Monday, January 28, 2013

Petualangan Kasenda dan Twittwit 12


Kasenda menarik-narik ujung gaun kuning yang dikenakannya. Sebenarnya Kasenda menyukai warna kuning, apalagi kuning yang lembut, mengingatkannya pada warna langit ketika baris pertama sinar matahari muncul di pagi hari. Tetapi gaun panjang merepotkan berwarna kuning dengan bebunga biru dan merah, oho, itu jelas bukan sesuatu yang nyaman dan cantik di mata Kasenda. Untuk kesekian kalinya, Kasenda mengibaskan poni panjangnya yang menghalangi mata dengan kesal. Kepalanya mengangguk-angguk, serupa dentang lonceng di atap gereja, sementara tangannya sibuk menulis di atas sehelai kertas. Mobil yang dikendarai mama sudah hampir sampir sampai di rumah Astha.


“Selamat ulang tahun, Astha.” Kasenda mengangsurkan kado berpita besar kepada Astha, memaksakan memberikan senyumnya yang lebar, yang lebih terlihat seperti sebuah seringai. Dia memang tidak pernah menyukai Astha, sepupu cantiknya yang pesolek dan angkuh. Tetapi, yah, kita kan tidak mungkin memilih siapa yang akan menjadi sepupu kita, sama seperti memilih ikut ke pesta ulang tahun yang membosankan ini. Bicara tentang membosankan, nah, itu dia, gadis kecil berambut kaku dengan sepasang mata badam menukik naik ke atas. Juli, si rubah! Kasenda menarik nafas dalam-dalam.

“Halo, Kasenda. Cantik sekali bajumu. Beli dimana? Di pasar loak? Atau jangan-jangan, dari lemari nenekmu?” Juli, seperti biasa, tidak pernah memulai percakapan dengan sopan menanyakan kabar. Di sampingnya, Astha, sepupu Kasenda, sahabat Juli yang sama noraknya, terkikik-kikik sambil memegang segelas besar limun. Kasenda menggertakkan giginya, berusaha keras tidak memberi komentar pedas tentang pita rambut Juli yang sebesar lemari. “Sabar, Kasenda, sabar”, gumamnya dalam hati, “ingat akan misimu.”


“Masih suka bermain kotor-kotoran di bawah pohon, Kasenda? Kenapa? Tidak punya teman, ya?”

“Kasenda, dengar-dengar, katanya kamu bisa bicara dengan hewan? Jadi, bahasa apa yang kalian pakai?” Juli menggerak-gerakkan tangannya, meniru gerakan monyet sembari mulutnya mengeluarkan bunyi uw-uw-uw-uw.

Kasenda memilih diam dan memasukkan sepotong kue buah dengan sekali lahap ke dalam mulutnya. Dia memerlukan tambahan energi untuk tetap berdiam diri seperti ini.

Mendadak, Kasenda merasakan sesuatu yang dingin menyergap punggungnya. Kasenda menoleh dengan cepat. “Ups, maaf, aku tersandung”, si rubah Juli memamerkan giginya yang kecil-kecil runcing sambil memegang gelas limun yang kosong. Limun! Ini tidak ada dalam misi sebelumnya! Kasenda merasakan urat-urat di wajahnya menegang. Rasa panas menjalari lehernya, naik sampai ke kepala. Tanpa berpikir panjang, dia melangkah lebar-lebar ke arah Juli dan menarik rambutnya yang seperti ijuk kuat-kuat, sekuat tenaga Kasenda.

Juli menjerit. Astha memekik. Kasenda mendengar mamanya menyerukan namanya. Seseorang menarik tubuhnya ke belakang. Kasenda meronta, menyambar sesuatu yang paling dekat dengannya. Sesuatu seperti tongkat panjang di atas meja. Barangkali itu kado untuk Astha yang sedang berulang tahun. Kasenda tidak peduli. Kasenda hanya ingin mengejar Juli dengan tongkat tersebut, memukul mulutnya yang sombong agar tidak lagi mengejek orang lain.

Kasenda mengejar Juli ke halaman. Diayun-ayunkannya tongkat di tangannya. Tidak dihiraukannya bibi, paman, sepupu-sepupunya yang lain dan entah siapa saja yang mengejarnya di belakang. Kasenda juga tidak peduli gaunnya robek tersangkut semak pohon yang tajam. Dilihatnya Juli berlari memasuki hutan pinus kecil di belakang rumah Astha. Kasenda berlari, melewati pagar dengan sekali lompat, dan berbelok ke jalan setapak menuju hutan kecil.

Di ujung semak sebelah kanan, Kasenda melihat secarik kain bergoyang-goyang. “Itu pasti pita jelek si rubah Juli,” pikir Kasenda. Diayunkannya tongkat di tangannya ke arah pita ungu tersebut. “Kena kau!” seru Kasenda.

“Aduh!” sesosok kepala muncul dari balik semak-semak sambil mengaduh. Dan, itu bukan Juli! Itu… kurcaci?