Tuesday, September 20, 2011

Bila Mengenai Dia

gadis itu mengenakan bunga rumput di kepalanya, atau lebih tepatnya disela-sela rambutnya yang ikal dan menari-nari cantik dimainkan angin sore. dia. adalah dia. yang selalu aku kenal-kekal dalam sepanjang waktu-waktu yang sama-sama kami lewati. tidak lebih, tidak kurang. selalu masih dikisaran yang sama 24 jam, 1440 menit, 86400 detik jarak hitungnya yang sama dengan satu putaran hari.

itulah waktu-waktu yang berguguran, selalu saja demikian katanya, yang suka memperhitungkan dan mengamati dengan sejuta logika. nalar. nalar. nalar. ah, betapa aku masih ingat saat bersama bermain layang-layang dan dia mencoba mencari kemana angin bertiup. enggan membiarkan lepas bambu dan kertas sebelum tahu dan mengimani bahwa kami dapat membumbungkannya tinggi ke birunya langit.

sore ini kami duduk bersisian, seperti halnya beberapa senja yang sudah lewat. aku merenungi tatapannya, mencoba mncari tahu apa yang disimpannya dalam kepalanya. apa di sana? tanyaku. dia menelengkan kepalanya. yang mana? dia balas bertanya. yang ada di dalam pikiranmu. sahutku. [G|g]

ah, jawabnya. masih hal yang sama.

bila mengenai dia aku berjarak dengan nalar
menangkupkan tangan dikedua sisi kepala biar
menutup mata erat-erat lekat
membiarkan lamun-lamun datang menyesat
ada kekekalan yang melesat dalam pepat

entah akan kemana menanamkan rasa ini
yang datang berkala ketika rindu menjenguk sepi
yang bertandang di tingkap-tingkap malam tak bertepi

nyanyian itu bernama sunyi, yang main musik dengan
nyanyian itu bernama kenangan, yang menari dalam
nyanyian itu bernama hati, yang memeluk dengan
nyanyian itu bernama nafas, yang menghembus dalam

bila mengenai dia.
keluh.
peluh.
berpagut dalam satu irama yang masih sama
mendengarkan satu swara yang masih sama
semua masih (terlalu) sama.
mengapa? [G|g]

aku terpana. haruskah aku yang menjawabnya? tanyaku. dia menggeleng sambil tersenyum. tidak. itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban, bodoh! dan dia melempariku dengan angin senja yang melekat erat di sudut matanya. mari, katanya, kita harus pulang. jahitkan lagi belahan kita supaya tidak ada yang tahu bahwa kau punya entitas sendiri. itu rahasia kita.

maka, waktu bermain-main pun pupus sudah. aku mejadi dia, dia menjadi aku. satu. kini aku dapat merasakan rasanya. dia memandang ke dalam jiwaku dan dalam sembab itu kami tersenyum bersama. ah, jiwa dan hati, mari kita menyambungkan diri ke pikir yang sudah sama-sama kita bius hingga tertidur tadi, hanya agar kita dapat bermain di ruang kosongnya tanpa dia berteriak2 dan protes dalam ributnya yang mengganggu.

selamat menjelang sore, bisik kami, ketika ia membuka mata dan berpikir: ah, rupanya aku baru saja bermimpi tentang rindu? kami biarkan dia, dengan pikirannya. [G|g]

ditulis pada 16 maret 2009