Friday, September 2, 2011

"Pasir Putih Mendesah"

Masih teringat jelas. Guratan senyum di wajah tampan Risman. Tutur kata yang menyejukan hati. Sendau gurau yang menyenangkan. Kecupan manis yang menggelora. Senja dikala itu, Risman mengajakku ke pantai yang tak berpenghuni, hanya 2 manusia, aku dan Risman. Langit penuh biru dan awan penuh putih. Burung-burung Elang terbang tinggi lalu bertengger di puncak karang berusia ratusan tahun. Nyiur daun kelapa melambai bersama tiupan angin. Ombak-ombak bergulung berlari kecil membasahi sepasang kaki milkiku dan Risman. Risman melihat satu buah kelapa jatuh dari induknya. Segera kami pun menghampirinya. Dengan sekuat tenaga dalam Risman membuka kelopak buah itu dan berdua kami meminumnya di atas hamparan butir-butir pasir.

Di atas pasir-pasir itulah, kami jua menghabisi air kelapa itu. Kemudian bola mata Risman yang teduh menatap tajam ke arah mataku menusuk jantung. Seakan-akan matanya berbicara,”Bercintalah terus denganku,” dan ia berkata,”Tara , kau adalah wanita istimewa dalam hidupku, Maukah kau menyimpan kisah cinta kita selalu dalam sudut hatimu terbingkai rapi dan teristimewa?”. Achh, pertanyaannya bagai badai yang menimpa tubuhku. Bagaimana mungkin aku tidak mau, Risman telah menjadi keindahan dalam hidupku. “Tak perlu kau tanyakan lagi, kekasihku, RIsman. Sudah tentu aku mau, aku akan menjaganya dan akan terus kusirami bunga-bunga yang telah kita rangkai di taman kita,” jawabku.

“Terima kasih wanitaku. Ingat, kemana pun aku berlayar kau akan selalu bertumpu di hatiku,” ujar Risman dengan tangan kanannya menyentuh dadanya. Aku terkesima mendengar ucapan Risman yang menimbulkan pertanyaan berdenyut bagiku.

“Berlayar? Apakah kau akan berlayar meninggalkan aku sendiri?”, tanyaku resah.
“Aku tidak akan kemana-mana Tara, janganlah kau risau, aku selalu ada untukmu di sini,” ucapnya sambil memindahkan tangan kanannya tadi menyentuh tepat di hatiku.
“Tara, sebelum ada lelaki lain yang terpikat padamu. Aku ingin kau menjadi wanitaku yang sah,” tutur Risman.

“Achhh..”, aku mendesah dalam hati. Tak hanya aku, tapi semua wujud di pantai ini. Entah angin, ombak, awan, langit, Burung Elang, pohon kelapa,  karang, pasir dan semua bak serentak mendesah. Dan paling bergetar tinggi desahannya kurasakan adalah pasir-pasir yang kutapak ini.
“Aku ingin kita mempunyai dua anak yang lucu-lucu. Satu laki-laki dan satu perempuan. Sepasang!,” ucap Risman melanjutkan kalimatnya.

“Hanya dua? Mengapa tidak tiga?” tanyaku.
“Aku tak tahu mengapa. Aku hanya suka angka genap. Mungkin aku lahir di angka genap, tanggal 26, bulan enam, tahun tujuh puluh empat. Genap semua, bukan? Dan semoga aku mati nanti di angka genap juga.
“Hemm, genap. Ada apa dengan suatu angka genap sampai kau pun memilih tidur dalam angka genap, Risman?” tanyaku aneh.
“Aku hanya suka, itu saja. Tak usahlah kau hiraukan ucapanku tadi,” jawab Risman berusaha menganti topik.

“Tara, aku beri kau dua pilihan. Pertama, rumah pedesaan berhalaman luas yang dikelilingi padang sawah dan udara sejuk yang berasal dari pegunungan di belakang rumah. Atau  kedua, rumah di tepi pantai yang selalu diiringi deruan ombak dan sepoian angin yang mendesis. Di sanapun kau akan bermandikan sinar matahari dan kita berdua bisa puas memandang ia terbit dan ia terbenam. Kau akan pilih yang mana?”.
“Karena aku suka pasir putih di tepi pantai, aku pilih rumah yang nomor dua,” jawabku.
“Aku tahu mengapa kau suka pasir putih. Karena kau suka menganggap mereka bisa kau ajak mendesah bersama,kan?” goda Risman.
Aku lansung tertawa kecil mendengarnya.
“Tara, apakah kau siap bila kuajak ke penghulu esok hari, lusa, bulan depan, pokoknya dalam waktu dekat ini?” Tanya Risman mantap.
“Aku siap, Rismansyah!”. “Achhh.., finally!”, ku mendesah pelan. Pelan sekali.

* * *

Aku kembali menatap luas lautan yang tak berujung di tepi pantai ini. Semua masih tampak sama. Ada lambaian daun pohon kelapa. Angin mendesis. Langit penuh biru dan awan penuh putih. Burung-burung Elang yang selalu bertengger di karang besar itu. Dan hamparan pasir yang masih putih berkilau. Enam tahun yang lalu, pantai ini masih sunyi senyap, kini sudah berpenghuni kumpulan cottage. Sudah enam tahun jua. Aku tidak ke pantai ini. Hari ini, hari sabtu, tanggal 26, bulan Desember, tahun 2009 dan aku meneteskan air mata kembali. Aku teringat satu kata dari Risman “Berlayar” , ya Risman memang berlayar ke ranah Aceh untuk mengunjungi sanak-keluarganya. Aku berharap Risman bahagia karena dia Berlayar MenujuNya di saat ombak Tsunami menelan Risman dan semua keluarganya saat 26 Desember 2004. Di angka yang genap sesuai dengan keinginan Risman, walau ku tahu bukan Tsunami yang Risman inginkan. Tapi itulah garis takdir. Kita manusia hanya berkehendak, tapi Tuhan lebih berkuasa menentukan. Dan kita tak pernah mampu membaca apa yang nanti akan tersirat OlehNya. “Aku tersenyum mengenangmu, Risman!”.

“Achhh..,” desah pasir putih yang mengejutkanku.

“Hai, wanita isitmewanya Risman. Aku selalu suka tipe wanita sepertimu. Kau seperti sahabatku Sang Karang bertubuh tinggi besar di sebelah sana. Ia selalu kokoh berdiri. Biar pun ombak laut  keras menghajarnya. Biar pun badai alam kencang menerjangnya. Biar pun terik panas matahari yang sengit. Biar pun dinginnya malam menyelimutkan beku. Ia tetap berdiri tidak runtuh, kecuali saat takdir meruntuhkannya dan ia tak pernah menolak takdirnya. Ia serupa dengan kau, yang selalu menerima takdirmu ikhlas. Dan satu lagi, aku suka kedua bola mata bocah lelaki itu. Mirip sekali dengan mata milik Risman. Siapakah namanya gerangan?” kata pasir putih.
“OH iya, aku belum memperkenalkannya padamu,” sahutku.

“Rismannnn….kemari nak. Jangan jauh-jauh dari bunda. Main di sini aja, yuk!” seruku memanggilnya.

“Bagaimana kalau kita menyusun pasir-pasir ini menjadi sebuah Istana?” tanyaku mengajak.
Bocah itupun langsung menyentuh hamparan pasir putih.
“Achhhh..Pintarnya buah hatiku,” ku mendesah.
“Achhhh..Betapa senangnya aku bermain bersama dengan kedua orang istimewanya Risman,” ujar Pasir putih sambil mendesah.
“Achhhhh…!”, mereka pun mendesah bersama.

·         Judul tulisan ini terinspirasi dari judul film “Whispering Sands (Pasir berbisik)”, karya anak bangsa.