan suku tak menjadi soal untuk keduanya, tetapi agama yang berbeda bukan hal mudah untuk mereka lalui, karena kedua keluarga sama-sama menginginkan mereka menikah dengan orang yang seiman.

(Tiba-tiba Pak Kate sebagai satu-satunya cowok menyela..)

Eh Diak, perasaan sekitar satu bulan deh. Mulai 18 Maret selesai 25 April, itu juga setelah selesai FFK baru kepikiran mau dilanjutkan kayaknya gitu ya

(Wah.. daya ingat Pak Kate hebat juga ya :D )

Nah ada Pak Kate nih, gimana caranya sampe berhasil dibujuk mmbuat novel nih? Seingat saya dulu Pak Kate ini enggan bikin buku. Apa karena duet jadi bersedia? Lalu proses memperoleh penerbit yang tertarik menerbitkan buku ini bisa diceritakan juga?

Sebenarnya hanya iseng saja dan tidak ada niat bikin novel. Kebetulan fiksi itu ada beberapakali saya kirim ke Kumpulan Fiksinya Pak Odi. Seiring hebohnya film "Cinta tapi Beda", temannya Pak Odi yang di penerbit tertarik. Kebetulan sebelumnya saya ada menulis tentang inta tapi beda vs satu cita dua agama, dan pada kolom komentar semua link tulisan saya cantumkan. Eh selang tiga hari saya dikabari Diak Fitri, katanya Pak Odi minta dikirimi kisah satu cinta dua agama itu dalam bentuk word. Kebetulan kan? Saya bilang tinggal klik aja tuh ditulisan saya.

Waktu itu saya masih tanya sama Pak Odi, untuk menerbitkan bukunya pakai biaya gak? Kalau pakai saya gak mau hehehe..gak mau modal ya? Karena saya memang gak begitu antusias juga. Karena memang gak pakai biaya apa-apa, ya ok.

Cuma sayangnya memang ada mis komunikasi , naskah itu saya kira akan diedit lagi sama penerbitnya. Ternyata gak. Dan kita juga gak diminta edit lagi sebelumnya. Jadi ya ada kekurangan ejaan dan tulisan di sana sini. Begitu ceritanya.

Sip, jadi memang ini jodoh-jodohan ya, ketemu penerbitnya dan momentumnya juga pas banget. Ada rencana untuk berduet lagi mmbuat novel berikut?

Untuk sekarang belum. Kami masih sibuk sendiri-sendiri.  Saya juga sedang menyelesaikan 2 novel yang belum rampung.

Bagi saya bisa menulis novel adalah malapetaka tuh, malapetaka yang menyenangkan sih hehee

Malapetaka membawa berkat ya Pak Kate :)
Wow dua novel baru Mbak Fitri Yenti, produktif banget.
Kayaknya memang kesengsem berat sama dunia menulis fiksi nih Pak Kate, nggak ada rencana menerbitkan kumpulan esai-nya yang di  Kompasiana?

Kalau itu ada sih, sebenarnya sudah mau mulai, tapi masih terbentur dengan sarananya hehehe... terutama yang motivasi, karena memang ditulis berdasarkan pengalaman dan sudah merasakan manfaatnya secara nyata. Terima kasih sudah diingatkan

Satu novel J50K Mba, masih dipoles sana sini. Satu lagi baru separuh jalan.. Napsu kali ya saya nulisnya? hahaha.. tapi beneran, saya terinspirasi dari Mba G dan juga temen-temen di KF. Salut untuk semangatnya.

Sejak kapan mulai menyukai dunia menulis? Dan keasyikan apa yang diberikan dunia ini yang ngga bisa didapatkan di tempat lain?

Sejak SMP saya suka menulis puisi dan lirik lagu. Biasa, gak jauh dari kisah cinta :D

Saya menyukai menulis sebenarnya sejak masih di SD. Ketika kepala sekolah saya mengatakan nilai saya paling bagus untuk mengarang, dan bu guru bilang saya berbakat, sejak itu saya mulai menyukai pelajaran bahasa, terutama mengarang. Saat SMP saya juga mulai menulis dalam diari. Hingga SMA saya terus lanjutkan menulis diary. Dan iseng-iseng coba mengirimkan puisi saya ke koran. Tapi alhmdullillah tdk pernah dimuat hahaha.. Tapi saya terus saja menulis puisi atau apapun dalam diari saya. Saat kuliah juga begitu. Saya langganan majalah, dan cerpen. Tapi setiap kali saya coba menulis, saya tak pernah bisa menuntaskan tulisan saya. Sampai akhirnya tamat, bekerja dan menikah. Setelah menikah saya berhenti bekerja dan memilih menjadi ibu RT. Saat itulah saya mulai bertekad, bahwa saya bisa melakukan sesuatu, meskipun hanya menjadi ibu RT. Saya mencoba mengirimkan tulisan saya ke majalah UMMI,  alhmdulillah dimuat, dan rasanya saya sangat bahagiaaaa sekali. Sejak saat itu saya tak pernah berhenti menulis hingga sekarang. Tiada hari tanpa menulis bagi saya.

Apa sih motivasi dan tujuan kalian menulis?

Motivasi yang utama adalah untuk memotivasi dan refleksi diri...klise ya?  Selain itu juga menambah untuk berbagi kebajikan melalui kata-kata.

Fitri Yenti
Motivasi dan tujuan saya menulis sebenarnya adalah saya ingin berbagi dengan banyak orang. Karena saya yakin tiap orang punya pengalaman menarik dan unik dalam hidupnya. Dengan menuliskan pengalaman baik pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, hasil pengamatan saya terhadap lingkungan sekitar saya. Begitu banyak hal yang bisa saya jadikan pelajaran hidup, dan saya ingin berbagi dengan orang lain. Dengan sebuah harapan orang lain juga mengambil manfaat dari apa yang saya tuliskan.

Siapa penulis idola dan apa yang disukai dari tulisannya? Apa pengaruhnya terhadap gaya tulisan kalian?

Sebelumnya saya suka Anand Khrisna karena keberaniannya mengkritisi agama-agama dan produktivitasnya yang luar biasa. Tapi yang benar-benar mempengaruh gaya menulis saya adalah penulis buku si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, Ajahn Brahm.

Fitri Yenti
Penulis idola? Entahlah saya tidak tahu apakah saya punya penulis idola atau tidak. Yang pasti saya menyukai semua tulisan yang menginspirasi, tulisan-tulisan yang menggugah jiwa dan semangat saya untuk bisa melakukan yang terbaik dalam hidup. Saya mengagumi penulis-penulis besar seperti Hamka, dan sastrawan terutama yang berasal dari Sumatera Barat sendiri. Pengaruh mereka bagi saya, saya ingin bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang seperti mereka.

Apa tantangan terbesar untuk dalam menyelesaikan sebuah cerita?

Ingin cepat-cepat menyelesaikannya, sehingga tidak fokus lagi

Fitri Yenti
Sepertinya tidak ada masalah sejauh ini buat saya. Karena ketika saya memutuskan menulis sebuah cerita saya selalu berusaha menuntaskannya. Barangkali yang sedikit menjadi tantangan adalah bagaimana mengemas konflik menjadi sesuatu yang menarik dalam sebuah tulisan.

Topik apa yang paling menarik minat untuk dituangkan ke dalam sebuah cerita atau tulisan?

Kejadian sehari-hari dan agama

Fitri Yenti
Topik yang paling menarik sebenarnya untuk saya tuangkan dalam tulisan adalah tentu saja hal-hal sederhana yang saya lihat atau alami sehari-hari. Karena saya pikir saya dapat lebih mudah menuliskannya... mengalir.

Suatu karya selain disukai, pastinya juga akan ada yang tidak suka, nahh.. seberapa besar pengaruh pujian maupun kritik terhadap kalian masing-masing?

Pujian itu seperti madu yang menyehatkan dan kritikan itu serasa obat yang menyembuhkan, eh udah pernah ditulis ya?

(Hehe..  Pak Kate ternyata kocak juga, gak salah kalau dulu pernah jadi negawaran Negeri Ngotjoleria :D ))

Fitri Yenti
Adalah wajar sebuah karya disukai dan tidak. Namun bagi saya sendiri pujian ataupun kritikan adalah pembelajaran terbesar untuk menempa pribadi saya. Baik kebijaksanaan saya menerima ataupun terhadap kualitas tulisan saya. Dari kritikan saya belajar bagaimana saya bisa menghasilkan karya yang lebih baik lagi hingga seluruh kemampuan saya tercurah. Dari pujian saya juga belajar untuk tidak cepat puas dengan pujian yang diberikan orang lain. Juga dengan pujian saya juga harus belajar bagaimana tetap menjadi diri saya, dan tidak besar kepala.

Seberapa besar pengaruh jenis bacaan yang dibaca dengan kualitas tulisan yang dihasilkan?

Besar atau tidak sangat relatif sekali, tetapi pasti akan mempengaruhi, minimal kualitasnya bisa seperti tulisan yang kita baca.

Fitri Yenti
Saya pikir seorang penulis juga adalah pembaca yang ulung, dan itu harus. Karena dengan membaca penulis mampu mengeksplor kemampuan berbahasanya dengan baik.

Ada pengalaman menarik selama menekuni dunia kepenulisan?

Bisa melalui banyak penderitaan dan mendapatkan kebahagiaan. Saat susah, dengan menulis banyak energi negatif yang bisa dilepas dengan menulis yang menguatkan. Kebahagiaannya, tatkala membaca komentar atau inbox pembaca yang berterima kasih karena tulisan kita telah membantu dan membangkitkan semangatnya. Terharu yang membahagiakan.

Fitri Yenti
Pengalaman menarik selama masuk dalam dunia menulis, saya rasa cukup banyak. Yang pasti saya menemukan sahabat-sahabat yang dengan mereka saya bisa terus belajar bahkan tidak hanya soal tulis menulis, tetapi juga pelajaran hidup yang menurut saya sangat berharga. Dan untuk itu saya juga bererimakasih buat teman-teman KF juga telah menjadi bagian tempat belajar bagi saya

Ada saran bagi mereka yang ingin menulis tapi merasa sering mandek dalam menyelesaikannya?

Harus ada keinginan yang kuat dan pemaksaan dari dalam hati untuk menulis. Tapi bukan keterpaksaan. Tulis saja tak usah memikirkan selesainya bagaimana, karena bila sudah memulai akan mengalir dengan sendirinya.

Fitri Yenti
Saran saya bagi teman-teman yang ingin menulis tetapi mandek adalah  jangan berhenti. Teruslah menulis. Percayalah selama kita fokus, konsisten dan komit insyaallah apapun bisa dihadapi dengan baik. Ketika sedang mandek, berhenti sejenak, tetapi tetap lakukan hal-hal yang bisa membangkitkan lagi gairah menulis. Membaca misalnya. Yang pasti jangan biarkan rasa malas menguasai diri kita berlama-lama.

**
Oke.. sip... Terima kasih banyak buat wawancara panjang kita kali ini. Terima kasih Pak Kate, Mbak Fitri atas kesediaanya di “interogasi” oleh kami. Dan mohon maaf kalau kelamaan dan kepanjangan, sebab asyik juga sih mengulik inspirasi dari kalian hehehe..

Semoga sukses dengan tulisan-tulisan selanjutnya ya...

Salam Fiksi