Thursday, December 12, 2013

(Tips Menulis Fiksi) Karakter & Kejadian Dalam Cerpen

Kebanyakan cerpen kita memaparkan kejadian dan bukan manusianya sebagai pribadi. Apa yang mendorong orang menulis adalah mula-mula kerangka kejadian yang membentuk suatu pola plot tertentu, baru kemudian diisi dengan tokoh-tokohnya. Dan tokoh-tokoh yang dituturkannya kebanyakan bersifat “umum” bukan pribadi yang unik, bukan orang dengan perwatakan yang khas yang menempuh hidupnya di dunia ini.

Tokoh dalam fiksi kita kebanyakan “man in the street”, yakni bagaimana cara umumnya orang merasa, berpikir dan berbuat. Maka tak heran kalau perasaan tokoh cerpen atau jalan pemikirannya adalah perasaan dan jalan pemikiran pengarangnya sendiri sebagai orang awam. Ambillah sepuluh cerpen Indonesia, maka cara para tokohnya menghadapi persoalan yang dihadapinya sebagai konflik hampir sama saja yakni menurut pemikiran “umumnya”.

Inilah sebabnya dari segi karakter cerpen Indonesia kurang menonjol. Tetapi cerpen Indonesia kaya dengan kejadian yang aneka ragam. Setting cerpen terjadi di hampir setiap daerah Indonesia dengan ragam adatnya yang banyak itu. Yang dipentingkan dalam cerpen adalah “sesuatu telah terjadi”. Jadi cerpen dengan penekanan plot. Cerita muncul dari plot itu saja. Padahal cerita bisa muncul dari sebuah watak. Temukan sebuah watak yang agak lain dari gambaran umumnya, dan pilihlah konflik tertentu, maka akan terjadilah berbagai macam cerita. Juga cerpen bisa muncul dari segi setting-nya. Pilihlah suatu daerah yang lain dari yang lain, dan letakkan seorang tokoh di atasnya maka akan terbentuk berbagai cerita. Kehidupan rimba, kehidupan padang sabana di Timor, kehidupan di pantai laut Selatan, kehidupan penyelam mutiara akan sanggup memberikan begitu banyak konflik dengan tokoh spesifik atau tidak.

Jelas bahwa unsur “cerita” bisa dibentuk tanpa menemukan plot lebih dahulu. Cerita bisa terbentuk oleh desakan tema, desakan karakter dan desakan setting-nya. Apa yang perlu dicatat oleh seorang pemula dalam catatan kepengarangannya tidak harus sejumlah plot (mula-mula begini, lantas begitu dan akhirnya demikian) tetapi juga sejumlah watak yang spesifik dan aneh. Juga bisa persoalan-persoalan yang baru (tema).

Penggambaran tukang becak misalnya jangan hanya terbatas pada “pengetahuan umum” tukang becak yang awam saja, tetapi menyelami sampai ke inti hakikatnya sebagai penarik becak yang membedakan dengan pekerjaan lain. Dan masing-masing tukang becak tidak harus merupakan gambaran yang “biasa” saja seperti kita lihat sehari-hari, tetapi pilihlah yang berkarakter. Entah itu dalam bidang kejujuran, keberanian, kebijaksanaan atau keluhuran budi. Gambaran yang beginilah yang menarik. Gambaran yang awam saja sudah sangat membosankan. Tukang becak yang bijak, misalnya, cukup mengesankan. Atau guru yang kejam justru mengesankan daripada cerita guru yang rapih, alim, bijaksana dan sebagainya. Problem manusialah yang penting. Kalau ada guru kejam, nah inilah baru masalah. Kalau ada guru alim, memang sudah jamak. Tetapi guru atau pendeta yang di luar ukuran umum itulah yang menjadi masalah. Dan karenanya menjadi cerita yang menarik.

Cerpen kita umumnya menggambarkan seorang pendeta alim dan bijak, guru seorang sopan dan penuh tutur, seorang ibu penuh perasaan dan sebagainya. Bahkan cara menggambarkan reaksi pun hampir sama dan awam. Kalau orang tersinggung dalam cerpen dia akan marah-marah seperti umumnya orang marah. Padahal banyak cara atau manifestasi orang marah. Marah tidak hanya berkata keras dan kasar. Ada orang marah dengan cara yang sangat lain: berdiam diri dan kepala batu. Nah inilah baru karakter yang menarik buat sebuah cerpen.

Lepaskan penggambaran tokoh secara awam dan umum. Manusia “umum” dan kebanyakan kurang menarik, tidak membuat cerita. Manusia yang unik dengan berbagai segi wataknya itulah yang menarik dan akan mengesankan. Setelah kita melihat sekian banyak film cerita maka yang kita ingat lama bukan ceritanya, tetapi karakter-karakternya, cara para bintang membawakan peranan wataknya. Ciptakan karakter, maka terciptalah cerita.

(Sumber Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen karya Jakob Sumardjo)