Wednesday, October 5, 2011

Sinetron dalam sinetron

Hufff, akhirnya aku sampai dirumah juga setelah penat berdesak-desakan dengan para penumpang lain di bus. Ah, sudah hampir jam 7 malam ketika aku melihat jam di lenganku. Alamat aku harus menghabiskan waktu lagi dengan bertapa di dalam kamar. Yah, pada jam seperti ini biasanya...

"Kak, kau baru pulang?" adikku Selly menyapaku seraya membukakan pintu rumah. Rupanya ia mendengar suara pintu pagar yang kudorong tadi. Aku mengangguk kearahnya dan mengintip ke dalam ruang tamu. Hmmm? Kok sepi? Selly yang melihat pandangan mataku langsung mengatakan kalau malam ini adalah malam tenang.

"Mama dan Papa tadi mendapat telepon kalau anak buah Papa masuk rumah sakit karena kecelakaan," Selly menerangkan padaku bahwa orang tua kami pergi menjenguk seraya menutup pintu rumah begitu aku masuk. Ia mengunci pintu dan memandangiku dengan tersenyum,"Malam ini kita tidak perlu mendengar Mama dan Papa berdebat soal sinetron gak mutu itu..."



Oh, pantas sepertinya rumah kok sepi sekali. Aku manggut-manggut dan berbasa basi menanyakan bagaimana kuliah adikku. Dia memutar matanya yang bulat berwarna coklat gelap itu dan mengatakan agar aku jangan seperti Mama. Ia mendorongku dan menyuruhku mandi seraya menggoda diriku yang katanya bau keringat penumpang bus. Aku hanya tertawa dan bergegas ke kamar mandi. Sudah terbayang olehku bagaimana tenangnya makan malam kami berdua nanti. Mungkin aku bisa memasang cd lagu yang di ruang tamu. Entah kalau Selly lebih ingin mendengarkan radio. Kedua hal tersebut lebih sering kami lakukan di kamar karena menjelang jam 7 malam, Mama akan menguasai ruang tamu.

Tapi ternyata terlalu sepi tidak enak juga, pikirku ketika sudah selesai mencuci piring bersama Selly. Adikku itu memang senang berceloteh mengenai kampusnya, teman-temannya, apa saja kecuali pelajaran. Tapi hari ini sepertinya ia juga tidak punya bahan untuk dibagi bersamaku. Kami melewatkan beberapa menit dengan membaca sambil diam-diam saling melirik satu sama lain.

"Ah, bosen juga nih... Kak, kita main yuk...!" Selly membuang majalah yang tengah dibacanya. Ia memungutnya kembali dan meletakkannya di meja setelah melihat pandangan mataku yang melotot. Puas melihat majalah itu sudah ada di tempatnya, aku bertanya ada ide apa di kepalanya?

"Aku jadi Papa dan kakak jadi Mama, lalu kita akting seperti mereka berdua kalau sedang menonton sinetron...," ia menjawab dengan cekikikan.

Haaaa, boleh juga walau kenapa harus aku sih yang menjadi Mama? Setelah melalui perdebatan akhirnya aku menyerah. Lalu aku menyambar remote control dan bersiap untuk menyalakan televisi ketika Selly bertanya dengan heran. Kujelaskan permainan kami tidak akan seru jika tidak dalam situasi yang sebenarnya. Matanya membulat kembali dan ia menganggukkan kepala tanda setuju. Kami berdebat lagi program televisi mana yang biasanya ditonton oleh Mama pada jam tersebut. Hingga akhirnya kami sepakat pada satu judul sinetron yang baru saja hendak mulai.


"Astaga, nonton apalagi sih Maaaa?" Selly memberatkan suaranya berusaha meniru nada bicara Papa jika merasa terganggu dengan acara sinetron tersebut. Untuk melengkapi aktingnya, Selly menyambar koran sore yang biasanya di baca oleh Papa.

Aku membalas seraya menggenggam erat remote control tersebut seolah khawatir ada orang yang akan merebutnya,"Aduh Papaaa... Tadi kan ceritanya lain... Ini serial yang berbeda!"

Selly mendengus yang membuatku nyaris tersedak. Benar-benar mirip dengan yang dilakukan Papa.

"Apa pula bedanya dengan yang tadi? Kayaknya ceritanya sama aja! Cuman soal sekumpulan orang bodoh yang sukses membodohi orang lain!"

"Maksud Papa apa sih? Mama bodoh menonton sinetron ini? ceritanya khan bagus Paaa... Menyentuh hati...," kok aku jadi mau muntah sendiri ketika berbicara seperti ini. Selly juga langsung membuat gaya seolah ia muak mendengar kalimatku.

"Mamaaa, mau dikasih contoh satu-satu? Mana ada orang bisa berfoya-foya tanpa bekerja? Penjahat paling kaliber pun membuat rencana dan melakukan aktifitas!" hahahaha, Selly rupanya sudah hapal dengan omelan-omelan Papa.

"Khan uangnya banyak Paaa," aku menggetok jidatku sendiri setelah berbicara begini. "Tujuh turunan juga gak abis..."

"Dan tidak ada orang hamil yang cukup sinting untuk mengorbankan ginjalnya bagi orang lain..."

"Tapi itu artinya wanita itu berjiwa luhur, bukan?"

"Masa kemarin kanker tulang lalu bisa sembuh dengan begitu saja?"

"Itu namanya keajaiban, Papa... Kita harus selalu percaya sama keajaiban..."

"Lalu setelah kanker tulang sekarang menderita kanker otak? Memang badannya itu pabrik kanker?"

"Namanya juga nasib orang, Paaa... Mungkin dia sedang diuji..."

"Orang itu belajar dari kesalahan untuk tidak tertipu lagi oleh TIPUAN YANG SAMA dan oleh ORANG YANG SAMA PULA!" (Selly! Kamu berbakat jadi artis! Itu persis seperti Papa, karenanya aku mengacungkan jempol)

"Begitulah kalau orang jujur, Papa... Dia tidak pernah berpikiran buruk pada orang lain..."




Sampai disini kami tidak sanggup lagi dan tertawa berguling-gulingan di karpet. Begitu asyiknya kami tertawa sehingga nyaris tidak mendengar pintu pagar dibuka. Aku setengah berlari menuju pintu dan ternyata Mama sudah pulang beserta Papa. Mereka berdua masuk dan heran melihat wajah kami berdua yang merah. Lebih heran lagi ketika melihat acara televisi yang tengah kami tonton.

"Bukannya kalian tidak suka menonton acara ini?" Papa rupanya tidak tahan untuk tidak bertanya. Mama hanya memandang kami sepintas sebelum terburu-buru ke kamar. Ia pasti hendak berganti baju agar tidak ketinggalan acara favoritnya. Melihat kami hanya saling tersenyum Papa hanya mengangkat bahu dan meninggalkan kami berdua.

"Wah, nyaris...," aku menghembuskan napas lega dan memandangi Selly yang tengah beranjak dari tempat duduknya. Ia menghampiriku dengan tersenyum nakal.

"Kakak, tadi menyenangkan... Mari kita lakukan lagi kalau Mama dan Papa sedang keluar ya!"

Dengan tertawa aku mengacak rambutnya dan mengangguk.

"Tapi, lain kali...kamu yang jadi Mama yaaaa..."