Monday, February 4, 2013

Petualangan Kasenda dan Twittwit 13


"Kasenda!" Ketukan tidak sabar di pintu mengagetkannya. Loh, dia masih di dalam kamar mandi. Apa yang tadi terjadi? Rasa-rasanya dia sudah mengenakan baju kuningnya dan sudah sampai di rumah Ashta. Rupanya belum. Dia hanya melamun. Tetapi lamunan itu seperti benar-benar nyata. Terlalu nyata! Itu yang sudah terjadi di waktu-waktu yang lalu. Dia selalu saja terpancing untuk melakukan hal yang sama. Lalu kurcaci akan muncul dan jreng! dia sudah masuk kembali ke dalam permulaan perjalanannya dengan Twitwit. Dan sesampainya dia di sana, dia akan selalu lupa apa yang sudah terjadi di sini. Sedangkan selama dia berada di sini, dia ingat apapun yang sudah terjadi baik di sana maupun di sini. Tiba-tiba Kasenda ingat bahwa dia sudah hampir menemukan kunci dari semua ini. 

Buku coret-coretannya! Dia menghambur dari kamar mandi, mama menatapnya dengan wajah setengah tertekuk. Untunglah dia sudah mencuci muka dan menyikat gigi. 

"Aku mau ganti baju, sepuluh menit saja, pasti sudah siap!" Janjinya sambil membuka pintu kamarnya. "Mama nggak akan nungguin aku ganti baju kan?"

"Baiklah, cepat. Mama tunggu di luar. Sepuluh menit."
Kasenda tersenyum lebar memperlihat seluruh giginya, "Siiip!" Cepat-cepat dia menutup pintu lalu berlari ke tempat tidurnya kemudian  melongok ke bawah tempat tidur. Diseretnya keluar sebuah peti seperti peti harta karun. Tangannya dengan cekatan membuka salah satu ubin longgar dan mengambil sebatang anak kunci, lalu membuka gembok peti itu. Saat tutup peti diangkatnya, Kasenda langsung menghembuskan nafas lega, ia menemukan apa yang dicarinya. Buku corat-coret! Dipeluknya buku corat-coret itu erat-erat. "Syukurlaaah!" Teriaknya girang. Dengan segera dibukanya halaman yang terakhir ditulisinya, dan di sana tertulis, 'Harus ada yang berubah. Ubah rangkaian kejadian maka akan terjadi juga perubahan yang sama.' Cepat-cepat dia menutup kembali petinya lalu mendorongnya ke bawah tempat tidur. Ada beberapa bagian yang benar-benar harus dibacanya untuk melihat apa saja yang sudah terjadi dan bagaimana agar potongsn teka-teki dapat disusunnya dengan lebih baik.

"Kasenda!" Kali ini pintu digedor sangat keras. 

"Aduh." Cepat-cepat Kasenda memutar otak. Harus ada yang berubah. Baiklah, dia tidak akan mengenakan gaun warna kuning, dia akan mengenakan kaus berwarna biru laut hadiah dari tante Wina, dan tentu saja celana jeans dengan tempelan bunga matahari pada kantong belakangnya. Bukankah seharusnya dia mengenakan sesuatu yang sesuai dengan kepribadiannya tetapi cukup manis dan enak dilihat? Mama pasti akan protes sedikit, tetapi karena mereka sudah sangat terlambat sekarang ini, pastinya mama tidak akan berkeras dia harus mengganti baju lagi. Kasenda tersenyum senang. 

"Aku sudah siap!" Kasenda tersenyum manis. "Ayo berangkat."

Mama memandangnya dari atas ke bawah, seperti hendak protes tetapi papa mengetuk-ngetuk jam tangannya lalu berkata, "Okei, semua sudah siap, mari berangkat."

Kasenda menyambar ransel mungilnya, menjejalkan buku corat-coret, bolpen dan surat ke dalamnya, lalu mengikuti kedua orangtuanya menuju ke mobil. Saat itu dia melihat sesuatu bergerak di semak-semak. Oh tidak! Bukan kurcaci, masak apa yang sudah dilakukannya malah mempercepat saat perpindahan? Ini sangat buruk, sangat buruk. Kasenda menahan nafas.

Guk! Astaga Refo! Refo melompat keluar dari semak-semak. Ekornya bergerak-gerak sangat lincah. Dari tarikan wajahnya dia seperti sedang nyengir sangat lebar. Itu wajah anjing yang sangat gembira. Kasenda berteriak kaget sekaligus senang. Refo kembali! Ini pertanda baik, pastinya. Refo sudah hilang selama hampir sepanjang masa dia mengalami kejadian-kejadian aneh ini. Tapi kini Refo kembali, dan itu terjadi hanya karena dia tidak mengenakan gaun yang sama!

"Refo!" Melda melompat keluar dari mobil dan langsung memeluk Refo yang dengan bahagia menjilat-jilat tangannya dan pipinya.

"Astaga, Refo, kemana saja kamu selama ini?!?" Papa pun nampak gembira. "Ayo ikut kita ke pesta Ashta, kita akan mengacau sedikit di sana, pastinya tidak akan ada yang keberatan kan?"

Mama juga menepuk-nepuk kepala Refo dengan gembira. Dia memang kesayangan seluruh keluarga. Ini luar biasa, Kasenda merasa wajahnya seperti bercahaya saking gembiranya. Mereka semua masuk ke mobil dengan ributnya. Keributan yang ini adalah perayaan karena Refo kembali. Kembali dari mana? Kasenda memandang Refo, yang juga sedang memandangnya, seakan-akan ingin mengatakan sesuatu kepadanya.

"Guk!" Kata Refo singkat sambil memandang Kasenda penuh teka-teki. 'Tunggu sampai kita hanya berdua saja.' serangkaian gonggongan dilepaskan Refo tetapi dapat dipahami dengan sangat jelas oleh Kasenda.

Melda tertawa lalu mengacaukan bulu-bulu di kepala Refo, "Jangan berisik Refo. Berhenti menggonggong dan melolong seperti itu, bisa-bisa kamu diturunkan di jalan dan harus pulang sendiri, baru rasa!"

Kasenda menarik-narik ujung daun telinga Refo, dan ketika Melda asik dengan sesuatu yang dikatakan papa, dia berbisik, "Aku mau pindah duduk ke kursi belalakang, alihkan perhatian mereka ya."

Refo menggonggong dengan gembira dan tiba-tiba saja, dia menjilat-jilat Melda dengan penuh semangat. Melda menjerit-jerit sambil tertawa-tawa. Tidak ada yang peduli dengan Kasenda yang memanjat kursi menuju ke tempat duduk belakang.

Cepat-cepat Kasenda mengeluarkan buku corat-coret dan mulai membaca. Lalu dengan segera pula dia menulis surat. Ada beberapa perubahan yang sudah terjadi. Dan kini dia tahu apa yang harus dilakukannya pada ulang tahun Ashta. Sementara tangannya sibuk menulis di atas sehelai kertas, mobil yang dikendarai mama sudah hampir sampir di rumah Astha.

“Selamat ulang tahun, Astha.” Kasenda mengangsurkan kado berpita besar kepada Astha, memaksakan memberikan senyumnya yang lebar, yang lebih terlihat seperti sebuah seringai. Dia memang tidak pernah menyukai Astha, sepupu cantiknya yang pesolek dan angkuh. Tetapi, yah, kita kan tidak mungkin memilih siapa yang akan menjadi sepupu kita, sama seperti memilih ikut ke pesta ulang tahun yang membosankan ini. Bicara tentang membosankan, nah, itu dia, gadis kecil berambut kaku dengan sepasang mata badam menukik naik ke atas. Juli, si rubah! 

Kasenda menarik nafas dalam-dalam lalu, di luar kebiasaannya, ia berjalan dengan langkah pasti mendatangi Juli dan sebelum Juli sempat membuka mulut, Kasenda berkata, "Halo, Jul. Terima kasih, bajuku memang cantik sekali. Beli dimana? Tentu saja pemberian ibumu, tante Wina, entah ya kalau ibumu membelinya di pasar loak, yang jelas bukan dari lemari nenekku!" Juli melongo, Melda terkikik-kikik geli, dan Kasenda segera melanjutkan, "Jangan kaget seperti itu, selain bisa bicara dengan binatang dan suka memanjat pohon, keahlianku juga sekarang semakin bertambah. Seperti.... bisa membaca pikiran orang. Jadi hati-hati dengan pikiranmu sendiri." Dia bertolak pinggang memandangi Juli dan Ashta bergantian. "Nah, nah, aku tahu kalian sedang berpikir 'Orang aneh!', tepat seperti itu." wajah Juli dan Ashta menjadi pucat, "Dan masih banyak lagi rahasia-rahasia di otak kalian yang tidak akan menyenangkan kalau kukatakan di depan orang banyak seperti misalnya, sekarang? Ouw...jangan coba-coba menumpahkan minuman di punggungku, ya, aku tahu, kamu sudah merencanakannya Jul!" 

Tiba-tiba saja segala sesuatu disekeliling Kasenda menjadi kabur, percakapan-percakapan terdengar seperti gaung yang tidak jelas. Kasenda merasa tersedot ke belakang, memasuki sebuah terowongan dengan cahaya sangat terang yang membuatnya harus menutup matanya erat-erat. Apa yang terjadi? Ini belum pernah terjadi sebelumnya.

"Kasenda! Bangun, sudah hampir jam enam, nanti terlambat ke sekolah."

Kasenda mengucek-ucek matanya. Dia sedang duduk di atas tempat tidurnya. Kamar masih gelap. Cepat-cepat dia membuka sedikit tirai jendela. Di luar masih gelap. Sekolah? Hari apa ini? Jangan-jangan! Kasenda cepat-cepat melompat dari tempat tidurnya dan menyalakan lampu lalu menyalakan komputernya. Pada sudut kanan layar dia melihat kalender digitalnya, Kamis, 14 Mei.

Kasenda tertawa keras-keras, "Astaga, empat belas mei!" Berarti dia kembali ke dua hari sebelum ulang tahun Ashta!  Ini mengherankan sekali. Apakah dengan begini berarti dia sudah berhasil menyelesaikan misinya? Bagaimana dengan  buku corat-coretnya? Apakah semua yang sudah dicatatnya di sana berarti juga akan hilang sama sekali? Kalau benar begitu, sayang sekali... Tapi, entah kenapa dia merasa ada yang belum selesai.

"Memang belum selesai."

Kasenda terlompat, siapa yang bicara!

"Aku, Refo, di sini, di bawah tempat tidur."

Kasenda melongok ke bawah tempat tidurnya. Refo sedang memandangnya dengan matanya yang coklat tua.

"Belum berakhir, Kasenda. Kita hanya berhasil mengulur waktu. Dengan begini, kita juga punyasedikit lebih banyak waktu untuk mengumpulkan kepingan-kepingan teka-teki."

Teka-teki! Kasenda menarik peti harta karunnya, buku corat-coretnya, teka-teki dan Twitwit. Dia harus mencari Twittwit, kalau dia ada di sini berarti Twitwit pun sedang berada di sini. Tapi di sini di mana?