Monday, September 26, 2011

Menggapai Surga Yang Hilang


Ext. Di Awang-awang
Seorang Ayah sedang merisaukan sebuah surga. Apakah ia akan kehilangan surganya atau akankah ia kembali menemukan Surganya.
Aku kembali dalam masa beliamu
 Aku selalu merindukanmu di ruang putih
Aku raba pintu itu, namun belum pernah terbuka
Tiga hal baru di jasadku




Close up.
Air matanya jatuh di pipi. Ia menerawang jauh ke dunia kanak Anggie, anandanya.

Cut to.
Int. Ruang keluarga di sore hari (flashback)
Camera tilt up: memperlihatkan jari-jari mungil yang lincah memainkan tuts-tuts piano.
                                      Begitu lihai kau sentilkan irama
                                       Menawan kau dansakan mereka
                                      Dengan ritme gelora mudamu

Flash cut to.
Int. Di sebuah panggung megah, Anggie 12 tahun memegang piala ke atas udara.
Di depan panggung:
Para juri dan para penonton riuh bertepuk tangan atas kemenangan Anggie di kompetisi se-Asia.
                                      Kami sang penonton
                                      Kami sang pecinta dentingan piano
                                      Kami menaruh hati padanya, ia begitu mengesankan..!!!
Flash cut to.
Int. Di panggung pentas seni. Malam.
                                      Aku menari ikuti nada  menghentakan
                                      Aku persembahkan tarian yang kugilai
                                      Aku sirap mata mereka hanya menikmati aku
                                      Aku rayu dengan liukan tubuh dan bibir yang tersenyum
Di kursi penonton:
Mereka tak terkedip menatap seorang Anggie  berusia 15 tahun, tapi sangat berkuasa memukau para penonton. Mereka penuh kenikmatan ikutin alunan dan gerak tari  Anggie, sang penari bak sang maestro.

Flash cut to.
Int. Ruang Kamar Anggie.
                                                Aku hirup ia dalam-dalam.
                                                Menapak dalam ketinggian
                                                Tinggi sekali. Entah di puncak apa
                                                Aku menjadi rabun. Rabun. Rabun !!!
                                                Putih…Hitam…putih…hitam…putih…hitam…
Flash cut to.
Int. Ruang kamar Anggie.
Sang ayah tergelagap melihat Anggie mengeluarkan busa putih dari mulutnya.
Bubuk ungu telah merenggut Anggie yang sedang merekah di usia 18 tahun.

Continous cut to.

Int. Lorong rumah sakit. Menjelang pagi.
Sang ayah dan para suster bergerak cepat membawa Anggie menuju ruang UGD.
                                      Perasaan  tak menentu.
                                      Aku cemas. Teramat cemas.
                                      Aku menangis sekuat-kuatnya.
                                      Aku menyesali kelalaianku.
                                      Jangan kau pergi dulu, anakku
                                      ………….Namun……………
                                      Dada ini sesak sekali.
                                      Detakku tak karuan.
                                      Jantungku. Ya, jantungku.
                                      Aku berhenti. Ya, tak berudara.
                                      Aku yang pergi, anakku.

cut to.

 Dua tahun kemudian.
Anggie telah merengguk ketatihanya dalam berperang dengan ke-silaman itu. Karenanya Ayahnya pergi sebelum ia memohon maaf pada sang ayah. Ia kini bersih. Putih kembali.
“ Aku akui aku masih rindu akan “ Si Ungu” itu. Hari ini adalah hari pertamaku untuk menari kembali setelah lama hanyut dalam penjaraku. Bolehkah aku mencicipinya sedikit saja, sebagai akhir pertemuanku dengannya dan untuk menyambut awal dari kebangkitanku”.
Ya aku hisap kau untuk terakhir kalinya, sekaligus menemaniku membuka halaman baru di rumah dunia yang terbaru.

Int. Di panggung pentas Kesenian Jakarta. Malam hari yang penuh terisi oleh pengaggum Anggie.
Penuh kilauan cahaya lampu menyoroti Anggie, dentingan suara piano pun terdengar lembut.anggie mengemulaikan tangannya pelan. Kaki kanannya ia geserkan ke samping perlahan. Ia tundukan kepala pejamkan mata. Dawai gitarpun menyabar keheningan itu. Kembali penonton bertepuk tangan.
                                                Mataku reflex terbuka
                                                Ku menatap jauh ke depan
                                                Suara senar gitar itu menghentakku
                                                Aku goyangkan tubuh mempesona
                                                Aku gesitkan kaki-kakiku melangkah
                                                Bagai kesurupan ku membius dansa
                                                Music semakin kencang di gendang telinga
                                                Semakin aku menggeliat dalam motion cepat
                                                Semakin berdecak penonton kagum kreasiku
                                                Semakin aku goncangkan tarianku
 Semakin ku goncangkan panggung
……..Lalu…….
Rabunku hadir kembali
Aku jatuh terkulai perlahan-lahan
Tak mampu ku hempaskan kemabukan ini
Kembali hitam…kembali putih…kembali hitam..putih…
Inilah tarian awal dari terlelapnya ku tertidur
Dan inilah ku dengar sorak penonton terakhir
Dan inilah tarian terakhirku
Aku mati, kawan..!!!

Cut to.
Ext. Di awang-awang.

Sang ayah kembali bermuram. Kini, berat rasanya menggapai surga yang hilang itu.
Tadinya, berpikir untuk tersenyum terus, tapi apa dayaku, ku tak mampu menghentikan adegan laku Anggie yang menghirup itu kembali. Dan inilah k pupus menggapai surga yang hilang atas Amanah Sang pencipta kepadaku.