Wednesday, January 23, 2013

Petualangan Kasenda dan Twittwit 11

.“Apa ini?” Gumamnya heran. Dibaliknya amplop itu dan menemukan tulisan: BUKA dan BACA. SEGERA! PENTING!!! Dengan penuh rasa ingin tahu cepat-cepat dibukanya amplop itu dan mengeluarkan kertas-kertas yang ada di dalamnya. Pada kertas paling atas tertulis: Baca dari halaman 1. “Baiklah, baiklah.” Kini dia merasa sangat ingin tahu. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh lewat lima puluh lima menit. Sebuah tulisan tangan yang besar-besar dan jelas, walau nampak ditulis secara tergesa-gesa kini terpampang di depan matanya. Pada pojok kanan atas tertulis: halaman 1. Kasenda mulai membacanya.

Dear Kasenda, lima menit dari sekarang, kalau jam dinding menunjukkan pukul 08:00 kamu akan ingat kembali siapa dirimu di dunia yang ini. Kita, sudah mengalami hal ini berulang-ulang. Kalau kamu kembali lagi dan membaca surat ini sekali lagi, berarti sekali lagi kita belum berhasil melaksanakan misi kita. Masih ada yang salah, karena itu kita kembali ke sini dalam waktu yang sama. Dimulai dengan mama menemukan kita di dalam kamar, memarahi kita, lalu kita mencium bau harum masakan, kemudian kita dijewer ke kamar mandi ini dan akhirnya kita menemukan surat ini. 


Aku bilang kita, karena kamu pasti bingung kalau aku memakai kata aku. Tapi aku juga merasa memang ada beberapa aku dalam satu lintasan yang sama dan kita saling bahu-membahu berusaha menyelesaikan misi kita. Kamu tidak akan dapat mengingat apa yang sudah pernah terjadi sebelumnya begitu dikirim kembali ke dunia yang satunya lagi. Kamu akan mulai dari hal yang sama, memulai sebuah perjalanan dengan Twitwit. 

Karena itu sangat penting untuk segera melakukan hal ini: tulis apa saja yang sudah kamu lakukan sebelum kamu tiba-tiba muncul di sini. Lakukan segera! Setelah itu selesai, barulah kamu boleh membaca halaman selanjutnya dari surat ini dan perhatikan baik-baik apa yang sudah terjadi, ada 11 lembar perjalanan sebelumnya. Kita hanya punya 13 kali kesempatan. Aku sungguh-sungguh berharap saat aku membuka surat ini, aku sudah berhasil menyelesaikan misi tersebut. Tetapi kalau aku gagal, maka tugas kita masih menjadi tugas kita. Kesempatan kita hanya tinggal satu kali lagi. Kalau kita tetap gagal... Aku tidak berani, aku tidak mau memikirkannya. Kita harus berhasil. Kita harus.

Ya Tuhan, cepat-cepat Kasenda mencari jam dinding dan melihat tepat saat waktu berganti dari 07:59 menjadi 08:00. Kasenda merasa kepalanya berputar begitu keras sebelum tiba-tiba saja semuanya kembali ke dalam ingatannya. Dia merasakan kepanikan yang tadi tidak ada sama sekali. Dia harus bersiap-siap untuk ulang tahun Ashta. Ibunya akan marah luar biasa dan satu lagi, hal yang sangat buruk akan segera terjadi. Kasenda merasa jantungnya berdegup sangat kencang. Hanya dia satu-satunya yang dapat mencegah hal itu terjadi. Dia sudah melakukan sebuah kesalahan besar, sangat besar dan sekarang, dia juga harus memperbaiki segala sesuatu sebelum segalanya menjadi terlambat.

Segala sesuatu yang sudah dialaminya kini berkelebat sangat cepat di depan matanya, seperti sedang menonton film yang di fastforward 10x lipat, tetapi dia ingat dan tahu apa yang sudah terjadi. Cepat-cepat diraihnya kertas kosong yang tersedia dengan tulisan 12 pada pojok kiri atas dan diraihnya bolpen yang terdapat pada gelas sikat gigi.

Saat itulah pintu kamar mandi diketuk dengan tidak sabar. “Kasenda!”

Cepat-cepat Kasenda memasukkan surat-surat itu ke dalam saku celananya, “sebentar. Sabar. Aku sedang mencuci muka.”

“Sepuluh menit, Kasenda, sepuluh menit atau kamu terpaksa tinggal. Mama tahu kamu lebih senang tinggal...” 

“Nggak, aku ikut.” Kasenda menyahut dengan cepat. 

Rasa panik itu menyerangnya lagi. Dia harus ikut. Ashta dan ulang tahunnya adalah salah satu mata rantai dari misi yang harus diselesaikannya. Kali ini, dia harus ingat untuk tidak membalas apapun yang dikatakan oleh Juli. Dia harus bisa menahan diri. Dia akan menulis apa yang harus ditulisnya nanti di dalam mobil. Tidak ada waktu yang boleh disia-siakannya sekarang ini. Banyak hal bergantung pada tindakan-tindakan yang diambilnya. Dia tidak boleh ceroboh. Kecerobohannya sudah memakan korban pada kesempatan kesepuluh. Dia tidak pernah bisa melupakannya. Dia tidak boleh melupakannya. Sejarah tidak bisa dengan sembarangan digeser-geser semaunya sendiri, itu yang kini dipahami oleh Kasenda.