Wednesday, October 12, 2011

Surat Kepada Jum

jum (1)

kutulis surat pagi ini kepada burung-burung malam yang akan masyuk di sarang pagi, meninggalkan bening bulan dan airmata bintang, mengetahui secara pasti sebentar saja semua pupus oleh panas dan ganas surya. permainan manusia milik siang hari. mereka sadar sesadar-sadarnya takdir mempermainkan nasib. sementara itu manusia, dalam jumawa mereka paling mudah dipermainkan nasib.

di sanalah jum berada. sejak usianya pagi hingga kini menuju petang. ia berada dalam tangan nasib. hirarki paling rendah dalam kelompok tangga-tangga kehidupan. sehari-harian jum bekerja dengan tangannya yang ulet. berusaha memperbaiki nasib yang tetap malas menggelendoti punggungnya. ya di punggungnya nasib menggendongkan diri. membiarkan punggung itu melengkung bagaikan pelangi dengan hujan deras terus menerus.

jum (2)

aku tidak tahu. desah jum. dari bibirnya banyak sekali ketidak-tahuan yang didesahkannya. ia didera banyak sekali nyata tanpa keinginan untuk semakin bertanya. ia bertahan dari satu hidup ke masa hidup berikutnya, mengetahui dengan pasti betapa berat beban yang sudah disandangnya. ia sadar.

aku tidak mengenal pingsan. pingsan dan tidur adalah milik mereka yang punya waktu lebih untuk melakukannya. benar. jum bahkan tak punya waktu untuk menyandang sakit. sakit adalah luka menganga yang tak sembuh. sebuah ornamen yang dikenakannya di lehernya. dikalungkannya pada dadanya yang sudah keriput, air susu yang sudah pupus dan airmata yang kadang menggenang.

jum (3)

jemari-jemarinya kuat. jum tahu itu. jemarinya adalah tembok-tembok tegar yang menopang hidupnya. yang tak mampu dipatahkan oleh takdir maupun nasib. jum tahu itu.

jemari-jemarinya kokoh. jum tahu itu. jemari-jemarinya adalah bendungan. di sana air tenang dan dalam. di sana air tak mampu menghancurkan kota-kota kehidupan yang dibangunnya di atas kekumuhan nasib yang menggantungi nafasnya.

jum (4)

hari ini. adalah untuk hari ini. jum mengukur dua puluh empat bagian waktu yang membagi-bagi pagi, siang, petang, senja, malam, tengah malam dan subuh. ia bersujud di kaki-kaki waktu. tanpa menjadi hamba.

***

refleksi (1)

sudah berapa lama aku mengenal jum? sepertinya sudah selama-lamanya. padahal dia baru membaur dengan keluarga kami beberapa tahun belakangan. tepatnya lebih tua sedikit saja dari usia anakku umur perkenalan jum dan aku, karena dia masuk sebab sebuah kebutuhan baru tercipta dalam keluarga kami.

melalui tangan-tangannya yang kuat itu ia berbicara banyak dan mengenal masing-masing kami.

jum. pintu masuk yang membawa aku dalam pemikiran abstrak tentang nasib. karena nasib memang pada kenyataannya abstrak dan absurd. karena aku begitu terbatas untuk mengerti "kenapa". jum tidak repot dengan pertanyaan kenapa. dia hanya tahu berbuat apa. betapa esensialnya. betapa mendasarnya. betapa perlunya.