Sunday, September 25, 2011

Menjadi 'tuhan' di Ranah Fiksi

Hidup ini adalah fiksi Tuhan. Dia bebas menentukan tokoh dalam cerita yang akan dibuatNya. Bebas menentukan jalan cerita si tokoh yang dipilihNya. Dan bebas pula menentukan nasib si tokoh dan akhir cerita itu.

Saya suka bermain di ranah fiksi, karena saya merasa menjadi 'tuhan' dalam tulisan saya. Kuasa yang tergenggam dalam tangan saya adalah tenaga penuh dalam mencurahkan kreativitas berpikir. Tak ada yang bisa menghalangi saya dalam memutar balik cerita bahkan menjungkirbalikkan tokoh-tokoh dalam cerita fiksi saya. Semua terserah saya, si 'tuhan' dalam fiksi saya. Luar biasa rasanya.

Walaupun begitu, menulis fiksi bukan berarti bebas tanpa hambatan seperti jalan tol. Duh, bahkan jalan tol pun tak luput dari kemacetan juga toh? Ada beberapa masa manakala saya menuliskan kisah fiksi lalu saya merasa terblokir dalam pikiran. Hey, habis ini mau kemana lagi, ya? Bingung sendiri. Walaupun fiksi bergantung sangat kepada khayalan 'tuhannya' namun berkhayal bukan berarti tak bermodal.


Seorang 'tuhan' fiksi pun dituntut untuk banyak membaca dan melakukan riset saat mencipta. Apa jadinya sebuah kisah yang dibuat berdasarkan khayalan membabibuta? Pembaca tidak bodoh. Fiksi walaupun tak nyata, tetaplah (sebaiknya) masuk akal. Walaupun ada beberapa fiksi yang memang bercerita tentang sebuah dunia yang tak pernah ada dalam kehidupan nyata, tetap nilai-nilai yang ada dalam kisah itu selalu nyata. Harry Potter si penyihir bersekolah di sebuah sekolah sihir. Murni khayalan JK Rowling si penulis saat dia tengah menunggu anaknya pulang sekolah di sebuah cafe. Tapi nilai-nilai kehidupan dalam bersekolah sang tokoh, Harry Potter, bukan khayalan melainkan ilmu yang dimiliki Rowling. Digambarkan ada anak nakal yang selalu mengganggu Potter di sekolah sihir itu, bukankah itu sesuatu yang banyak terjadi dalam kehidupan bersekolah kita sehari-hari? Diceritakan pula karakter seorang kepala sekolah yang bijaksana. Hey, saya jadi ingat dengan kepala sekolah saya dulu, dan sekolah saya nyata lho, bukan sekolah sihir. Hehehe...

Fiksi adalah khayalan, saya setuju. Tapi lebih daripada itu, fiksi adalah ajang melepaskan pikiran kita sebebas-bebasnya dan sepuas-puasnya. Tak ada pagar pembatas, yang ada hanya kegembiraan bermain dengan kata. Tak ada tali pemisah antara yang benar dan yang salah, yang ada hanyalah melihat segala sesuatu dari sudut pandang mana saja, sesuka kita.

Mau menjadi 'tuhan'di ranah fiksi? Mulailah menuliskan khayalanmu. Ciptakan tokoh yang kamu mau. Jalankan cerita yang kamu inginkan. Dan eksekusi ceritamu sedramatis yang bisa kamu pikirkan. Jangan takut salah langkah, apalagi salah kata. Ingat, ini fiksi. Apapun bisa terjadi.

*Fiksi adalah sebuah istilah sastra yang berarti tidak benar terjadi atau sebuah karangan belaka. (Wikipedia)*