Monday, February 11, 2013

Petualangan Kasenda dan Twittwit 14



Kasenda melongok ke bawah tempat tidur. Ditariknya peti harta karunnya keluar, berusaha membukanya. Tangannya gemetar tidak sabaran. Baru pada percobaan keempat, Kasenda berhasil memasukkan anak kunci ke dalam lubang peti, memuatarnya, dan mengeluarkan sebuah buku bersampul coklat dengan garis-garis biru yang cerah. Buku corat-coret! Dengan segara dibukanya halaman yang terakhir. Tulisan tangannya yang besar-besar terpampang di sana, ‘Tanggal 16 Mei. Perubahan sudah dilakukan! Kali ini, memutuskan memakai sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang berbeda akan terjadi apabila jarum jam dibelokkan ke kiri. Kepulangan Refo adalah kunci!’

Refo! Kasenda ingin memberondonginya dengan ratusan pertanyaan. Kemana saja Refo? Kenapa dia menghilang dan kenapa dia kembali? Kenapa mendadak dia bisa bicara? Bukan. Kenapa mendadak Kasenda bisa berkomunikasi dengan Refo?


Kali ini, teriakan Mama dibarengi dengan gedoran di pintu, “Kasenda! Sudah jam enam lewat sepuluh!”

“Sebentar, Ma,” Kasenda balas berteriak. Dipalingkannya wajahnya kepada Refo yang sedang duduk dengan sikap siaga. “Refo, kita tidak punya banyak waktu. Pergi ke sekolah berarti kehilangan 5 jam waktu yang dapat dipakai untuk berusaha memecahkan teka-teki. Aku akan berpura-pura berangkat ke sekolah. Bisakah kamu menjumpaiku di ujung jalan di samping kebun mawar, sebelum belokan ke sekolah? Kita bisa bersama mencari Twittwit. Aku butuh bantuanmu.”

“Menurutmu, kenapa kita kembali ke dua hari lebih awal? Ada sesuatu yang harus kamu temukan di sekolah. Sesuatu yang bisa membantumu memecahkan teka-teki. Dan harus kamu sendiri yang melakukannya, Kasenda.”

Guk! Refo mengakhiri kalimatnya dengan kibasan ekornya yang bersemangat.

Sesuatu di sekolah? Apakah itu berarti sesuatu yang berhubungan dengan pelajaran sekolah? Sebentar. Hari ini akan ada pelajaran Sains, Puisi, Matematika dan Musik di sekolah. Matematika! Celaka! Hari ini ada ujian Matematika di sekolah! Dan Kasenda sama sekali belum belajar. Maksudnya, tentunya dia anak rajin yang sering mengulang pelajarannya di rumah, tetapi, bagaimana mungkin Kasenda dapat mengingat semua rumus Matematika saat ini, setelah semua petualangan dan bolak-balik waktu? Duh, mana Pak Janggut terkenal sebagai guru yang tidak akan segan-segan memberikan pelajaran tambahan di luar jam sekolah apabila ada murid yang tidak lulus ujian..

“Kasendaaaaaaa! Apakah Mama harus menyeretmu keluar dari kamar?”

Tidak ada waktu lagi! Kasenda segera menyambar tas sekolah dan menjejalkan buku corat-coretnya ke dalamnya. Dengan kecepatan yang mengagumkan, Kasenda mengganti piama tidurnya dengan kaus berwarna oranye cerah dan celana jeans selutut. Sekolah Kasenda memang sekolah yang tidak mengharuskan murid-muridnya memakai seragam ke sekolah. Kasenda berlari keluar, menyambar sepotong roti dari atas meja makan, memasukkannya sekaligus sambil berseru, “Ma, Kahsendah berghakat!”

Masih didengarnya teriakan Mamanya sebelum Kasenda melesat keluar, meninggalkan pintu depan tidak tertutup. “Kasenda, jangan terbiasa bicara dengan mulut penuh!”

*****

Di dalam kelas, Kasenda mengikuti pelajaran dengan gelisah, setengah hati sekaligus bersemangat. Dia menunggu-nunggu sesuatu. Semacam petanda. Kasenda tidak tahu petanda seperti apa, tetapi dia yakin akan tahu dengan sendirinya. Pelajaran pertama berlalu begitu saja. Tidak ada yang terjadi. Pelajaran berikutnya, Puisi, juga sama, terkecuali Kasenda hampir mati kebosanan. Setelah jam istirahat, pelajaran dilanjutkan dengan Matematika, dan Pak Janggut, tentunya ini bukan nama yang sebenarnya, seperti yang sudah direncanakan, memberikan ujian. Kasenda menggigit-gigit pensilnya. Dari 10 soal yang diujikan, ajaibnya, dia mampu menjawab 6 soal. Mudah-mudahan semuanya benar, dan Kasenda tidak harus tinggal untuk pelajaran tambahan siang ini. Kasenda merasa lega, tetapi juga berdebar-debar, karena masih tidak ada sesuatu yang aneh terjadi.

Pelajaran terakhir adalah Musik. Bu Elli, guru Musik yang baik hati dan suka memakai sepatu pantofel, tidak masuk. Dia digantikan oleh seorang guru muda berwajah kecil dengan rambut pendek awut-awutan seperti tidak pernah disisir. Anak-anak belum pernah melihat guru itu sebelumnya. Berdiri di depan kelas, guru itu memperkenalkan dirinya sebagai Bu Tiwit. Suaranya mencericit, mengingatkanmu pada suara seekor tikus.

Tiwit! Aha! Kasenda hampir terloncat dari tempat duduknya. Bukankah nama Tiwit mirip dengan Twittwit? Apakah berarti, Bu Tiwit ini adalah petanda yang ditunggu-tunggu untuk memecahkan teka-teki? Belum habis Kasenda berpikir, Bu Tiwit terlihat mengeluarkan sebuah suling berwarna hijau yang cantik sekali. Ketika Bu Tiwit mulai memainkan sulingnya, semua murid terdiam. Suara yang dihasilkan suling tersebut indah sekali, lembut dan magis, seperti suara yang datang dari tempat jauh yang indah, mendatangkan kerinduan. Kasenda menyimak ketukan-ketukan yang dihasilkan oleh nadanya. Seolah-olah, suling tersebut menyampaikan pesan kepadanya. ‘Re-Fa-La-Do-Do-Do-Mi-Sol-Mi’. Nada tersebut terus bermain-main di pikiran Kasenda.

Kasenda merasa dia harus menemui Bu Tiwit sebelum pulang sekolah. Apa arti dari lagu yang dimainkan Bu Tiwit tadi? Dari mana ia berasal? Terbuat dari mana suling tersebut?

Tepat sebelum lonceng tanda berakhirnya kelas berakhir, Pak Janggut masuk ke dalam kelas dan mulai membacakan nama murid-murid yang tidak lulus ujian Matematika. Dari jendela kelas, dilihatnya Bu Tiwit berjalan ke arah gerbang sekolah. Suling hijau di tangannya berayun-ayun seolah mengangguk kepada Kasenda. Bu Tiwit memakai topi runcing yang aneh, berwarna ungu dengan lonceng kecil di ujungnya. Kasenda mengenal topi itu! Topi yang biasa dipakai Twittwit!

Di depan kelas, Pak Janggut menyebutkan nama siswa terakhir yang harus tinggal untuk pelajaran tambahan di sekolah; Kasenda.