[Cerpen Ria Tumimomor] Dua Wanita

KRIIING!!!

Dering tajam weker digital itu dengan kejam membangunkan Meyda di pagi buta. Sambil menggeram ia berusaha meraih weker tersebut. Tangannya meraba-raba permukaan meja di sisi ranjang.

Dimana sih weker brengsek itu, rutuknya dengan kepanikan yang mulai menjalar. Belum sepuluh menit ia berhasil menidurkan Beni yang sedang rewel, mau tumbuh gigi pertamanya. Jika weker itu tidak segera dimatikan, tamatlah dunianya pagi ini.

Ah! Meyda meninju bantalnya begitu mendengar tangis Beni berlomba dengan suara weker. Matanya terbuka lebar sekarang walau tubuhnya masih terasa remuk redam. Diraihnya Beni ke dalam gendongannya.

Dipaksakan dirinya agar mengikuti perintah otaknya untuk segera bangun dan menyalakan lampu kamar. Nyaris saja ia tersandung. Baru disadarinya kalau kedua anaknya yang lain tengah tidur di kamarnya. Sulit dipercaya, pikirnya sambil menggelengkan kepala, bagaimana mungkin kedua anaknya itu sama sekali tidak terbangun? Dia lebih geleng-geleng kepala lagi saat menemukan weker berisik itu ada di lantai tergeletak dekat kasur lipat Putri, anak sulungnya. Cepat-cepat dimatikannya weker itu.

Sekarang hanya ada satu keributan yaitu tangisan Beni. Sambil menenangkan bayinya, dia harus membangunkan dua makhluk yang manis-manis ini agar tidak terlambat ke sekolah.

"Putri, Aditya, ayo bangun!" tangannya memegang bahu Putri dan menggoncangnya, lalu menarik selimut mereka. Mereka mengusap-usap mata sambil mengeluh kurang puas tidur. Putri terlihat lebih sigap, ia langsung membenahi kasur tipis yang ia gunakan dan memeluk ibunya. Meyda merasakan hatinya hangat sekaligus terharu melihat anak gadisnya yang baru saja hendak beranjak remaja itu. Sejak kelahiran Beni, Putri langsung mengambil alih tugas ibunya untuk menyiapkan sarapan bagi dirinya sendiri serta Aditya.

"Ibu, kenapa sih adek hanya bisa nangis melulu?" terdengar suara Aditya menggerutu dan ia pun menyusul Putri, tanpa membereskan kasurnya. Sayup-sayup terdengar suara Aditya dan Putri berebut kamar mandi. Meyda menarik nafas panjang.

Ia sadar, tidak realistis bila mengharapkan Aditya bersikap seperti Putri. Selain karena perbedaan usia mereka, Aditya juga kelihatan cemburu dengan kehadiran Beni. Kelakuannya sering menguji batas kesabaran Meyda. Aditya juga rindu pada ayahnya. Akhir-akhir ini suaminya sering menginap di kantor karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Tak jarang siang hari ia baru pulang lalu dihabiskannya dengan tidur karena kelelahan. Suaminya sudah jarang bertegur sapa dengan anak-anaknya. Terbersit di hatinya selentingan miring, ada perempuan lain di luar sana.

"Tidak mungkin," ia mengibaskan tangannya lalu mengecup kening Beni yang akhirnya tidur dalam pelukannya.

Untuk kebutuhan sehari-hari saja mereka sudah kembang kempis, jadi bagaimana mungkin suaminya bisa mempunyai wanita lain di luar sana? Dengan hati-hati diletakkannya Beni di atas tempat tidur. Lalu bergegas keluar kamar untuk melihat apakah kedua kakak Beni sudah siap untuk berangkat ke sekolah.

Putri telah selesai menyiapkan sarapan dan juga sudah siap berangkat ke sekolah. Namun Aditya masih belum memakai seragam sekolahnya dan sedang mengunyah sarapannya dengan malas-malasan. Putri mendesaknya agar bergegas. Suara Putri terdengar kesal. Sebelum ada pertempuran berikutnya, Meyda langsung menyuapi Aditya, dia memang lebih muda empat tahun dari Putri yang kini sudah kelas tujuh. Sambil makan, Meyda membantu Aditya mengenakan seragamn.

Ketika Aditya berlari ke kamar untuk mengambil ranselnya, Meyda menghampiri Putri dan merangkulnya erat. Tak lupa ucapan terima kasih diberikan pada anak sulungnya yang terlihat senang dan balas memeluknya. Meyda melepaskan pelukan tepat ketika Aditya muncul dari kamar dan berpamitan padanya. Sekali lagi ia memeluk kedua anaknya dan berpesan agar hati-hati dalam perjalanan ke sekolah. Keduanya mengangguk dan melupakan pertengkaran sebelumnya, mereka saling bergandengan tangan berangkat ke sekolah.

Yang ada sekarang hanya suasana sepi.

Meyda menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Oh, betapa inginnya ia merokok pada saat lelah seperti ini. Kebiasaannya sewaktu bekerja yang ia tinggalkan agar tidak memberikan racun pada anak-anaknya. Setidaknya itulah yang dituntut oleh suaminya dari sekian banyak tuntutan lain. Tapi, tidak berarti ia menyesal melepaskan pekerjaannya. Seraya tersenyum ia menuju kamar mandi dan mengambil ember berisi cucian. Harus segera ia selesaikan sebelum si kecil Beni kembali terbangun. Tertatih-tatih ia membawa ember tersebut ke halaman depan rumahnya dan meletakannya di dekat keran air. Didorongnya kursi plastik kecil untuk tempatnya duduk dan ia pun mulai mencuci. Meyda mendongak ketika terdengar suara pintu pagar tetangganya bergeser dan suara yang menyapanya. Pasti Yani tengah bersiap memburu omprengan agar bisa sampai di kantornya, pikir Meyda sambil melemparkan senyuman balik dan melambaikan tangan. Busa-busa sabun yang berada di tangannya langsung menjalar turun membahasi lengannya.

Yani memandanginya sejenak dan melambaikan tangan sebelum berpaling melanjutkan perjalanan. Meyda menghentikan kegiatannya dan memandanginya langkah-langkah panjang Yani. Teringat olehnya ia pun dulu seperti tetangganya itu. Dimana ia harus terbirit-birit berangkat ke kantor dan panik jika ada macet atau kendaraan yang ditumpanginya mogok. Pusing jika melakukan kesalahan dalam pekerjaannya dan harus menghadapi kemarahan atasannya. Lalu setelah semua kejadian buruk di kantor ia harus berjuang lagi kembali pulang ke rumah melewati macet. Oh, tidak dirindukannya sama sekali kehidupannya itu. Meyda menganggukkan kepalanya dan dengan sekuat tenaga mulai mencuci pakaian yang bertumpuk di ember. Inilah kehidupannya sekarang, mempunyai tiga anak yang manis dan bersuami. Apa lagi yang ia butuhkan, pikirnya dengan tersenyum. Senyuman itu lenyap ketika di dengarnya tangisan Beni dan dengan tergopoh Meyda pun meninggalkan cuciannya dan berlari ke dalam rumah.

***

KRIIING!!!

Yani mengeluh gusar dan meraih selimutnya ke atas kepalanya. Siapa sih yang menelepon di pagi buta begini?! Lagipula kenapa juga tidak ia matikan alat komunikasi brengsek itu? Dan setelah dipikir-pikir siapa sih yang telah menciptakan handphone? Sekarang atasannya selalu menganggunya lewat alat komunikasi yang menyebalkan itu. Dulu ia senang ketika mendapatkannya dari kantor sebagai fasilitas pekerjaannya. Tapi, sekarang ia merasa tergoda untuk meraih handphone tersebut dan melemparnya ke ujung kamarnya. Tangannya meraba-raba dibalik bantal dan akhirnya ditemukannya handphone tersebut. Oh, sial... Ternyata benar aku lupa mematikannya tadi malam! Matanya masih terlalu pedih untuk menatap layar handphone tersebut dan karenanya ia memencet tombol oke. Belum sempat ia menyapa ketika terdengar suara cempreng dari handphone-nya.

"YANIII!! Ala makjan! Masih tidur elo! Katanya mau dijemput sama gue... Awas ya kalau sampai gue harus menunggu di depan gang rumah elo!"

Ampun deh, matanya saja masih mengerjap-ngerjap dan ia sudah diberondong dengan kata-kata sepanjang ini. Ia pun mengatakan pada temannya agar jangan khawatir karena dirinya yang akan menunggu disana. Dan sebelum temannya berkicau kembali ia pun langsung memutuskan sambungan. Rasa mengantuk Yani pun hilang ketika dilihat pukul berapa sebenarnya pagi itu.

"Masih jam lima kurang dan ia sudah menjerit-jerit seperti itu?" gerutunya seraya duduk di tempat tidurnya dan menggeliat. Tangannya merayap ke meja di dekat tempat tidurnya dan menyalakan lampu baca miliknya. Penerangan yang tidak seberapa itu memberikan pemandangan apa yang telah terjadi semalam. Gelas dan kaleng minuman ringan serta bungkusan yang masih menyisakan kacang goreng.Tidak hanya itu yang ditangkap oleh matanya saat ini. Tapi juga beberapa bungkus DVD nampak berserakan di lantai tanpa sempat ia bereskan sebelum tidur. Yani menguap dan merosot ke lantai untuk mulai merapikan sisa-sisa kegembiraan menonton film tadi malam. Ia menyeringai ketika mengingat pukul berapa tepatnya ia tidur akibat film drama Korea yang ia tonton. Film-film seri itu benar-benar membuatnya kecanduan dan sering lupa waktu. Mereka tahu memotong cerita di bagian yang tengah seru-serunya. Memaksanya untuk terus melanjutkan lagi, lagi dan lagi hingga matanya lelah. Diletakkannya DVD tersebut dan ia mulai melakukan peregangan. Masih ada waktu baginya untuk gerak badan sedikit sebelum mandi. Untung ia hanya perlu sarapan roti dan sebaiknya ia bungkus saja untuk dimakan di kantor. Yani dan temannya selalu berangkat sepagi mungkin sehingga mereka selalu tiba lebih dulu di kantor. Sempat terpikir olehnya untuk membawa bantal agar bisa melanjutkan tidur pagi di mobil temannya. Tentu saja usul tersebut di tolak mentah-mentah. Ia tersenyum sendiri membayangkan bahwa resikonya mereka bisa jadi akan kebablasan tidur di dalam mobil sehingga terlambat masuk kantor. Konyol, jadi ia tidak mau mengambil resiko.

Yani beranjak ke ruang tamu dan membuka gorden sedikit. Rumah ini akan kosong seharian dan karenanya ia hanya akan membuka jendela sebentar agar udara pagi bisa masuk. Tapi bukan hanya udara pagi yang masuk, namun kehebohan di rumah tetangganya sayup-sayup terdengar. Oh ya, dia ingat ada bayi kecil lagi yang hadir di dalam keluarga itu. Yani menggelengkan kepala dan mengangkat bahunya, berpikir mengapa tetangganya tidak merasa cukup dengan punya dua anak. Sebenarnya mereka terpikir atau tidak sih kalau biaya merawat anak luar biasa besar di jaman sekarang ini? Apakah tidak akan kasihan jika mereka sampai putus sekolah karena ternyata orangtuanya tidak mampu? Lho, kenapa jadi dirinya yang repot memikirkan hal tersebut, Yani berpikir dengan heran. Tapi ia tahu mengapa alasan hal tersebut menganggu hatinya.

Beberapa hari yang lalu ketika Yani menyetorkan uang kontrakan tahunan kepada induk semangnya, ia disuguhi tidak hanya cemilan dan minuman tapi juga gosip mengenai tetangganya. Sang induk semang berusaha memancingnya apakah Yani pernah mendengar keributan dari rumah tetangganya tersebut? Yani yang sudah terlatih untuk memasang wajah sepolos mungkin mengatakan ia tidak mendengar apa-apa. Ia tidak bohong mengenai hal itu. Memangnya bagaimana mungkin ia bisa mengetahui mengenai suami Meyda punya selingkuhan atau tidak? Bukankah ia berangkat bekerja di pagi hari dan baru pulang saat malam telah larut? Di akhir pekan pun ia selalu keluar pagi-pagi karena lebih senang menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Jadi walaupun memendam rasa tidak suka pada induk semangnya, ia tidak bisa menyangkal jika ada rasa penasaran menyeruak. Ia ingin tahu memangnya apa sih cerita heboh soal suaminya Meyda itu?

"Masa sih dek Yani gak denger apa-apa? Suaminya si Meyda itu khan suka nyeleweng! Ibu sendiri yang memergokinya tengah berjalan dengan wanita lain di...apa itu namanya? Mol?"
Dan cerita berlanjut tentang para tetangga lain yang juga pernah melihat suami Meyda bercengkrama dengan wanita yang tentunya bukan istrinya ataupun anggota keluarga. Induk semangnya dengan mencibir mengeluhkan Meyda yang dinilai pura-pura buta dan tuli terhadap cerita mengenai suaminya. Yani yang mulai merasa tidak enak, berusaha tidak terlalu menanggapi karena tahu apa yang akan terjadi berikutnya.
"Nah, nanti dek Yani kalau memilih suami jangan yang kayak si Meyda itu ya! Tapi juga jangan terlalu pilih-pilih... Apalagi kamu sudah kepala empat toh sekarang? Masa iya mau mengontrak terus sama Ibu, walau saya sih seneng aja terima duit dari kamu... " 
Pffff, kalau saja gaji yang diterimanya bisa digunakan untuk langsung membayar biaya kontrakan langsung selama 10 tahun pasti akan ia lakukan. Jadi, ia tidak perlu sering-sering datang dan mendengarkan obrolan tidak bermutu ini. Tunggu, memang sih ia sudah langsung membayar kontrakan untuk setahun penuh. Tapi sesekali ia tetap harus bersosialisasi dengan ibu ini. Agar tidak dikatakan penyendiri atau malah lebih gawat, diduga sebagai teroris karena jarang bergaul. Tapi kalau setiap kali ia datang dan harus mendengarkan obrolan basa basi yang akhirnya sungguhan menjadi basi, sungguh membuatnya resah.

Ya, bagaimana mungkin ia tidak resah karena Yani jadi menduga-duga apa yang orang bicarakan tentang dirinya? Mereka semua manis di muka tapi tidak segan-segan membicarakan yang satu ke yang lain. Di hadapan Meyda pun mereka tidak pernah terlihat judes atau nyinyir eh ternyata dibelakang berbeda jauh sekali. Tapi, sudahlah... Ia toh sudah berusaha bersikap ramah terhadap para tetangganya walau kelakuan mereka lebih sering membuatnya capek hati. Begitulah resiko tinggal berdesakan dengan orang lain dalam perkampungan. Setidaknya jika ia mati mendadak, tidak akan perlu sampai tiga hari sebelum mayatnya ditemukan. Yani menepuk kepalanya dan menggumam bahwa ia terlalu banyak menonton film Bridget Jones. Bergegas ia mengalihkan perhatiannya untuk bersiap menuju kantor. Usai mandi ia menyiapkan roti untuk sarapannya dan menyambar tas kerjanya. Ia memastikan tidak ada yang masih menyala dan setelah puas Yani pun keluar. Dikuncinya pintu rumah dan setelah itu pagar juga ia gembok. Di dengarnya suara air mengalir dan dilihatnya Meyda tengah mencuci pakaian. Yani menyapa dan ketika Meyda mendongak terlihatlah wajahnya yang letih. Keduanya saling menatap satu sama lain sampai akhirnya Meyda melambaikan tangan membalas sapaannya. Yani memperhatikan sejenak lambaian tangan Meyda yang disertai busa-busa sabun tersebut. Kemudian ia kembali ke dunia nyata dan berlari menuju ujung gang seraya berharap temannya belum ada disana. Masih bisa terdengar olehnya suara tangisan bayi dan ia menggelengkan kepala. Ah, ia memang belum siap untuk berkeluarga dan pastinya ia tidak ingin berhenti bekerja setelah menikah nanti. Itu, jika ia menikah dengan pria yang baik dan bukan seperti suami Meyda tetangganya. Sungguh bukan seperti itu kehidupan yang ia inginkan.

Dan Yani pun terus berlari.

5 comments:

  1. Ahuhuuu... Ini menarik bagi gw untuk diremake/rewrite :D boleh jadi salah satu bahan volunteer kah? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baidewei... Kalo lo nunggu2 komentar 'orang lain' hahaha....sori...false alarm *sambil ngakak*

      Delete
  2. mbak-mbak, aku juga nge-post tulisan2 jadul ku di blog...
    hehehe... tulisan masih jaman abg...

    dalamceritasaja.blogspot.com

    ReplyDelete