Monday, October 3, 2011

Romantisme Sepeda

Gambar diambil dari sini
Wed 28/9 (10:14 pm)

Romantis.

Aku bukanlah orang romantis, namun itu tidak menghalangiku membayangkan hal-hal yang menurutku bisa dikategorikan romantis. Mungkin aku terlalu banyak menonton film ala Hollywood sehingga tanpa sadar, definisi romantisku dipengaruhi film yang pernah aku tonton.

Seperti misalnya, romantis itu menurutku ketika seorang pria membawakan bunga untuk kekasihnya, walau sampai sekarang aku masih belum bisa menentukan apakah lebih romantis bila ia hanya memberikan setangkai bunga, atau ketika ia menyerahkan sebuket bunga, hmm..

Selain bunga, coklat tentunya bisa menjadi simbol romantis, mengapa? Simpel aja, karena siapapun tahu coklat dan diet itu musuh bebuyutan karena dijamin sekali menggigit coklat, susah untuk berhenti hanya pada gigitan pertama sehingga tahu-tahu satu batang pun telah lenyap masuk ke dalam mulut dan bersemayam dalam bentuk lemak yang berdesakan di perut.

Jadi ketika pria membawakan coklat untuk kekasihnya, menurutku itu romantis, seakan ia sedang berkata, "Sayang, aku tahu kamu kuatir tentang berat badanmu bila memakan coklat ini tapi kebahagiaanmu lebih penting bagiku, jadi makanlah coklat ini karena aku pernah membaca bahwa coklat itu mengandung zat yang bisa memicu sel bahagia di dalam tubuh." Nah, yang seperti itu bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang romantis, bukan?

Romantis lainnya tentu saja berkaitan dengan makan malam diterangi cahaya lilin atau dalam bahasa yang lebih keren dikenal dengan nama candle light dinner. Bayangkan duduk berhadapan di sebuah restoran bernuansa temaram dan di antara kalian menyala sebatang lilin yang sinarnya memancarkan kehangatan di mata kekasih pujaan hati. Sambil menunggu menu pesanan tiba di meja, kalian berdua saling menggenggam tangan lalu menatap mata pasangan berusaha menembus masuk ke dalam jiwanya. Ahh, bahkan bintang di langit malam pun akan tersipu melihat kerlip yang jauh lebih terang di mata sang kekasih dibanding pancaran sinarnya!

Mau kutambahkan daftar romantis selanjutnya? Tentu saja yang termasuk super duper romantis itu adalah berciuman di bawah sinar rembulan dengan latar belakang menara Eiffel! Aww.. ini artinya kalian sedang berada di Paris, Kota Cinta, rasanya menghirup aroma udaranya saja sudah menggelitik diri untuk meluapkan rasa cinta yang membuncah dalam dada, belum lagi ditambah kelembutan sinar rembulan yang seolah merestui hubungan antar dua manusia yang sedang menunjukkan kasih di bawah sana.

Ahh.. akan ada banyak sekali romantis versiku yang terlalu panjang bila harus kujabarkan satu per satu yang mungkin hanya akan membuatmu bosan membacanya. Romantisme yang menari-nari dalam benakku ini mulai luntur ketika mataku menyaksikan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih sederhana namun membuatku tersentak ketika melihatnya karena di balik kesederhanaan itu aku bisa merasakan adanya cinta.

Kejadiannya bermula di suatu Rabu malam berbulan-bulan yang lalu, namun hingga kini aku tidak bisa mengenyahkannya dari pikiran yang membuatku mempertanyakan definisiku selama ini mengenai apa yang termasuk romantis.

Setiap Rabu malam di gereja dekat rumahku itu diadakan kebaktian tengah minggu yang dimulai pukul tujuh malam, biasanya memakan waktu paling lama dua jam. Malam itu dalam perjalanan pulang aku berpapasan dengan seorang wanita yang menilik dari wajahnya, aku menebak usianya di atas empat puluh tahun. Kami tidak saling mengenal satu sama lain, namun karena jemaat yang datang tiap pertengahan minggu biasanya hanya yang itu-itu saja, sebagai seorang pengamat dalam diam, lama-lama aku mulai menghapal wajah para jemaat tetap yang hadir di tengah minggu.

Si ibu berjalan keluar dari kompleks gereja dan matanya terlihat mencari. Tidak berapa lama kemudian senyum terkembang di wajahnya yang membuatku penasaran apa pemicunya. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, akhirnya menemukan sebuah sepeda yang dikayuh seorang bapak berkaus singlet datang menghampiri dan berhenti tepat di sebelah sang ibu yang kemudian duduk di jok belakang. Ibu itu melingkarkan tangan di pinggang sang bapak lalu menepuk pelan pundaknya. Bapak itu pun melanjutkan kayuhan pedalnya membelah angin malam yang cukup menggigit sementara mulutnya tetap mengisap rokok yang sesekali mengepulkan asapnya.

Melihat mereka, ada kehangatan yang menyebar dalam hatiku. Melihat mereka, membuatku melihat sesuatu secara berbeda mengenai apa romantis itu, karena menurutku mereka berdua itu terlihat romantis walau hanya mengendarai sepeda berboncengan tanpa cahaya rembulan ataupun kelopak mawar yang bertebaran.

Akhirnya aku menyadari bahwa romantis itu bukan tentang apa, melainkan dengan siapa, karena bersama dengan orang yang dicintai, hal yang sepele sekalipun bisa terasa romantis. Seperti yang temanku sering bilang, definisi romantis menurutnya adalah ketika berpapasan di lorong rumah lalu mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan penuh rasa cinta.

Ahh, cinta.. memang cinta itu bisa mengubah banyak hal. Jadi, apa definisi romantis versi kamu?

Wed 28/9 (11:10 pm)

-Indah-