Wednesday, October 23, 2013

(Berbagi Pengalaman) Kalah lagi? Ikut Lagi!

Oleh Endah Raharjo

Mengarang cerita telah jadi bagian penting dalam keseharian saya beberapa tahun belakangan. Dari  satu novel, puluhan cerpen, dan beberapa cerber yang pernah saya tulis, ada dua cerpen yang proses menulisnya mau saya bagi di sini. Mengapa hanya dua? Sebab dua cerpen itu dimuat di salah satu majalah yang cukup populer di Indonesia. 

Sudahlah. Tak perlu diperdebatkan. Pembaca dan penulis (masih) lebih menghargai tulisan/karangan yang diterbitkan oleh penerbit major dan media cetak (majalah, koran, jurnal) daripada tulisan/karangan yang terbit indie atau diunggah di media online. 

Dua cerpen itu (Lelaki dari Masa Lalu dan Perempuan di Samping Tangga) awalnya hanya ndongkrok di folder “Fiksi” di dalam laptop. Entah kapan nulisnya, saya lupa. Perjalanan mereka dari folder laptop hingga diterbitkan di majalah mau saya bagi dengan sobat-sobit Kampung Fiksi. Begini…. 

Lelaki dari Masa Lalu (LML)

Suatu hari LML saya baca lagi dan saya poles sedikit: alurnya dan bahasanya. Pemolesan butuh kira-kira 4 jam, dengan disambi mengerjakan hal lain. Saat melakukan editing itu, saya tidak berpikir untuk mengirimnya ke media cetak.  Sebelum tuntas, saya minta anak saya untuk membaca. Ya. Dia memang selalu jadi first reader saya, sebab dia baik hati dan jujur. Dia menyarankan agar bagian akhir dipotong satu alinea, “Untuk nambah efek drama”, katanya. Saya ikuti sarannya.

Beberapa hari kemudian (November 2012), cerpen itu saya kirim ke majalah lewat surel. Sudah. Tidak saya pikir lagi, sebab saat itu saya sedang menulis cerita lain untuk lomba cerita bersambung. 

Dua bulan berikutnya. Beneran! Dua bulan, pembaci-pembaca! Saya menerima surel konfirmasi dari majalah itu. Isinya: bahwa cerpen saya sudah diterima dan diminta menunggu kabar maksimal 4 bulan bila cerpen layak muat. Wadoh. Bayangkan! Lama! 2 + 4 = 6 bulan. Hanya untuk sebuah cerpen. 

Syahdan, minggu pertama bulan April (3 bulan dari saat saya menerima surel konfirmasi) saya menerima telepon dari majalah itu. Mengatakan kalau cerpen saya akan dimuat di edisi minggu terakhir April. Eeeng … iiing … eeeeeeeng ….! Diiing … deeeng …! Saya senang. Pasti! 

Selain surel konfirmasi, saya juga harus menandatangani surat pernyataan bermeterai bahwa cerpen saya karya asli, bukan plagiat. Surat itu harus dikirim kembali via pos. 

Honornya? Lumayan. Kasih tahu nggak, ya? Anu … Rp 810.000. Lumayan kan? 

Perempuan di Samping Tangga 

Nah. Begitu dimuat satu, saya ketagihan. Folder ‘Fiksi’ saya ubek-ubek lagi. Ketemu yang menurut saya cocok untuk majalah itu. Cerpen lama itu (yang ditulis saat saya kangen Ibu) saya edit lagi. Proses berulang. Persis. 

Setelah siap langsung saya kirim lewat surel. Dua bulan kemudian, saya ditelepon oleh majalah itu, mengabarkan kalau cerpen saya akan dimuat lagi. Kali ini tidak ada prosedur njelimet seperti cerpen pertama. Lebih cepat (hanya dua bulan dari pengiriman) dan praktis (tidak ada surel konfirmasi dan surat pernyataan yang saya tanda-tangani).

Ini dia persoalannya. Saya janji untuk jujur. Jadi, sejujurnya, dua cerpen itu bukan favorit saya. Cerita syahdu semacam itu, lembut-mendayu, kurang kena; bukan ‘passion’ saya. Yang saya sukai adalah tokoh perempuan keras, berani, angkuh, cerdas, dan mandiri. Kalau bisa: janda!

Maka, setelah cerpen kedua itu, muncul hasrat untuk bereksperimen. Cerpen ketiga saya pilih yang sedikit keras. Tentang apa? Rahasia. Tidak keras-keras banget, kok. Si cerpen itu saya kirim Juli lalu. Kira-kira 3 bulan lalu. Dan … belum ada kabar sama sekali! 

Apa artinya? 

Sebelum menyimpulkan, ingin saya bagi obrolan saya dengan tiga tokoh di bidang sastra. Saya sebut tokoh sebab mereka memang mumpuni serta punya pengalaman dan pengetahuan memadai.

Gunawan Maryanto (cerpenis, penyair pemenang KLA, pegiat/sutradara teater yang sudah sering pentas dan karyanya dipentaskan di panggung nasional). Suatu hari saya cerita tentang cerpen yang tidak saya sukai tapi justru dimuat di majalah. Ya, dua cerpen itu. Katanya, di situ salah satu tantangan dan ketegangan menulis/mengarang. Pengarang harus bisa – saya ulang: harus bisa – menjembatani antara hasrat personal dengan keinginan publik (pembaca, penerbit, majalah/koran). “Mungkin saja ada pengarang yang sudah sangat terkenal yang hanya mengikuti passion-nya, tapi aku yakin tidak ada yang seperti itu. Sebuah karangan pasti melalui proses tarik-ulur antara hasrat pengarang dengan keinginan publik,” ujarnya.

Yang kedua, saya bertemu dengan seorang professor sastra, Faruk HT, di tempat cuci mobil. Beliau tetangga saya. Sambil menunggu, kami ngobrol. Beliau sudah membaca sebagian novel pertama saya, Senja di Chao Phraya. Katanya, secara teknis tulisan saya sudah dinyatakan lulus dengan nilai bagus. Namun itu tidak cukup. Agar cerita bisa diterbitkan penerbit major dan dimuat di majalah/koran ternama, pengarang harus rajin mengamati gaya cerita penulis lain yang karyanya sering dimuat di koran/majalah atau diterbitkan oleh penerbit. “Kompas, misalnya, cerita-cerita yang dimuat saya amati selalu beraliran magic-realism. Seperti karya-karya pengarang Amerika Latin.”

Saya manggut-manggut. “Untuk koran, bisa kritik sosial. Pengalaman-pengalamanmu di lapangan itu. Jadikan cerita. Atau sekalian berani bereksplorasi. Tulis yang benar-benar beda. Tapi itu sulit,” tambahnya, mengepulkan asap rokok. Saya terbatuk-batuk.

Sebenarnya ada lagi yang dia sampaikan. Hayo! Jujur, janji saya. Oke! 

Profesor berambut ikal agak gondrong itu – tapi sudah menipis – mengatakan kalau menurut pengamatannya majalah-majalah wanita sudah ketinggalan jaman. Para penerbit pun tidak lagi melirik cerita-cerita di majalah-majalah itu untuk dikembangkan dan diterbitkan jadi novel. Tidak seperti abad lalu (percaya saja, soal abad ini tambahan saya, bukan omongan beliau). Kalau ingin lebih ‘mainstream’ lagi, di abad ini, cara yang lebih jitu adalah: ikut lomba! Sekarang jamannya memang begitu. Penerbit-penerbit major silih berganti mengadakan lomba. Ikuti. Jangan ragu. Kalah? Ikut lagi. Kalah lagi? Ikut lagiii … 

Kalau masih kalah juga? Tidak apa-apa. Tidak ada buah karya yang sia-sia. Bisa diunggah di blog, meskipun tak banyak pasti ada penikmatnya. 

Yang ketiga siapa? Beliau seorang professor emeritus: Bakdi Soemanto. Dalam sebuah forum diskusi membahas karya sastra Romo Mangunwijaya (salah satunya trilogi Rara Mendut-Genduk Duku-Lusi Lindri), beliau mengatakan bahwa saat menulis Romo Mangun tidak membatasi diri dengan genre atau rambu-rambu lain yang biasa dipakai kritikus. “Menulis saja. Tentu harus punya tema dan memerhatikan tata bahasa dan aturan teknis lain yang berlaku. Tapi perkara genre, gaya bertutur, dan hal-hal seperti itu bukan tugas pengarang untuk memusingkan. Itu urusan para kritikus,” pesannya pada hadirin. 

Memang benar. Ada banyak genre. Dan gaya bertutur itu semacam DNA, masing-masing penulis/pengarang punya ciri khas. 

Lalu kesimpulannya? 

Kira-kira begini. Untuk menghasilkan karangan yang disukai pembaca, seorang pengarang selain harus menguasai teknik dasar menulis, juga wajib:
Mengamati perkembangan karya pengarang lain yang dimuat di majalah/koran atau diterbitkan penerbit. 
Menyesuaikan karangannya dengan selera pembaca/majalah/koran dan penerbit. Menyesuaikan, bukan mengikuti. Beda, lho!
Berani mengeksplor imajinasi. Nekat tampil beda. Tidak malu unjuk gigi.
Rajin mengikuti lomba. Bila menang, itu ibarat tiket ke surga … ehhh… tiket sukses jadi pengarang.
Karangan jangan langsung dikirim. Edit, tulis-ulang, cari first reader untuk minta masukan, reka-ulang (kayak tindak kriminal aja, ya?). 
Menulis saja, dengan riang gembira, tak perlu risau nantinya mau jadi apa. 

Begitulah. Yang mau cerpennya dimuat di majalah, segera beli majalahnya, amati cerpen-cerpennya. Yang ingin masuk koran, langganan koran Minggu. Atau rajin nyambangi blog-blog yang mengunggah cerpen-cerpen yang pernah dimuat di koran. Yang mau menang lomba, ya ikut lomba. 

Terus? Gimana nasib cerpen ketiga yang sudah dikirim itu? Jangan nanya kayak gitu, saya jadi sensi! Kalau nggak dimuat, pasti akan saya pajang di blog. Tunggu aja!

***

Catatan: penjelasan tentang aliran magic-realism banyak tersedia di internet. Googling aje, yeee…!