Thursday, September 29, 2011

Jangan Menangis untuk Ananda

Ananda oleh Azam Raharjo

Tidak ada yang tahu mengapa Ananda meninggalkan orang tuanya lalu memilih hidup di jalanan. Gadis kecil 12 tahun itu mestinya berada dalam kehangatan dekapan ayah-bunda dan bergelimang suka-ceria bersama teman-temannya di sekolah.
Namun Ananda berada di sini. Di Gupon Hijau, sebuah rumah singgah yang didirikan oleh Ratna, sahabatku.

Rumah kecil berhalaman luas itu bernama Gupon Hijau. Gupon yang berarti rumah merpati dan hijau yang menunjuk warna catnya.

“Mengapa gupon? Mengapa merpati?” Tanyaku.

“Itu pilihan anak-anak sendiri. Mereka menyebut diri seperti merpati. Yang mau terbang kemana-mana untuk belajar hidup mandiri tapi juga ingin punya rumah untuk pulang kalau mereka lelah.” Jelas Ratna.

Ananda hanya salah satu penghuni tetapnya bersama sekitar selusin lainnya. Gadis kecil berkulit sawo matang, bermata bulat dan berambut ikal panjang dengan poni itu sudah jadi remaja. Ketika bertemu tadi kulihat buah dadanya telah menyembul cukup besar dari balik kausnya. Aku menemui Ratna sambil membawa buku dan pakaian untuk Ananda. Kuberi dia enam potong kutang yang baru dan bagus, belasan lembar celana dalam dan satu set alat perawatan diri seperti gunting kuku dan sisir.

“Dia sepertinya tidak trauma,” gumamku, lebih pada diriku sendiri, namun Ratna mendengarnya.

“Dia hanya menipu diri saja. Itu salah satu cara yang dipakai oleh anak-anak seperti Ananda ketika mereka dicabuli.”

Ah! Dicabuli! Sakit nian telingaku mendengar kata itu. Apa beda dicabuli dan diperkosa? Apa beda diperkosa dengan dibunuh jiwanya? Kukatupkan bibirku untuk menahan airmataku. Kalau Ananda tidak menangis sehabis diperkosa, mengapa aku mengeluarkan air mata hanya mendengar kisahnya saja?

“Mungkin itu bukan yang pertama kali,” kata Ratna. Yang dimaksud dengan ‘itu’ adalah pencabulan terhadap Ananda. “Kemungkinannya untuk anak laki-laki dan anak perempuan sama saja. Mereka bisa menjadi mangsa dimana saja, kapan saja, siapa saja.” Ratna tersenyum segetir-getirnya ketika mengucapkan kata-kata yang sama dengan jingle minuman bersoda itu.

Kuedarkan pandangku mencari sosok Ananda. Kulihat dia tengah bermain badminton bersama dua gadis kecil lainnya. Rambut lurus panjangnya diekor-kuda dan menari-nari seirama dengan lompatan-lompatan kakinya.

Sambil mengamati permainan mereka, pikiranku terbang mengunjungi masa kecilku yang serba indah serba mudah serba bahagia. Ketika aku sebaya Ananda orang tuaku menjagaku sepenuh hati, karena kata mereka aku adalah harta titipan dari surga.

“Lina…” Suara lembut Ratna mengejutkanku. “Mau kamu serahkan sendiri barang-barang untuk Ananda?”

Kuremas kardus besar yang terbungkus kertas kuning dan berpita biru. “Tidak, Ratna. Kamu saja yang menyerahkannya.”

Aku tidak percaya pada diriku sendiri kalau aku akan kuat memandang dua bola mata Ananda. Apa yang kuberikan itu, tidak akan menyembuhkan luka batinnya. Tak akan melindunginya dari rimba raya jalanan yang tak kenal cinta.

Ada ribuan anak bernasib seperti Ananda. Mereka bungkam atas kekejian yang menimpa hidupnya. Namun mereka, sungguh, tampak biasa saja. Apakah di dalam tubuh mereka yang tampak rapuh dan lemah tersimpan kekuatan dahsyat yang tak terlihat?

Sambil melangkah meninggalkan Gupon Hijau, hatiku berkata, jangan menangis, Lina, berbuatlah sesuatu untuk mereka. Lalu aku bedoa, Tuhan, jadikanlah jiwa mereka sekuat kuda, yang mampu menembus tandusnya gurun dan luasnya savanna.

***


UUD RI 1945, Pasal 34:
Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.