Sunday, September 8, 2013

[Unofficial Review] Sekilas Kesan Tentang Labirin Rasa, Karya Eka Situmorang-Sir

Hallooo selamat siang para #Fictionholic yang sedang membaca tulisan ini, apa kabar? Sudah lumayan lama nggak nulis di blog tersayang ini. Nah, siang ini, saya bakalan memulai sebuah tradisi saya untuk menuliskan kesan-kesan terhadap novel-novel yang sudah saya baca. Saya cuma akan menulis kesan tentang novel yang memang benar-benar saya sukai saja, hehe... Sepenuhnya ini soal selera belaka. Jadi..santai-santai aja baca postingan ini ya, tapi, yang pastinya, secara pribadi saya sangat merekomendasikan buku yang berikut ini!

Sekitar 21 jam yang lalu, (sekarang jam 15:15 di Minggu 8 September 2013), saya mulai membuka dan membaca Labirin Rasa, yang ditulis oleh Eka Situmorang-Sir.

Labirin Rasa bercerita tentang petualangan seorang perempuan muda bernama Kayla untuk mengejar dan memperjuangkan cintanya serta perjalanannya ke beberapa daerah wisata di tanah air tercinta ini. Pertanyaan yang menarik dari novel ini adalah, seberapa besarnya keberanianmu untuk mengejar apa yang sungguh-sungguh kamu inginkan dan apakah yang kamu inginkan memang yang terbaik untukmu?

Kalau kepingin tahu apa jawaban dari pertanyaan tersebut melalui versi Eka Situmorang-Sir lewat petualangan Kayla, ada baiknya beli dan baca sendiri novel ini. Haha!

Berikut ini, beberapa catatan perkembangan kesan saya selama membaca novel ini:

(21 jam yang lalu) 1. Sedang baca #LabirinRasa karangan Eka Situmorang Sir alias @CeritaEka. Baru sampai halaman 29 nih, tapi sudah menyukainya, yaiy! Bahasanya lincah dan tokoh utamanya si Kayla itu, aduuuuh ini buku ya kalo dijadiin film animasi ala holiwut gitu wakakaka...gw bisa ngebayangin deh si Kayla ini gimana. Entah ya, kok gw ga bisa ngebayangin FTV atau film layar lebar indonesia, tp lebih suka kalo dibuatnya film kartun ala2 Ratatouille gitu, sepertinya sih ini pengaruh nonton film animasi melulu gara-gara si Leia :))) Tapi, beneran deh....Pasti lebih seru kalo film animasi, bisa nangkep dengan pas sosok si Kayla inih, hadeuh Eka, coba ini novel grafis, wakakaka, kebayang ekspresi2 manga di Kayla!!!  Yang menyenangkan, pilihan kata-katanya Eka, menyegarkan bagi gw, sebab dia bener-bener kaya dengan pilihan kata bahasa Indonesianya. Urusan typo, mm...itu tim editorial penerbitnya yg sembrono dunk :'/

(20 jam yang lalu) 2. Wokei, ini namanya kesan pertama yg mengesankan :)) Semoga perjalanan selanjutnya gw makin suka yak. Tapi, gaya menulis Eka gw suka, suka dengan masukan bahasa daerah (njawa) yang dipakainya secara pas tanpa terasa terlalu maksa menjawa-jawakan gitu lah, meskipun beberapa catatan kaki ituh kayaknya nggak perlu-perlu banget sebab itu istilah2 yg nggak terlalu asing di telinga, sering dipakai dalam pergaulan kita juga gitu... #LabirinRasa

(19 jam yang lalu) 3. Udah sampe hal 106, dan mulai merasa, astagaa, haha, ini kayak baca cerita-cerita di Hai jaman SMA duluuu... itu loh mirip2 sama gaya berceritanya.. hadeuh siapa namanya, cowok yg suka bertualang itu :') Kok malah lupa nama dia, wkwkwk... Nggak membosankan sama sekali baca si Kayla jalan-jalan, dan kali ini ketemu sama Dani, ahahaiiiy, satu lagi cowok cakep yang bisa dijadiin gebetannya Kayla, wkwkwk, go! go! go! Kayla! nah kalo mau baca cerita galau yang seru dan bikin ketawa-ketawa, kayaknya ini dia bukunya. Lanjuuuut!

(5 jam yang lalu) 4. #‎LabirinRasa‬-nya Eka, sudah dibaca sampai habis! Yap, hanya dalam waktu sehari aja selesai. Dan vonisnya? Novel ini...... KEREN PAKE BANGET! Ha! 

Saya memuji bukan karena kenal sama penulisnya, biasanya justru susah jadinya mau muji karena dikira karena kenal/teman, tapi yang ini seratus persen karena nggak nyangka Eka ternyata penulis novel jempolan. Kalo kalian suka baca novel-novel lawas tahun 70-80an, dimana dunia novel Inodnesia sedang asyik-asyiknya, nah, gitu itu deh cara bercerita si Eka ini. Pokoknya keren karena mengalir begitu lancar, dan dialog-dialognya juga natural, sekaligus lucu dan cerdas banget tik-tok-nya. 

Mungkin juga karena saya suka Kayla yang benar-benar terasa sebagai perempuan bebas. Dia nggak dikungkung sama kegalauannya melulu. Sebab dia punya cara jitu mengusir kegalauan, yaitu jalan-jalan, wahahaha.... Jadi, kita yang baca nggak bakalan disuguhi kerumitan pikiran Kayla, tapi justru disuguhi tempat-tempat seru yang dikunjungi oleh Kayla dan bagaimana aksi-aksi Kayla di tempat-tempat tersebut.

Walaupun obsesi Kayla terhadap sang pacar, Ruben, nggak bisa dianggap enteng, tetapi Eka berhasil menjauhkan Kayla dari kencenderungan mengasihani diri-sendiri yang seringkali dipakai dalam banyak cerita galau untuk menarik simpati pembaca. Kayla nggak memerlukan hal itu, memang, sebab kepribadian Kayla sendiri sudah sangat menarik hati, bagi saya setidaknya. Dia terbuka, dia suka tertawa, dia mudah memandang dunia dari sisi apapun dengan penuh humor, dia tidak takut pada tantangan, dia percaya diri dan dia mengejar apa yang diinginkan, dia juga bukan perempuan super, sebab, dia cukup bodoh untuk jatuh cinta mati-matian dengan seorang seperti Ruben, tetapi cukup pintar untuk menyadari cinta sejati itu yang semacam apa.

Dalam novel ini, selain membawa pembaca ke beberapa kota di Indonesia (Jogja, Malang, Bali, Lombok, Makasar dan Medan), Eka juga membawa kita bertemu dengan berbagai tipe manusia yang ditemui oleh Kayla. Cinta dan sekedar bermain cinta, bisa jadi beda-beda tipis. Sebab kalau cinta diukur dengan sekedar ciuman dan bobo bareng, hmm... dengan mudahnya hal itu tentu bisa didapatkan di mana saja dan dengan banyak sekali pihak yang ternyata bersedia untuk mengakomodirnya.

Eka juga secara cerdik menyelipkan sebuah puzzle dalam seluruh rangkaian cerita ini, yaitu surat wasiat yangkung tentang Pangeran Fajar, si calon suami Kayla yang misterius itu. Kayla harus menyusun sendiri keping demi keping puzzle itu agar akhirnya sesuai dengan gambaran yang digambarkan di dalam surat wasiat tersebut.

Hadeuuuh, sebenernya ya, novel ini sangat 'kaya' ide, tapi dengan begitu mudah dapat dicerna saat dibaca. Saya sendiri, begitu masuk ke halaman 30-an, sudah memutuskan untuk mempercayai Eka untuk menuntun saya menjalani novel ini. Saya sudah diyakinkan untuk mengenakan helm 'suspension of disbelief' saya dan menikmati ceritanya, sebab saya percaya dalam dunia Kayla segala hal yang terjadi memang terjadi. 

Yang menyegarkan dari Labirin Rasa adalah cara Eka menuntun pembaca mengenali akar-akar Kayla. Dibawanya dahulu kita ke jogja yang mistis, lalu kemudian diterjunkannya kita ke Medan yang tangguh itu. Bagaimana penulisnya menggiring kita menuju ke jodoh akhir Kayla dan the magic word 'pariban' itu, walaupun sebenarnya sudah dapat diduga (karena ini cerita roman) tetapi sama sekali tidak mengurangi kejutan menyenangkan di akhir cerita. 

Pokoknya, kalo saya bener-bener suka sebuah novel, bisa panjang deh nyerocos tentang novel itu, wkwkwk. Angkat jempol banget2 buat Eka, dan buat yang mau minjem novel ini, sori, ini salah satu novel yang bakalan saya baca ulang, jadi, silakan beli sendiri yak :)))

***

Kalau ada yang bertanya, kira-kira apa kekurangannya? Saya nggak bisa bilang apa-apa, sebab bagi saya ini soal apakah saya menikmati membaca novel ini atau tidak? Jawabannya adalah saya menikmatinya dan nggak merasa ada yang kurang menyenangkan dari seluruh perjalanan membaca novel ini. Kalaupun saat membaca ulang nanti saya baru bisa menangkap kurang-lebihnya dengan lebih obyektif, well...mari kita serahkan saja itu untuk waktu yang akan datang.

Untuk saat ini, saya puas banget baca Labirin Rasa, itu aja. Thanks Eka, sudah menulis sebuah cerita yang kaya rasa dan penuh humor serta informasi-informasi yang bikin ngiler pingin jalan-jalan ke Taupo, New Zealand dan bulan madu jugaaa, aaaack!