Monday, October 24, 2011

Ve & Tanah Tabu


Tanggal 12 November 2009, sebuah sms masuk ke ponsel SE saya berbunyi: "Sy baru tiba di dekai, tlg cari dan baca buku Tanah Tabu karangan Anindita Stayib, Gramedia, berbicara banyak ttg Papua..." yang tidak langsung saya baca sebab saya tidak tahu dimana ponsel saya berada setelah dimainkan oleh, entah, Jason atau Joshua. Beberapa hari kemudian barulah saya menemukan ponsel plus sms tersebut, dan saya langsung mencari informasi tentang buku termaksud ke sebuah situs bernama Goodreads, lalu terpesona dengan resensi-resensi tentang buku ini. Dua minggu kemudian barulah saya memperoleh buku Tanah Tabu karangan Anindita S. Thayf dan mulai membacanya.

Membuka halaman demi halaman Tanah Tabu, mengikuti jejak-jejak Leksi, Mace dan Mabel, ditemani oleh Pum si anjing dan Kwe si babi, memutar kembali pikiran saya kepada segala sesuatu yang dikisahkan oleh Ve, gadis manis berusia 16 tahun, yang selama dua hari mengobrol di kamar saya menceritakan begitu banyak hal hasil pengamatannya sepanjang umurnya yang masih sangat belia. Matanya yang indah dan cerdas, merekam begitu banyak peristiwa yang menjadi kenyataan sehari-hari selama 10 tahun kehidupannya di Jayapura bersama ibunya, seorang perempuan kuat dan cerdas, aktivis sebuah partai politik, dan ayahnya, seorang laki-laki, yang masih mewarisi garis keturunan ondoafe atau kepala suku besar di Sentani.

Ve bercerita tentang teman-temannya yang suka mabuk dan merokok. Tentang sebuah ironi bahwa ketika pada suatu ketika ia yang merupakan seorang aktivis penyuluhan AIDS mewakili sekolahnya di kota Jayapura, dan juga seorang anti-rokok sejati, dengan gagah berani melarang teman-teman laki-lakinya yang sering berkumpul di depan rumahnya sambil merokok agar tidak merokok, sementara warung milik ibunya sendiri mendapatkan penghasilan utama dari hasil menjual rokok kepada anak-anak tersebut.

Ve bercerita tentang bagaimana tidak seorang anak muda pun mau mempergunakan bahasa suku mereka karena mereka malu bila dicap sebagai orang udik dan tidak modern karena berbicara bahasa daerah, dengan demikian maka bahasa Indonesia memang dikenal, dipakai dan dimengerti dengan baik, bahkan sampai ke daerah paling terpencil sekalipun di Papua. Ia mengakui bahwa ada rasa rendah diri yang begitu besar apabila seseorang tidak dapat berbicara dalam bahasa Indonesia dengan baik.

Ve bercerita tentang kebiasaan mabuk-mabukan yang membuat sebagian besar, Ve menekankan bahwa: hampir semua laki-laki yang dikenalnya, menjadi begitu mudah untuk melakukan kekerasan dalam rumah tangga, baik terhadap isteri maupun anak-anak mereka.

Ve bercerita tentang poligami, yang merupakan hal yang wajar, terutama bagi mereka yang memiliki garis keturunan ondoafe, dan ayahnya tidak merupakan perkecualian. Ia bercerita bagaimana ibunya mengalami pergumulan yang luarbiasa karena situasi tersebut baru dialami oleh mereka segera setelah mereka sekeluarga pindah dari Semarang ke Jayapura dan ayahnya menemukan dirinya berada dalam strata yang berbeda dari sebelumnya.

Ve bercerita tentang bagaimana isteri-isteri bersaing memperebutkan perhatian suami, bahkan melakukan tindakan-tindakan yang mempermalukan diri sendiri dan mencelakai pihak yang lain.

Ve bercerita tentang kerusuhan yang pernah menyebabkan salah satu sepupunya, seorang anak gadis berusia 12 tahun yang sedang menjemur baju di halaman samping rumahnya, tiba-tiba tertembus peluru nyasar dari polisi.

Ve bercerita tentang betapa seriusnya penyebaran AIDS di Papua, dan masih sangat sedikit anak muda yang mau perduli tentang hal itu. Ia juga menuturkan betapa bebasnya pergaulan para remaja Papua, dan tentang lokalisasi PSK yang hampir semuanya di datangkan dari Jawa itu, serta betapa tergila-gilanya laki-laki Papua terhadap perempuan-perempuan Jawa.

"Mama bilang," kata Ve, "Ko jangan pacar-pacaran dulu, sekolah baik-baik, jadi perempuan yang mandiri, supaya tidak bisa diperlakukan dengan sewenang-wenang."

Membaca Tanah Tabu, seperti mendengar suara Ve sedang menuturkan sebagian dari kisahnya. Ya, sebagian saja dari kisahnya, sebab ia juga bercerita dengan mata yang berbinar tentang cita-citanya, tentang bagaimana ia menemukan humor dalam kolom-kolom koran pagi yang dilahapnya, bagaimana ia begitu ngefans terhadap seorang penyanyi pujaan masyarakat Papua, yang merupakan keturunan Maluku, tentang keasyikannya bermain dengan teman-temannya, tentang kegiatannya sehari-hari sebagaimana layaknya remaja dimanapun juga mereka berada. Ia bercerita tentang begitu banyak saat-saat manis, diantara kenyataan-kenyataan pahit kesehariannya.

Ve, melengkapi gambaran utuh tentang adanya harapan akan perubahan.
"Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah."